Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Cemburu


__ADS_3

Selamat membaca!


Sesampainya di London, setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda. Richard harus menuju MANGO Corporate, Risfa kembali ke rumah mewah keluarga Weil untuk mengurus segala sesuatu yang telah lama terbengkalai, sementara Alice langsung menuju Rumah Sakit NHS Tayside ditemani oleh Benjamin dan Colin yang ditugaskan Richard untuk mengawalnya.


Walau Alice sempat keberatan dengan kedua pengawal yang diberikan oleh Richard, namun ia tak punya kuasa untuk menolak, pada akhirnya Alice menuruti semua perintah Richard.


Tibalah saat dimana Leo harus mengucapkan salam perpisahan.


"Terima kasih Alice, berkat pertemuan kita, kau membawaku kembali ke London dan aku jadi punya kesempatan untuk menemui putriku lagi."


Alice tersenyum bahagia.


"Terima kasih juga karena telah menjagaku selama di pulau."


"Jaga dirimu Alice, suatu saat aku akan membawa Jasmine untuk menemuimu, agar Jasmine tahu siapa pahlawan Daddy-nya."


Leo tersenyum dan melambaikan tangan sambil terus melangkah menjauhi Alice.


Alice melanjutkan langkahnya menuju lobi bandara, dimana Albert sudah menunggunya.


"Maaf Benjamin, apakah tadi itu terlalu sedih sampai matamu berkaca-kaca?" sindir Alice sambil terus melangkah melewati Benjamin dan Colin.


Colin yang mendengar sindiran Alice, menahan gelak tawanya rapat-rapat, sambil menoleh ke arah Benjamin.


Benjamin terhenyak malu, karena mata yang sedikit basah terbaca oleh Alice yang begitu jeli menilik expresi di raut wajah Benjamin.


Bagaimana Nona Alice bisa tahu?



Benjamin berusia 34 tahun, pengalaman yang dimilikinya saat di pelatihan FBI, membuatnya menjadi pengawal dengan catatan prestasi yang nyaris sempurna. Benjamin berada satu angkatan dengan Richard waktu di akademi pelatihan FBI. Keduanya berteman akrab, hingga pada akhirnya Richard menawarinya untuk menjadi pengawalnya. Tawaran yang membuat Benjamin tertarik, hingga tak kuasa menolaknya, karena bayaran yang diberikan oleh Richard sungguh menggiurkan.



Pengawal yang satu lagi bernama Colin, ia baru berusia 29 tahun, dahulu Colin adalah seorang trainer olahraga. Awalnya Colin tidak terbiasa dengan berbagai macam kekerasan dan suara letupan pistol, namun berkat pelatihan dari Benjamin, kini Colin menjadi penembak jitu tercepat dan mampu mengalahkan Benjamin.


Alice melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil. Terlihat Albert seperti biasa sudah membukakan pintu untuknya masuk.


"Terima kasih Albert," ucap Alice tersenyum manis, memasuki mobil.


"Dengan senang hati, Nona Alice," jawab Albert sambil menutup pintu mobil dan bergegas kembali ke kursi kemudinya.


Kedua pengawal Alice menaiki mobil yang berbeda dengannya. Mobil Albert mulai melaju membelah lalu lintas untuk menuju rumah sakit, diiringi mobil yang dikendarai oleh Colin, menempel rapat tanpa ada celah sedikitpun.


"Sir, tugas mengawal Nona Alice, apa ini merupakan tugas yang lebih ringan daripada mengawal Tuan Richard?" tanya Colin menyepelekan.


"Kalau menurut kacamataku ini tugas ringan, tapi hati-hati! Sebaiknya kita waspada atau Tuan Richard bisa murka jika kita lalai," tutur Benjamin menautkan kedua alisnya, ia merinding ketika dalam pikirannya, teringat memori saat Richard melampiaskan kekesalannya kepada salah satu pengawalnya yang lalai dalam tugas yang diberikan oleh Richard.


"Baik, Sir," jawab Colin dengan sigap.


"Berarti misi ini lumayan berat, karena musuh akan datang dari arah yang tidak terduga, lengah sedikit, Tuan Richard bisa menembak kakiku nanti," gumam Colin bergidik ngeri mengingat sebuah memori saat seorang pengawal lalai dalam tugas yang diberikan oleh Richard dan dengan tegas Richard menembak kedua kaki pengawal itu.


Tak lama mobil yang dikendarai oleh Albert mulai berhenti di depan lobi. Benjamin terlebih dulu turun dari mobilnya, ia sudah sigap untuk memberi pengawalan pada Alice.


Alice turun dari mobilnya, setelah Albert seperti biasanya membukakan pintu mobil untuk Alice.


