
Selamat membaca!
Setelah selesai dengan olah raga paginya, kini Raymond sekeluarga telah tiba di rumah kediaman Weil. Raymond yang masih belum menemukan sosok pengganti Elliot yang memutuskan untuk pindah ke Australia, harus kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Terlebih esok harinya, ia akan kedatangan seorang sahabat yang memang sangat berjasa untuk hidupnya. Pria karismatik yang banyak mengajarkan, tentang pentingnya menjadi sosok ayah dan suami yang baik untuk keluarga.
Dialah Alexander Kemal Malik, investor terbesar di MANGO Corporate. Besok adalah hari dimana keduanya akan mengakusisi sebuah perusahaan yang sebenarnya baru saja berdiri, namun perusahaan itu harus mengalami kebangkrutan karena kalah bersaing dengan MANGO Corporate.
Raymond kini sudah berada di ruang kerjanya. Namun tak lama terdengar suara ketukan pintu yang membuat jemari yang sedang berkutat di atas papan keyboard menjadi terhenti.
"Ya, masuklah!" titah Raymond menatap ke arah pintu.
Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan sosok Richard terlihat di sana dengan menuntun seorang anak. Anak laki-laki berusia 4 tahun yang bernama Grey Marx.
"Richard, kau di sini?" tanya Raymond sambil bangkit dari posisi duduknya, lalu melangkah menghampiri Richard dan kemudian keduanya berpelukan melepaskan rasa rindunya.
Maklum saja kedua kakak beradik ini sudah beberapa tahun tak saling bertatap muka. Terakhir mereka bertemu saat Richard membawa Elliot kembali ke London dalam keadaan koma.
"Aku sudah memutuskan untuk menetap di London dan Marx Corporate akan aku pindahkan ke sini," ungkap Richard dengan senyuman di wajah tampannya.
Raymond menanggapinya dengan sangat bahagia, itu artinya ia tidak lagi harus terpisah dengan sang kakak dan dapat berkumpul di London bersama-sama.
"Aku turut bahagia mendengarnya, Richard." Raymond berlutut di depan Grey, keponakan kecilnya yang dulu selalu manja sewaktu bertemu dengannya.
__ADS_1
"Grey, Uncle punya hadiah untukmu. Nanti setelah Uncle menyelesaikan semua pekerjaan, kita akan main bersama ya."
"Baik Uncle, tapi jangan bohong ya!" jawab Grey dengan lugunya.
"Tentu tidak. Tunggulah satu jam lagi, Uncle tidak akan lama."
Raymond yang sangat gemas dengan keponakannya itu, tak dapat menahan diri untuk tidak mencubit kedua pipi Grey, hingga seketika raut wajah Grey berubah masam.
"Sakit tahu, Uncle. Aku kan bukan bayi lagi yang bisa Uncle cubit terus pipinya," protes Grey mencebik marah.
"Maaf, maaf, nanti hadiahnya Uncle kasih dua deh," ucap Raymond sembari melangkah kembali ke kursi kerjanya.
"Baiklah, aku akan maafkan Uncle, tapi ingat hadiahnya jadi double ya, Uncle." Grey bersedekap sambil menatap tajam ke arah Raymond.
Richard pun akhirnya keluar dari ruang kerja Raymond dengan membawa Grey ikut serta bersamanya.
Setelah selesai menyapa Raymond, keduanya kini kembali ke ruang keluarga. Namun, Grey memutuskan untuk pergi ke kamar Raynold. Maklum saja keduanya memang menjadi sahabat baik dan selalu terlibat dalam permainan game yang membuat mereka suka melupakan waktu jika sudah berada di kamar Raynold.
Sementara itu Richard kembali ke ruang tamu yang berada di lantai bawah untuk menghampiri Greta, istrinya yang masih terlihat di sana bersama Alice.
"Gimana Richard apa Adikmu itu mau menyudahi pekerjaannya?" tanya Alice dengan menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Memang laki-laki kalau sudah kerja sama saja Alice, Richard juga begitu. Kadang aku harus mengganggunya dulu baru dia bisa berhenti kerja."
Richard pun duduk di sebelah sang istri dengan mencubit pipi Greta dengan lembut. "Sayang, aku itu 'kan kerja untuk kamu juga untuk Grey," timpal Richard dengan penuh senyuman.
Perkataan yang membuat Greta langsung menggenggam tangan suaminya dengan erat dan melabuhkan kepalanya pada pundak Richard.
Melihat kemesraan keduanya membuat Alice kembali teringat akan semua hal yang pernah dilaluinya, terutama saat Greta menjadi benalu dalam rumah tangganya. Namun, ada rasa penasaran yang masih belum terjawab hingga detik ini olehnya, yaitu tentang alasan kenapa Richard akhirnya menikahi Greta.
"Greta, aku ikut merasa sangat bahagia melihat kalian, walau ada satu pertanyaan yang selama ini ingin sekali aku tanyakan?"
Greta dan Richard secara bersamaan langsung mengalihkan pandangan mereka untuk melihat Alice. "Tanyakan saja Alice!" titah Greta dengan senyumannya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Alice merasa tidak nyaman karena pertanyaan itu benar-benar membuat mereka akan kembali ke masa lalu yang pernah ketiga lewati. Masa dimana banyak rintangan yang terjadi di dalamnya.
"Tentu saja kita itu keluarga sekarang, tanyakanlah!" Richard memperjelas kalimat Greta yang sebelumnya, hingga membuat Alice menjadi sangat yakin untuk menanyakannya.
"Bagaimana akhirnya kalian bisa memutuskan untuk bersama sampai akhirnya menikah?" tanya Alice coba mengurai rasa penasaran di dalam pikirannya.
Richard pun tersenyum lepas, ketika pertanyaan itu mulai tercerna dengan baik olehnya. "Kalau bicara itu ceritanya cukup singkat, Alice."
Greta pun semakin erat menggenggam tangan suaminya yang kini sedang menatap wajahnya. Keduanya sejenak menautkan pandangannya sebelum akhirnya Greta-lah yang menjawab pertanyaan Alice.
__ADS_1
"Jadi waktu itu, saat aku membawa Richard menuju rumah sakit ...."
Bersambung ✍️