
Selamat membaca!
Raymond gelisah sepanjang perjalanan. Ia tak tenang memikirkan Alice yang tak juga menghubunginya.
Kenapa ponsel Alice belum juga aktif?
Albert yang tahu kegelisahan Raymond, coba menenangkannya.
"Tenang Tuan, Nona Alice wanita yang cerdas dia pasti bisa menjaga dirinya," ujar Albert.
Raymond coba mencerna perkataan Albert, namun tetap saja, walau semua itu benar, hatinya tak bisa tenang dan selalu cemas.
Ini seperti sebuah kerinduan.
Padahal baru saja aku berpisah dengannya, bagaimana jika aku harus hidup tanpanya ya.
Raymond mendesah kasar, mengusir rasa cemas yang terus menyelimuti hatinya.
"Berapa lama lagi Albert sampai tujuan?"
Pertanyaan yang dilontarkan Raymond, membuatnya reflek tertawa tanpa bisa ditahan.
"Tuan baru Anda tanyakan pertanyaan itu 2 menit yang lalu, ini sudah 11 kali pertanyaan itu ku dengar," tutur Albert tertawa renyah.
Raymond terhenyak, suara tawa Albert membuatnya merasa malu, karena tak biasanya ia bersikap seperti ini. Ia mencoba bersikap tenang, dengan menghela napasnya berkali-kali untuk bersabar menikmati perjalanan yang terasa panjang untuknya.
"Setelah ini aku akan pastikan, kemanapun aku pergi Alice harus ikut denganku," gerutu Raymond dalam hatinya kesal.
Albert tak ingin membuat Raymond menjadi semakin gelisah, ia akhirnya menambah kecepatan mobilnya, agar tiba lebih cepat ke tempat tujuan yang mereka tuju.
πππ
Kelly terlihat sedang menyiapkan makanan di dapur, meninggalkan Alice bersama Elliot di dalam kamar.
Alice terlihat duduk di tepi ranjang. Wajahnya kini terlihat lebih tenang.
"Alice."
"Iya Kak, ada apa?"
"Rencana kamu saat ini sudah berhasil, Will tidak mengetahui bahwa tanda tangan surat yang kamu telah tanda tangani itu bukanlah tanda tangan aslimu, itu sengaja kamu palsukan," tutur Elliot menyampaikan analisanya.
Alice lumayan tersentak kaget, karena Elliot mengetahui rahasia besarnya. Ia langsung menoleh menatap wajah Elliot.
"Semua aku lakukan agar aku bisa membawa suamiku pergi bersamaku."
Alice mendesah pelan.
"Jika aku tanda tangani dan saham 50% itu ke tangan Will, aku yakin suamiku akan bersedih akan hal itu, maka itu aku memalsukan tanda tangan itu, berharap Will tidak mengetahuinya."
Elliot menarik kedua sudut bibirnya hingga melengkungkan senyum di wajahnya.
"Kau cerdas, mirip seperti Ibu."
Alice langsung bersedih mendengar kalimat yang diucapkan oleh Elliot.
__ADS_1
"Kau beruntung Kak, bisa bersama Ibu dalam waktu yang lama, sedangkan aku, aku tidak mempunyai kenangan apapun tentang Ibu," wajah Alice berubah sendu.
"Jangan sedih, nanti jika semua masalah ini selesai, kita akan mengunjungi makamnya."
Elliot mengusap pucuk rambut Alice, coba mengusir kesedihan.
"Alice, ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
"Apa Kak?" jawab Alice menautkan kedua alisnya bersiap mendengar pertanyaan Elliot yang terasa begitu penting karena ia melihat wajah Elliot kini tampak serius.
"Apa kamu sudah berhubungan dengan suamimu?"
Alice tersipu malu mendengar pertanyaan konyol Kakaknya, pertanyaan yang harusnya dia sendiri sudah tahu jawabannya, namanya juga suami-istri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Alice dengan mengernyitkan dahinya.
"Memangnya aku tidak boleh bertanya seperti itu?" Elliot mengangkat kedua alisnya.
"Coba saja menikah dan kamu akan tahu jawabannya."
Elliot terkekeh mendengar ucapan Alice, dari wajah yang merah padam bisa diartikan bahwa Alice dan Raymond sudah melakukannya.
"Aku sangat berharap kau segera hamil dan hidup bahagia dengan Raymond."
"Aku sangat bahagia, Kak. Raymond sudah berubah dan begitu menyayangiku. Sikapnya begitu lembut dan sangat memanjakanku."
"Syukurlah, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kalian."
"Berarti saat ini aku tinggal menunggu kabar kalau Alice hamil, dengan begitu isi surat kuasa itu akan aktif dan Alice dapat mengambil 100% saham MANGO Corporate."
Tiba-tiba senda gurau mereka pecah dengan kehadiran Raymond yang sudah berdiri termangu di depan pintu, menatap ke arah Elliot dan Alice.
Raymond beberapa kali mengerjapkan matanya berulang-ulang. Seolah tak percaya ia kembali melakukannya.
