Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Melarikan Diri


__ADS_3

Selamat membaca!


Raymond dan Alice keluar dari lorong di dalam almari, kini mereka sudah berada di ruangan lainnya. Raymond langsung mendekati pintu ruangan, ia lalu membukanya dengan perlahan untuk melihat situasi di depan ruangan.


"Ayo sweety, kedua pria itu sudah masuk ke dalam, kesempatan kita untuk pergi."


Alice hanya mengangguk dengan wajah yang tegang. Raymond menggenggam tangannya dengan erat.


"Tidak perlu takut sweety, aku akan melindungimu dengan segenap nyawaku."


Wajah Alice kembali tenang, namun tak bisa dipungkiri, ketegangan masih tersirat di raut wajahnya.


Raymond keluar dari ruangan dengan tergesa diikuti oleh Alice yang mengekor di belakangnya. Keduanya melangkah dengan cepat, sesaat sebelum mereka berbelok ke arah kanan, tiba-tiba seorang pria keluar dari ruangan, namun dengan posisi yang langsung menoleh ke arah kiri, seandainya pria itu menoleh ke arah kanan pasti sudah dapat melihat Raymond dan Alice.


"Dimana mereka?" ucap seorang pria sambil mengalihkan pandangannya dari arah kiri ke arah kanan, mencari keberadaan Raymond yang sudah tidak terlihat, karena sudah berbelok di ujung lorong.


Kedua pria itu segera meninggalkan ruangan dan bergegas menuju ke arah lift, arah yang sama dengan arah tujuan Raymond dan Alice.


Raymond sudah tiba di depan lift, ia sudah menekan tombol lift untuk turun.


"Sial, lift ini lama sekali."


Raymond mengerutkan keningnya, ia tampak geram dengan angka yang tertera pada lift masih sangat jauh dengan posisi lantai tempatnya berada.


"Kita berada di lantai 13 tidak mungkin untuk turun melewati tangga darurat, apalagi kondisi kamu sedang hamil."


"Tidak apa-apa sweetu, aku kuat pasti," tutur Alice yang merubah wajah menjadi lebih tegar.


"Sudahlah sweety, kamu tidak perlu menutupinya dariku, kamu itu sedang kelelahan, jika aku memaksakanmu untuk turun menggunakan tangga, bisa-bisa kandunganmu nanti kenapa-napa."


Alice mendesah pelan, memang tak bisa ia menipu suaminya yang sudah paham betul kebiasaannya, jika setelah berhubungan suami istri pasti Alice langsung tertidur untuk beberapa jam, bahkan ia bisa terjaga kembali di pagi hari.


Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Raymond terlihat panik, ia menarik dengan cepat tangan Alice untuk segera masuk ke dalam lift.


Pintu lift mulai tertutup, namun Raymond sempat melihat kedua pria itu muncul dari arah lorong.


Kedua pria itu tampak geram, mendapati mereka terlambat.


"Sial, kita telat."


Keduanya langsung membuka pintu darurat yang berada tidak jauh dari lift. Mereka kemudian menuruni anak tangga dengan berlari cepat, mengejar lift yang turun.


"Sweetu, siapa mereka?"


Raymond menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka datang ingin membunuh kita."


Alice tercekat penuh rasa takut, dahinya mulai berkeringat dengan tatapan mata kini sudah berkaca-kaca oleh air mata.


"Kenapa hidupku selalu begini? Apa kita tidak bisa hidup bahagia sweetu?"


Perkataan Alice membuat Raymond berpikir dengan keras, ia merasa sangat bersalah karena semenjak menikah dengannya, hidup Alice terus dilanda berbagai macam penderitaan, bahkan ia sampai diculik dan dibuang ke sebuah pulau yang membuatnya hampir terbunuh.


Raymond merengkuh tubuh Alice dan merapatkannya lebih dekat dengannya, ia memeluk dan memberikan ketenangan untuk menghilangkan rasa takut yang kini merasuki pikiran Alice.


"Kamu tidak usah khawatir, aku janji, semua akan baik-baik saja, aku akan selalu menjagamu."


Raymond mengusap lengan Alice sambil memberi kecupan pada pucuk rambutnya, kecupan yang membuat rasa tenang, kini mulai hadir mengusir segala ketakutannya.


"Terima kasih sweetu."


Alice menatap dengan lekat wajah Raymond, ia mendongakkan kepalanya lalu memberi ciuman tepat pada bibir Raymond yang langsung menunduk menyambut pagutan Alice.


Keduanya sesaat melupakan rasa paniknya dengan beberapa menit saling berpagutan penuh kemesraan.


Ting.


