Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Women On Top


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah Dokter pergi dari ruangan. Alice kembali mendekati Raymond.


"Kamu harus tahan dulu ya sweetu, ingat pesan Dokter, jangan melakukan hal yang berat."


Raymond mendengus kasar. Gejolak yang masih terpendam di dalam dirinya, sedikit demi sedikit kembali menyembul naik memenuhi isi kepalanya. Raymond langsung merengkuh tubuh Alice dan membiarkannya tertidur tepat di sampingnya. Ia mengelus surai hitam rambut Alice dengan lembut lalu memberikan sebuah kecupan pada dahinya.


Alice coba menahan raga suaminya yang terus merapatkan tubuhnya. Saat Alice mencoba untuk bangkit, Raymond menahannya, hingga Alice mau tak mau mengikuti semua keinginan Raymond.


"Sweetu nanti ada yang masuk lagi gimana?"


Raymond mendengus kesal, namun ia tak kehabisan akal. Raymond menghentikan aktivitasnya sejenak, ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu. Setelah mengunci pintu ruangan, ia kembali ke ranjang dengan cepat. Raymond benar-benar tak bisa menahan segala hasratnya yang saat ini sudah memenuhi isi kepalanya, lagipula Raymond jr sedaritadi terus meronta-ronta ingin segera dipuaskan.


Alice tampak pasrah, tertidur di atas ranjang. Raymond sudah menyergapnya dan mulai bergerilya menciumi leher sampai ke bagian dada Alice, seperti mengulang hal yang tadi tidak terselesaikan.


"Aku mencintaimu sweety."


Raymond semakin memburu nafsunya yang membuat Alice beberapa kali menger*ng dan mendes*ah. Suara-suara yang keluar dari mulut Alice, semakin membuatnya tertantang untuk terus memberikan Alice kenikmatan.


Tanpa keduanya sadari, kini mereka sudah tak mengenakan pakaian sehelai pun. Raymond langsung berada di atas paha Alice, ia menggunakan jemari kakinya untuk menopang raganya, agar Alice tak merasa berat dengan beban tubuhnya. Raymond mulai mengayunkan Raymond jr hingga membuat Alice semakin keras menger*ng dan mendes*h, mereka seperti melupakan bahwa saat ini keduanya sedang berada di rumah sakit, walau kelas ruangan VIP namun dinding rumah sakit tidaklah tercipta kedap suara.


Raymond terus memburu nafsunya, perasaannya kini penuh dengan kemenangan, saat melihat raut wajah Alice sudah tak karaun dibuatnya, di tengah-tengah kenikmatan yang Alice rasakan, ia teringat akan nasihat Dokter.


"sweetu biar aku di atas, tidurlah."


Raymond menuruti semua perintah Alice, ia tak ingin membantahnya, yang nantikan akan memperlama Raymond jr merasakan kenikmatan yang belum terselesaikan. Alice menghempaskan tubuh Raymond dengan cepat, ia terlihat seakan begitu lapar untuk meraih puncak kenikmatan, yang sempat terhenti karena teringat semua perkataan Dokter.


Alice kini sudah menunggangi tubuh Raymond, ia mulai mengayunkan tubuhnya dengan perlahan ke atas dan ke bawah, membuatnya harus menggigit bibir bawahnya untuk mengendalikan suara desahan yang semakin lama terdengar semakin keras, bahkan suara desahannya, hampir menyamai suara motor racing Kawasaki ninja yang terdengar begitu bising.


Raymond yang tak mau berdiam diri hanya mengikuti ritme permainan Alice, yang menurutnya lambat. Ia mulai ikut mengayunkan Raymond jr-nya, hingga membuat intensitas gerakan keduanya saling beradu semakin cepat. Raymond tanpa ampun terus membuat Alice menger*ang dan mendes*ah.

__ADS_1


"Sshshh aku mencintaimu sweetu."


Raymond tersenyum lebar, ia merasa menang karena saat ini, dipandangan matanya, wajah Alice terlihat hampir mencapai puncak kenikmatan, sementara Raymond masih menahan diri untuk menuju ke arah sana, karena ia ingin memberi kepuasan terhadap Alice terlebih dahulu. Suara erangan terdengar begitu keras, sampai memenuhi seisi ruangan. Alice yang sudah mencapai puncak kenikmatan, langsung roboh di atas tubuh Raymond, dengan posisi tubuhnya yang miring, ia lalu menyandarkan kepala pada dada bidang Raymond, yang terdapat bulu-bulu tipis tumbuh di sana.


"Aku lelah sweetu," tutur Alice mencoba mengatur napasnya yang terdengar tak beraturan.


