Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Selamat Tinggal Alice


__ADS_3

Selamat membaca!



Pagi hari.


Alice mulai mengerjapkan matanya beberapa kali, ia mulai menggeliat di atas ranjang untuk melenturkan tubuh yang telah lama kaku tertidur lelap.


Pandangan Alice mulai terbuka perlahan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar.



"Kenapa kamar ini terlihat mewah ya, bukannya katanya sweetu mau mengajak aku ke Desa Bibury," ucap Alice masih heran dengan apa yang dilihatnya.


Alice melangkah keluar dari kamar, melihat kagum ruangan yang berada di depan kamarnya.



Ruang santai ini bagiku masih terlihat mewah tapi dimana sweetu ya?


Alice melangkah ke arah ruang makan, tampak sosok Raymond mulai terlihat sedang berada di dapur, sibuk dengan aktivitasnya.


Langkah Alice terdengar oleh Raymond.


"Selamat pagi sweety, selamat datang di Desa Bibury, kamu sudah bangun?"


Alice menatap malu.


"Iya sweetu, aku minta maaf ya, oh ya sweetu kenapa rumah ini tampak mewah jika ini benar di pedesaan?" tanya Alice berdecak kagum dengan apa yang telah lihatnya.


"Ya aku tidak mau terlalu mencolok, jadi aku sengaja menyuruh arsitekturku membuat rumah ini sederhana di bagian luar tapi tetap mewah di dalam ruangan, lagipula mana mungkin aku bisa tinggal di rumah yang sederhana, sweety."


Raymond masih terus menyiapkan menu terakhirnya untuk disajikannya.



"Ini masakanmu sweetu?" tanya Alice terperangah melihat berbagai menu santapan pagi di atas meja makan.


"Selesai, ayo kita makan sweety," sambil melangkah menuju meja makan dan menarik satu kursi untuk Alice duduk.


Alice kembali berseri wajahnya, perlakuan istimewa yang diberikan Raymond membuatnya tersipu malu, wajahnya merona merah.


Raymond dan Alice duduk bersebrangan, mereka saling berhadapan.


"Ayo sweety makan, memangnya hanya dengan memandangku, perutmu akan terasa kenyang," gurau Raymond tersenyum.


"Aku.."


Tiba-tiba mata Alice berkaca-kaca, ia begitu tersentuh sampai membuat bulir air mata lolos dari mata indahnya.


"Kenapa kamu menangis sweety ku?"


Alice menyeka air matanya dengan telapak tangannya.


"Ini air mata kebahagiaan sweetu, aku bahagia memiliki suami sepertimu, tak peduli apapun kesalahan yang dulu pernah kamu lakukan," ujar Alice menatap wajah Raymond dengan penuh cinta.


"Jangan pernah kamu ungkit kesalahanku dulu ya sweety, saat ini aku sudah sadar, jika kamu adalah anugerah yang tidak boleh aku sia-siakan," tutur Raymond menegaskan isi hatinya saat ini.


"Terima kasih ya sweetu, jangan pernah berubah ya tetaplah menjadi sweetu ku yang seperti ini," tutur Alice sambil menaikan kedua alisnya.


Raymond terkekeh.


"Kamu takut kehilanganku ya sweety," ucap Raymond tertawa renyah.


Alice tercekat semakin tersipu malu. Namun Raymond langsung mengusir candanya dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak akan berubah seperti dulu sweety, kamu tidak usah cemas ya sweety,"

__ADS_1


Alice tersenyum merekah mendengar ucapan Raymond. Dirinya merasa beruntung dengan perubahan Raymond yang drastis.


Mereka memulai sarapan dengan nikmat, makanan yang Raymond masak sangat cocok di lidah Alice, hingga ia menghabiskan sarapannya sampai tandas tanpa sisa.


🍁🍁🍁


Suara deru langkah kaki mulai terdengar di telinga Elliot.


