
Selamat membaca!
Bandara Heathrow London.
Terlihat seorang pria tampan melangkah dengan wibawanya, diiringi beberapa anak buah yang mengikutinya.
Aku akan membalas kematianmu Kak.
Tatapan pria itu berubah tajam, sorot matanya menyimpan rasa dendam yang begitu mendalam. Kehilangan seorang Kakak di usianya yang masih muda membuat amarah seorang Thomas Weins memuncak. Ia membawa ikut serta semua orang terbaiknya yang terlatih sekitar 10 orang saat ini yang sudah datang bersamanya dan keesokan harinya George yang kini menjadi asisten pribadinya setelah kematian Zack, akan membawa 20 orang lagi untuk datang ke London. Thomas mengerahkan semua orang terbaiknya untuk membalaskan dendamnya pada Keluarga Weil, karena telah membunuh Zack Weins.
πππ
Greta sudah duduk di atas kursi roda. Risfa yang sebenarnya sangat membencinya mau tak mau mengikuti perintah Alice untuk mendorong kursi roda itu.
Wanita jahat ini, andai boleh aku dorong dia ke jurang biar sekalian saja mati gak nyusahin orang lain terus.
Risfa mendelik benci, ia sampai heran dengan kebaikan Alice yang masih mau memaafkannya, walau memang Greta sudah menyelamatkannya dari sebuah tabrakan mobil, tapi semua tidak sebanding dengan semua yang telah dilakukan oleh Greta. Itu menurut isi kepala Risfa yang saat ini selalu menggerutu dan merasa tak ikhlas harus melayani Greta selama ia tinggal di rumah kediaman keluarga Weil.
"Seumur hidup aku kerja, segala perintah apapun aku selalu senang melakukannya, tapi untuk yang satu ini, aku jadi merasa ingin berhenti kerja saja, aku harus melayani wanita jahat ini, ya ampun gak ngebayangin," gumam Risfa dengan tatapan sinis ke arah Greta.
Setelah sampai di lobi rumah sakit. Albert yang sudah menunggu, langsung membantu Greta untuk berpindah dari kursi roda ke kursi di belakang kemudi, sama seperti Risfa, walau Albert sangat membenci Greta, namun karena ini perintah Alice, ia jadi tak punya pilihan selain mengikutinya.
Setelah Greta berhasil masuk ke dalam mobil, Risfa melipat kursi roda dan Albert menaruhnya di bagasi belakang mobil. Alice masuk dengan perlahan, karena memang perut yang semakin besar membuat gerakan dan langkahnya jadi terbatas. Alice duduk di samping Greta, sedangkan Risfa seperti biasa duduk di kursi depan tepat di samping Albert.
Albert mulai melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah kediaman keluarga Weil.
Alice sudah izin kepada Raymond membawa Greta untuk sementara waktu tinggal di rumah. Walau dengan berat hati namun akhirnya Raymond mengizinkan, karena Alice memohon padanya.
Greta memicingkan senyumnya tipis, ia melirik menatap ke arah Alice dengan tatapan penuh kemenangan.
"Ini sebuah awal Alice, selanjutnya dengan perlahan aku akan menyingkirkanmu dan mengambil alih kedudukanmu."
πππ
__ADS_1
Richard kini berada di ruang rawat Raymond. Mereka berdua terlihat canggung, tanpa saling menyapa dan menegur satu sama lain. Richard masih dengan santai duduk di sofa di sudut yang jauh dari ranjang Raymond.
Sementara Raymond berusaha memejamkan matanya dan berharap saat dia terbangun Richard tidak ada di ruangannya lagi. Namun segala kecemburuannya terus mengganggu ketenangannya, semua ingatan muncul terlintas secara bergantian, mulai dari penawaran Richard, sampai kejadian tadi malam saat Richard menolong Alice di tangga yang membuat keduanya begitu sangat dekat.
Sial, kalau saja pria ini bukan Kakakku, aku sudah habisi dia.
Tiba-tiba Richard berdehem keras menyadarkan Raymond bahwa dirinya kini sedang menjadi perhatian Richard.
Tanpa basa-basi Raymond memulai percakapan yang agak sedikit kaku.
"Apa kau menyukai istriku?"
Richard terkekeh geli mendengar pertanyaan Raymond. Richard bangkit dari sofa dan melangkah mendekati ranjang Raymond. Setelah ia sudah begitu dekat dengan Raymond, ia menarik sebuah kursi lalu duduk di sampingnya dengan kaki yang bersilang santai.