Tubuh mereka seakan mandi keringat, sangat lembab dan terlihat basah, bisa diibaratkan keringat mereka saat ini, seperti berlari 7 putaran untuk mengelilingi rumah kediaman Weil yang teramat luas.


"Tapi aku masih belum mencapainya sweety," keluh Raymond dengan kening berkerut, ia melontarkan protes pada Alice, dengan wajah penuh tuntutan.


Alice mendongakkan kepalanya untuk menatap Raymond, ia tampak masih kelelahan dengan permainan Raymond yang membuatnya kewalahan, walau ia sudah berada pada posisi women on top, tetap saja kendali dan ritme gerakan dikuasai oleh Raymond.


Melihat wajah istrinya yang sangat kelelahan, ia mencoba menahan hasratnya yang belum sepenuhnya terlampiaskan.


"Ya sudah tidurlah, agar lelahmu bisa hilang."


Alice tak butuh waktu lama untuk tertidur, matanya sudah terpejam, walau hanya dibalut selimut seadanya.


Raymond merapikan selimut, agar menutupi tubuh Alice dengan sempurna. Raymond juga mengambil pakaian Alice yang saat ini berceceran di bawah ranjang. Namun baru saja selesai, tiba-tiba suara ketukan pintu ruangan berbunyi berulangkali.


Raymond yang menyadari hal itu langsung melangkah menuju pintu untuk membukakannya. Ia mengintip terlebih dahulu sebelum membuka pintu, melalui celah di tengah pintu yang hanya dapat terlihat dari arah dalam ke luar, dilihatnya dua orang pria dengan jaket hitam, perawakan tegap dan wajah yang tegas.


"Siapa kedua pria itu?"


Raymond mengabaikan suara ketukan pintu yang terdengar semakin sering, dengan langkah perlahan ia mendekati Alice, wajahnya kini tak lagi datar, tersirat sebuah kecemasan di raut wajahnya.


"Sweety, bangun," bisik Raymond sambil menangkup kedua sisi wajah Alice.


Saat suara Alice mulai terdengar, Raymond langsung menutup mulut Alice dengan telapak tangannya, agar ia diam dan tak bersuara. Alice terhenyak, ia penasaran dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Raymond.


"Kenapa sweetu, apa ada polisi yang mau menangkap kita, karena kita telah bercinta di dalam ruang rawat rumah sakit?" lirih Alice mengecilkan suaranya dengan kedua alis yang saling bertaut.

__ADS_1


Raymond mendesah pelan, ia menahan gelak tawanya rapat-rapat, mungkin jika tidak ada kedua pria yang mencurigakan di depan pintu, tawanya sudah menggelegar sampai memenuhi seisi ruangan ini.


"Kamu ini ada-ada saja, cepat pakai semua pakaianmu? Aku khawatir dua orang yang saat ini berada di depan pintu, punya niat jahat terhadap kita," bisik Raymond pada telinga Alice.


Mendengar perkataan Raymond, wajah Alice yang tadinya datar, langsung berubah pucat pasi, bibirnya gemetar, teringat kejadian yang mencekam saat dirinya hampir terbunuh saat di pulau.


Alice dengan cepat mengenakan semua pakaiannya, sementara Raymond mulai mencari sebuah pintu rahasia yang memang sudah ia sediakan di ruang rawatnya. Maklum saja rumah sakit ini memang rumah sakit pribadi keluarga Weil dan secara turun temurun mulai dari Nicholas, Claire sampai Raymond selalu dirawat di ruangan VIP ini.


"Cepat sweety ke sini."


Alice melangkah dengan berjinjit untuk menghampiri Raymond yang saat ini sudah berdiri di dekat sebuah almari besar.


Almari yang bukan sekedar tempat untuk menyimpan pakaian pada umumnya, namun di balik almari besar itu terdapat jalan menuju ruangan lainnya.



Alice masih melihat dengan wajah terkejutnya, ia masih saja takjub dengan apa yang dilihatnya, walau hal ini sering ia temui di rumah kediaman Weil atau di ruang kerja Raymond.


"Ini di rumah sakit, masih saja kamu membuat hal seperti ini sweetu."


"Sudah masuk saja, ayo cepat, kedua orang itu seperti ingin mendobrak pintu."


Alice sejenak melihat ke arah pintu, lalu ia meyakinkan dirinya untuk masuk ke dalam almari, mengikuti Raymond yang sudah masuk terlebih dahulu.


Keduanya mulai berjalan menyusuri sebuah lorong di dalam lemari, yang menembus ke ruangan lainnya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Siapa kedua orang itu?

__ADS_1


Apakah Alice dan Raymond bisa lolos?


__ADS_2