
Selamat membaca!
Mobil sudah tiba di pelataran lobi Bandara Heathrow. Tak bisa dipungkiri selama di perjalanan Philips begitu puas memandangi wajah Alice yang masih terlihat cantik, walau sedang tertidur, bahkan saat sudah berada di bandara sekalipun tatapan mata Philips tak pernah teralihkan, dirinya masih terus memandangi wajah Alice, dengan tatapan yang menyiratkan sebuah misteri dari jati dirinya yang sebenarnya.
"Nona, maaf kita sudah sampai. Bangun Nona!" ucap Philips kepada Alice diawali dengan sebuah deheman.
Perlu beberapa kali Philips mengulang perkataannya, sebelum akhirnya Alice mulai bergeming dari tidurnya.
Alice membuka matanya perlahan, sambil mengusapnya dengan kedua tangan.
"Apa kita sudah sampai Philips?" tanya Alice mulai melihat keadaan di luar mobil.
"Iya Nona, kita baru saja tiba," jawab Philips sambil keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Alice turun.
"Terima kasih Philips, parkirlah mobilmu, ikut aku ke dalam!"
Philips mengangguk dan kembali bergegas ke dalam mobilnya, ia lalu memarkirkan kendaraannya, kemudian menyusul langkah Alice yang terlebih dahulu masuk ke lobi bandara.
πππ
Elliot, Benjamin dan Christopher, sudah kembali ke London, setelah mendapat sebuah informasi dari Colin dan Arnold, bahwa Raymond sudah tiba di Bandara Heathrow sekitar satu Minggu yang lalu.
"Berarti setelah pergi ke Belanda, Tuan Raymond memutuskan untuk kembali ke London, jika memang benar informasi dari Colin dan Arnold," tutur Elliot kepada Benjamin, sambil melangkah menuju ruangan pusat kontrol di Bandara Heathrow.
"Kemungkinan begitu Tuan, tapi coba saja kita lihat langsung," jawab Benjamin yang masih ragu.
"Lantas dimana Colin dan Arnold?" tanya Elliot masih terus melangkah.
"Mereka sedang memeriksa CCTV di pusat kota London, terutama di London Eye, yang menurut informasi yang kami dapat, Tuan Raymond sering terlihat berada di sana."
Elliot menautkan kedua alisnya. Wajahnya kian serius memikirkan setiap petunjuk agar dirinya dapat menemukan keberadaan Raymond. Setidaknya Elliot ingin meminta maaf atas segala perlakuannya yang salah terhadap Raymond.
Sesampainya di pusat kontrol CCTV Bandara Heathrow. Ketiganya langsung disambut dengan baik oleh salah satu petugas yang bekerja di sana, kebetulan petugas itu sangat mengenal baik Benjamin, seorang wanita yang bernama Nicole Delia.
Nicole langsung mempersilahkan Elliot dan Benjamin untuk masuk, sementara Christopher berjaga-jaga di depan pintu.
"Silahkan Tuan Elliot, ini rekaman CCTV selama satu Minggu kemarin, pada layar 1,2, dan 3," ucap Nicole sambil menunjukkan.
Benjamin langsung menajamkan tatapan matanya melihat ketiga layar yang kini ada dihadapannya. Setelah mengamati ketiga layar tersebut dengan teliti, akhirnya Benjamin berhasil menemukan seorang yang berada pada layar CCTV itu tampak seperti Raymond.
"Tuan Elliot, aku menemukannya, coba lihat ini!"
Elliot mendekat ke arah layar yang telah ditunjuk oleh Benjamin. Ia pun melihat dengan seksama, hingga membuatnya tak berkedip.
"Betul tidak salah lagi, itu Tuan Raymond."
Tak berapa lama kemudian ponsel Elliot berdering, sebuah telepon dengan nama yang tertera pada layar bertuliskan "Colin".
Elliot menggeser benda pipih itu, kemudian mulai menjawab telepon dari Colin.
"Iya halo, Colin, ada apa?"
"Tuan, saya dan Arnold berhasil menemukan sesuatu di pusat pantau kamera CCTV di seluruh kota London, kami menemukan Tuan Raymond tampak masuk ke sebuah Barbershop yang buka 24 jam, tepatnya semalam sekitar pukul 22.00," ucap Colin di sambungan teleponnya.
"Dimana Barbeshop itu?"
__ADS_1
"Dekat dari London Eye, 5 blok dari sana Tuan, tapi anehnya kami tidak menemukan Tuan Raymond keluar dari Barbershop tersebut."
Elliot menautkan kedua alisnya, ia terus menganalisa apa yang telah didengarnya.
"Apa maksudnya semua ini?" gumam Elliot kesal, karena belum juga menemukan titik terang dalam pencariannya terhadap Raymond.
