Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Harapan Yang Hilang


__ADS_3

Selamat membaca!



"Siapa kau?" tanya seorang pria dengan bewok di rahangnya yang sangat tebal.


Alice menelan salivanya dengan kasar.


"Jangan bunuh aku Tuan."


Alice mengiba dengan air mata yang terus berderai di wajahnya. Pria itu terus menempelkan senapan laras panjangnya ke dahi Alice, membuat sekujur tubuh Alice bergetar hebat, seolah malaikat pencabut nyawa sudah bersiap untuk menjalankan tugasnya.


Pria itu tak bergeming mendengar ratapan Alice, ia semakin menajamkan tatapannya bersiap untuk mulai menembak.


"Tuan, Tuan, sebelum kau menembak, boleh aku memohon suatu padamu?"


Pria itu kini mulai memberi waktu pada Alice.


"Apa katakan?" tegas pria itu singkat.


"Tolong kuburkan aku dengan layak, karena aku ingin merasakan damai di tempat peristirahatan terakhirku, bersama kedua anak yang saat ini aku kandung."


Sontak perkataan Alice dengan mengurai air mata, membuat pria itu menurunkan senapannya.


"Ternyata wanita ini sedang hamil. Berarti dia bukanlah orang jahat, lantas kenapa tangannya terborgol," gumam pria itu berpikir sambil mengernyitkan dahinya.


Napas Alice begitu lega, padahal dirinya sudah pasrah dan terpejam untuk menunggu ajal menjemputnya.


"Terima kasih Tuan, kau tidak jadi menembakku ya?" tanya Alice mengulas senyum di wajahnya.


"Memang kau mau aku tembak saja?" tanya pria itu sambil kembali menyodorkan senapan ke arah dahi Alice.


Alice kembali tercekat, lidahnya kembali kelu tak dapat berkata apapun.


Bodoh kamu Alice, kenapa kamu tanyakan lagi.


Paras Alice kembali pucat, dengan keringat di dahi yang sudah bercucuran setiap detiknya.


Namun tak lama pria itu terkekeh, seolah mendapatkan sebuah hiburan yang sudah lama tidak didapatkan selama bertahun-tahun.


Pria itu untuk kedua kalinya menurunkan senapannya, dengan masih tertawa ia mengajak Alice untuk makan bersamanya.


"Tapi Tuan, bagaimana aku bisa makan dengan tangan terborgol seperti ini?" tanya Alice sambil menyodorkan kedua tangan yang terborgol.


Pria itu berdecih kesal dengan orang yang sudah memborgol Alice.


"Letakkan tanganmu!" titah pria itu sambil menunjukkan sebuah nakas yang ukurannya hanya sebatas pinggang Alice.


Alice akhirnya menurutinya. Pria itu kemudian kembali memfokuskan pandangannya dengan borgol di tangan Alice.


"Tuan, Tuan, apa yang akan kau lakukan Tuan?"


"Kau tenanglah, jangan bergerak sedikitpun!" titah pria itu kembali.


Alice memejamkan matanya, tangannya entah kenapa menjadi gemetar menahan rasa takutnya.


"Siap, jangan bergerak, jangan salahkan aku jika tembakan meleset karena kau bergerak."


Alice menahan rasa takutnya, dengan menggigit bagian bawah bibirnya dengan kuat, ia juga menahan napasnya beberapa saat, sebelum kemudian suara letupan senapan berbunyi menggema memenuhi seisi ruangan.

__ADS_1


Alice membuka matanya, dilihatnya borgol sudah tak lagi saling bertaut, walau masih melingkar di kedua tangannya.


"Terima kasih Tuan," ucap Alice tersenyum merasa bebas.


"Sudah mari kita makan!"


Suasana di meja makan kala itu sungguh canggung, beragam pertanyaan ingin Alice tanyakan sebenarnya, namun ia takut. Alice akhirnya hanya diam memuaskan isi perutnya dengan menyantap menu daging kelinci yang telah dimasak oleh pria itu.


"Tuan, makanan ini sangat lezat," puji Alice tersenyum.


Pria itu menoleh menatap Alice sangat dalam. Ia menilik lebih jauh lagi, setiap inchi wajah Alice, membuat Alice yang sadar dengan tatapan pria itu menjadi risih dan sedikit takut, ia coba memalingkan wajahnya berkali-kali untuk mengusir rasa takutnya.


"Kenapa kamu berpaling dariku?"


Alice tercekat mendengar pertanyaan pria itu. Darahnya kembali berdesir, karena suara pria itu seperti menunjukkan ketidaksukaannya atas apa yang Alice lakukan.


"Maaf Tuan, aku hanya malu kau melihatku seperti itu."


Pria itu mengambil secangkir gelas yang berisikan kopi, lalu mulai menyeruputnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Alice.


"Jika aku masih bersama anakku, mungkin saat ini usianya seumuran denganmu," ucap pria itu yang mulai merenungi nasibnya, karena harus terdampar di pulau ini.


Alice tersenyum kemudian ia ikut bersedih, karena perubahan wajah pria itu kini terlihat sendu.


"Memang siapa anakmu Tuan? Bagaimana kamu bisa berada di sini?"


Pertanyaan Alice mengundang kembali segala kenangan buruk yang pernah dialami pria itu.


Rahang pria itu mulai mengeras, kedua alisnya saling bertaut dengan tangan yang mulai mengepal, sepertinya kemarahan dalam dirinya yang telah lama terpendam, mulai merangkak naik ke dalam pikirannya.


Alice menjadi takut menatapnya.


"Tuan jika kamu tidak ingin menceritakan padaku, tidak perlu kamu ceritakan Tuan, aku minta maaf sudah lancang bertanya."


Alice yang sedang menyeruput minumannya, tiba-tiba tersedak, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan pria itu.


