
Selamat membaca!
Greta dan Zack sudah mendekat ke arah Elliot. Sementara dari balik paviliun pria berbulu lebat pada wajahnya itu, hanya mengintip dari balik celah jendela, seolah tak mau terlibat yang bukan urusannya.
Greta terkekeh licik, sambil terus menyodorkan pistol ke arah Elliot.
"Tuan Elliot, apa kau senang melihatku?"
Elliot menajamkan tatapan matanya.
"Aku senang kau datang Greta, jadi aku bisa memberimu pelajaran," geram Elliot dengan wajah mengeras.
Greta semakin tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana bisa kau memberiku pelajaran, sedangkan kau saat ini hanya diam saja," tutur Greta sambil mengarahkan pistolnya ke arah kaki kanan Elliot dan tanpa aba-aba langsung menembaknya.
Tembakan dari Greta membuat satu kaki Elliot, langsung roboh menyentuh tanah.
Elliot mengaduh sakit, suara teriakannya sampai menerobos celah-celah paviliun, hingga ke kamar tempat Alice berada.
Alice yang sedang duduk terdiam, di tepi ranjang dengan rasa cemasnya, tiba-tiba tersadar dengan suara yang kini didengarnya.
Bukannya itu suara Elliot.
Sesaat wajah Alice tampak begitu bahagia mengetahui Elliot, kini datang untuk menjemputnya. Namun saat suara teriakan Elliot kembali menggema, wajah Alice sekejap berubah kembali cemas, bahkan 5x lebih cemas dari sebelumnya.
Kenapa Kakak terdengar kesakitan sekali?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Alice berlari dengan cepat menuruni anak tangga, suara hentakkan kakinya membuat Greta yang ingin menembak kepala Elliot, menghentikan niatnya. Padahal saat ini kedua kaki Elliot telah berhasil ditembak oleh Greta, membuat Elliot bertekuk lutut dihadapan Greta.
"Ada orang di dalam paviliun itu Zack, apa jangan-jangan itu Alice," tutur Greta menoleh menatap Zack untuk memberitahu apa yang didengarnya.
"Mungkin benar itu Alice," jawab Zack menduga.
Greta mendekati Zack, ia lalu berbisik pada telinga Zack, yang membuat Zack berjalan ke arah belakang paviliun untuk mencari pintu belakang. Sementara Greta mulai melangkah dan meninggalkan Elliot yang saat ini tak berdaya, setelah tertembak timah panas di kedua kakinya.
Elliot begitu kesal, rahangnya kini mengeras, memperlihatkan amarah yang begitu besar tertahan dalam dirinya, namun ia tak bisa melakukan apa-apa, saat ini pistol yang digenggamnya sudah kehabisan peluru, belum lagi kedua kakinya sulit untuk digerakkan, Elliot akhirnya roboh terbaring di atas tanah di samping Richard.
Elliot berdecih kesal.
"Sial," teriak Elliot meluapkan rasa kesalnya.
Elliot terus memandangi punggung Greta yang semakin lama, semakin jauh meninggalkannya ke arah depan paviliun.
Alice yang kini sudah mengetahui keadaan di luar paviliun, dengan mengintip dari celah jendela, sudah bersiap memegang balok besar, yang digenggam kuat-kuat dengan kedua tangannya.
Sedangkan pria berbulu lebat pada wajahnya itu, tetap santai dan bersikap tenang, ia sudah stand by diposisi menembaknya, namun keduanya seperti melupakan sesuatu, bahwa memang paviliun itu memiliki pintu belakang dan Zack sudah berada di sana, bersiap untuk masuk ke dalam paviliun, lewat pintu belakang yang tidak terkunci.
Greta mulai memanggil-manggil nama Alice dengan manja.
"Alice.."
"Alice.."
__ADS_1
Alice dari balik pintu terus bersiap dengan balok pada genggamnya.
Aku sungguh membencimu Greta, kamu itu seperti benalu dalam hidupku.
Alice menghela napasnya dalam. Terlihat raut penuh dendam dapat tersirat dari wajahnya.
Greta terus melangkah dengan perlahan, pandangannya terus menatap pintu paviliun yang saat ini masih tertutup, ia sudah memegang handle pintu dan coba untuk membuka pintunya.
"Sial, terkunci," keluh Greta.
Greta lalu mengarahkan tembakannya pada handle pintu untuk membobolnya, ia mundur beberapa langkah lalu melepaskan tembakan tepat mengenai handle pintu.
Letupan yang terdengar menggema memenuhi seisi pulau, yang memang lebat dengan berbagai macam pepohonan dan semak belukar.
Pintu kini sudah dapat terbuka. Greta kembali menyentuh handle pintu untuk mulai membukanya.
Sementara dari tempat Elliot memandang, ia terus menatap ke arah Greta dengan pandangan yang menyedihkan.
Maafkan aku Alice, aku tidak bisa melindungimu.
Bulir bening menetes dari kedua sudut mata Elliot. Saat ini ia benar-benar rapuh, merasa dirinya tidak berguna dengan kondisinya saat ini, yang sudah terlihat lemah berbaring dengan darah terus mengalir dari kedua luka tembak pada kedua kakinya. Elliot hanya mampu memukul ke dasar tanah, melampiaskan rasa kesal yang sudah memburu napasnya.
Greta membuka pintu paviliun dengan lebar, ia kemudian menapakkan sebelah kakinya masuk ke dalam paviliun, dengan tetap menodongkan pistol ke arah depan.
Seketika tangan Greta terlihat melewati pintu paviliun, Alice yang berada dibalik pintu langsung memukul tangan Greta dengan sekuat tenaga, hingga pistol yang digenggam oleh Greta terlempar jauh ke arah samping. Greta menatap Alice, Alice pun menatap Greta, sesaat pandangan mereka saling beradu, terbagi sesekali memandang ke arah pistol yang saat ini terletak beberapa meter di samping Greta. Keduanya akhirnya mengejar pistol yang berada tidak terlalu jauh dari posisi mereka, perebutan terjadi di antara keduanya sampai akhirnya suara senapan berbunyi menggema memenuhi seisi ruangan.
"Letakkan pistol itu Nona cantik!" titah pria berbulu lebat pada wajahnya itu dengan menautkan kedua alisnya dan menatap tajam ke arah Greta.
Greta yang sudah memenangi perebutan pistol dengan Alice, akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh pria itu. Greta melepaskan pistol yang digenggamnya begitu saja dan jatuh di dekat kakinya.
"Greta kenapa kamu tidak puas mengganggu kehidupanku?" tanya Alice geram matanya sudah berkaca-kaca, dengan wajah yang merah padam menahan amarah.
"Tidak akan sampai aku melihatmu mati," kecam Greta dengan wajah menyebalkan.
"Apa dosaku?"
"Karena kamu dan suamimu, anakku harus meninggal sebelum dilahirkan, sementara kamu bahagia dengan kandunganmu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan bahagia bila melihatmu keguguran atau kau ikut mati bersama anakmu!" ancam Greta dengan suara lantang.
Greta menatap tajam wajah Alice, pandangannya penuh dengan kebencian. Ia beranjak untuk mendekati Alice, namun suara deheman pria berbulu lebat itu membuat Greta mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba pria berbulu lebat di wajahnya itu terhenyak, karena saat ini Zack sudah menempelkan pistolnya tepat di kepalanya.
"Lepaskan senapanmu!" titah Zack yang kini memegang kendali dari situasi ini.
Pria itu tak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan Zack.
"Sial, aku lupa paviliun ini ada pintu belakangnya dan sepertinya aku lupa menguncinya," gumam pria berbulu lebat menyesalinya.
Alice kembali panik.
Sementara Greta kembali tersenyum lebar merayakan kemenangannya.
