
Selamat membaca!
Setelah kembali ke rumah, Raymond tak bisa berlama-lama meluapkan rasa rindunya terhadap Nicholas, karena Tara sekretarisnya menghubungi bahwa ada meeting dadakan yang harus ia datangi. Raymond pamit kepada Alice untuk pergi ke MANGO Corporate.
"Kamu hati-hati ya sayang, ingat jangan gampang tersulut emosi apalagi saat di jalan ya."
Alice merapikan kemeja dan jas suaminya itu dengan perlahan. Setelah itu Raymond menangkup kedua sisi wajah Alice, kemudian memberi ciuman singkat tepat mengenai bibir Alice yang merekah merah.
"Aku pasti akan menjaga diriku demi kamu dan buah hati kita."
Alice tersenyum mendengar ucapan dari suaminya. Raymond pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah dan menuju mobilnya dimana Albert sudah stand by di samping mobil untuk membukakan pintu.
"Silahkan Tuan," ucap Albert dengan ramah.
Raymond masuk ke dalam mobil dan duduk nyaman di kursi belakang. Tak berapa lama mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah kediaman keluarga Weil.
🍀🍀🍀
Alexa terlihat berada di sebuah parkiran. Tower tinggi yang menjulang seperti sebuah rudal. Alexa menarik napasnya panjang dan menghembuskan dengan kasar.
"Kamu bisa Alexa, demi Kakakmu!"
Alexa mulai melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam lobi. Tatapan matanya lurus ke depan terfokus ke arah meja resepsionis yang kini ada di depan matanya.
"Permisi, apa saya bisa menemui Tuan Raymond Weil?" tanya Alexa dengan penuh keraguan.
"Kebetulan Tuan Raymond masih dalam perjalanan, Anda bisa menunggu beliau di ruang tunggu di sebelah sana."
Alexa akhirnya menuju sebuah tempat, yang telah diberitahukan oleh resepsionis untuk menunggu kedatangan Raymond.
Setelah 30 menit menunggu, pandangan mata Alexa langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja masuk ke dalam lobi, stelan jas hitam dan kemeja putih dengan dasi merah membuat pria itu tampil dengan elegan.
"Itu pasti Tuan Raymond."
Alexa pun bangkit dari posisi duduknya dan dengan cepat menghampiri pria tersebut. Kini Alexa berada tepat di belakang sosok pria yang dilihatnya itu. Alexa berusaha menghilangkan keraguan dalam dirinya, dengan mengumpulkan keberanian untuk memanggil pria yang kini terus melangkah di depannya.
"Tuan Raymond..."
Pria itu berbalik mendengar panggilan Alexa. Ternyata pria itu bukanlah Raymond melainkan Adams seorang CEO dari Robson Corporate.
"Kamu mencari rekan bisnisku, Nona?" tanya Adams dengan menautkan kedua alisnya dan senyum yang menyeringai.
Alexa menelan saliva-nya dengan kasar, karena ia salah menyebut nama seseorang. Namun saat Alexa tak bisa menjawab pertanyaan Adams, suara deheman terdengar keras dari belakang tubuhnya. Alexa langsung memutar tubuhnya 180 derajat dan menatap sumber suara yang kini ada dihadapannya.
"Pria ini kan yang tadi menabrak mobilku."
Wajah Alexa sekejap mengeras, kedua alisnya saling bertaut karena emosi dalam dirinya kembali merayap naik.
__ADS_1
"Kau, untuk apa ada di sini? Apa kau mengikuti kemana aku pergi?"
Raymond berdecih kesal, melihat di depan matanya, berdiri sosok wanita yang sempat membuatnya murka sewaktu di jalan tadi.
"Kau lagi, kali ini tidak ada istriku, aku bisa bebas melampiaskan kekesalanku padamu!"
"Memang kamu pikir aku takut denganmu."
Adams berdehem keras, mengusik keributan yang sedang terjadi di depan matanya. Alexa menoleh menatap ke arah Adams dengan sinis.
"Kenapa kau menggangguku?" tanya Alexa dengan kening yang berkerut.
"Lihat itu, yang di sana itu Tuan Raymond yang kau cari," ucap Adams sambil tersenyum menunjuk ke arah Raymond.
Alexa menelan saliva-nya dengan kasar. Dahinya kini seketika langsung lembab dipenuhi dengan keringat, bibirnya gemetar dengan amarah yang sekejap langsung sirna, wajahnya kini berubah menjadi datar penuh dengan kepolosan.
"Bodoh kamu Alexa, bagaimana kamu bisa mendapatkan tanda tangan dari Tuan Raymond, sedangkan kamu sudah membuat masalah dengannya," gumam Alexa merutuki kebodohannya.
Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, dengan gugup ia menatap wajah Raymond. Pandangannya tak lagi menantang, kali ini ia tertunduk terlihat pucat.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau Anda adalah Tuan Raymon."
"Sudahlah lupakan, percuma juga saya menanggapi wanita sepertimu!"
Raymond melengos begitu saja melewati Alexa, ia kemudian melangkah beriringan dengan Adams menuju ruangan meeting.