Sambungan telepon pun terputus, Benjamin yang juga mendengar laporan dari Colin, terus memutar otaknya untuk menemukan petunjuk dimana Raymond berada saat ini. Namun tiba-tiba pandangan Elliot tertuju pada layar CCTV nomor 4 yang menampilkan semua situasi terkini di bandara.
"Alice."
Benjamin yang mendengarnya, langsung menoleh ke arah Elliot.
"Tapi untuk apa Alice berada di sini?" batin Elliot bertanya heran.
Semakin lama mengamati, Elliot semakin cemas, ketika mendapati Alice seperti sedang diikuti oleh seseorang yang tampak asing di matanya, sosok pria dengan bulu lebat pada wajahnya yang berwarna kecokelatan.
"Siapa pria yang mengikutinya?" gumam Elliot penuh tanya.
Elliot dengan cepat memberitahu apa yang dilihatnya kepada Benjamin. Keduanya mengira bahwa nyawa Alice sedang terancam oleh pria yang tampak mengikuti Alice pada layar CCTV, tanpa berpikir panjang keduanya bergegas untuk menghampiri Alice.
"Cepat, Ben, kita tidak punya banyak waktu," ucap Elliot sambil membuka pintu ruang CCTV dengan cepat, kemudian keluar dari ruangan sambil berlari.
"Terima kasih atas bantuanmu Nicole," ucap Benjamin sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Nicole tersenyum menatap kepergian Benjamin, ia kemudian langsung menghubungi beberapa petugas di dekat tempat Alice berada untuk bersiap, apabila ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
πππ
Alice terus melangkahkan kakinya menghampiri keluarganya yang sudah dilihat dari kejauhan, sementara Philips masih mengikuti beberapa langkah di belakang Alice.
"Kakak, aku kangen sekali," ucap Tara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku juga Tara, terima kasih ya, kamu telah menyelamatkanku sewaktu aku di pulau, dengan memberitahu pesanku kepada Elliot," tutur Alice sambil melepas pelukan erat dari Tara, keduanya kembali berpelukan dengan erat, melepas rasa rindu yang sudah sejak lama mereka pendam, karena selama ini keduanya hanya dapat memandang tanpa bisa saling menyentuh pada layar ponsel.
Norin dan Adrian mendekat ke arah mereka, keharmonisan yang terjadi di depan mata Philips, membuatnya ikut terharu dengan kebahagiaan yang Alice rasakan.
"Mommy, aku kangen banget," ucap Alice dengan bibir bergetar.
Alice beralih mendekap tubuh Norin yang dilihatnya wajahnya sudah basah oleh air mata. Norin sangat bahagia karena dapat bertemu lagi dengan Alice, walau Alice sudah mengetahui rahasia besar yang telah disimpannya dengan rapat, namun itu tidak mengurangi cinta yang Alice miliki untuk Norin, karena Alice sudah menganggap Norin seperti orangtua kandungnya sendiri.
Bagi Alice orangtua itu tidaklah harus sedarah, asalkan mereka selalu menyayangi kita dengan tulus, merawat kita penuh cinta kasih, itu sudah dapat dikatakan sebagai orangtua untuknya. Terlebih selama ini, baik Norin dan Adrian, begitu menyayangi Alice seperti anak kandungnya sendiri.
πππ
Setelah kesedihan yang mengharukan sudah dilewati. Kini Alice mengajak seluruh keluarganya untuk menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Ayo cepat Tara, aku sudah lapar, sepertinya kedua anak di dalam kandunganku, sudah tidak sabaran untuk aku manjakan dengan makanan," tutur Alice mempercepat langkahnya.
"Kalian duluan saja," ucap Norin yang tertinggal di belakang kedua putrinya.
Adrian tersenyum bahagia melihat kedua putrinya sudah kembali berkumpul. Ia kemudian merapatkan tubuhnya ke arah Norin dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Norin.
"Aku bahagia, akhirnya kita bisa berkumpul kembali," ucap Norin sambil menatap Adrian dengan lekat, disertai sebuah senyuman yang merekah pada wajahnya.
"Aku juga merasa begitu."
__ADS_1
Norin dan Adrian berjalan berdampingan menyusul langkah kedua putrinya yang lumayan jauh meninggalkan mereka. Sementara Philips terlihat masih setia mengekor di belakang keduanya.
πππ
Suasana di bandara tampak begitu ramai dengan pengunjung. Saat Philips masih termangu dengan tatapannya melihat keriangan Alice, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kedatangan Benjamin dan Christopher yang langsung menyergap tubuh Philips, hingga roboh ke dasar lantai.
