Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Di mana Alice?


__ADS_3

Selamat membaca!


Tak butuh waktu lama mobil yang dikemudikan oleh Albert mulai memasuki pelataran MANGO Corporate, tanpa menunggu Albert, Raymond langsung keluar dari mobil dan dengan tergesa ia memasuki lobi kantor. Terlihat beberapa staf kantor menyapa Raymond termasuk sekertaris baru yang bernama Tara.


"Tara, dimana Elliot?" tanya Raymond kepada Tara.


"Tuan Elliot ada di ruangannya Tuan, baru saja selesai meeting," jawab Tara dengan raut penasaran akan ekspresi wajah Raymond yang terlihat begitu kacau.


Raymond langsung berlalu meninggalkan Tara dan menuju lift pribadinya. Setelah sampai di depan ruangan Elliot, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Raymond masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Elliot kini sedang duduk di kursinya dengan sorot mata yang tajam menatap kedatangan Raymond.


"Elliot, kau harus menolongku!" titah Raymond dengan nada suara yang panik.


Elliot tak menjawab permintaan Raymond. Ia bangkit dari posisi duduknya, lalu mulai menghampiri Raymond.


"Membantu untuk menutupi perselingkuhanmu, itu maksudmu Ray!"


Tanpa basa-basi Elliot langsung menghantamkan pukulannya telak mengenai perut Raymond, lalu memberikan sebuah tendangan keras yang langsung membuat Raymond roboh ke dasar lantai.


"Aku bisa jelaskan padamu, Elliot, aku hanya dijebak!"


"Kau pikir aku bodoh Ray, berulang kali kau bohongi Alice dengan perselingkuhanmu, sekarang kau minta aku untuk percaya, Ray, bahkan keledai bodoh pun pasti akan meninggalkan Tuannya, jika Tuannya seperti dirimu Ray!"


Elliot mencengkram kerah kemeja Raymond dan membangunkannya dengan kasar, lalu mulai memukul tepat di wajah Raymond berkali-kali, tanpa ada balasan dari Raymond.


"Sekali ini saja dengarkan aku Elliot, aku mohon!"


"Sebaiknya kau pergi Ray, perusahaan ini sudah menjadi milik Alice sepenuhnya, apa kau lupa itu! Bahkan rumah kediaman keluarga Weil itu pun sudah tertulis atas nama Alice, kau sekarang sudah miskin Ray, pergilah bersama selingkuhanmu itu, laki-laki sepertimu itu tidak pantas menjadi seorang Ayah dari kedua anak yang saat ini ada dikandungan Alice!"


"Pergi kau!"


Elliot langsung mendorong tubuh Raymond ke arah pintu keluar ruangannya, tak lama seorang petugas keamanan kantor datang untuk menjemput Raymond dan mengusirnya keluar dari MANGO Corporate.


"Elliot tolong percaya padaku, aku dijebak! Tadinya aku hanya ingin membahagiakan Alice dengan membeli kembali restorannya agar ulang tahunnya nanti aku bisa memberikan hadiah restoran itu padanya, tapi ternyata aku terlalu meremehkan wanita itu, sampai dia menjebakku, Elliot!" teriakan Raymond didengar dengan sangat jelas oleh Elliot, walau Elliot mengacuhkannya dengan menutup pintu ruangannya.


"Lepaskan aku! Apa kau lupa siapa aku ini!" bentak Raymond memasang wajah penuh amarah.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak berani," ujar seorang petugas keamanan yang langsung melepaskan tubuh Raymond.


Raymond meninggalkan seorang petugas keamanan itu dengan perasaan yang begitu kesal, ia merasa sangat terhina terusir dari kantornya sendiri, tentu Raymond tidak akan lupa tentang surat kuasa Nicholas, bahwa semua kepemilikan rumah beserta MANGO Corporate sudah menjadi milik Alice sepenuhnya.


🍁🍁🍁


Amita terlihat sedang duduk di sebuah cafe, dengan secangkir kopi yang sudah berada di atas mejanya.

__ADS_1


"Sebentar lagi uang 500 M pasti akan menjadi milikku."


Amita terkekeh membayangkan sejumlah uang tersebut. Ia lalu mengambil segelas kopi itu dan mulai menyeruputnya.


🍁🍁🍁


Di dalam mobil.


Albert yang mengetahui peristiwa pemukulan Elliot terhadap Raymond, menjadi iba kepada Tuannya. Ia tak habis pikir, ternyata Elliot tak bisa mempercayai segala perkataan yang Raymond ucapkan.


"Aku harus membantu Tuan Raymond."