Lift terdengar sudah sampai pada lantai yang ingin dituju.


"Ayo sweety," ucap Raymond sambil melepas ciuman Alice dengan perlahan, lalu menuntun Alice untuk keluar dari lift dengan menggenggam tangannya.


Raymond dan Alice terus mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitar.


"Mereka tidak akan berani macam-macam di tempat ramai seperti ini, aku yakin itu."


Alice tersenyum lega.


Namun baru saja Raymond menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba selongsong peluru melintas di samping lehernya, yang nyaris saja mengenai leher Raymond, peluru yang meleset langsung menembus keras dinding rumah sakit. Suara letupan terdengar keras, menimbulkan kepanikan seisi rumah sakit, semua pengunjung lainnya langsung menunduk dan mencari tempat perlindungan, sementara Raymond semakin mempercepat langkahnya, langsung mendorong pintu lobi dan dengan cepat keluar.


Alice menangis, rasa takutnya tak mampu lagi ditahan oleh kesabarannya.


"Sabar sweety, kamu harus kuat, yakin kita akan selamat."


Alice hanya mengangguk tak mampu membuka mulutnya untuk bersuara.


Kedua pria itu sudah berada di luar rumah sakit, beberapa petugas keamanan tak ada yang berani mendekat karena kedua pria dengan wajah tertutup itu dilengkapi dengan dua pistol di kedua tangannya masing-masing.



Raymond terus bersembunyi di salah satu mobil yang terparkir sejajar dan terlihat rapi susunannya.

__ADS_1


"Sweety, mobil Albert dimana?"


Alice beberapa kali menyeka air matanya, ia coba mengatur napasnya, yang terdengar mulai tak beraturan.


"Di sana sweetu," tunjuk Alice yang sudah hafal kebiasaan Albert.


Raymond mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Alice. Ia melihat dengan seksama dan mulai menyadari bahwa Albert berarti ada di dalam mobil.


"Kita harus ke sana, tapi kita harus menyebrang ke arah depan dan menunggu kedua pria itu lengah."


Raymond terus mengintip untuk memantau segala pergerakan dari kedua pria itu, yang semakin melangkah mendekatinya.


"Sial, aku tidak ingin Alice tertembak, aku harus segera memasukan Alice ke dalam mobil mewahku, mobil itu anti peluru, pasti sangat aman untuk Alice," gumam Raymond penuh kecemasan di dalam pikirannya, ia terus berpikir keras untuk menemukan sebuah jalan keluar.


Tiba-tiba sebuah ide terbesit dalam benaknya. Raymond mendekati Alice yang sedang bersandar di badan mobil dengan meringkuk duduk ketakutan. Raymond melabuhkan sebelah kakinya di dasar aspal, untuk berhadapan dengan Alice, pandangan Raymond kini tertuju ke wajah Alice. Raymond menangkup kedua sisi wajah Alice dengan tatapan matanya yang tajam.


"Sweety dengarkan aku."


Perkataan Raymond tidak digubris oleh Alice yang masih menatap Raymond dengan tatapan kosongnya. Bibir yang gemetar bersama air mata yang terus mengalir, membuat Raymond yang melihatnya menjadi sangat hancur hatinya.


"Sweety."


"Sweety."


"Alice," sambil menyibakkan wajah Alice untuk menyadarkannya.


Alice yang wajahnya kini sudah terlihat lelah, bercampur sendu dan rasa takut, mulai memandang wajah Raymond dengan lekat.


"Aku takut sweetu, aku takut."


"Aku tahu, tapi saat ini aku butuh kamu, kita harus kerja sama untuk menyelamatkan kedua anak kita, dengarkan aku baik-baik."


Alice mengangguk, dengan air mata yang masih berlinang di wajahnya, namun dengan suara yang ditahan sampai terdengar begitu terisak.


"Iya sweetu."


"Dengarkan aba-aba yang aku berikan, jika aku mengangkat tanganku, berlarilah menuju mobil kita di sana, jangan hiraukan aku, ini bawa ponselku, hubungi Alex dia akan membantumu, jika aku tertangkap, dia pasti bisa membebaskanku, saat ini aku tidak tahu apa rencana mereka? Tapi yang bisa kita lakukan adalah menyelamatkan kedua anak kita, kamu paham sweety," tutur Raymond dengan sebuah penekanan di akhir kalimatnya.


Air mata Alice semakin bercucuran tak tertahankan, ia sebenarnya tak ingin meninggalkan suaminya, namun Alice tak punya pilihan, ia harus melakukan semua ini demi kedua buah hatinya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Apakah rencana Raymond berhasil?

__ADS_1


Yuk penuhi kolom komentar.


__ADS_2