Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Albert Izin


__ADS_3

Selamat membaca!


Suara ban mobil berdecit di depan pelataran rumah kediaman Weil. Setelah mobil berhenti, Albert dengan cekatan langsung membukakan pintu mobil untuk Alice.


"Silahkan Nona," ucap Albert dengan membungkuk hormat, hal yang tak pernah luput untuk dilakukannya.


Sesaat Alice keluar dari mobil, Risfa sudah bersiap menangkup tubuh Alice yang masih terlihat ringkih dengan perut yang semakin membesar, menambah beban tubuhnya untuk lebih leluasa bergerak.


Risfa kini sudah memapah tubuh Alice dengan hati-hati, langkah kaki Alice masih terlihat gontai, keduanya mulai memasuki pintu rumah dengan perlahan.


Sesampainya di dalam kamar, Risfa langsung meletakkan tubuh Alice di atas ranjang. Tubuh yang sepertinya sangat membutuhkan waktu istirahat, untuk dapat kembali bertenaga seperti biasanya.


"Nona, tidur ya, jangan memikirkan apapun, semua akan baik-baik saja, percaya padaku."


Perkataan dari Risfa, gagal dicerna dengan baik oleh Alice yang langsung disergap oleh lamunannya kembali, saat mengingat suaminya masih belum juga berada di sampingnya, ketika Alice ingin memejamkan matanya.


Risfa sudah beranjak meninggalkan kamar, setelah ia selesai menutupi tubuh Alice dengan selimut sampai di dekat lehernya.


Alice memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur. Mata yang masih sendu dengan kantung mata berwarna hitam, tanda bahwa kedua matanya butuh dimanjakan dengan sebuah kegiatan yang bernama "tidur".


Setelah sedikit bergelut dengan kerinduannya kepada Raymond, Alice mulai terlelap. Bagi Alice, London Eye benar-benar dapat membuat hatinya merasa tenang, ia bahkan seperti merasa dekat dengan Raymond, walau memang kedua matanya, masih belum berhasil menangkap sosok pria yang selalu menjadi alasannya, ketika menangis karena merindu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pagi hari.


Alice mulai terjaga lebih cepat dari biasanya. Hari ini, hal yang membuat semangatnya mulai dapat mengusir segala ketidakberdayaannya, adalah karena Alice akan kedatangan tamu spesial di rumahnya, yaitu kedua orangtua beserta Adik tersayangnya, ketiganya sudah berangkat dari Swedia pada pukul 06.00 dini hari, sekiranya bila tak ada halangan pesawat akan mendarat di Bandara Heathrow sekitar pukul 08.00 pagi.


Alice mulai bangkit dari posisi tidurnya, ia sejenak duduk di tepi ranjang, sebelum beralih menuju bathroom untuknya menyegarkan diri dan bersiap menjemput kedatangan keluarganya di bandara. Di lihatnya ke arah jam dinding saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.30, sebuah tanda bila ia harus segera bergegas untuk menyiapkan dirinya agar tidak terlambat.


Alice masih termangu menatap ke arah samping ranjang yang bekas ia tiduri, posisi dimana biasanya ia melihat tubuh suaminya masih terkulai lemas sambil mendekap tubuhnya. Bayangan yang selalu hadir secara tiba-tiba di pelupuk mata Alice selama 14 hari ini, membuatnya kembali merindu setengah mati kepada sosok pria, yang saat ini sudah bertahta penuh di dalam hatinya.


"Pulanglah sweetu, jangan siksa aku terlalu lama dengan kepergianmu, jika kau ingin menghukumku atas segala ketidakpercayaanku padamu, 14 hari aku rasa sudah cukup membuatku menderita tanpa kehadiranmu di sampingku," keluh Alice dengan penuh harap di dalam hatinya.


Alice mengesah pelan, sambil beranjak dari posisi duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju bathroom.

__ADS_1


Sesampainya di bathroom, sejenak Alice menghentikan langkahnya di depan wastafel. Pantulan wajahnya di cermin begitu mengagetkannya, ia tak ingin bila keluarganya sampai melihat wajahnya yang begitu sendu seperti saat ini.


Alice mulai menggerakkan kran pada wastafel. Kucuran air yang mengalir dari kran menggenangi kedua tangan Alice, yang saat ini sedang menengadah di bawahnya. Genangan air itu lalu disapukan oleh Alice ke wajahnya yang terlihat sendu. Setelah berulang kali mengulanginya, Alice menepuk-nepukan kedua pipinya sebagai cambukan untuknya, agar terbangun dari kesedihan yang terus meredupkan sinar pada wajahnya.


Setelah dirasa cukup, Alice memulai aktivitasnya untuk berendam air hangat. Kegiatan yang menjadi harapannya, untuk dapat mengusir segala kepenatan yang sudah sejak lama membelenggunya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


30 menit kemudian, tepat jam 07.00.


