
Selamat membaca!
Kesedihan yang tak terbendung begitu menghanyutkan perasaan Raymond malam ini. Malam dari ribuan malam dalam hidupnya, yang baru pertama kali dilewatinya dengan penuh luka.
"Ternyata begini rasanya kesedihan, aku pikir rasa sakit kehilangan Nenek itu yang paling sakit ku rasakan, ternyata aku salah, ini jauh lebih menyakitkan."
Raymond mendengus kasar. Ia mulai menyeka air mata yang lolos dari sudut matanya.
"Albert, aku ingin ke tempat biasa, bawa aku ke sana!" titah Raymond dengan suara parau.
"Siap Tuan," jawab Albert yang langsung membelokkan kemudinya menuju tempat yang dimaksud oleh Raymond.
Sebuah tempat dimana Raymond sering menghabiskan waktu, di saat penat akan rutinitas pekerjaannya.
Tempat indah yang bernama London Eye atau disebut juga Millenium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar di atas sungai Thames.
Mobil sudah berhenti di pelataran parkiran London Eye.
Raymond membuka pintu atap mobilnya lebar-lebar, untuk menikmati pemandangan sekitar yang selalu dapat membuatnya tenang.
"Nikmatilah malam ini Albert! Aku sendiri tidak bisa mengerti, apa hidupku besok bisa bahagia tanpa Alice?" tutur Raymond bertanya.
Albert mengikuti perintah Raymond, ia pun tidak sungkan lagi, merubah posisi kursinya menjadi sedikit tertidur dan mulai menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah.
"Tuan apa boleh aku berikan saran padamu?" tanya Albert walau ragu, namun ia coba memberanikan diri.
"Katakan! Aku akan dengarkan," sahut Raymond menjawab.
"Kejarlah Nona Alice jika Tuan memang mencintainya, soalnya Ibuku sering berkata padaku Tuan, bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika tidak senang, ungkapkan. Jika cemburu, tekankan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya yang sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap "Aku membutuhkanmu", jadi jika Tuan memang membutuhkan Nona Alice, katakan padanya agar ia tahu perasaan Tuan Raymond yang sebenarnya," tutur Albert sambil menirukan nada suara Ibunya sewaktu memberi nasihat padanya, ia menoleh ke arah Raymond berharap ucapannya tidak salah dan membuatnya mendapat hukuman.
Raymond mencerna kata-kata Albert yang mampu menggugahkan hatinya. Ia berpikir dengan keras, otak cerdasnya mulai bekerja untuk memilah semua perkataan yang masuk menyusup ke dalam telinganya.
Apa yang dikatakan Albert ada benarnya juga?
Raymond mengesah pelan. Ia seperti menemukan jawaban dari kebimbangannya.
"Ayo kita pulang Albert, besok pagi aku akan terbang ke Australia."
Albert dengan sigap menyambut perintah Raymond, posisi kursinya mulai kembali ditegapkan dan mulai melajukan mobilnya untuk menuju rumah.
Semoga Tuan Raymond berhasil membawa Nona Alice kembali.
Albert tersenyum kecil dengan pikirannya sendiri, ia fokus menatap ke arah depan, menerobos kemacetan lalu lintas di kota London.
1 jam akhirnya mobil mewah Raymond memasuki pelataran rumah.
Albert dengan cekatan keluar dari dalam mobil, untuk membantu Raymond turun.
"Hati-hati Tuan," ucap Albert memapah tubuh Raymond masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Perlahan Albert menuntun Raymond menuju sofa ruang tamunya, dengan susah payah Albert akhirnya berhasil memberikan tempat yang nyaman untuk Raymond singgah sebelum menuju kamarnya, lalu Albert secepatnya kembali ke luar rumah, untuk menutup pintu mobil yang belum sempat ditutupnya.
Albert kembali menghampiri Raymond, namun ia tidak sendiri, ia sudah membawa beberapa orang untuk membantunya menuju kamarnya yang letaknya di ujung lantai 2.
Setibanya di depan kamar.
Raymond menatap pintu kamar dengan mata sendunya. Ia mengingatkan kenangan akan Alice, yang selalu terbesit dalam pikirannya.
Andai aku tidak bodoh, pasti malam ini Alice masih berada di sampingku.
Raymond mulai dipapah masuk ke dalam kamar. Tubuhnya mulai direbahkan di atas ranjang besarnya, rasa nyaman kini mulai mengusir letih dan penat yang tercampur dalam luka yang menganga di hatinya.
"Terima kasih atas bantuannya."
Satu kalimat lolos dari mulut Raymond yang membuat 2 pelayannya terkejut. Mereka saling menoleh menatap Albert, namun Albert yang sudah tahu bahwa Raymond telah berubah, hanya tersenyum manis pada keduanya.
"Sudah tugas kami Tuan," jawab salah satu pelayan, setelah beberapa detik diam karena terhenyak mendengar perkataan Raymond.