Greta mendekat ke arah Alice, lalu tanpa sebuah kode langsung menampar wajah Alice dua kali. Alice tak bisa melawan karena takut Zack akan menembak pria berbulu lebat itu.
Greta kini menarik rambut Alice dengan kasar, menyeretnya ke luar paviliun, hingga membuat Alice merasakan sakit di kulit kepalanya yang seakan ingin terlepas.
__ADS_1
"Greta lepaskan aku!" Alice berteriak dengan kesal menahan rasa sakitnya.
"Rasakan kau wanita jal*ang!" Greta terus menghardik Alice dengan berbagai makian yang lolos dari mulutnya.
"Karena kamu anakku mati."
Greta kemudian melempar tubuh Alice dengan kasar, hingga Alice terjatuh tersungkur ke dasar tanah. Tapi sesaat sebelum Alice terjatuh ia sempat menjadikan tangannya sebagai tumpuan, agar perutnya tidak terbentur.
Alice meringis karena tangannya terkilir, Greta yang belum puas menyakiti Alice, kembali menghampiri Alice dengan langkah cepatnya, lalu menendang bagian perut Alice sekuat-kuatnya, Alice melindungi dengan menggunakan kedua tangannya yang bertaut di depan perut.
"Jangan Greta, aku mohon, jangan sakiti anak dalam kandunganku," ucap Alice menangis terisak memohon pada Greta.
Greta semakin membabi buta menendangi perut Alice berkali-kali, namun Alice terus melindungi dengan tangannya yang semakin lama, semakin sakit terasa.
"Tolong Greta hentikan, aku mohon!" ucap Alice mengiba.
Dari tempat Elliot berada, ia melihat dengan penuh amarah, saat ini di depan matanya, Alice disiksa dengan begitu kejam.
"Greta, berhenti!" teriak Elliot murka.
Teriakan Elliot diabaikan oleh Greta, ia terus menendangi perut Alice, namun karena Alice terus berhasil melindunginya dengan kedua tangannya, akhirnya Greta menjadi sangat murka, ia kembali ke dalam paviliun untuk mengambil pistolnya kembali.
Pria berbulu lebat pada wajahnya itu, menyaksikan semuanya dengan penuh amarah, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa untuk membela Alice.
Greta kini sudah mengambil pistolnya dengan wajah penuh kebencian, ia mempercepat langkahnya kembali menghampiri Alice.
"Lebih baik kau mati Alice!" geram Greta sambil terus melangkah.
Greta sudah tepat berdiri dihadapan Alice, ia menodongkan pistolnya ke arah perut Alice.
"Apa kau masih bisa melindunginya dengan peluru ini?" tanya Greta dengan memicingkan senyum liciknya.
Elliot melihatnya dengan panik.
Ya Tuhan aku mohon tolonglah Adikku.
Sementara Alice hanya bisa pasrah dengan terus menangis memohon belas kasihan kepada Greta. Namun semua itu percuma kebencian dalam diri Greta, sudah mendarah daging untuk Alice. Ia seperti bukan manusia yang hakikatnya mempunyai hati untuk merasa dan akal untuk berpikir, kebencian telah menguasai dirinya saat ini, hingga ia melupakan sesuatu bahwa pada hakikatnya, sesama manusia itu harus saling membantu dan menaruh belas kasih.
Greta sudah mantap menyodorkan pistolnya ke arah Alice. Ia sudah bersiap untuk menembak dengan menarik pelatuknya.
"Apa pesan terakhirmu Alice, katakan padaku?"
Alice hanya menangis tak menjawab pertanyaan Greta.
Ya Tuhan apa ini akhir hidupku.
Alice memejamkan matanya, ia sudah pasrah akan takdirnya.
Maafkan Mommy, Mommy tidak bisa melindungi kalian.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Terima kasih atas dukungannya, selalu setia mengikuti kisah Alice. Jangan bosan dan terus berikankan dukungan kalian, dengan like, penuhi kolom komentar dan vote jika berkenan ya.
__ADS_1
Sehat selalu.