Alice kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit, dengan Benjamin terus mengekor di belakangnya. Lama kelamaan Alice mulai merasa risih dengan gerak-gerik Benjamin yang terus mengikuti.


"Benjamin, bisakah kau menungguku di depan rumah sakit saja!" titah Alice dengan menautkan kedua alisnya.


Benjamin menoleh dengan sigap menjawab perintah Alice.


"Tidak bisa Nona, aku harus mengawal kemanapun, Nona pergi."

__ADS_1


Perkataan Benjamin membuat Alice merasa jengkel, ia pun mengajukan sebuah syarat kepada Benjamin.


"Boleh kau mengikuti, tapi beri jarak 5 langkah denganku, jika kau lebih dekat lagi, aku akan memberikan laporan kepada Tuan Richard, kau tidak mengawalku dengan baik."


Benjamin terhenyak mendengar perkataan Alice, ia langsung menghentikan langkah kakinya yang tadinya, tepat berada selangkah di belakang Alice.


"Baik Nona, apapun permintaanmu," jawab Benjamin mengiyakan perintah Alice.


Alice sudah memasuki lift diikuti oleh Benjamin. Seketika lift akan tertutup, tiba-tiba Colin datang mencegah, hingga akhirnya ia sempat untuk masuk. Lift mulai menaiki gedung. Kini lift menuju lantai 11 sesuai dengan yang dituju oleh Alice.


"Raymond berada di lantai 11, ruang diamond," ujar Alice memberitahu kepada kedua pengawalnya.


"Baik, Nona," ucap kedua pengawal Alice dengan kompak.


Alice memandangi kedua pengawalnya bergantian.


"Ternyata begini rasanya dikawal oleh dua bodyguard sekaligus. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Tuan Richard memperlakukanku dengan istimewa seperti ini."


Alice bergelut dengan perasaannya. Ketika kesadarannya mengetahui semua perasaannya saat ini salah, Alice dengan buru-buru langsung menepis semua perasaan itu jauh-jauh.


"Mikir apa aku ini, Alice kamu harus ingat Tuan Richard itu Kakak Ipar kamu, oke!" batin Alice merutuki perasaan yang kembali datang.


Lift berhenti di lantai 11. Benjamin menahan laju Alice di depan lift, Colin mulai menyisir terlebih dahulu jalan yang akan dilalui oleh Alice. Mata mereka menatap tajam melihat keadaan sekitar, untuk memastikan bahwa situasi tetap aman terkendali.


Alice yang melihatnya dibuat geleng-geleng dengan kelakukan kedua pengawalnya.


"Benjamin, Colin, apa menurut kalian rumah sakit ini terlihat seperti berada di medan perang?"


Benjamin dan Colin menanggapi dengan santai teguran Alice.


"Kami hanya menjalankan tugas kami Nona," ucap Colin dengan cengengesan.


Alice menyibakkannya tangan Benjamin yang menghalangi langkahnya, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar Raymond, melewati Colin yang hanya termangu menatap kepergian Alice.


"Bercanda terus, kerja yang benar!"


Colin terengah menahan sikutan Benjamin. Ia terus menatap langkahnya yang kini tertinggal dari Benjamin, sambil mengatur napas yang sempat sesak, ia mulai menyusul Benjamin.


Alice sudah tiba di depan pintu ruangan Raymond.


"Aku datang sweetu," lirih Alice.


Tak lama kedua pengawalnya mendekat. Namun Alice menghiraukannya, ia terus menyentuh handle pintu dan membuka pintu lebar-lebar.


Alice terperanjat tak percaya, matanya membulat besar, saat ternyata di dalam ruangan sudah ada Elliot, Kelly, dan Raymond yang sedang terbaring di tempat tidur tapi dalam keadaan sadar.


"Kakak, Nona Kelly."


Alice melangkah dengan terus menatap Raymond. Sementara kedua pengawal menunggu di depan pintu, mereka tahu ini momen istimewa untuk Alice dan tak mau mengacaukannya dengan kehadiran mereka.


Raymond menatap Alice dengan penuh kerinduan, pandangan keduanya saling beradu, mereka sama-sama merindu hingga air mata tak tertahan lagi, langsung menetes membasahi pipi Alice.


Alice semakin mendekat ke arah Raymond.


"Sweetu, aku merindukanmu."


Alice menghamburkan kerinduannya dengan memeluk erat tubuh Raymond, Alice sedikit membungkuk untuk memberikan sebuah pelukan yang memang sudah begitu lama tak ia rasakan.


"Aku merindukanmu sweety."


