Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Terungkap


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice terlihat hanya mematung dengan menyandarkan kepala di kaca mobil dekat tempat duduknya, bayangan suaminya kembali hadir dengan tiba-tiba mengusik ketenangannya. Alice kini kembali merindu, hingga tak terasa bulir bening mengalir mulus dari kedua sudut matanya. Tangisan yang ternyata dapat dilihat oleh Tara yang berada tepat di sampingnya.


"Kakak kenapa menangis?"


Alice dengan segera menyeka air matanya, ia coba menarik napas sekuat-kuatnya untuk menenangkan hatinya yang rapuh.


"Aku gak apa-apa, Tara, aku hanya kangen suamiku."


Perkataan yang membuat Norin dan Adrian menoleh menatap Alice. Keduanya memberikan semangat agar Alice kuat menjalani segala permasalahan yang kini menimpanya.


"Aku menyesal tidak mempercayainya, seandainya aku percaya, semua tidak akan seperti ini, suamiku tidak akan pergi."


Alice kembali terisak, tak terbendung lagi rasa sakit yang kini dirasakannya. Penyesalan yang selalu menghantui hidupnya selama 14 hari ini, membuatnya selalu menangis, ketika mengingat akan semua sikapnya yang menjadi penyebab kepergian Raymond.


"Sudah Kakak, aku yakin Kakak Ipar pasti segera kembali."


Tara mendekap tubuh Alice, dengan sebuah usapan pada punggungnya, Tara mencoba menenangkan Alice.


Adrian menatap dengan wajah yang sendu, ia tidak tega melihat air mata yang mengalir pada wajah putrinya. Tangannya mengepal kesal di atas pangkuannya, sambil sesekali ia hentakkan dengan kasar. Hal yang menarik perhatian Philips yang berada di samping Adrian, keduanya duduk berdampingan di kursi depan, dengan Philips yang mengendarai mobil.


"Pria yang bernama Raymond itu selalu membuat luka di hati anakku, kenapa dia harus pergi? Kalau dia mencintai anakku," gerutu Adrian dengan suara yang pelan, namun masih dapat didengar oleh Philips.


Philips melirik ke arah Adrian, entah apa yang dipikirkannya, tapi pandangannya terlihat begitu muram.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di sebuah mobil mewah berwarna kuning milik Elliot. Benjamin terlihat mengendarainya. Elliot masih memikirkan segala sesuatu yang terjadi di bandara, terlebih tentang Philips, hal yang tak luput dari pikirannya.


"Kita ke rumah Albert, Ben, aku harus bertanya padanya tentang sepupunya itu."


"Baik Tuan, ternyata kita punya pikiran yang sama."


Benjamin memutar laju mobilnya dan langsung berbelok ke arah selatan. Mobil pun melaju dengan cepat membelah lalu lintas yang terlihat renggang siang itu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sesampainya di rumah kediaman Weil. Kedatangan keluarga Adrian disambut hangat oleh Risfa dan beberapa pelayan lainnya.


"Selamat datang Tuan Adrian." Risfa menyapa dengan membungkuk hormat.


Adrian tersenyum canggung, ia merasa sambutan yang diberikan terasa berlebihan, begitu juga dengan Tara dan Norin, pengalaman seperti ini baru kali pertama mereka alami.


"Mommy dan Ayah ikuti Risfa ya, dia akan mengantar kalian ke kamar, Tara ikut aku sebentar yuk ke kamarku."


"Ingat Alice! Ayah tidak mau kamu bersedih lagi, kamu harus kuat, Ayah yakin suami kamu akan segera kembali, jika dia memang mencintaimu dan mencintai kedua anak dalam kandunganmu!"


Perkataan yang membuat Philips tersedak salivanya sendiri. Namun dengan cepat ia membungkam rapat mulutnya, agar tidak menimbulkan suara yang dapat terdengar oleh orang lain. Beruntung posisi Philips berada di belakang semuanya, jadi tak ada satu orang pun yang melihat reaksinya.


Alice menarik sebelah sudut bibirnya, untuk menyunggingkan sebuah senyuman, walau terkesan dipaksakan.


"Aku mengerti Ayah."

__ADS_1


Alice melanjutkan langkahnya yang terhenti, bersama Tara, keduanya menaiki anak tangga untuk menuju kamar yang letaknya berada di lantai 2.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Philips menyingkir dari pandangan yang sungguh membuatnya tak sanggup untuk terus bersandiwara. Ia terus melangkah ke arah kolam renang di belakang rumah, tempat yang dapat terlihat dari balkon kamar Alice.


Philips duduk sendiri, bersama semua pikirannya yang kalut.


"Sudah saatnya aku membongkar identitas asliku, aku tidak mungkin terus menerus melihat Alice bersedih, apalagi sekarang aku sudah tahu perasaan Alice, jadi tidak ada alasan untukku tetap melakukan penyamaran ini."


Philips berpikir dengan keras, ia ingin membuka penyamarannya dengan cara yang spesial dan tidak biasa.


"London Eye."


Sebuah ide terbesit dipikiran Philips. Ia bangkit dari posisi duduknya dan beranjak untuk kembali ke mobilnya. Setelah sampai di dalam mobil, ia mulai melajukan mobil dan berlalu meninggalkan rumah kediaman keluarga Weil.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mobil Elliot sudah tiba di depan rumah Albert. Tak menunggu waktu lama, Elliot diikuti oleh Benjamin dan Christopher langsung keluar dari mobil.


Elliot mengetuk pintu dengan perlahan, ketukan yang cepat mendapat jawaban dari Albert dari dalam rumah.


Saat pintu terbuka, wajah Albert menjadi pucat, seperti tak ada darah yang mengalir pada wajahnya. Sebenarnya ia ingin menutup kembali pintu yang telah di bukanya, namun itu tak dilakukannya, karena ia begitu menghormati Elliot.


