Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Info Promo : Wanita Pengganti Di Malam Pertama


__ADS_3

Selamat membaca!


Sejak sore hujan lebat sudah tampak mengguyur kota Jakarta. Hujan yang disertai petir itu seolah-olah menggambarkan perasaan hatiku yang saat ini tengah dilanda resah. Bagaimana tidak, sejak pagi tadi aku terus memikirkan hal ini. Memikirkan tentang betapa menyesalnya aku karena tidak menjaga keperawananku. Aku melupakan nasihat ibuku. Nasihat di mana aku seharusnya menjaga hal penting itu dan hanya memberikannya pada pria yang akan menjadi suamiku.


"Sekarang bagaimana ini? Apa sebaiknya aku jujur saja sama Mas Denis? Tetapi, bagaimana kalau dia marah dan jadi membenciku."


Tidak mudah untukku menentukan pilihan. Terlebih suamiku yang bernama Denis Wiratama beberapa kali sering mengatakan jika dia hanya ingin menikahi wanita yang bisa menjaga keperawanannya hanya untuk pria yang menjadi suaminya. Dan bodohnya lagi, aku hanya bisa mengiyakan tanpa menjelaskan apa-apa saat itu.


Aku pun menarik napas panjang. Masih nyaman berdiri di bawah pancuran air yang keluar dari shower tepat di atas kepalaku. Bukan hanya merasa letih karena seharian ini menyambut tamu-tamu undangan yang datang ke resepsi pernikahanku, tetapi pikiranku pun terasa lelah karena terus memikirkan malam pertama yang bagi setiap wanita seharusnya menjadi malam indah. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untukku karena yang terjadi malah sebaliknya. Aku sangat tertekan. Merasa bodoh dan ingin lari dari kenyataan.

__ADS_1


Tiba-tiba suara ketukan pintu kamar mandi yang dibarengi dengan suara Mas Denis pun terdengar mengejutkanku. Aku coba tetap tenang agar dia tidak dapat membaca apa yang aku pikiran saat ini. Semua akan jadi masalah jika Mas Denis sampai tahu bahwa aku adalah wanita yang tidak sempurna dan jauh dari apa yang dia harapkan. Sungguh, seandainya waktu bisa kembali, aku ingin kembali ke masa itu. Masa di mana seharusnya aku tidak menyerahkan keperawananku hanya demi sebuah materi. Ya, walau jumlahnya cukup besar, tetapi aku benar-benar menyesalinya saat ini.


"Aku masuk ya, Sayang." Tanpa menunggu jawabanku, dia pun melangkah masuk. Melihat tubuh polosku yang basah dengan kedua matanya yang terus menatapku tanpa berkedip. Aku tahu, dia pasti kagum dengan keindahan lekuk tubuhku. Makanya, dia menatapku seperti itu.


"Mas, kamu enggak menungguku di tempat tidur saja? Aku sebentar lagi juga selesai kok."


"Kamu lama banget, Sayang. Sudah setengah jam aku tungguin, tetapi kamu belum juga keluar dari kamar mandi. Jadi, aku pikir apa sebaiknya kita melakukannya di dalam bathtub saja?"


"Baiklah, aku tunggu ya! Kamu jangan lama-lama ya, Sayang."

__ADS_1


Mas Denis tersenyum. Dia tidak memaksa apa yang tidak ingin aku lakukan. Ya, begitulah dia. Pria sempurna yang membuatku sampai rela melepas semua pria hidung belang yang selama setahun selalu memberikan aku kemewahan. Bertemu dengannya adalah sebuah anugerah untukku. Namun, aku tidak yakin jika dia akan sependapat denganku saat mengetahui bahwa aku telah membohonginya dengan mengaku masih perawan.


Kepergiannya meninggalkan berjuta ketakutan dalam diriku. Aku benar-benar bimbang hingga tak kuasa air mataku pun menetes membasahi kedua pipiku. Aku menangis, meluapkan perih dan ketakutan yang kian membelenggu hatiku.


"Mungkin aku memang tidak bisa menghindari semua ini. Sekarang aku pasrah dengan apa yang akan Mas Denis pikirkan tentangku," batinku sambil mematikan shower, lalu mengambil handuk dan melilitkan pada tubuhku.


Bersambung ✍️


Baca juga, Wanita Pengganti Di Malam Pertama.

__ADS_1



__ADS_2