Raymond membalas erat pelukan Alice, hingga ia melupakan bekas jahitan yang belum sepenuhnya sembuh dan masih terasa sakit bila ada sebuah tekanan.


"Au." ucap Raymond mengaduh sakit.

__ADS_1


Alice yang mendengarnya segera melepaskan pelukan dari tubuh Raymond, ia lalu memeriksa keadaan Raymond yang tadi sempat mengaduh sakit.


"Apa yang sakit sweetu? maafkan aku ya."


"Tidak apa-apa sweety, hanya sedikit sakit di bagian sini," ucap Raymond sambil menunjuk bekas jahitannya yang terletak di bawah dada kanannya.


Alice sudah duduk di kursi samping ranjang Raymond. Ia kemudian mengalihkan pandangnya ke arah Elliot dan Kelly.


"Kakak, apa kamu sudah baikan?"


"Kamu bisa lihat sendiri, aku masih duduk di kursi roda ini, kebetulan Tuan Richard memindahkan aku ke rumah sakit ini juga."


"Kamar rawatnya tepat berada di samping kamar Tuan Raymond. Tuan Richard benar-benar sudah memperhitungkan semuanya agar aku mudah mengontrol keduanya, makanya dia saat ini langsung mengurus MANGO Corporate yang sudah lama aku tinggalkan," tutur Kelly tersenyum.


Alice tampak lega, raut wajahnya kini berseri bahagia melihat suami dan kakaknya kini sudah dalam proses recovery.


"Terima kasih Tuan Richard, kamu sudah melakukan banyak hal untukku, Suami bahkan Kakakku," batin Alice termangu.


Raymond menatap wajah Alice yang saat ini seperti memikirkan sesuatu dalam pikirannya, pandangannya bukan menatapnya, pandangan seorang wanita yang sedang melamun memikirkan seseorang yang tidak ada di dalam ruangan ini.


"Selama aku koma, apa Richard selalu mendekati Alice? Aku seperti merasakan ada perubahan dalam diri Alice saat ini," gumam Raymond menatap wajah Alice dengan penuh selidik.


Alice sampai tak sadar saat ini suaminya sedang menatapnya dengan rasa penasaran, sampai akhirnya suara deheman dari Raymond, menyadarkan lamunan Alice yang sudah sejak lama hanya termangu.


"Apa yang kamu pikirkan sweety?" lirih Raymond yang tak bisa bicara keras, karena masih merasakan sakit bila harus bicara dengan kuat.


Alice menoleh menatap Raymond.


"Tidak mungkin aku jujur pada sweetu kalau aku tadi memikirkan kebaikan Tuan Richard, nanti pasti dia bisa salah paham," gumam Alice memutuskan kalau dia harus berbohong.


"Aku hanya berpikir, semoga kedepannya masalah seperti ini tidak akan terjadi lagi sweetu, aku bersyukur kamu dan Elliot sekarang baik-baik saja, itu saja sweetu," kilah Alice mengelak.


Raymond seperti kurang puas dengan jawaban Alice, karena tidak seperti biasa Alice berpikir dulu sebelum menjawab pertanyaannya.


"Pasti ini soal Richard, ucapan Richard sewaktu di apartemennya, tidak akan aku lupakan, walau pada kenyataannya dia adalah Kakak kandungku tapi aku tidak akan rela, jika dia mengambil Alice dariku."


Raymond menyembunyikan rasa kesalnya dengan wajah yang berkamuflase, seperti tidak ada hal berat yang dipikirkannya.


"Jadi ini kejutan yang dimaksud Tuan Richard, Kakak dan Suamiku dalam satu ruangan dengan keadaan yang membaik," gumam Alice tersenyum tipis, agar tak terlihat oleh siapapun.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sepasang mata terlihat sedang memerhatikan ke arah dua pengawal yang sedang berada di depan ruangan Raymond. Mata yang indah dengan kilat cokelat pada bola matanya.


"Dua pengawal itu, bagaimana aku bisa melakukan rencanaku jika dua pengawal itu terus mengikuti Alice?"


Seseorang itu tampak kesal dan sangat geram, namun ia tak melepaskan pandangannya sedikitpun terus menatap ke arah ruangan itu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Siapakah seseorang yang sedang mengawasi itu?


NB: Secara waktu itu bukanlah Greta karena Greta mungkin masih berada di Jakarta, kalaupun dia ke London juga pasti butuh waktu dan tidak mungkin secepat menggunakan jet pribadi.


Berikan dukungan kalian terus ya!


Like, komentar kalian sangat memberikan aku semangat jadi jangan lupa ya..


Jika berkenan tips dan vote juga boleh hehehe ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Terima kasih semua.

__ADS_1


Sehat selalu.


__ADS_2