"Ya Tuan Elliot, ada apa?"


Elliot langsung masuk ke dalam rumah, walau Albert belum mempersilahkannya.


"Sekarang ceritakan padaku, bisnis apa yang Ayahmu jalani, kenapa kau di rumah tidak membantu usaha Ayahmu," tutur Elliot sambil duduk di sofa dengan pandangan yang tajam menatap ke arah Albert.


"Ayahku baru besok usahanya Tuan," kilah Albert mengelak dengan suara sedikit terbata.


Elliot terkekeh mendengar jawaban Albert.


"Jangan bohong padaku Albert! Aku tahu Tuan Raymond yang menyuruhmu untuk melakukan ini semua, aku menjadi tambah yakin bahwa pria yang aku temui di bandara tadi itu adalah Tuan Raymond."


Sontak perkataan Elliot membuat Albert tercekat kaget. Ia sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Albert pun menghela napasnya dalam-dalam, ia akhirnya memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi pada malam itu di London Eye, awal pertemuannya dengan Tuan Raymond.


London Eye.


Albert terlihat bersama Risfa, baru saja turun dari mobil, meninggal Alice sendiri. Keduanya langsung mendekat ke arah London Eye, menatap keindahan yang begitu membuat mereka terpukau. Walau Albert sudah sering ke tempat ini, tapi rasa kagumnya akan London Eye tak pernah memudar.


"Bagaimana apa kau suka?"


"Ini adalah tempat terindah yang aku datangi selama ini Albert, terima kasih banyak."


Tanpa aba-aba, Risfa memberikan sebuah kecupan tepat mengenai bibir Albert.


Albert mematung tak bisa berkata apapun, darahnya berdesir dengan detak jantung yang mulai tak beraturan. Wajahnya kini memerah menahan rasa malunya.


"Aku mencintaimu Albert."


Perkataan Risfa membuat Albert membuncah bahagia, ia sungguh tak menyangka jika dirinya harus kalah dari Risfa yang lebih dulu mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Risfa masih menatap wajah Albert dengan lekat, kini mereka saling berhadapan dengan London Eye menjadi saksinya. Albert meraih kedua tangan Risfa, ia mengecup tangan Risfa dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu, hanya saja aku seperti pria bodoh jika dihadapanmu, aku gugup, itu membuat bibirku terkunci rapat untuk dapat mengutarakan perasaanku."


Risfa langsung menyentuh bibir Albert dengan jemarinya.


"Sudah diamlah, kau terlalu banyak bicara."


Tanpa sebuah kode apapun, Risfa langsung mencium bibir Albert, kini keduanya saling memagut mesra penuh kehangatan. Namun ciuman mereka tiba-tiba terhenti, saat kedua mata Albert melihat sosok Raymond melintas tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Albert dengan cepat melepas ciuman Risfa, membuat Risfa terkejut dan bertanya-tanya apa yang telah dilihat oleh Albert.


"Ada apa Albert? tanya Risfa dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Itu seperti Tuan Raymond, ayo kita kejar!" Albert menunjuk ke arah sosok pria yang dilihatnya kepada Risfa.


Risfa terkesiap tak percaya mendengar ucapan Albert, tanpa berpikir panjang, Risfa langsung mengekor di belakang Albert untuk ikut mengejar.


Keduanya melangkahkan kakinya semakin cepat, untuk memperkecil jarak dengan sosok pria yang juga semakin panjang langkahnya.


Albert berulang kali memanggil nama Raymond, namun sosok pria itu tetap tak menghentikan langkahnya, malah semakin dipercepat seperti tak mau mereka temui.


"Albert, kita berpencar, aku akan ke sana." Risfa melihat persimpangan jalan, ia pun melangkah ke arah kanan jalan untuk mengejar sosok pria itu.


Albert kini sudah berlari untuk merapatkan jaraknya, namun sosok pria itu bukan malah berhenti tapi ia semakin memperlebar jaraknya. Jalan yang melingkar, membuat Risfa berhasil menghadang laju pria tersebut. Pria itu akhirnya menghentikan langkahnya.


Risfa dan Albert semakin mendekat ke arahnya, hingga akhirnya Albert dan Risfa sama-sama terkejut dengan mata yang membulat sempurna, ketika dihadapan mereka saat ini berdiri seorang Raymond Weil.


"Tuan Raymond."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Elliot mendesah kasar. Ia memijat keningnya dengan perlahan sambil terkekeh lucu.


"Kau bisa mengelabui kami, kau sangat pintar Tuan Raymond."


Tak berapa lama sebuah pesan terdengar masuk di ponsel Albert yang tergelatak sedari tadi di atas meja.


"Boleh aku membukanya Tuan."


Albert langsung mengambil ponselnya dan mulai membuka sebuah pesan baru.


"Albert temui aku di London Eye, jangan lupa ajak Alice bersamamu, tepat malam ini jam 22.00."


Albert menunjukkan pesan yang masuk dari Raymond. Setelah membacanya tampak semburat kebahagiaan terlukis jelas di wajah Elliot dengan mengulas sebuah senyum di wajahnya. Elliot kini dapat bernapas dengan lega, karena semua bebannya terasa hilang seketika, ia memang merasa sangat bersalah atas kepergian Raymond, karena semua hinaan yang diucapkannya sewaktu di MANGO Corporate kepada Raymond, menjadi salah satu alasannya pergi dari rumah kediaman Weil, yang tertera pada sepucuk surat yang Raymond tulis.


"Aku bersyukur akhirnya Alice akan bertemu dan bersama kembali dengan suaminya."


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Baca juga karya sekuelnya ya :

__ADS_1



__ADS_2