Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Mencekam


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice dan Raymond sudah duduk nyaman di kursi belakang. Mobil yang dikemudikan Albert pun melaju dengan kecepatan sedang, kembali ke rumah.


"Sweety, pokoknya setiap aku libur, kita akan pergi untuk makan malam di luar."


Alice semakin melebarkan senyumnya mendengar ucapan Raymond.


"Seperti tadi sweetu?" tanya Alice.


"Tidaklah, sesuatu yang berbeda pastinya. Memang kamu tidak bosan jika seperti tadi secara berulang-ulang?" tanya Raymond menaikan sebelah alisnya dan wajahnya kini penuh selidik.


"Aku tidak akan bosan, karena melihat sunset adalah suatu ketenangan yang indah untukku," ucap Alice sambil menautkan kedua tangannya di dada.


Raymond mendengus pelan. Ia tidak mengerti dengan perasaan wanita, karena bagi kaum laki-laki adalah hal yang sangat membosankan, jika pergi ke suatu tempat secara berulang. Namun Raymond coba mengerti dengan perasaan istrinya.


Dasar wanita memang sulit untuk dipahami.


Alice sebenarnya masih tak rela harus berpisah dengan tempat yang sudah di setting begitu indah oleh suaminya. Namun apalah dayanya, ketika perintah sang suami seperti titah seorang raja untuk Alice, ia tak ingin membantahnya.


Alice mengisi waktunya selama diperjalanan dengan menatap lalu lintas dari kaca mobil. Sementara Raymond tiba-tiba disibukkan dengan laptopnya yang kini sudah berada dipangkuannya.


"Pasti urusan pekerjaan untuk besok meeting ya sweetu."


Tebakan Alice langsung disambut dengan kedua alis Raymond yang terlihat naik, tanpa berkata dan masih terus berkutat dengan laptopnya.


Sesekali Raymond berdecih kesal, ketika sinyal di laptopnya seperti tidak ada koneksi yang tersambung.


"Approve, Alex terhadap penawaran dari Weins Corporate sangat alot sedangkan tiba-tiba saja, Zack selaku CEO di sana, memaksakan harus malam ini untuk bisa Approved."


Raymond mendesah kasar. Ia memang paling tidak bisa bila harus menunggu sesuatu. Hal ini tiba-tiba membuatnya jadi berpikir untuk kembali ke London dan memimpin MANGO Corporate seperti dulu.


"Kalau ini My Corporate, aku tidak perlu repot menunggu dan menunggu, ponsel Alex pun entah kenapa tidak bisa dihubungi saat ini."


Kayanya sweetu sedang bad mood.


"Mungkin Tuan Alex sedang sibuk sweetu, cobalah bersabar, terlebih ini juga sudah malam."

__ADS_1


Alice hanya dapat menenangkan Raymond saat ini. Ia tak bisa berbuat banyak, apalagi ini masalah bisnis dan perusahaan Alex yang tidak terlalu dikenalnya.


Perjalanan pulang malam itu, tak menemukan hambatan yang berarti, karena Albert langsung mengambil arah masuk ke jalan bebas hambatan.


Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Albert sudah tiba di exit tol Desari dan untuk sampai ke rumah, hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit lagi, itulah alasan Raymond mengapa memilih Perumahan Green Andara menjadi hunian tetapnya di Indonesia.


Malam itu sekitar pukul 21.00 suasana pinggir tol Andara tampak begitu sepi dari biasanya, tak ada satu mobil maupun motor yang melintas di jalan itu.


Ketika Albert hendak melewati jalur putar balik, tiba-tiba jalannya tertutup oleh sebuah mobil yang tampaknya sedang bermasalah, sehingga menghalangi mobil lain untuk bisa melewatinya. Akhirnya Albert berinisiatif untuk mundur dan mencari jalan lain. Mobil mulai mundur dengan perlahan, kedipan lampu hazard memberi kode pada pengendara lain, untuk berhati-hati karena laju mobil akan mundur.


Tapi tiba-tiba mobil hitam yang dari sejak siang membututi mereka, sudah berada tepat di belakang, sehingga Albert terpaksa menginjak rem dengan dalam dan menghentikan mobilnya.


"Bagaimana ini Tuan? Apa kita hanya menunggu? Soalnya mobil di depan sepertinya mogok? Mau mundur tapi terhalang oleh mobil hitam itu?"


Raymond mendengus kesal. Ia menatap dengan penuh selidik ke arah mobil mogok yang saat ini menghalangi laju kendaraannya. Albert sudah mencoba memberikan kode kepada mobil hitam di belakang untuk mundur, namun sepertinya percuma, pengendara mobil hitam tersebut tak menggubrisnya.


Raymond semakin gusar, keadaan mulai tegang karena rahang Raymond terlihat sudah mulai mengeras, tangannya mengepal menahan amarahnya, karena situasi saat ini sangat tidak disukainya.