"Ceritanya panjang, sudahlah tidak penting untuk kita bahas," tukas Raymond mengakhiri pertanyaan Adams.
Adams akhirnya tak melanjutkan ucapannya, namun sesekali ia melihat ke arah Alexa yang masih termangu menatap kepergian Raymond dengan tatapan sendunya.
"Kasihan wanita itu, sepertinya ada hal penting yang ingin dikatakannya pada Raymond, tapi ya sudahlah aku tidak ingin ikut campur urusan yang bukan urusanku. Lagipula masalah kehidupanku saja sekarang jauh lebih rumit, pernikahanku dengan Avrey sudah di depan mata, aku tidak bisa menolak keinginan Daddy, tapi yang aku pikirkan bagaimana perasaan Jasmine nantinya?"
"Hai Adams, what's wrong with you?" tanya Raymond membuyarkan lamunan Adams.
"It's oke Ray, ayo segera kita mulai meetingnya."
Keduanya akhirnya memasuki ruangan meeting, meninggalkan Alexa yang tak beranjak dari tempatnya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan agar Tuan Raymond bisa luluh dan memberikan tanda tangannya untuk kebebasan Kakak," lirih Alexa mengesah pelan, wajahnya kini terlihat pasrah dengan pikiran yang sudah buntu.
🍀🍀🍀
Di rumah kediaman keluarga Weil, terlihat Greta dan Alice sedang berada di dapur. Kali ini Alice sedang mengajarkan Greta cara membuat makanan yang mungkin sangat sulit untuk ditemui di negaranya, yaitu cilok bumbu kacang.
"Alice apa enak makanan yang namanya cilok itu?"
Alice menahan gelak tawanya dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
"Enak kok, aku aja ketagihan, ini aku diajarin oleh Risfa, sekarang kan Risfa lagi tidak di rumah, dia lagi izin pulang untuk mempersiapkan hari pernikahannya dengan Albert yang akan berlangsung pada Minggu depan."
Greta terhenyak mendapati kabar bahagia yang didengarnya dari Alice.
"Jadi Risfa akan menikah dengan Albert, aku turut bahagia mendengarnya."
"Iya jadi kamu jangan pulang dulu ya, tunggulah sampai hari pernikahan itu tiba, kita akan datang bersama."
Greta menyambut suka cita tawaran Alice. Namun ia sangat menyesal, karena dia dan Richard harus segera kembali ke Australia besok.
"Maafkan aku Alice, aku tidak bisa datang," ucap Greta dengan menautkan kedua alisnya, Greta sebenarnya ingin datang ke acara pernikahan Albert dan Risfa, namun persiapan pernikahan di Australia dengan Richard harus memaksanya untuk pulang lebih awal dari waktu yang sudah mereka rencanakan.
"Ya sudah tidak apa-apa, Risfa pasti akan mengerti dengan alasanmu."
Greta tiba-tiba menemukan suatu ide yang terlintas dipikirannya.
"Bagaimana kalau kita ke mall? Kamu temenin aku, karena aku akan memberikan Risfa kado istimewa untuk pernikahannya."
Alice tersenyum mengiyakan ajakan Greta. Mereka kemudian melanjutkan aktivitasnya di dapur untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia di atas meja, agar tercipta suatu makanan yang bernama cilok, makanan khas dari suatu negara yang pernah ditinggali oleh Alice selama beberapa bulan lalu.
🍀🍀🍀
Di ruang tamu Richard bersama Nicholas duduk bersebrangan. Mereka terdengar sedang berbincang-bincang dengan raut wajah santai dan penuh canda tawa.
"Kau bisa saja Dad, aku hanya beruntung saja sampai akhirnya aku ditemukan oleh keluarga Marx di Australia."
"Tidak, kau memang hebat, sepertinya bakatku mengalir dalam darahmu, sehingga perusahaan yang kau pimpin begitu tenar namanya di Asia, kau sama cerdas seperti Adikmu, walau kalian beda Ibu."
Mendengar kalimat ibu yang terlontar dari mulut Nicholas membuatnya bertanya-tanya akan sosok ibu kandungnya, yang sampai saat ini belum berhasil ditemukannya. Richard pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Nicholas.
"Dad, aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu anakku, silahkan tanyakan padaku," sahut Nicholas sambil menyeruput kopi yang diambilnya dari atas meja yang berada dihadapannya.
"Dimana keberadaan Ibu kandungku saat ini?" tanya Richard, dengan wajah penuh keseriusan dengan kedua alis yang saling bertaut.
Nicholas tersedak kopi yang sedang di seruputnya. Wajahnya terlihat sendu karena kenangan akan sosok wanita yang dicintainya mulai timbul kembali dipikirannya.
"Ibumu masih hidup Richard," ungkap Nicholas dengan pelan, perkataan Nicholas membuat hati Richard bergetar hebat, dirinya tak menyangka dengan kenyataan yang baru saja keluar dari mulut Nicholas.
💐💐💐
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Menjelang ending..
__ADS_1