Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Tantangan Baru


__ADS_3

Selamat Membaca!


Meeting sudah berakhir, semua berjalan dengan sangat lancar. Terlihat kini Elliot sedang melangkah sejajar dengan Raymond.


"Sepertinya aku sudah dapat melepasmu sendiri Elliot, jadi aku bisa lebih santai berada di rumah bersama Alice, menanti kelahiran anak kembar kami."


"Percayakan padaku Tuan, aku tidak akan mengecewakanmu, lagipula benar katamu, Alice saat ini lebih membutuhkan waktu bersamamu."


Raymond tersenyum lega.


"Baiklah Elliot, mulai besok aku akan selalu menemani Alice, tapi sepertinya aku punya sebuah kejutan untuknya."


"Apa itu Tuan Raymond?" tanya Elliot penasaran.


"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Raymond merahasiakan dari Elliot.


Elliot menaiki lift menuju ruangannya, sementara Raymond melanjutkan langkahnya menuju lobi kantor. Setelah sampai di depan lobi, Benjamin dan Arnold menyambut kedatangannya dengan sigap.


"Ben, aku ingin menuju sebuah restoran di pusat kota, ikuti saja aku, oke."


"Baik Tuan, kemanapun langkahmu aku akan ikuti."


Raymond memasuki mobil mewahnya yang memang sudah stand by di tempat parkir khusus yang tersedia hanya untuk mobil Raymond.


"Albert kita ke restoran Alice yang dulu, sebelum pulang ke rumah!" titah Raymond kepada Albert.


"Tapi Tuan, bukannya itu sudah di jual oleh Tuan Adrian," ucap Albert mengingat apa yang diketahuinya.


"Memang, justru itu aku akan membelinya kembali, aku ingin memberikan sebuah kejutan untuk Alice, satu bulan lagi kan ulang tahunnya," tutur Raymond memberitahu rencananya kepada Albert.


Tanpa membuang waktu lagi, Albert langsung menginjak dalam gas mobilnya dan mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan MANGO Corporate. Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit akhirnya mobil sudah tiba tepat di depan restoran, diikuti oleh kedua motor Benjamin dan Arnold.


"Tampaknya restoran ini tidak banyak berubah, hanya namanya yang sudah pasti berbeda, tapi sepertinya yang membeli restoran ini adalah orang India."


Raymond turun dari mobil setelah Albert membukakan pintu mobil untuknya. Raymond mulai melangkah memasuki restoran diikuti oleh Benjamin dan Arnold tepat di belakangnya.


"Semoga saja keinginan Tuan Raymond berjalan dengan lancar," gumam Albert sambil terus menatap punggung Raymond yang menjauh darinya.


Di dalam restoran, Raymond mengedarkan pandangannya, melihat dengan seksama keadaan restoran yang memang secara interior tidak banyak dirubah, mungkin pembelinya sudah menghabiskan banyak modal untuk membeli restoran ini, maka itu ia hanya sedikit merenovasi nama pada restorannya.


"Permisi, apa pemilik restoran ini ada?" tanya Raymond kepada salah satu pelayan restoran.


"Ada Tuan, mari saya antar ke ruangannya."

__ADS_1


Raymond akhirnya mengikuti langkah pelayan itu, sesampainya di depan pintu ruangan, pelayan itu masuk terlebih dulu untuk menanyakan kepada pemilik restoran atas ketersediaannya menemui Raymond. Tak berapa lama pelayan itu keluar dari ruangan.


"Tuan, silahkan masuk!" titah pelayan itu dengan ramah dan sedikit membungkuk hormat kepada Raymond.


Raymond akhir masuk sendirian, sementara Benjamin dan Arnold menunggu di depan pintu ruangan.


"Selamat datang di Restoran Chopra, Tuan....??


"Raymond, panggil saya Ray juga boleh."


Raymond melihat kini di depan matanya sosok wanita India yang begitu menawan, dengan paras cantik dan eksotik menjadikan wanita itu terlihat begitu sempurna.



Wanita itu berdehem keras.


"Silahkan duduk Tuan Raymond, jangan berdiri saja!" titah wanita itu kepada Raymond yang dilihatnya hanya termangu menatapnya.


Raymond yang tersadar langsung merasa canggung, ia dengan cepat mengusir lamunannya dan kembali menjaga wibawanya.


"Begini Nona.."


"Saya Amita Chopra," ucap Amita sambil menyodorkan tangannya kepada Raymond yang langsung disambut dengan sebuah jabatan oleh Raymond.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menjual restoran ini, apa ada lagi yang penting, yang ingin Anda katakan? Jika tidak silahkan pergi Tuan, Anda membuang waktu berhargaku!"


