Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Pisah?


__ADS_3

Selamat membaca!


Mobil sudah terparkir di sisi lain dari tempat yang biasa Raymond datangi untuk memandang London Eyes. Tempat yang selalu dapat memberikan ketenangan pada Raymond di kala gundah melanda dirinya.



Semburat kekecewaan terlihat jelas di wajah Raymond, yang beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.


Albert yang melihatnya menjadi iba, baginya kesedihan Raymond adalah kesedihannya juga, karena Albert sudah menganggap sosok Raymond Weil seperti Kakak untuknya.


"Tuan, apa boleh aku bertanya?"


Raymond sejenak menahan napasnya, mengurangi beban yang terasa berat menimpanya saat ini. Ia mulai mengatur napasnya dengan menghembuskannya perlahan, sebelum menjawab pertanyaan Albert.


"Iya Albert, tanyalah aku akan menjawabnya?"


Albert lega mendapat izin dari Raymond. Ia memulainya dengan menceritakan semua yang terjadi selama Raymond dalam kondisi koma, dari Alice diculik, hingga dibuang ke suatu pulau, sampai Richard dan Elliot datang menolong dengan sokongan dari Richard yang mengerahkan pengawalnya dan menyediakan helikopter untuk pencarian Alice.


Raymond dengan seksama terus mendengar cerita Albert.


"Terus ceritakan Albert, semua yang kau ketahui!"


Albert kembali menceritakan kepada Raymond tentang kejadian yang terjadi di pulau, sampai akhirnya Greta terbunuh dan jatuh ke aliran sungai yang deras.


Raymond mengerutkan keningnya.


Jadi Greta sudah mati.


"Jadi Tuan Richard sangat berperan penting dalam kebebasan Nona Alice, Tuan."


Raymond menghela napasnya kasar. Kini ia mulai menyadari alasan kenapa Alice bisa begitu dekat dengan Richard, semua cerita Albert semakin membulatkan keputusannya untuk berpisah dengan Alice. Raymond merasa tidak pantas untuk Alice, terlebih dengan semua kebohongan yang telah dilakukannya, belum lagi pengkhianatan yang terjadi di depan mata Alice, itu semua menambah pertimbangan Raymond untuk merelakan Alice kepada Richard, asalkan Alice bisa menemukan kebahagiaannya.


Jika memang ini yang terbaik, biarlah perpisahan ini terjadi.


"Terima kasih Albert, aku sudah putuskan."


Albert menoleh ke arah Raymond.


"Keputusan apa Tuan?"


"Aku akan berpisah dengan Alice, mungkin kebahagiaannya bukan bersamaku, aku sudah terlalu banyak menyakitinya."

__ADS_1


Albert terperanjat kaget mendengar semua yang terlontar dari mulut Raymond, sebuah keputusan yang begitu mengguncang Albert, membuatnya tak percaya kalau Raymond akan melepas Alice yang baru saja dinikahinya, bahkan saat ini Alice sedang mengandung baby twins.


Tanpa bisa tertahan, air mata lolos dari kedua sudut mata hazel Raymond. Ia berusaha menyembunyikan suara desah tangisnya dari Albert, namun Albert dapat membaca setiap kesedihan Raymond.


"Tolong pikirkan lagi Tuan, kasihan kedua anak Anda, mereka pasti butuh sosok Ayah," tutur Albert berusaha menggoyahkan keputusan Raymond.


"Mereka tidak akan bangga memiliki Ayah sepertiku, Albert," ungkap Raymond sambil menyeka air matanya, sesaat wajah arogan Raymond tertunduk oleh air matanya


Albert mengesah pelan, ia sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi semua perkataan Raymond. Albert hanya bisa terdiam, ikut hanyut dalam kesedihan Raymond.


Malam yang mengharukan di London Eyes. Malam dimana seorang CEO arogan, terlihat rapuh dan merasa dirinya begitu tak pantas untuk wanita yang sudah dinikahinya.


Raymond merebahkan tubuhnya kembali di kursi mobil, menatap ke arah London Eyes untuk merenungi setiap perjalanan hidupnya.


"Kasihan Tuan Raymond, kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan cerita tentang jasa-jasa Tuan Richard," gumam Albert membatin sedih dalam hatinya.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, Raymond memutuskan untuk kembali pulang. Albert mengikuti segala perintah Raymond, dengan sigap ia melajukan mobil untuk membelah keramaian lalu lintas di kota London yang semakin malam terlihat semakin renggang.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Tak mudah bagi Alice untuk memejamkan matanya, terlebih ia harus tidur tanpa dekapan Raymond.


Alice coba menilik ke dalam hatinya lebih dalam, mencari serpihan cinta yang tersisa untuk Raymond, yang mungkin dapat mengembalikan rasa cintanya dengan utuh.


Alice mendengus kasar. Perasaan yang kini dirasakan untuk Raymond jauh berbeda dari sebelum ia tahu tentang kehamilan Greta.


Tapi kemana sweetu apa sebaiknya aku mencarinya?


Alice mulai bangkit, untuk mencari keberadaan Raymond.


