
Berikan like di setiap part-nya, jika ada yang terlewat mohon dilengkapi ya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca!
Nick terlihat masih larut dalam decak kagum, akan sosok wanita yang kini ada dihadapannya. Namun tak lama terdengar suara ponsel membuyarkan segala pikirannya. Nick dengan cepat mengambil ponsel dari dalam saku, kemudian ia menggeser tombol hijau pada layar ponsel untuk menjawab panggilan telepon.
"Iya Dave, ada apa?"
"Tuan, Anda dimana? Anda itu masih dalam proses penyembuhan, kenapa Anda tidak pulang semalam?"
"Ceritanya panjang Dave, jemput aku di hotel dekat London Eye, oke."
"Jika Anda di sana, mungkin meeting dengan Tuan Rafael bisa Anda hadiri Tuan, jadi Tuan Carter tidak perlu datang ke sana." Dave mengingat meeting yang akan berlangsung kebetulan sama dengan hotel tempat Nick berada.
"Oke kalau begitu katakan pada Daddy biar aku saja, tapi tolong bawakan pakaianku."
"Baik Tuan. Saya akan segera ke sana," ucap Dave mengiyakan panggilan Nick.
"Oke makasih Dave," jawab Nick mengakhiri panggilan teleponnya, lalu menyimpan ponselnya di dalam saku celana.
Nick kembali melihat ke arah Alexa yang hanya memangku wajahnya dengan tangan yang bertumpu pada pahanya, tatapan matanya terus menatap wajah Nick dengan penuh rasa kagum.
Menyadari tatapan mata Alexa yang terus memandangnya, membuat Nick terlihat canggung.
"Maaf ya aku ada meeting di hotel ini. Sekarang aku harus segera mandi dan bersiap, tapi jika kamu ingin kembali ke bar itu untuk mengambil mobilmu, aku akan mengantarmu ke lobi hotel."
Alexa menolak secara halus tawaran Nick, namun karena Nick terus memaksa, mau tak mau Alexa menerimanya, walau dirinya tak enak hati terus merepotkan Nick.
Keduanya kini mulai melangkah beriringan keluar dari kamar hotel.
🍂🍂🍂
Setelah tiba di lobi mereka saling berhadapan dan terlihat sama-sama canggung, seperti bingung harus bicara apa. Namun tak lama kemudian, sebuah taksi yang telah dipesan oleh Nick tiba tepat di hadapan mereka.
"Itu taksimu, silahkan."
Alexa melepas pandangan matanya dari wajah Nick yang sudah sedari tadi dilihatnya. Ia membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Oh ya Alexa, ingat! Jangan mabuk lagi."
Alexa menghentikan langkahnya tepat di samping pintu taksi. Kini ia kembali menatap wajah Nick, dengan senyumnya yang merekah. Alexa terlihat melangkah menjauh dari taksi untuk kembali menghampiri Nick. Ia mulai merapatkan posisi tubuhnya, hingga tak menyisakan jarak di antara keduanya, tiba-tiba bibir Alexa mengecup pipi Nick dengan cepat. Sebuah kecupan yang membuat Nick langsung terhenyak.
"Apa maksudmu?" tanya Nick tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan dari Alexa.
"Itu sebagai ucapan terima kasihku, karena kamu sudah menyelamatkanku semalam, dari orang-orang yang ingin berbuat jahat padaku. Kamu menyelamatkan kehormatan yang sudah aku jaga dengan susah payah selama ini. Setelah kamu menyelamatkanku, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mabuk lagi, karena setelah aku pikir, mabuk itu hanya membahayakanku juga merepotkan orang lain."
Nick tersenyum dengan susunan kalimat yang keluar dari mulut Alexa.
"Jadi wanita seusia dia yang berpenampilan seksi ini masih menjaga kesuciannya?" tanya Nick dalam hati sembari tersenyum kagum.
"Aku bangga padamu, di jaman sekarang sangat sulit mencari wanita baik-baik yang masih menjaga kehormatannya. Menurutku sangat bagus kalau kamu memutuskan untuk tidak minum lagi, itu lebih baik."
"Iya, semua kebaikanmu akan selalu aku ingat."
"Eh iya, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu untuk mengambil mobilmu di bar, karena tiba-tiba aku harus meeting bersama klien di hotel ini."
"Tidak masalah, aku mengerti kesibukanmu."
Nick dengan terpaksa harus melepas kepergian Alexa, seorang wanita yang dalam pertemuan pertama sudah menarik perhatiannya, bahkan kini rasa kagumnya telah bermetamorfosa menjadi benih cinta di dalam hatinya.
"Masuklah dan hati-hati di jalan."