"Mereka datang, jika ini akhir hidupku, maafkan Kakakmu ini Alice."


Elliot tertunduk lesu. Ia tampak pasrah dengan apa yang akan dihadapinya. Pintu pun terbuka dengan keras, keempat orang yang menculik Elliot waktu di apartemennya kembali datang dan membawa Elliot dengan kasar.


Elliot diletakkan di belakang bagasi mobil.



"Cepat masuk!"


Elliot mencoba berontak, namun keadaannya yang lemah membuat ia tak berdaya untuk lebih jauh melawan, karena selama beberapa hari tubuhnya tidak diberikan asupan makanan, hanya minum itupun tidaklah banyak.


Elliot kini sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Sebelum pintu bagasi tertutup ia sempat mengganjalnya, dengan jas yang dikenakannya, apa yang dilakukannya ternyata memang membuahkan hasil, bagasi hanya tertutup tapi tidak terkunci karena pengunci bagasi terhalang oleh jas Elliot.


Mobil mulai melaju untuk menuju dermaga tempat mereka akan membuang tubuh Elliot ke laut.


"Ini kesempatanku untuk lolos, tapi sangat berbahaya jika aku langsung melempar tubuhku ke jalan raya yang ramai ini," gumam Elliot menimang-nimang.


"Lebih baik aku mencoba walaupun aku harus mati, tapi tidak mati di dasar laut yang mayatku pun tidak bisa ditemui," ucap Elliot yakin akan keputusannya.


Tak lama laju mobil terhenti.


"Ini sepertinya lampu merah, ini saatnya,"


Tanpa menunggu lebih lama, Elliot langsung membuka bagasi dengan kedua kakinya yang terikat, setelah bagasi terbuka, ia langsung berusaha mengangkat tubuhnya untuk keluar dari bagasi, hingga akhirnya tubuhnya terhempas dan jatuh terbentur kerasnya aspal jalanan.


Namun sayang apa yang dilakukannya tercium oleh ke 4 anak buah Will, yang dengan segera langsung menaikkan Elliot kembali ke dalam bagasi.


Sial aku gagal.


Maafkan aku Alice.


"Sekali kau berusaha kabur lagi, aku akan langsung menembak kepalamu," ancam salah satu anak buah Will dengan kesal.


Elliot mendengus kasar. Ia melihat sekelilingnya berharap dapat menemukan orang yang bisa membantunya, namun jalan itu terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas namun itupun berada di seberang jalan, berbeda dengan tempatnya berada.


Mobil pun kembali melaju.


30 menit kemudian.



Keempat anak buah Will sudah memarkirkan mobilnya di tepi dermaga yang kelihatan tampak sepi dari aktivitas, karena ini memang hari libur.


Mereka sudah bersiap untuk melempar tubuh Elliot ke laut.


"Akhirnya kau tidak lagi menyusahkan kami."


Tanpa aba-aba, mereka yang sudah tidak sabar untuk menyelesaikan tugasnya, langsung melempar tubuh Elliot ke laut, hingga membuat tubuhnya langsung tenggelam tanpa perlawanan yang berarti, dengan kedua kaki yang terikat dan kedua tangan terkait di tubuhnya sulit baginya untuk berenang ke permukaan air.


Selamat tinggal Alice.


Aku datang Ibu, kita akan bertemu.


Elliot memejamkan matanya, napasnya mulai sesak terisi air laut, membuat oksigen dalam paru-parunya sudah tak ada lagi yang tersisa.


Keempat anak buah itu langsung pergi meninggalkan dermaga dan melajukan mobilnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Saat Alice sedang mencuci beberapa piring dan gelas, tanpa sengaja ia menyenggol sebuah gelas, hingga jatuh ke dasar lantai dan pecah berantakan.


Kenapa hatiku jadi tidak enak ya.


Tiba-tiba terlintas wajah Elliot dalam benaknya, ia masih termenung untuk mengambil pecahan beling yang berserakan di dasar lantai.