"Tuan Raymond, halo," ucap Elliot menyapanya dengan tangan melambai.
Alice beranjak dan mendekat ke arah Raymond. Keduanya pun berpelukan saling melepas rindu, mereka seakan lupa bahwa saat ini Elliot sedang melihat apa yang mereka lakukan. Raymond melabuhkan kecupan di pucuk rambut Alice.
"Jangan pergi tanpa aku lagi ya, sweety."
"Maafkan aku sweetu, Nona Kelly bilang ini sangat penting menyangkut Elliot, maka itu aku tidak bisa menunggumu lebih lama."
Elliot berdehem, memecahkan kemesraan di depan matanya.
Raymond kemudian melangkah menghampiri Elliot. Sementara Alice keluar kamar untuk membantu Kelly di dapur.
Raymond sudah duduk di tepi ranjang. Menatap wajah Elliot dengan tatapan lega.
"Apa kabar sobat?"
"Pasti kau pikir aku sudah mati ya."
Raymond mendesah pelan, teringat rasa kalut yang dirasakannya, saat mengetahui berita kematian Elliot dari Will.
"Si bajing*n sialan itu, membuatku bersedih setengah mati, dia memberitahuku kalau kau telah dihabisi dengan membuangmu ke laut."
__ADS_1
Jadi ternyata kamu merasa kehilangan aku Tuan Arogan.
Elliot mendengus pelan.
"Aku pikir tadinya aku sudah mati, tapi ternyata Tuhan masih memberikan kesempatanku untuk hidup, Kelly menyelamatkanku dan aku berhutang budi padanya," wajah Elliot tampak redup mengingat kejadian kelam itu, di saat dirinya berada di antara hidup dan mati.
Raymond tersenyum mendengar cerita yang melegakannya. Namun tiba-tiba wajahnya kembali mengeras, mengingat semua perbuatan Will padanya.
"Kita harus membalas bajing*n itu, aku tidak rela MANGO Corporate harus jatuh ke tangannya."
Elliot tersenyum kecil menahan gelak tawanya.
"Sebaiknya yang perlu kamu lakukan saat ini, tiduri-lah Adikku sesering mungkin, jika dia hamil, maka semua saham MANGO Corporate akan menjadi miliknya."
Raymond terkesiap, ia langsung menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang selalu menghantui pikirannya.
"Oh, jadi meeting bersama dewan direksi dan notaris antara Elliot dan Nicholas, adalah pengalihan kekuasaan MANGO Corporate kepada Alice," gumam Raymond dengan mengernyitkan keningnya.
Raymond kembali teringat tentang cerita Alice, membuat ketenangan di wajahnya kembali gusar dengan keadaan yang tidak berpihak padanya.
"Tapi bukannya Alice sudah menandatangani surat pengalihan kekuasaannya kepada Will, jadi jika Alice hamil pun itu percuma saja."
Jadi Alice belum menceritakan kepada Raymond.
"Ray, Ray, kamu memang terlalu polos, kamu sampai tidak mengetahui sikap istrimu sendiri ya."
"Maksudmu?" tanya Raymond dengan wajah herannya.
"Sebaiknya tanyakan pada Alice, hal hebat apa yang telah dia lakukan sampai dapat mengelabui orang licik seperti Will," tutur Elliot terkekeh.
Raymond hanya termangu, mematung tanpa suara, namun kecerdasannya sudah dapat menangkap arah ucapan yang Elliot katakan.
"Jangan bilang dia memalsukan tanda tangannya."
Elliot tak banyak bicara, ia hanya mengedikkan bahunya disertai dengan menaikkan kedua alisnya yang bertaut.
"What the hell," ucap Raymond tertawa renyah.
Raymond semakin gemas terhadap istrinya, ia tak menyangka Alice dapat berpikir untuk melakukan semua itu, di bawah tekanan yang terus mengintimidasinya.
Elliot tersenyum, menatap kepergian Raymond yang melangkah keluar dari kamarnya.
"Akhirnya aku dapat tenang melihat kini Adikku bersama pria yang tepat. Sudah saatnya aku juga memikirkan kehidupanku, aku sudah putuskan, akan segera melamar Kelly setelah aku pulih." gumam Elliot tersenyum memikirkan wajah Kelly yang menjadi pahlawan untuk hidupnya.
πππ
Greta sedang berada di apartemennya, ia mengambil cuti untuk memulihkan kondisi tubuhnya, yang sangat terkuras karena kesibukan barunya di MANGO Corporate.
Ia terlihat merebahkan diri di atas ranjang, tiba-tiba bayangan Raymond hadir dalam lamunannya. Bayangan Raymond saat mencumbunya, hingga keduanya saling memburu kenikmatan di apartemennya terlintas sangat jelas, membawa kerinduan di hatinya.
"Sabar ya, Nak. Nanti jika waktunya tiba kita akan bersama Daddy-mu lagi," ucap Greta tersenyum sambil mengelus perutnya.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
__ADS_1
Sehat selalu semua.
Terima kasih atas dukungan kalian.