Ketiganya pamit, membiarkan Raymond yang kondisinya terlihat payah untuk beristirahat.
Raymond coba memejamkan matanya, namun beberapa kali bayangan wajah Alice terus mengintai dipikirannya.
Alice aku merindukanmu, semoga kita bisa bertemu di dalam mimpi.
Raymond mengernyitkan dahinya, untuk mengangkat sedikit tubuhnya, mencari kenyamanan dalam tidurnya.
Beberapa kali ia melihat sosok Alice melintas dihadapannya, membuat rasa rindu di dalam hatinya kembali merayap naik.
Raymond memaksakan matanya untuk terpejam. Setelah beberapa lama akhirnya ia mulai terlelap.
Tiba-tiba tubuhnya merasakan sebuah dekapan, Raymond mengerjapkan matanya berkali-kali dan perlahan mulai terbuka.
Raymond menatap wajah seorang wanita, yang kini tertidur di sampingnya, namun semua terlihat semu, pandangannya begitu kabur membuat semua yang dilihatnya menjadi tak jelas.
"Apa kamu Alice?" tanya Raymond lirih.
"Iya Tuan Raymond, aku kembali, aku melihatmu terjatuh di bandara, aku terus menatapmu tapi pandanganmu terus tertuju ke arah Albert."
Raymond tersenyum bahagia, tangannya langsung membalas dekapan Alice dengan erat.
"Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi," ucap Raymond lirih.
"Jangan berjanji bila kamu tidak bisa menepatinya, tanam dan niatkan saja dalam hatimu, biar waktu yang akan membuktikan padaku apa kamu menepatinya atau tidak,"
Raymond masih mendekap tubuh Alice dengan berjuta tanya dalam hatinya.
Apa ini mimpi?
Jika benar ini mimpi, biarlah, setidaknya ini mengobati kerinduanku.
Raymond sudah tak sanggup menahan kelopak matanya untuk tak menutup, ia akhirnya terlelap dalam dekapan yang begitu hangat untuknya.
Keesokan Paginya.
__ADS_1
Sinar matahari mulai menerjang masuk ke celah-celah jendela kamar, diiringi suara kicauan burung di pagi hari menambah keasrian yang terasa.
Raymond terlihat masih terlelap, di dalam selimut yang menyingkap tubuhnya.
Suara ketukan pintu terdengar mengetuk pintu kamarnya. Raymond pun masih bergeming, namun suara ketukan kedua membuatnya beringsut, Raymond mulai menggeliat, kesadarannya sedikit demi sedikit semakin menyatu, menyadarkan lelapnya, memori semalam tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya hingga membuatnya terduduk cepat sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Alice.
Wajahnya yang bersemangat, kini langsung padam kembali redup, harapan untuk bertemu Alice sekejap sirna.
Ternyata benar itu semua hanya mimpi.
Raymond menghela napasnya dalam.
Alice pagi ini sedang apa ya?
Apa sekarang ini dia begitu membenciku, sampai pesanku tidak di balas olehnya?
Suara ketukan pintu untuk ketiga kalinya berbunyi, kali ini Raymond sigap menyambutnya.
"Ya sebentar," sahut Raymond sambil beranjak menuju depan pintu.
Raymond melangkah dengan perlahan, keningnya mengernyit merasakan rasa pening masih sedikit terasa di kepalanya.
Awas kamu Greta, aku akan buat perhitungan denganmu.
Raymond sudah berdiri di depan pintu kamar, ia mulai membuka pintu dengan perlahan, terlihat Risfa sudah menunggunya dengan penuh kesabaran.
"Maaf Risfa, jika terlalu lama menungguku."
Perkataan Raymond membuatnya spontan tersedak salivanya sendiri.
"Kamu baik-baik saja Risfa?" tanya Raymond yang aneh melihat Risfa, saat ini sedang batuk-batuk.
"Kenapa Tuan Raymond berubah seperti ini ya? Keberadaan Nona Alice, sungguh sangat berpengaruh untuknya," gumam Risfa masih memandang Raymond dengan heran.
Risfa melamun dengan segala pikirannya tentang perubahan Raymond, yang sangat drastis dan mengejutkannya.
"Risfa," panggil Raymond, yang menyadarkan lamunan Risfa.
"Eh iya Tuan, saya minta maaf, Tuan makanan sudah siap di bawah, segera rapikan diri Anda karena Tuan Nicholas sudah menunggu!" tutur Risfa menyampaikan pesan Nicholas kepada Raymond.
"Pasti Daddy ingin bertanya tentang masalahku dengan Alice," umpat Raymond terlihat cemas.
Risfa pamit dengan membungkuk hormat pada Raymond, sementara Raymond masih termangu bersama rasa cemasnya.
Apa yang harus aku jelaskan kepada Daddy?
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Ikuti terus kisahnya ya! Terima kasih sudah setia menunggu. Maaf jika akhir-akhir ini hanya bisa up 1 episode.
Sehat selalu semua, love you all.
__ADS_1