Sementara itu Raymond masih sangat terpukul dengan apa yang baru saja menimpanya.


"Sekarang bagaimana ini? Apa sweety akan percaya dengan segala ceritaku?" gumam Raymond sambil memegangi sudut bibirnya yang terlihat lebam.


Mobil terus melaju membelah lalu lintas kota London. Setelah 30 menit akhirnya mereka sudah tiba di depan rumah kediaman Weil. Raymond langsung turun dari mobil, walau dengan terhuyung-huyung, ia mulai memasuki rumah.


Benjamin yang melihatnya segera menghampiri Raymond dan memapah tubuhnya.


"Ada apa Tuan? Kenapa Anda bisa seperti ini?"


"Ben, dimana Alice?" tanya Raymond dengan parau.


"Tolong panggilkan Alice untukku!" titah Raymond dengan lirih.


Benjamin akhirnya memerintahkan kepada Colin untuk naik ke atas, dengan sigap Colin langsung berlari menaiki anak tangga untuk memanggil Alice.


"Tuan tidak ada jawaban dari dalam kamar Nona Alice," ucap Colin melalui sambungan wireless, melaporkan kepada Benjamin.


Arnold yang mendengarnya, langsung terlintas sebuah jalan rahasia yang memang letaknya berada di lantai atas, di sudut ruangan.


"Colin, segera periksa arah jam 12, sudut ruangan!" titah Arnold memberitahu kepada Colin.


Colin dengan cepat mendekati arah yang diberitahu oleh Arnold, setelah berada di titik yang sudah benar, ia sangat terhenyak ketika menemukan sebuah jalan rahasia yang tampaknya baru digunakan oleh orang lain.


"Sir, tampaknya Nona Alice sudah pergi dari rumah lewat jalan rahasia ini Sir."


Arnold tersenyum tipis.


"Betul dugaanku berarti, Nona Alice sangat pintar, tapi apa alasannya keluar dari rumah dengan menggunakan jalan rahasia?" gumam Arnold dalam hatinya terus berpikir.


Benjamin yang mengetahui laporan dari Colin, merasa tidak enak karena tugasnya dalam menjaga Alice telah gagal.

__ADS_1


"Maafkan kami Tuan, kami tidak mengira bahwa Nona Alice akan pergi melewati jalan rahasia itu," tutur Benjamin dengan raut penyesalannya.


Raymond terkekeh sejenak.


"Kau tidak salah, ini semua kesalahanku, aku yang menceritakan jalan rahasia itu pada Alice, tapi semua ini karena wanita itu."


Wajah Raymond kembali mengeras, mengingat sosok wanita yang saat ini sudah berhasil menghancurkan rumah tangganya dengan Alice.


"Wanita siapa Tuan?"


"Namanya Amita Chopra, aku minta Christopher dan Arnold cari wanita ini dan bawa dia kehadapanku!" titah Raymond yang langsung dijawab dengan sigap oleh keduanya.


Christopher dan Arnold langsung mulai pencariannya berbekal nomor ponsel Amita yang sudah diberikan oleh Raymond. Sementara Benjamin dan Colin mendapat tugas khusus untuk melacak keberadaan Alice.


"Bawa ini Benjamin, aku telah memasang sebuah chip pada lengan Alice, tablet ini akan mengarahkanmu padanya," ucap Raymond sambil menyodorkan sebuah tablet dan memberikannya kepada Benjamin.


Benjamin langsung mengaktifkan tablet itu dan mulai melihat titik posisi dimana Alice berada.


"Nona Alice, masih berada di London."


"Kami janji akan segera menemukannya, Tuan, kau istirahatlah dulu, gunakan wireless ini untuk tetap terkoneksi dengan kami, Tuan."


Keduanya pun meninggalkan Raymond sendiri di ruang tamu, dalam keadaan yang penuh dengan luka lebam di wajahnya.


Benjamin dan Colin mulai melangkah keluar dari rumah untuk menuju ke mobilnya.



Setelah sampai di dekat mobil, keduanya dengan tergesa memasuki mobil hitam yang sudah terparkir di pelataran rumah.


Mobil mulai melaju meninggalkan gerbang rumah kediaman Weil. Colin yang mengendarai mobil semakin menambah laju mobil hingga kecepatan penuh.


"Kearah utara Colin, sepertinya Nona Alice berada di dalam mobil, titik GPS-nya terus bergerak."


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Bukannya Alice ke Swedia, lantas kenapa titik GPS itu menunjukkan Alice masih berada di London?


Penasaran!


Tunggu episode selanjutnya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2