Keadaan berubah menjadi ricuh, beberapa pengunjung terlihat ketakutan, ada yang langsung berlari untuk menghindar, ada juga yang tak menghiraukan kejadian yang saat ini sedang terjadi di depan mata mereka, sebagian lagi malah asyik menonton sambil merekam dengan ponsel yang mereka miliki, suatu kejadian yang jarang terjadi di bandara.
Alice dan keluarganya begitu terkejut, mereka sampai membulatkan kedua matanya dengan sempurna, menyaksikan peristiwa yang saat ini terjadi.
"Ada apa ini? Lepaskan aku!" tegas Philips dengan lantang, seolah melepas kemarahan yang mulai merayap naik menguasai dirinya.
Mendengar suara Philips yang sangat mirip dengan Raymond, keduanya dengan sekejap melepaskan tangan mereka dari tubuh Philips.
"Maafkan kami Tuan Raymond, saya tidak tahu Anda sudah kembali," ucap Benjamin dengan setengah membungkuk, tanda ia begitu menyesal, karena telah lancang memperlakukan seorang pria yang dikiranya adalah Raymond.
Namun saat Philips membalikkan tubuhnya, baik Benjamin ataupun Christopher begitu terkejut, ketika orang yang dilihatnya ternyata bukanlah Raymond.
Benjamin dan Christopher saling menatap penuh keheranan, seolah keduanya menjadi bodoh tanpa bisa berkata apapun, di satu sisi mereka meyakini jika suara yang mereka dengar adalah suara milik Raymond, namun di sisi lain, pada kenyataannya apa yang mereka lihat ternyata bukanlah Raymond.
Tak berapa lama kemudian Elliot datang menghampiri Philips dan langsung meremas kerah baju pria yang saat ini terlihat sudah mengeras wajahnya, karena menahan amarah.
Alice mendekati tubuh Philips untuk mengurai kemarahan Elliot.
"Kakak, lepaskan dia, dia itu sepupunya Albert, driver baru kita. Albert izin cuti untuk membantu bisnis orangtuanya, tapi itu pun hanya dua Minggu, jadi stop! Jangan buat onar di bandara!" tutur Alice dengan kesal, atas sikap bar-bar yang ditunjukan oleh Elliot.
Elliot melepaskan cengkraman dari tubuh Philips dengan pelan.
"Jadi kau Philips sepupunya Albert, kenapa suaramu sangat mirip dengan Raymond?" seloroh Elliot melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Philips, sukar untuk menelan salivanya sendiri.
Philips mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan Elliot, amarah yang tadinya begitu tampak di wajahnya, sekejap menghilang. Kini Philips kembali memasang wajah lugunya.
"Iya benar saya sepupu Albert, Tuan. Jika suara saya mirip dengan Tuan Raymond, saya sungguh tidak tahu apa-apa Tuan, saya saja tidak mengenal Tuan Raymond," jawab Philips sambil sesekali menunduk untuk menghindari tatapan mata Elliot.
Elliot menghela napasnya kasar.
"Mungkin aku terlalu lelah mencari keberadaan Tuan Raymond sampai membuatku, jadi berhalusinasi ketika mendengar suara yang mirip dengannya."
"Iya Kakak, sudah ya! Semua ini hanya salah paham, Philips tidak akan menyakitiku. Aku tahu kecemasan dan trauma Kakak terhadapku. Tapi semua sudah berakhir, tidak akan ada lagi Greta yang akan menyakitiku, ataupun Thomas yang akan kembali ke London, jadi tenanglah!" tutur Alice sambil menepuk kedua pundak Elliot dengan kedua tangannya.
"Sekarang aku sudah sangat lapar, aku mau makan di sana, apa Kakak mau ikut?" tawar Alice sambil menunjuk sebuah tempat makan yang tidak jauh ada di depan mereka.
Alice tersenyum menatap ke arah Elliot, sebuah senyuman yang sudah sejak lama tak dilihatnya, semenjak kepergian Raymond dari rumah.
"Kedatangan keluarganya membuat Alice lebih tenang, syukurlah, aku jadi lebih sedikit tenang," gumam Elliot yang sudah terlihat lega, wajahnya sudah tampak lepas dari sebuah tekanan, karena masih belum dapat menemukan keberadaan Raymond.
Saat petugas bandara mulai berdatangan, Benjamin dan Christopher yang mengenal salah satu dari mereka, langsung menyampaikan kesalahpahaman yang baru saja terjadi, hingga membuat kericuhan yang sempat terdengar, kini sudah dapat teratasi dan keadaan berangsur tenang.
πΌπΌπΌ
BersambungβοΈ
Berikan komentar kalian ya.
Jangan lupa like dan vote.
__ADS_1