"Menurutmu sendiri bagaimana Ray? Alice itu cantik, cerdas, siapapun pria pasti akan mudah untuk bisa menyukainya."
Perkataan Richard membuat amarah Raymond mulai merayap naik. Darahnya seakan berdesir, hingga ia memberi tatapan tajam ke arah Richard.
"Santai Ray, santai, aku hanya bercanda."
Raymond terhenyak, wajahnya kini kembali datar.
"Aku tidak menyukai Alice, kau tidak usah khawatir, aku tidak akan merebutnya dari Adikku sendiri," tutur Richard yang diakhir kalimatnya, menyunggingkan sebuah senyum tipis yang tak dapat terbaca oleh Raymond, namun seperti menyiratkan sesuatu.
Perkataan Richard sedikit melegakan Raymond.
"Aku pegang ucapanmu, seperti yang aku bilang dulu, jangan sampai aku mengabaikan hakikat yang ada di antara kita dan tidak memperdulikan ikatan lama yang sempat terputus."
Richard tersenyum mengingatnya.
"Jadi saat itu kau sudah tahu kalau kita adalah Kakak beradik?"
"Ya betul aku tahu dari Elliot."
Richard bangkit lalu mendekat ke arah Raymond.
__ADS_1
"Tenang saja brother, dia akan tetap menjadi istrimu selama kamu masih hidup," ucap Richard sambil menepuk bahu Raymond lalu melangkah menuju pintu ruangan untuk keluar.
Raymond berusaha mencerna segala ucapan Richard. Ia sama sekali tak menaruh kecurigaan apapun dari setiap perkataan Richard yang sebenarnya penuh dengan makna.
Semoga saja dia menepati ucapannya.
Raymond terus menatap ke arah Richard sampai ia keluar dari ruangan dan pintu kembali tertutup.
"Masalah Richard sepertinya sudah selesai, sekarang masalah baru akan aku hadapi saat aku sudah kembali ke rumah. Greta! Apa tujuan dia kembali ke London? Aku yakin pasti Greta mempunyai rencana licik, aku tidak percaya wanita jahat sepertinya berubah secepat itu, aku harus selidiki."
Raymond mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi seseorang.
"Halo Elliot."
Raymond akhirnya menceritakan setiap kronologi yang Alice ceritakan kepada Elliot. Elliot sendiri sangat kaget mendengar Greta kini sudah kembali berada di London, padahal di depan matanya, Greta jelas-jelas sudah tertembak dan jatuh terperosok hingga hanyut terbawa aliran sungai.
"Bantu aku selidiki maksud tujuan Greta, perasaanku saat ini sangat tidak tenang, aku yakin ada rencana jahat yang akan dia lakukan."
"Baik Tuan, aku akan selidiki, kau tidak usah khawatir, pikirkan kesembuhanmu dulu untuk urusan Greta serahkan padaku," tutur Elliot mengakhiri sambungan teleponnya.
Raymond kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Perasaannya mulai tenang karena ia yakin bahwa Elliot akan dapat membongkar semua rencana Greta.
"Kau bisa memperdaya Alice dengan mudah, tapi kau tidak akan bisa menipu Elliot, kau tunggu saja Greta, rencanamu akan terbongkar.
πππ
Richard kini sudah duduk di depan ruang rawat. Perasaannya saat ini sangat geram mengingat segala kenyataan yang diketahuinya dari mantan asisten Nicholas.
"Ibumu dulu telah membuangku Ray, hingga aku hilang dan ditemukan oleh keluarga Marx yang akhirnya membawaku tinggal di Australia. Namun ketika Leo sudah mengetahui keberadaanku, Ibumu malah memerintahkan orang untuk membuang Leo selama 17 tahun di pulau itu, orang yang tak bersalah jadi harus berpisah dengan putrinya, aku tidak bisa memaafkan itu semua. Walau kita terlahir dari Ibu yang berbeda tapi darahmu dan darahku berasal dari darah yang sama, kita sama-sama anak dari Nicholas."
Richard menghentakkan tangannya dengan keras ke arah kursi beberapa kali.
"Andai harta tidak membutakan mata Nyoya Claire, mungkin saat ini aku tidak memiliki rasa benci padamu Ray."
πΈπΈπΈ
__ADS_1
BersambungβοΈ
Penuhi kolom komentar, yuk silahkan berkomentar.