Di lantai dasar, rumah kediaman Weil. Terlihat Albert sedang berbicara dengan seorang pria, dari perawakannya pria itu memiliki tubuh yang sama dengan Raymond, tinggi badan dan bobot tubuhnya terasa mirip, namun sedikit lebih kurus dari tubuh Raymond sebelum pergi dari rumah. Sosok pria yang sedang berdiri dengan membelakangi anak tangga.


Tak lama sosok Alice mulai tampak menuruni anak tangga, wajahnya kini sudah terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya, ya maklum saja 14 hari kepergian Raymond, jangankan beranjak dari ranjangnya, untuk mandi atau membasuh wajah pun tak dilakukannya, bisa dibayangkan pasti wajah Alice begitu lecek bagaikan pakaian yang tidak disetrika.


Alice menyoroti sosok pria yang saat ini sedang membelakanginya, kedua alisnya mulai bertaut dengan samar, namun ketika langkahnya semakin dekat, Alice mempertegas tatapan matanya dengan sorot mata yang tajam. Langkahnya dipercepat, namun tetap hati-hati sambil terus menggenggam erat pegangan anak tangga dengan erat. Semakin mendekati, Alice memperlambat langkahnya, ia memberanikan diri untuk menyentuh sebuah pundak yang ia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya, namun hatinya seolah menebak, karena sosok pria yang dilihatnya dari tampak belakangnya, begitu mirip dengan suaminya yang sudah sangat ia rindukan.


"Sweetu."


Pria itu pun berbalik, Alice menatap wajah pria itu dengan tatapan kecewa, hatinya kembali patah, saat pria yang dilihatnya bukanlah sosok yang begitu ingin ia jamah dan dekap tubuhnya, sosok yang begitu dirindukannya.



"Selamat pagi, Nona," sapa Albert dengan sebuah senyuman.


"Pagi juga Albert, siapa pria ini?" tanya Alice langsung to the poin dengan sosok pria yang kini berdiri di belakang tubuh Albert.


"Perkenalkan Nona, dia sepupu saya namanya Ray Philips, dia yang akan menggantikan saya selama saya izin, kebetulan Ayah saya memerlukan bantuan saya untuk menjalankan perusahaan barunya, tapi hanya untuk 2 Minggu ini saja, Nona."


Alice mencerna setiap kalimat yang tersusun dengan sangat hati-hati, terdengar dari suara Albert yang terkesan sedikit terbata.


"Iya tidak apa-apa Albert, kau tunjukan saja dimana kamar yang akan ditempatinya. Oh ya, apa kau sudah menyiapkan mobil untukku menjemput keluargaku pagi ini?"


"Sudah Nona, mobil sudah kubersihkan sepupuku yang akan mengantar Nona."


"Oke, Albert, segera ya kita akan berangkat sekarang."

__ADS_1


Tak berapa lama, Risfa datang menghampiri ketiganya.


"Nona, apa kau tidak sarapan terlebih dahulu?"


"Nanti saja di Bandara bersama keluargaku, ayo Philips kita berangkat."


"Baik Nona, dengan senang hati."


Perkataan Philips membuat Alice tersentak mendengarnya.


"Kenapa suaranya sangat mirip dengan suara suamiku ya?" gumam Alice dengan cepat mengabaikan dugaannya yang terasa sangat salah menurutnya.


Sesampainya di samping mobil, Philips langsung membukakan pintu mobil untuk Alice masuk.


"Silahkan Nona," ucap Phillips dengan tersenyum ramah, menatap wajah Alice yang masih dibalut rasa heran.


Alice hanya diam tanpa menjawab, baginya terlalu aneh jika suara yang sangat mirip dengan suara suaminya, terdengar menyapa dan memanggilnya "Nona", seakan perkataan itu sedikit menggelitik di telinganya. Alice hanya menebarkan sebuah senyum kecilnya ke arah Philips, sambil beranjak masuk ke dalam mobil.


Alice coba menyamankan posisi duduknya, walau ia merasa begitu canggung, karena hanya berdua dengan sosok pria yang masih asing untuknya.


Sepanjang perjalanan Philips hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun, berbeda dengan Albert yang senantiasa bersenda gurau dengan Alice, terlebih saat ini lalu lintas mulai memadat, semakin membuat Alice jenuh.


"Philips, aku tidur ya, jika sudah sampai bangunkan saja," ucap Alice langsung memejamkan matanya.


"Baik, Nona nanti aku akan bangunkan, saat sudah sampai."


Saat Alice tertidur, Philips terus memandanginya lewat kaca tengah mobil, yang memang sudah diarahkannya tepat ke arah wajah Alice.


🏡️🏡️🏡️


Bersambung✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih.

__ADS_1


Mampir ke judul novel yang lain ya :



__ADS_2