🍂🍂🍂
Raymond terjaga lebih dulu, karena suara dering ponsel membuatnya harus tergesa-gesa untuk pergi ke MANGO Corporate. Elliot mengabarkan bahwa dirinya hari ini masih belum bisa kembali ke London, karena ada masalah yang harus diselesaikannya dengan Kelly di Australia. Sebuah berita yang membuat Raymond harus segera menggantikan Elliot, karena hari ini akan ada meeting penting dengan Robson Corporate pada pukul 10.00, sebuah perusahaan yang dipimpin oleh Adams, seorang CEO muda pewaris satu-satunya dari keluarga Bryan Robson.
"Sial, kenapa Elliot memberi kabar dadakan?" ketus Raymond sambil mengenakan pakaiannya, setelah ia selesai dengan mandi kucingnya.
Raymond sudah rapi dan siap untuk berangkat, namun dilihat di atas ranjang, Alice masih berkutat dengan tidur nyenyaknya.
"Aku tidak tega membangunkan sweety, sepertinya ia sangat lelah, mungkin sebaiknya aku meneleponnya setelah aku selesai meeting."
Raymond akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa memberitahukan hal ini pada Alice. Raymond mulai melangkah keluar dari kamar, langkah yang tergesa-gesa membuat sebelah kakinya tersandung sebuah karpet yang berada tepat di depan pintu kamar.
"Sial, kenapa karpet ini berada di sini sih, mengganggu saja," kesal Raymond sambil menendang karpet yang kini letaknya sudah tidak beraturan lagi.
Raymond membuka pintu dengan menggunakan sebuah kartu, yang kemudian ia tinggalkan di atas sebuah nakas. Raymond keluar dengan langkah panjang yang tergesa, ia tak menyadari jika pintu tidak tertutup rapat dan tertahan oleh karpet di lantai. Namun baru saja Raymond keluar dari pintu, seorang pelayan hotel tiba-tiba melintas hingga membuat tubuh Raymond terhempas ke pintu dengan keras, benturan yang menyebabkan angka pada pintu berubah dari yang tadinya 9 menjadi 6.
__ADS_1
"Kalau jalan lihat-lihat, matamu dimana? Apakah tidak tahu jika saya sedang terburu-buru?" kesal Raymond, namun dengan cepat ia menghiraukannya.
Raymond meneruskan langkah panjangnya dan berlalu dengan wajah yang masam.
Pelayan hotel itu hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Dia yang nabrak, dia yang marah, apa semua orang kaya seperti itu?" gerutu seorang pelayan pria dengan wajah penuh tanya.
Raymond sudah berada di depan lift dengan semburat kekesalan yang masih dapat ditahannya. Tak lama pintu lift terbuka, Raymond bergegas masuk dan Nick keluar dari lift, mereka saling berpapasan, namun karena saling tak mengenal, keduanya tak saling menyapa.
Nick mengangkat sebelah tangannya, untuk melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"09.30."
Nick mendengus kesal. Ia melangkahkan kakinya dengan panjang, langkahnya terlihat tergesa-gesa menuju kamarnya. Namun tiba-tiba seorang pelayan hotel keluar dari sebuah kamar yang berada di sebelah kanan Nick, tak pelak tabrakan pun terjadi. Wajah seorang Nick Carter langsung memerah, menahan amarah yang kini sudah merangsek naik ke dalam otaknya.
"Apa kau tidak punya mata?"
"Maaf Tuan, aku tidak melihat kedatangan Anda,"
Nick mengesah pelan. Akhirnya ia mengacuhkan pelayan itu untuk kembali menuju kamarnya.
"Kenapa hari ini aku sial sekali ya, di hari yang sama aku menabrak dua orang yang sama-sama arogan. Apa mungkin memang watak orang kaya itu semua seperti itu ya?"
Pelayan itu terus menatap kepergian Nick, dengan menggelengkan kepalanya.
Saat tiba di depan kamarnya, Nick sesaat dibuat heran dengan kedua kamar di kiri dan kanannya.
"Wah, ini kamarku yang mana, kenapa aku jadi lupa ya."
Setelah coba mengingatnya dengan keras, Nick memilih kamar yang terletak di sebelah kanannya dan mulai melangkah masuk. Nick berdiri di depan pintu, kemudian ia mengambil sebuah kartu pada sakunya dan menggunakannya untuk membuka pintu kamar hotelnya.
"Oh ternyata pintu tidak tertutup, karena karpet ini."
Nick menyingkirkan karpet yang menghalangi pintu kamar untuk dapat tertutup dengan rapat. Ia segera masuk ke dalam kamar. Setelah berada di dalam kamar, ia dengan cepat menuju ke dalam bathroom tanpa melihat ke arah ranjang.
🏵️🏵️🏵️
Bersambung ✍️
__ADS_1
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih.