Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Penyesalan Alice


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice terus memikirkan Raymond selama di dalam perjalanan pulang. Tak sedetikpun pikirannya teralihkan kepada yang lainnya.


"Aku benar-benar merasa bersalah, harusnya aku lebih mempercayai suamiku, walau itu sangat sulit sekalipun," gumam Alice dengan raut wajah yang cemas.


Elliot masih terus fokus dengan pandangannya ke arah jalan, namun sesekali pria tampan berbulu tipis itu, menatap wajah Alice yang tampak masam.


"Kamu tidak usah cemas, aku yakin Tuan Raymond akan memaafkanmu, lagipula dia pasti bahagia melihatmu pulang."


Alice yang mendengar nasihat Elliot, mencoba untuk menepikan semua perasaan cemas yang melanda dirinya kala itu, ia pun mulai berdoa agar rumah tangganya bersama Raymond, dijauhkan dari segala masalah yang sering hadir merusak kebahagiaan mereka.


"Kita akan selalu bersama sweetu, ada kamu, aku dan kedua anak kita," batin Alice tersenyum getir.


Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit, akhirnya kini keduanya sudah tiba di pelataran rumah. Alice langsung bergegas turun dengan tergesa, ia pun mulai masuk ke dalam rumah, sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, namun tetap saja matanya belum berhasil menemukan apa yang dicarinya. Alice langsung memutuskan untuk menuju ke arah kamar yang letaknya berada di lantai 2. Langkahnya semakin cepat menaiki anak tangga, setelah tiba di depan kamar, Alice mematung diam sejenak mengatur ritme napasnya yang saat ini terdengar terengah-engah.


Alice menggenggam handle pintu dengan erat, lalu mulai membukanya perlahan, Alice masuk ke dalam kamar, dilihatnya ke arah ranjang, namun ia masih tak menemukan keberadaan Raymond. Alice semakin panik, wajahnya kini terlihat sendu.


"Kamu dimana sweetu, apa jangan-jangan kamu pergi karena marah padaku?" lirih Alice yang sudah menyusuri setiap sudut kamarnya, bahkan sampai mendatangi ruang rahasia yang terdapat di dalam kamarnya, namun tetap saja Alice masih belum juga menemukan keberadaan Raymond.


Alice terdiam duduk di tepi ranjang, dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas pangkuannya. Alice menangis menyesali segala apa yang telah terjadi.


"Aku bodoh, sweetu, aku tak mempercayaimu, padahal kamu sudah berubah, aku bodoh," gumam Alice merutuki setiap kesalahannya.

__ADS_1


Alice tertunduk dan menangis terisak, bulir air mata berjatuhan dengan deras membasahi tangan yang masih bertaut dipangkuannya. Tak lama suara ketukan memecahkan keheningan yang saat itu begitu terasa pekat.


Alice menyeka air matanya, sambil menarik napasnya dalam-dalam ia coba menguatkan hatinya yang saat ini begitu rapuh, walau itu sangat sulit untuk ia lakukan.


"Masuk!" titah Alice.


"Maaf Nona, apa aku mengganggumu?" tanya Risfa merasa tak enak.


"Tidak katakan saja Risfa, ada apa?" jawab Alice menatapnya dengan wajah yang sendu.


"Aku hanya ingin memberikan ini padamu Nona, sebelum pergi Tuan Raymond menitipkan surat ini kepadaku."


Risfa menghampiri Alice di tepi ranjang dan langsung menyodorkan secarik kertas, seperti sebuah surat.


"Terima kasih ya Risfa, apa Tuan Raymond tidak memberitahumu, kemana dia pergi?"


Alice dengan perlahan membuka sebuah surat yang saat ini sudah digenggamnya, ia mulai membaca susunan kata-kata yang tertulis di dalamnya.


"Sweety, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi menjauh darimu, aku sadar sejak awal kita menikah, aku tidak bisa menghadirkan kebahagiaan untukmu, tapi malah sebaliknya, aku selalu mengecewakanmu, bahkan perselingkuhanku dengan Greta membawa luka yang sangat mendalam untukmu, aku tahu aku salah, aku memang bodoh, andai dulu aku tidak gegabah dalam mengambil sikap, mungkin hingga detik ini pernikahan kita sudah pasti akan selalu bahagia, aku juga tidak bisa menyalahkanmu, jika saat ini kamu tidak mempercayaiku, aku sadar mungkin ini hukuman yang pantas aku dapatkan, dari segala perbuatan yang telah aku lakukan di masa lampau, benar kata Elliot, aku saat ini memang tidak memiliki apapun, bahkan harga diri sekalipun, semua harta dan kekuasaan yang aku banggakan semua sudah menjadi milikmu, aku juga tidak mempunyai hak untuk tinggal di rumah ini, maka itu aku memilih untuk pergi. Entah bagaimana aku bisa membuktikan padamu bahwa aku kini sudah berubah, aku sudah bukan seorang Raymond Weil yang dulu, arogan, semena-mena dan selalu bercinta dengan bergonta-ganti wanita, aku tidak menuntutmu untuk mempercayaiku, karena aku tahu itu pasti akan sangat sulit. Jaga kedua anak kita dan ingatlah! Jika aku tidak pantas menjadi Ayah dari kedua anak kita, jangan ceritakan tentang aku pada mereka, katakan saja aku sudah mati, tapi jika ada sisi baik dari diriku yang bisa kamu ceritakan, aku akan sangat bersyukur jika kelak mereka dapat mengenal aku sebagai Ayahnya. Jaga dirimu sweety, bersama surat ini aku titipkan cintaku di hatimu, cinta yang seumur hidup tidak akan pernah aku gantikan dengan wanita manapun di dunia ini, karena aku sudah benar-benar mencintaimu sweety."


Tubuh Alice langsung roboh, kini ia bersimpuh lemas di dasar lantai dengan perasaan sehancur-hancurnya.


"Maafkan aku sweetu, maafkan aku."

__ADS_1


Alice terus merintih, sambil memeluk surat itu dengan erat. Alice menangis terisak menahan rasa sakit yang bergemuruh di dadanya. Penyesalan yang tak pernah Alice bayangkan akan ia rasakan saat ini. Keadaan pintu yang terbuka membuat Elliot yang memang sedang mencemaskan Alice, langsung masuk dan menghampirinya.


"Kakak, aku menyesal, aku memang bodoh."


Elliot mengambil surat yang Alice berikan padanya, Elliot mulai membaca surat itu sampai akhir.


Setelah membaca surat itu wajah Elliot ikut berubah menjadi sendu, lebih menyedihkan dari saat melihat air mata di wajah Alice saat ini.


"Maafkan Kakak Alice, semua pasti karena Kakak telah menghina dan memperlakukan Raymond, dengan tidak layak, seperti orang yang tak mempunyai harga diri," kecam Elliot merutuki dirinya sendiri, ia begitu membenci semua yang telah dilakukannya.


Elliot meremas surat itu dengan erat, tatapan matanya kini sudah terlihat sangat tajam.


"Kakak janji akan mencarinya untukmu, Kakak janji akan membawa suamimu kembali ke hadapanmu, walau di ujung dunia sekalipun."


Elliot memeluk erat tubuh Alice yang masih menangis dan kini terlihat sangat ringkih. Elliot berusaha menenangkan tangisan Alice yang semakin lama malah semakin terisak, tak mereda sedikitpun. Elliot mengusap punggung Alice dengan lembut untuk memberikan ketenangan padanya.


"Sudah kasihan anak di dalam kandunganmu, aku khawatir mereka ikut merasakan kesedihan Mommynya, jangan sampai kedua anakmu harus merasakan kesedihanmu yang nanti akan menyebabkan hal yang buruk untuk kondisi kandunganmu."


Sambil menangis Alice mencoba mencerna setiap perkataan Elliot. Alice mulai berpikir bahwa apa yang Elliot katakan memang ada benarnya, Alice pun mulai menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba untuk tenang walau memang itu tak mudah untuk dilakukannya, tapi demi kedua anak di dalam kandungannya, Alice berusaha kuat menghadapi situasi yang sangat menyedihkan untuk kehidupannya.


"Maafkan aku sweetu, aku mohon kembalilah," lirih Alice di sisa-sisa tenaganya yang semakin lemah karena terlalu banyak menitikkan air mata.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya!


__ADS_2