Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Rasa Rindu


__ADS_3

Selamat Membaca!


Dalam rasa sesak yang semakin mencekik, seorang Raymond Weil berderai air mata, menyesali segala kesalahan yang telah dilakukannya.


"Aku hanya manusia bodoh yang menyia-nyiakan kesempurnaan yang telah ku miliki," gumam Raymond sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.


Raymond mendesah kasar.


Aku harus membawa Alice kembali pulang.


Sebuah tekad yang tidak mudah untuk ia bangun dengan ketulusan, membuang semua keangkuhan dan jiwa arogan yang selama hidup telah terpatri dalam dirinya.


Raymond menyadari sesuatu yang berharga hilang dalam hidupnya. Wajah cantik Alice yang akhir-akhir ini menemani waktunya, mulai dari senyumannya saat bahagia dan segala bentuk ekspresi wajah lainnya yang membuat Raymond merindukannya.


Apa Alice mau memaafkanku?


Raymond mendengus kasar, ia mencoba untuk tenang dan berpikir dengan kepala yang dingin.


Otaknya mulai berputar untuk menemukan cara melacak keberadaan Alice. Wajah Raymond kini mengeras memusatkan konsentrasinya, ia terus mengutak atik smartphone canggihnya.


Beberapa saat kemudian.


Raymond tersenyum kecil. Wajahnya terlihat kembali bersemangat.


Akhirnya aku menemukanmu Alice.


"Albert, arahkan menuju pusat kota London, lokasinya sudah ku kirim ke handphonemu, gunakan itu untuk mengarahkanmu, agar kita bisa sampai dengan cepat."


Mendengar perintah Raymond, mobil langsung memutar arah layaknya seorang pengemudi F1, Albert melajukan mobil dengan cepat.


Apartemen Richard.



Langit biru terhampar luas terpampang begitu nyata. Apartemen dengan kolam renang indah di atasnya, membentuk kemegahan yang membuat mata siapapun yang memandang, akan menuai decak kagum.


Alice terlihat duduk di tepi kolam renang, ia menunggu Elliot yang pergi bersama Kelly, untuk mengurus dokumen keberangkatan menuju Australia.


"Apa aku harus meninggalkan keluarga dan suamiku?" ucap Alice sambil memainkan air kolam renang dengan sebelah tangannya.


Dari kejauhan sepasang mata menatapnya.


Richard menghampiri Alice yang sedang melamun seorang diri. Setelah berkutat dengan berbagai dokumen proyeknya, akhirnya kini ia dapat menghirup udara segar di luar apartemen, kolam renang ini adalah tempat favoritnya terlebih di malam hari.


"Alice perhatikan posisimu, jangan sampai kamu tercebur dan akhirnya tenggelam karena kamu tidak bisa berenang,"


Alice terhenyak mendengar suara Richard.


"Bagaimana kamu tahu aku tidak bisa berenang?" tanya Alice dengan wajah heran.

__ADS_1


"Aku hanya menebaknya saja, karena biasanya siapapun yang pandai berenang, setelah melihat kolam renang ini, pasti akan langsung menyelam."


"Maafkan aku Alice sebelum aku kembali ke Australia, aku harus menikmati keindahan kolam renangku ini."


Richard tiba-tiba membuka kemejanya dan melemparnya sembarang, lalu melepas celana bahan panjangnya, membuat Alice terkesiap dengan cepat menutup mata dengan telapak tangannya.



Richard langsung melompat ke dasar air, menenggelamkan dirinya lalu mulai menikmati sore hari dengan berenang.


Alice bangkit dan beranjak untuk menjaga jarak tubuhnya dari tepian kolam renang, ia hendak kembali masuk ke apartemen, mulai melangkah meninggalkan Richard sendiri dengan keasyikannya.


Namun saat langkahnya semakin jauh, Richard memanggilnya.


"Masuklah Alice, biar aku mengajarimu renang, aku yakin dalam satu hari aku mengajarimu, kamu akan pandai berenang."


Alice berpikir sejenak, ia sebenarnya tak enak menolak tawaran Richard yang sudah baik terhadapnya juga Elliot, terlebih ia juga menawarkan pekerjaan untuk keduanya di Australia dengan jabatan yang tinggi di perusahaannya.


"Kamu akan menyesal jika melewatkannya? Lihat kolam renang ini, indah bukan?" tanya Richard sambil membentangkan tangannya, menunjukkan keindahan dari kolam renang yang dimilikinya.


Alice mengedarkan pandangannya, menatap lebih luas ke sekelilingnya, ia pun menyadari memang kolam renang ini salah satu yang terindah yang pernah dilihatnya.


"Memang indah, tapi.." ucap Alice tak meneruskan kata-katanya.


Richard bangkit keluar dari kolam renang, ia berpijak di tepi kolam dan menghampiri Alice.


Dengan menekuk sebelah kakinya ke dasar lantai dan menyodorkan tangannya ke arah Alice.


Alice menelan salivanya dengan kasar. Ia bingung harus bereaksi sedih atau bahagia dengan keromantisan Richard. Alice menatap Richard penuh kekaguman, hal yang tak pernah ia lakukan ketika menatap Raymond.


