
Biasakan menekan like sebelum membaca ya. Terima kasih semua.
Selamat membaca!
Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam. Akhirnya Alice dan Raymond tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia.
Mereka kini sudah menaiki taksi untuk mengantarnya ke rumah barunya di daerah Andara, Jakarta Selatan. Mobil langsung melaju menerabas yang nampak masih lenggang.
"Inikah Indonesia, padahal Ayahku berasal dari negara ini, tapi tak sekalipun dia mengajakku untuk pergi ke sini," keluh Alice sambil mengedarkan pandangan menatap ke arah jalan.
"Sekarang kita malah akan tinggal sementara waktu di sini, kamu harus betah dan membiasakan diri dengan cuaca di sini yang beriklim tropis, jika kamu merindukan indahnya salju kita akan berlibur kembali ke Inggris, sekaligus menjenguk Elliot," tutur Raymond menatap Alice, berharap ia menyukai dan nyaman berada di Indonesia.
Alice hanya tersenyum merespon ucapan Raymond.
Butuh waktu 1 jam 30 menit untuk mereka tiba di rumah barunya, sambutan yang hangat dari 2 petugas perumahan tempat mereka tinggal dibalas senyum manis oleh Alice dan dingin oleh Raymond.
"Orang Indonesia itu sangat sopan, aku menyukainya sweetu."
"Baru saja tiba di sini jadi kamu menyukai pria itu," kesal Raymond mendengus kasar.
"Masa kamu cemburu dengan petugas itu, walaupun dia muda dan tampan, tapi bagiku mencintaimu saja sudah membuatku banyak terluka, apalagi mencintai pria lain," goda Alice diikuti dengan keluhannya.
Raymond lega mendengar perkataan Alice, namun ia jadi merasa tak senang karena Alice mengungkit tentang kesalahan yang lalu.
"Sudah, sudah, jangan ungkit masa lalu, kita sebaiknya bahas hidup kita yang lebih indah ke depannya," kilah Raymond mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka tiba di depan rumahnya. Keduanya turun dan pengemudi taksi menurunkan koper-koper lalu membawanya ke depan rumah. Setelah selesai Raymond membayar seharga yang dikatakan pengemudi dan memberikan tips yang begitu banyak, membuat sang pengemudi begitu terharu sampai mengucapkan terima kasih berulangkali.
Alice berdecak kagum menatap keindahan dihadapan matanya saat ini.
Sebuah rumah mewah dengan mobil putih terparkir di tengah-tengah taman yang indah, membuat mata yang memandang pasti akan terpukau dengan keindahannya.
"Ini rumah kita sweetu," ucap Alice sambil menutupi mulutnya yang saat ini sedang terpukau.
"Iya ini untukmu sweety, kita ramaikan rumah indah ini dengan kebahagiaan dan tawa dari anak-anak kita ya sweety."
__ADS_1
Raymond melingkarkan tangannya pada tubuh Alice. Keduanya masih berdiri di depan mobil mewahnya, menatap rumah megah dengan kedua taman di sisi kiri dan kanannya yang sangat menawan.
Kedua masuk ke dalam rumah, sementara koper-koper sudah dibawakan oleh dua orang pelayan yang sudah Raymond pekerjaan di rumahnya.
Di dalam rumah Alice kembali dibuat takjub dengan desain interior yang begitu elegan, membuat Alice tak henti-hentinya menyebar senyum di wajahnya.
"Katamu ingin hidup sederhana, apa bagimu kesederhanaan itu adalah kemewahan atau memang kamu tidak akan sanggup bila hidup tanpa kemewahan," goda Alice sambil menyentuh rahang Raymond dengan lembut.
"Aku hanya ingin kamu bahagia sweety," ucap Raymond menangkup kedua sisi wajah Alice, lalu memberi ciuman lembut pada bibir Alice yang selalu menggairahkan untuk diciumnya.
Baru sebentar mereka berciuman, Alice tiba-tiba melepasnya lalu mendorong pelan tubuh Raymond yang membuatnya mundur satu langkah, hingga membuat jarak di antara keduanya.
"Stop Tuan arogan, kamu tidak lihat, aksi ciuman kita jadi tontonan kedua pelayanmu," ucap Alice sambil menunjuk ke arah kedua pelayan itu.
Raymond mendengus kesal, menatap tajam kedua pelayan barunya yang sedang berdiri mematung memandangi dirinya sedang berciuman dengan Alice.
"Apa tidak ada yang kalian dapat kerjakan sampai melihat Tuan dan Nona kalian berciuman," ketus Raymond menaikan kedua alisnya.