Ia membuka handle pintu kamar dan melangkah keluar menyusuri lorong, hingga sampai di depan tangga, Alice terus mengedarkan pandangannya melihat sekitar, namun matanya masih belum menemukan keberadaan Raymond. Alice mulai menuruni anak tangga, sampai di pertengahan jalan, mungkin karena kurang hati-hati, kaki Alice terkait hingga membuatnya hampir terjatuh, sebelum terjatuh Richard yang sudah sejak lama memerhatikan gerak-gerik Alice, berhasil merengkuh tubuh Alice dan menyangganya agar tidak terjatuh.


Kedua bola mata Alice menatap wajah Richard dengan dalam. Pandangan mereka saling bertaut seolah menjeda waktu, menyekat dimensi yang tak nyata, hingga membuat mereka saling tatap dan hanya terdiam dengan bahasa kalbunya.


"Lagi-lagi, pria ini menyelamatkanku," gumam Alice tak berkedip menatap Richard.


Richard tersenyum, masih dengan tangan yang melingkar di tubuh Alice sebagai penyangga agar tidak terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa Alice?" tanya Richard cemas.


Alice bangkit dengan semu, senyum di wajahnya menyungging tipis menahan rasa malu, sentuhan Richard pada telapak tangan Alice sempat membuat hati Alice sedikit bergetar, hingga membuat rona di pipinya memerah.

__ADS_1


Tanpa disadari keduanya, sepasang mata sudah sejak lama berdiri mematung di bawah anak tangga, menatap keduanya dengan sinis.


"Sweetu."


Alice terbelalak kaget saat mengetahui Raymond menyaksikan saat dirinya jatuh dipelukkan Richard. Sementara Richard hanya menanggapinya dengan wajah datarnya, seolah tak peduli dengan perasaan Raymond saat ini. Richard coba menahan langkah Alice yang ingin mengejar Raymond yang sudah berlalu menjauhinya. Namun Alice menyibakkan tangan Richard hingga terlepas dan melanjutkan langkahnya untuk menyusul Raymond.


Alice masih memberi tatapan sebelum ia pergi menjauhi Richard, tatapan yang membuat Richard semakin yakin bahwa kini Alice sudah benar-benar jatuh hati padanya.


"Aku bisa merasakan debaran jantungmu Alice saat di dekatku, aku tahu saat ini ada sedikit cinta di dalam hatimu untukku," gumam Richard terus menatap punggung Alice yang semakin lama semakin menjauhinya.


Alice sudah melihat Raymond sedang duduk di sebuah kursi yang terletak di belakang rumahnya dekat kolam renang.



Alice perlahan mulai mendekati Raymond. Walau penuh dengan keraguan, Alice tetap mencoba untuk duduk di samping Raymond.


"Sweetu, apakah kamu menganggap aku mengkhianatimu?"


Raymond tak menggubris pertanyaan Alice.


"Jika iya, itu semua hanya pikiranmu, aku masih istrimu sweetu, apapun yang terjadi hubungan kita tetap sama, walau mungkin perasaanku belum sepenuhnya kembali utuh seperti dulu, tapi kedua anak dalam kandunganku ini butuh kamu, kamulah Ayahnya."


Raymond menoleh menatap nanar ke wajah Alice. Namun ia masih diam menyimpan seribu kata dalam hatinya yang tak bisa terucapkan.


Setelah lama diam, Raymond akhirnya mulai membuka suaranya, dengan wajah yang mulai sendu dan mata yang memerah.


"Perjalanan kita sudah salah Alice dari awal aku memaksamu untuk menikah, sebelum menikah aku sudah mengkhianatimu dengan tidur dengan Greta dan Brisca, sampai akhirnya aku kembali melakukan semua itu dengan Greta di kantor dan kamu melihat semua itu, semua kesalahan yang aku lakukan, seolah menghukumku dengan kehamilan Greta, aku akui semua kesalahanku, aku pengecut lari dari tanggung jawabku, karena aku saat itu takut kehilanganmu, jika kamu tahu kenyataan bahwa Greta hamil anakku," ungkap Raymond jujur pada Alice tentang semua kesalahannya.


Raymond mengesah kasar.


"Aku sudah putuskan, sebaiknya kita berpisah saja, aku sudah tak pantas untukmu, sangat tak pantas, mungkin kedua anakku akan malu mempunyai Ayah seperti aku."


Perkataan Raymond seolah mengguncangkan kesadaran Alice. Kalimat perpisahan yang diucapkan oleh Raymond, seolah menohok hatinya hingga begitu sakit, walau tak berdarah.


Bibir Alice bergetar hebat, lidahnya menjadi kelu dengan keringat yang lembab di dahinya. Alice teringat semua kenangan yang mereka lalui bersama ketika di Spanyol. Semua kenangan yang begitu bermakna buat Alice, namun saat bayangan Greta kembali tampil dalam pikirannya, semua kenangan manis itu seakan buyar berubah menjadi rasa sakit.


Apa ini akhir dari pernikahanku?


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ

__ADS_1


Apakah kalian setuju dengan perpisahan Alice dan Raymond?


Berikan dukungan kalian terus ya.


__ADS_2