Raymond menautkan kedua alisnya, sorot matanya tajam menatap lawan jenisnya yang kini sudah terlihat begitu arogan, bahkan melebihi dirinya. Raymond jadi teringat akan masa lalunya, dulu ia selalu bersikap arogan dan semaunya, tanpa berpikir terlebih dahulu baik buruk dari apa yang diputuskannya.


"Aku beri waktu kau untuk memikirkan sekali lagi Nona Amita, dua kali dua puluh empat jam, itu merupakan waktu yang cukup, lebih baik saya membelinya dengan terhormat bukan, daripada saya merampas dengan paksa."


Ancaman Raymond tak membuat Amita gentar sama sekali. Ia malah balik melawan dengan menggebrak meja kerjanya yang membuat Raymond terkesiap tak berkutik.


"Pergi Tuan, jangan buat kesabaran saya habis, apa perlu saya panggilkan satpam?" tanya Amita dengan mengangkat kedua alisnya, tatapannya begitu tajam menatap wajah Raymond saat ini.


Pandangan mereka sesaat saling beradu, namun akhirnya Raymond mengalah, ia bangkit dan mulai melangkah menuju pintu ruangan untuk keluar. Sesaat sebelum keluar ia kembali memperingati Amita untuk memikirkan segala penawarannya.


"Jika kau berubah pikiran, cari aku di MANGO Corporate, ingat itu!" ucap Raymond sambil menggenggam handle pintu lalu membukanya dengan lebar untuk keluar dari ruangan.


Raymond sudah kembali menutup pintu ruangan, meninggalkan Amita sendiri dengan kemarahannya.


"Ayo Ben, kita pergi!" titah Raymond yang lalu dijawab dengan sigap oleh Benjamin dan Arnold.


"Sepertinya negoisasi Tuan Raymond berjalan buntu," gumam Benjamin melihat Raymond dengan penuh selidik.

__ADS_1


Raymond mengesah kasar, dirinya kini sangat tertantang untuk tetap mewujudkan segala keinginannya.


"Aku tidak boleh gagal, beberapa kali sweety sering berbicara tentang restoran ini, aku dapat melihat dari matanya, betapa sedihnya saat ia mengetahui restoran ini di jual dengan harga murah, aku harus bisa mendapatkan restoran ini sebagai kado ulang tahun untuk sweety," gumam Raymond menahan amarahnya mengingat sosok Amita yang keras kepala, padahal Raymond sudah menawarkan harga yang pantas untuk restorannya.


Restoran yang dibeli oleh Amita dari Adrian seharga 4,5 Miliar beserta seluruh isi dalam restorannya. Raymond sudah menawarkan harga 5,5 Miliar, namun tetap saja Amita menolaknya.


"Dasar wanita keras kepala, lihat saja restoran itu akan mengalami nasib yang sama seperti dulu saat aku belum mengenal Alice," gerutu Raymond dalam hatinya dengan kesal.


Albert sudah menunggu Raymond di dekat pintu belakang mobil seperti biasanya, begitu Raymond mendekat, Albert dengan sigap langsung membukakan pintu dan Raymond masuk membawa raut kekesalan di wajahnya.


"Pasti negosiasi antara Tuan Raymond dan pemilik restoran ini gagal," gumam Albert yang sudah hafal betul dengan raut wajah Tuannya saat sedang gusar.


Albert sudah duduk di kursi kemudinya dan mulai menjalankan mobil diikuti oleh Benjamin juga Arnold yang mengiringi mereka.


Raymond mengambil ponsel dari saku jasnya, ia lalu mulai menghubungi seseoranh.


"Halo James."


"Tumben sekali kau meneleponku, sudah lama sekali ya Tuan Raymond," jawab James dari seberang sana.


"Jangan banyak basa-basi."


"Tenang-tenang Tuan, ada apa kali ini?"


"Aku ingin kau mencabut izin tempat usaha restoran Chopra di pusat kota, wanita itu harus tahu saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa," geram Raymond sampai menggertakkan giginya, menahan amarahnya.


"Baik Tuan, apapun keinginanmu pasti akan terlaksana, hanya saja aku butuh waktu 1x24 jam."


"Oke kabari aku segera."


Raymond mengakhiri sambungan teleponnya dan meletakkan ponselnya dengan kesal secara sembarang, di samping kursi mobil yang kosong.


"Rasakan kau wanita kurang ajar, berani sekali kau melawan seorang Raymond Weil."


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Jangan bosan untuk mendukung karya aku ya.


Karya baruku :

__ADS_1



__ADS_2