Kedua pelayan gugup mendengar ucapan lantang dari Raymond, bibir mereka gemetar tak mampu menjawab pertanyaan Raymond.
"Modyar aku, lagi wae ditompo kerjo neng kene, mosok wes ditokno, mugo-mugo ojo dipecat, duh gusti...," gumam Bejo dengan keringat yang membasahi dahinya, diakhiri merapal doa dalam-dalam.
"Itu Tuan, kami mau kembali keluar tapi Tuan dengan Nona Alice, berdiri tepat di depan pintu, bagaimana kami akan keluar Tuan, mungkin kalau kami Casper, bisa kami menembus dinding tanpa mengganggu Tuan dan Nona," tutur Siti menjelaskan dengan wajah polosnya.
Sontak perkataan Siti membuat Raymond sampai tersedak salivanya sendiri, sementara Alice langsung tertawa terbahak-bahak sambil menengok ke arah pintu dan melihat ke sekeliling untuk membenarkan perkataan Siti.
Alice memukul lengan Raymond, wajahnya kini sudah merona merah karena tersipu malu.
"Gara-gara kamu sweetu, dasar! Lain kali kendalikan hawa nafsumu atau Raymond jr tidak akan mendapat jatah malam ini," ancam Alice berbisik di telinga Raymond, sambil meneruskan langkahnya untuk melihat-lihat rumah barunya.
Raymond bergedik ngeri, merasa tak akan sanggup bila harus mendapatkan hukuman itu. Ia kemudian mengikuti langkah Alice dan mengabaikan kedua pelayannya.
Sementara Bejo dan Siti saling menatap aneh.
"Eh Siti, yang gila kita apa majikan kita ya, dia yang marah, eh dia juga yang ketawa," tutur Bejo merasa lega.
"Ya sudah yang penting kita gak dipecat itu aja yang kita syukuri, wong nyari kerjaan itu susah sekarang, kita harus betah-betahin deh kerja sama majikan bule," tutur Siti memberi pencerahan kepada Bejo.
__ADS_1
Bejo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, wajahnya yang melongo membuat Siti menangkup bibirnya yang menganga.
"Ini bibir kalau dengerin orang ngomong ya mbok ditutup Bejo, mulutmu udah kaya galian sumur, tahu!" ejek Siti dengan tertawa geli.
Bejo mengibas tangan Siti dengan cepat menjauhkan dari wajahnya. Siti langsung melangkahkan kakinya dengan menjulurkan lidahnya ke arah Bejo.
"Ini bukan galian sumur Siti, tapi lubang WC, dasar kamu! Wong seksi gini di bilang galian sumur," gerutu Bejo ngedumel kesal karena kejahilan Siti, sambil memegang bibirnya yang katanya seksi.
Bejo langsung menyusul langkah Siti dengan setengah berlari, untuk mengambil beberapa koper yang masih tertinggal di halaman rumah.
πππ
Greta terlihat kesal dengan wajah masamnya.
"Kenapa Tuan Raymond? Kenapa kamu membohongiku?" geram Greta kesal mengingat apa yang dilakukan oleh Raymond.
Greta melempar benda-benda di kamarnya, sampai semua make up yang tersusun rapi di atas meja jadi hancur berantakan, pecahan kaca bertaburan dimana-mana, karena cermin yang dihempaskan oleh Greta dengan keras.
Greta berteriak dengan histeris memanggil nama Raymond. Ia menangis, meratapi nasibnya telah ditinggal oleh Raymond. Greta kini bersimpuh lemas di dasar lantai, dengan keadaan kamar yang sudah berantakan di setiap sisinya.
Greta menangis terisak.
"Maafkan Ibu, Nak, karena Ibu tidak bisa mendapatkan hak kamu. Sekarang Ayahmu sudah pergi jauh, Ibu sendiri tidak tahu saat ini dia pergi kemana," lirih Greta sambil mengelus lembut perutnya.
Tiba-tiba wajah Greta berubah mengeras, tatapannya penuh dengan kebencian yang saat ini begitu membara dalam dadanya.
"Aku membencimu Alice, seumur hidupku."
Greta berteriak sekuat tenaganya, sampai terlihat urat-urat di lehernya mengeras tegang. Air mata sudah begitu banyak berderai menghujam wajahnya yang saat ini begitu kacau.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Aku tunggu komentar kalian ya?
Sehat selalu.
__ADS_1
Terima kasih atas segala dukungan kalian.