Alice mencoba untuk menenangkan Raymond, namun usahanya hanya menemui kegagalan, karena kemarahan Raymond kini sudah memuncak.


"Tuan, apa sebaiknya aku turun dan melihat kondisi mobil wanita di depan itu? Lagipula kasihan juga dia, mungkin aku bisa membantunya."


"Sebaiknya kau beritahu pengemudi yang di belakang itu untuk segera mundur, sepertinya kerusakan mobil wanita itu cukup parah, hiraukan saja dia, tak usah membantu orang yang kita tidak kenal."


Perkataan Raymond terdengar kejam, namun memang begitulah sikapnya, mungkin saat ini hanya Alice satu-satunya makhluk yang berani mendekat jika Raymond sedang murka. Alice mencoba membuat suaminya mengerti, bahwa sebagai sesama manusia kita harus saling tolong menolong, walau belum mengenalnya.


Raymond tersenyum tapi terkesan dipaksakan, dengan berat hati ia akhirnya memutuskan untuk membantu wanita itu. Raymond keluar dari mobil dan mulai berjalan mendekati wanita yang saat ini sedang memunggunginya. Wanita itu masih sibuk, sedang melihat kondisi mesin dengan kap mobil yang sudah terbuka.


Sementara Albert sudah berada di depan mobil hitam, untuk meminta kepada pengendara mobil tersebut untuk memundurkan kendaraannya. Albert berupaya mengetuk kaca mobil di samping kursi kemudi, namun berulang kali sang pengemudi mengacuhkannya.


"Ini kenapa sih kok aneh, orang ini tuli apa ya? Apa aku harus menghancurkan kacanya, baru dia mendengarkanku?" batin Albert tampak kesal.


Albert tak menaruh rasa curiga apapun dengan sang pengemudi. Ketika pintu mobil mulai terbuka dengan perlahan, terlihat seorang pria berwajah tegas, tampan dan memiliki tubuh tegap berotot mendekati Albert tanpa berkata apapun.


Albert masih menanggapinya dengan senyum ramahnya.


"Maaf Tuan, bolehkah mobil Anda mundur? Karena di depan jalan tertutup oleh mobil yang sedang mogok."

__ADS_1


Pria itu hanya berdehem tanpa berkata. Albert mulai menanggapinya dengan emosi, karena perlakuan yang kurang menyenangkan dari sang pengemudi. Namun secara tiba-tiba tanpa Albert duga, sebuah tinju dengan telak menghantam perutnya. Albert langsung terjatuh, terkapar tak berdaya sambil meringis sesak, merasakan sakit karena hantaman tinju yang begitu keras.


Risfa yang memperhatikan dari kaca spion mobil, mulai terlihat panik. Ia melongokan kepalanya keluar dari kaca mobil dan berteriak memberitahu Raymond.


"Tuan Raymond, lihat ke belakangmu! Albert sedang terkapar."


Alice terlihat tegang.


Raymond langsung menoleh, ke arah Risfa yang terlihat panik. Ia kemudian membagi pandangannya untuk melihat Albert yang memang benar, saat ini sudah terkapar sambil memegangi perutnya.


Kebahagiaan di wajah Alice seketika sirna, berubah jadi raut ketakutan, karena keadaan saat ini begitu mencekam untuknya.


"Sebenarnya ada apa ini Risfa? Siapa Pria itu yang sedang mendekat ke arah kita?"


"Nona, hati-hati cepat tutup semua pintu dan kaca mobil, kita kunci dari dalam." ucap Risfa sangat panik, ia terburu-buru menutup pintu di samping kemudi yang tidak Albert tutup sewaktu keluar dari mobil.


Sementara Alice juga sudah menutup pintu, yang dibiarkan tidak tertutup oleh Raymond saat dirinya keluar dari mobil.


"Tuan, hati-hati." lirih Albert parau masih meringis menahan sakit yang begitu sesak.


Albert masih belum dapat bangkit untuk mencegah pria itu, yang semakin mendekati mobil yang saat ini hanya menyisakan Risfa dan Alice di dalamnya.


"Cih," Raymond berdecih kesal.


Raymond yang sudah dekat dengan wanita itu, memutuskan kembali ke dalam mobilnya, untuk melindungi Alice yang kini di dekati oleh pria itu. Namun di saat langkahnya hendak menjauh, suara wanita terdengar memanggil namanya.


"Suara itu, seperti aku kenal."


Raymond menghentikan langkahnya. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara dengan cepat. Ketika matanya melihat wajah wanita yang memanggilnya, Raymond terkesiap dengan mata yang membulat sempurna tak berkedip, memandang sosok wanita yang kini mulai melangkah mendekatinya.


"Greta..."


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Ikuti terus kisah selanjutnya yang akan semakin seru. Aku tidak pernah lelah meminta kepada semuanya untuk terus memberikan dukungan kalian dengan like, vote dan ramaikan kolom komentar ya.

__ADS_1


Terima kasih.


Sehat selalu ya.


__ADS_2