"17 tahun, Tuan, apa kamu tidak ingin pergi dari pulau ini?"


Pria itu terkekeh geli mendengar pertanyaan Alice. Wajahnya langsung berubah datar tak lagi menampakkan sebuah amarah, tapi malah sebaliknya, kini seulas senyuman tampak terbit di wajahnya.


"Siapa yang tak ingin pergi dari pulau ini? Aku ingin tapi aku tidak bisa, pulau ini di kelilingi lautan dan merupakan pulau terjauh di kepulauan seribu, bahkan pulau ini sudah hilang dari peta dunia, tidak ada satu kapal pun mendekati pulau ini, selama 17 tahun aku hidup di sini. Jadi aku dengan sangat berat hati mengatakan padamu, aku tidak bisa membantumu untuk pergi dari pulau ini, tapi aku bisa membantumu untuk bertahan hidup, sampai ada orang yang datang menolong, itu pun jika kamu membawa sebuah ponsel untuk menghubungi seseorang."


Alice teringat handphone yang saat ini mati, yang masih berada di dalam bra-nya.


Alice membalikkan tubuhnya agar pria itu tak bisa memandangnya sewaktu mengambil handphone dari dalam bra-nya.


"Aku memiliki ini Tuan, tapi handphone ini sudah mati, perlu di charger, apakah kau mempunyainya?"


Pria itu melihat sebuah harapan untuknya keluar dari pulau ini, timbul dalam benaknya bayangan putri kecilnya yang ia tinggalkan saat berusia 7 tahun dan ia titipkan kepada sahabatnya.


"Jasmine, tunggu Daddy, akhirnya setelah sekian lama aku hidup di pulau terkutuk ini, wanita ini membawa harapan untukku bisa kembali ke London."


Pria itu mengambil handphone yang Alice letakkan di atas meja, ia kemudian langsung berlari menuju sebuah nakas dan mulai mencari charger handphone.


Alice pun beranjak mengikuti langkah kakinya, ia melihat pria itu sudah menghamburkan semua isi di dalam nakas, yang membuatnya berantakan tidak karuan di dasar lantai.


"Sial, apa aku hanya mengkhayal telah melihat charger itu? Perasaan benda kotak itu ada di dalam sini."


Pria itu semakin gigih mencari, kini ia berpindah ke nakas sebelahnya.

__ADS_1


"Kau bantulah aku mencari, kenapa kau diam saja seperti patung di sana? Apa kau tidak ingin pulang?"


"Aku sudah mencarinya sebelum kau pulang Tuan, tapi aku tidak menemukan apapun."


Pria itu akhirnya berhenti mencari. Wajah yang tadinya penuh harapan, kini kembali meredup.


"Sial, sial, sial."


Pria itu berulang kali menghentakkan tangannya pada nakas, hingga menimbulkan suara gaduh yang memenuhi seisi ruangan.


Alice tak bisa berkata apapun, suaranya terkunci melihat keputusasaan pria itu, ia sendiri kini hanya bisa pasrah, bila harus hidup selamanya di pulau ini.


Maafkan aku, Nak, jika Mommy akhirnya tak bisa membawa kalian melihat Daddy.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Richard sudah terlihat bersama dengan Elliot, setelah memindahkan Raymond ke London. Elliot langsung bergerak cepat dengan menemui Alex, ia memberitahu kabar bahwa saat ini Raymond sedang mengalami koma entah berapa lama, namun karena Alex sepertinya sedang sibuk dengan berbagai masalah menyangkut seorang wanita yang bernama Elena, akhirnya Alex menyerahkan kepada Elliot untuk mencari pengganti sementara untuk memimpin perusahan Alex G-phone.


Akhirnya Elliot memutuskan untuk memberi tanggung jawab kepada Albert. Walau sempat mendapatkan penolakan dari Albert akhirnya Elliot berhasil meyakinkannya, bahwa ia mampu untuk memimpin perusahaan itu. Elliot tahu betul latar pendidikan Albert, mungkin jika bukan karena balas budi dan permintaan Ayahnya, Albert tidak akan menjadi supir pribadi.


Di dalam mobil.


"Masalah perusahaan Tuan Alex sudah selesai, sekarang kita harus mencari keberadaan Alice."


Elliot terlihat sangat geram.


"Sabar Elliot, Alice wanita pintar, dia pasti bisa bertahan hidup sampai kita menemukannya."


Tak lama smartphone Elliot berbunyi. Tampak pada layar tertera MANGO Corporate.


"Ini nomor kantor ada apa meneleponku? Bukannya masalah perusahaan sudah ada Kelly yang meng-handle."


Elliot kemudian mengangkat telepon itu.


"Halo, ada apa Angel?"


"Begini Tuan, ada telepon dari Nona Tara, boleh saya sambungkan?"


"Ada apa ya Tara? Tidak biasanya dia menelepon," gumam Elliot dengan raut heran.


"Silahkan Angel."


Telepon Tara akhirnya tersambung.


Tara langsung menyampaikan kepada Elliot apa yang telah dialaminya. Elliot terhenyak. Wajahnya langsung cemas memikirkan keadaan Alice. Sebelum menutup telepon, Elliot meminta Tara mengirimkan nomor handphone yang telah dikirim oleh Alice.


"Tuan Richard, kita ada harapan untuk melacak keberadaan Alice, Alice sempat mengirim sebuah pesan kepada Tara, entah dia menggunakan handphone siapa."


Richard tersenyum.


"Sudah ku bilang Elliot, Adikmu itu sangat pintar, kau tidak perlu cemas."


Elliot bernapas dengan lega, sebuah senyum kecil mulai terbit di wajahnya.


Tunggu aku Alice, aku akan menyelamatkanmu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Sehat selalu ya.


__ADS_2