Ya ampun, kenapa aku bertemu dengannya saat sudah menikah dengan Tuan Raymond ya.


Alice mendesah kasar menyadari statusnya.


"Tidak, tidak, aku masih sah sebagai istri Tuan Raymond, aku tidak mau bila nanti Tuan Raymond menyamakan aku dengan Nyonya Claire yang telah mengkhianati Tuan Nicholas," gumam Alice menyibakkan lamunannya.


Alice masih diam tak menjawab tawaran Richard.


Kakinya mulai kesemutan berlutut, tanpa pikir panjang Richard bangkit lalu menggendong Alice dan melempar tubuhnya ke kolam renang, hingga Alice berteriak panik.


Richard ikut menyelam ke dasar kolam, untuk menjadi penopang tubuh Alice agar tidak tenggelam.


Wajah Alice terbenam dalam ke dasar kolam, namun tangannya terus mencari sandaran untuk dapat menopang raganya agar tidak tenggelam, karena tak dapat melihat dengan jelas, tangan Alice menyentuh dada kekar Richard, membuat kedua wajah mereka saling berhadapan begitu dekat, tatapan mata keduanya saling bertaut, sejenak terdiam tanpa suara, terlebih saat kedua tangan Richard menyentuh pinggang Alice dan merapatkan tubuhnya lebih dekat.


Alice salah tingkah dibuatnya, ia tersadar dari situasi ini, lalu coba mengalihkan pandangannya, Alice menggapai tepian kolam renang untuk tempatnya bersandar.


Richard merasa tak enak dengan Alice, ia pun menghampirinya.


"Maaf ya Alice, maksudku tadi hanya ingin..." belum selesai Richard menyelesaikan kalimatnya, telapak tangan Alice sudah mendarat di pipi kiri Richard dengan keras.

__ADS_1


"Tuan Richard, bukan berarti jika Anda sudah menyelamatkan saya, Anda bisa seenaknya menyentuh saya, apalagi saat ini saya masih berstatus seorang istri," tegas Alice menatap tajam wajah Richard, yang saat ini sedang memegang pipinya.


Richard tersenyum kecil.


Wanita ini berbeda dengan wanita lainnya, ia tidak semurah mereka.


"Sekali lagi saya minta maaf Alice, saya tidak bermaksud kurang ajar, hanya saja saya sedang mencari tahu bagaimana kepribadian kamu yang sebenarnya."


"Maksud Anda?" tanya Alice dengan suara yang masih dipenuhi amarah.


"Ya untuk menempati posisi sekretaris di Perusahaan saya, saya tidak mau wanita dari kalangan rendahan, kamu tahu maksud saya kan."


Alice terhenyak mengetahui maksud dan tujuan yang Richard katakan.


"Saya sudah sering gonta-ganti sekertaris karena satu alasan yang sama, wanita itu tidak becus dalam bekerja, mereka hanya pandai menggoda saya untuk mendapatkan kekuasaan dan sebuah posisi yang diinginkan banyak wanita di Melbourne, Australia."


"Posisi apa maksud Anda, Tuan?" tanya Alice dengan wajah polosnya.


Wanita ini memang benar-benar tidak tahu, dia sangat polos.


"Menjadi Nyonya Richard."


Jawabannya Richard membuat Alice baru mengetahui maksud dari apa yang dilakukannya tadi.


"Sekali lagi saya minta maaf ya, Nona Alice," tutur Richard kembali mengulangi maafnya, namun kali ini ia memberi pagaran kedua pipinya dengan siku tangannya.


Alice yang melihat sikap Richard jadi terkekeh dibuatnya.


"Tenang saja Tuan Richard, saya tidak akan menamparmu untuk kedua kalinya," ucap Alice menahan gelak tawanya rapat-rapat.


Richard tersenyum ramah kepada Alice, kemudian ia melompat ke dalam kolam untuk kembali berenang.


Sementara Alice mulai melangkah memasuki apartemen, untuk mengganti semua pakaiannya yang basah.


Saat Alice ingin memasuki kamar mandi, ia seperti merasa ada seseorang yang baru saja keluar dari apartemen. Alice melangkah untuk melihatnya.


"Ini pintu tidak tertutup dengan rapat."


Alice menoleh ke dasar pintu, terlihat sebuah karet pijakan menjuntai ke luar ruangan, sehingga pintu otomatis tidak dapat berfungi dan menutup dengan baik.


"Ini pasti Elliot dan Nona Kelly tadi terburu-buru, sewaktu mereka keluar tidak menyadari ternyata pintu belum tertutup rapat."


Setelah menutup pintu dengan rapat, pintu terkunci secara otomatis dan hanya dapat dibuka dengan menggunakan id card yang hanya dimiliki oleh dua orang, yaitu Richard dan Kelly.


Alice melangkah kembali menuju kamar mandi, pandangan Alice yang terus menatap ke depan, membuatnya tak menyadari bahwa di sebelah kakinya saat melangkah, terdapat sebuah cincin yang sudah tergelatak di sana.



🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung✍️


Penasaran dengan kisah Alice dan Raymond, terus ikuti kelanjutannya ya. Berikan dukungan kalian terus dengan like, komentar dan vote. Terima kasih, sehat selalu ya. 😍😊


__ADS_2