Ya Tuhan, jaga dan lindungilah Kakakku.


"Au." Alice mengaduh kesakitan saat salah satu jarinya terkena pecahan beling.


Raymond yang mendengar Alice mengaduh, dari ruang televisi langsung berlari ke arah dapur.


"Sweety, apa yang terjadi?"


Raymond melihat jari telunjuk Alice mengeluarkan darah hingga menetes ke lantai. Ia panik dan meraih tangan Alice, kemudian mengisap jari telunjuk Alice yang berdarah.


"Apa yang kamu pikirkan, sweety ku?" tanya Raymond melihat raut wajah Alice yang muram.


"Aku teringat Elliot, perasaanku tidak enak. Sweetu, aku merasa sesuatu yang buruk terjadi padanya," jawab Alice dengan suara gemetar dan dahinya sudah dipenuhi keringat dingin sebesar jagung.


Raymond ikut merasakan kegelisahan yang Alice rasakan. Pikirannya tertuju pada keadaan dan keberadaan Elliot yang sampai detik ini belum diketahui.


Elliot hilang secara misterius.


"Sweety, aku harus menemui Daddy di kantor polisi ya."


"Tapi sweetu keadaan tidak memungkinkan kamu untuk kembali ke kota."


"Aku akan menyamar, kamu tenanglah di sini dan doakan aku agar bisa kembali dengan selamat dan membawa Elliot ke tempat ini."


"Jangan, tunggu sampai 3 hari ke depan. Aku tidak bisa tenang melepas kamu pergi hari ini," tutur Alice cemas mencoba menahan kepergian Raymond.


"Sweety, percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja."


Wajah Alice masih terlihat penuh keraguan.


Tiba-tiba Raymond memapah tubuh Alice, melangkah masuk ke dalam kamar dan dengan perlahan merebahkan tubuh Alice di atas ranjang.


Lalu Raymond mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di jari telunjuk Alice dan membalutnya dengan perban.


"Aku mencintaimu sweety."


Alice menyentuh wajah Raymond dengan lembut.


"Aku juga sweetu, aku sangat mencintaimu."


Mereka berdua kembali tenggelam dalam nuansa cinta yang sudah bersemi di hati keduanya. Raymond mulai memagut bibir Alice dengan lembut, tanpa keraguan Alice mengimbangi pagutan mesra Raymond.


Keduanya semakin memburu nafsu yang mulai merayap naik, membuatnya sejenak melupakan segala masalah yang sedang mengganggu pikirannya.


Alice melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Raymond, begitu juga sebaliknya, kini mereka tanpa sehelai pakaian pun. Keduanya saling memadu kasih, tubuh mereka yang saling menindih menggeliat hebat merasakan kenikmatan yang semakin terdengar memecahkan keheningan kala itu. Alice mengerang nikmat, suara desahannya membuat nafsu Raymond semakin memuncak.


Raymond terus melakukan manuver cintanya, beberapa gerakan membuat Alice semakin mendesah hebat, meraih puncak kenikmatannya.


Ini adalah kali pertama Alice melakukan hubungan suami istri dengan Raymond, tanpa dipengaruhi minuman yang memabukkan dan ini kali keduanya bercinta sepanjang hidupnya.


Keduanya menikmati pagi pertamanya di Desa Bibury dengan keromantisan dan cinta kasih. Walau di tengah segala masalah yang semakin rumit untuk dihadapi, namun kebersamaan dan cinta yang menguatkan keduanya, membuat mereka yakin akan dapat melewati semuanya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Berikan dukungan kalian terus dengan like, komentar dan vote kalian ya.


Sempatkan menulis komentar karena komentar kalian adalah penyemangat untukku dalam menulis.


Love you all

__ADS_1


Sehat selalu ya..


Jika berkenan gabung ke GC dan Follow aku ya..


__ADS_2