
Selamat membaca!
Richard sudah mengantar Alice menuju sebuah kamar yang terletak di lantai 2.
Keduanya menaiki anak tangga secara beriringan, mereka terlihat canggung, tanpa mengolah sepatah kata pun, namun sesekali Richard mencuri pandang untuk menatap wajah Alice.
Perasaan apa ini, kenapa aku merasa nyaman berada di dekat Kakak Iparku sendiri.
Alice segera mengusir perasaan yang dianggapnya salah, kemudian kembali diam membisu dan terus mengekor di belakang Richard.
"Nah, ini kamar untukmu Alice, segeralah tidur! Karena besok pagi kita akan terbang kembali ke London, aku punya sebuah kejutan untukmu di sana."
Alice tersenyum kecil, sambil memperlihatkan raut penasaran pada wajahnya.
"Tuan Richard jangan buat aku penasaran, katakan saja," ucap Alice berseru pelan, namun dengan penuh desakan.
"Tidak bisa Alice, kalau kejutan itu ya berarti kamu harus terkejut, saat nanti mengetahuinya, kalau kamu tidak terkejut bukan kejutan namanya tapi ketahuan."
Alice terkekeh mendengar ucapan Richard. Sesaat keduanya saling berbagi tawa dan keceriaan malam itu, melupakan setiap masalah yang sedang mereka hadapi.
Kenapa aku nyaman berada di dekat Adik Iparku sendiri ya?
Richard terus menatap senyuman pada wajah Alice, membuat hatinya teduh, seperti dibalut sebuah kenyamanan yang sebenarnya tak boleh ia rasakan.
"Kamu cantik kalau tersenyum seperti itu Alice, tetaplah tersenyum dan jangan biarkan kesedihan membuat paras cantikmu meredup," tutur Richard memuji Adik Iparnya.
Wajah Alice bersemu merah, kedua pipinya sudah merona membuatnya bingung harus menyembunyikannya dimana, agar tidak terlihat oleh Richard. Alice pun bergegas membuka handle pintu kamar, sesaat sebelum masuk ia tersenyum manis dengan menatap wajah Richard yang masih menunggunya masuk di depan pintu kamar.
Di dalam kamar, Alice masih belum melepaskan senyum di wajahnya, itu membuatnya tersadar dari sebuah rasa yang terlarang.
"Apa yang aku rasakan ini? Ini perasaan yang salah, suamiku saat ini sedang berjuang melawan komanya, sementara aku sedang berbunga-bunga mendengar pujian dari Kakak Iparku sendiri," gumam Alice dengan memukul pelan kepalanya merutuki kebodohannya.
Alice melangkah mendekati ranjang, kamar yang elegan dengan sebuah konsep minimalis yang mewah, membuatnya takjub dan nyaman berada di kamar ini.
Alice merebahkan tubuh lelahnya, ia memandangi langit-langit kamar dengan tatapan rindu, rindu akan Raymond yang saat ini masih dalam kondisi koma, belum lagi pikirannya tentang Elliot yang saat ini masih dirawat, karena luka tembak di kedua kakinya.
"Sabar ya sweetu, aku akan datang besok."
Namun tiba-tiba Alice teringat semua yang dikatakan oleh Greta, tentang kehamilannya dan sampai Greta akhirnya mengalami keguguran.
__ADS_1
Selama ini sweetu membohongiku.
Tak dapat menahan sesak di dadanya, akhirnya Alice menangis terisak, air mata yang terus menetes membasahi ranjang. Kesedihan Alice malam itu, membuat perasaannya terluka. Entah bagaimana dengan cintanya untuk Raymond, namun walau bagaimanapun Alice masihlah istri seorang Raymond Weil, jadi sudah kewajibannya untuk setia.
"Berarti alasan sweetu pergi ke Indonesia adalah untuk menghindar dari Greta, sekarang aku mengerti, pantas saja sejak Greta datang sweetu jadi berubah."
Alice semakin terisak mengingat semuanya. Ada perasaan yang kini merusak keutuhan cintanya untuk Raymond. Namun Alice memutuskan untuk bertahan, demi kedua anak dalam kandungannya.
"Sejahat apapun Greta, dendamnya terbentuk dari sikap sweetu yang tidak mau bertanggung jawab atas anak dalam kandungannya," batin Alice sambil menyeka air mata di pipinya.
Malam semakin larut, sampai akhirnya Alice mulai terpejam, setelah berjam-jam menangis meratapi sebuah kenyataan yang wanita manapun, jika mendengarnya pasti akan bersedih, sebuah kenyataan yang selama ini selalu ditutupi oleh suaminya, bahwa Raymond sudah menghamili wanita lain dan tidak bertanggung jawab sampai menyebabkan kandungan wanita itu keguguran.
Keesokan harinya.
Alice sudah terlihat rapi, begitu pun dengan Richard dan Leo, pria berbulu lebat yang kini sudah tampil lebih klimis, namanya adalah Leo Clayton James.
"Tuan Leo, Anda terlihat sangat tampan," puji Alice dengan senyuman di wajahnya.
Alice duduk di seberang posisi Richard, sementara Leo berada di sampingnya.
"Ya aku akan menemui putriku di London, entah apa dia menginginkan pertemuan ini atau malah dia akan membenciku?" tanya Leo yang dalam hatinya kini ada sebuah keraguan.
"Pasti putri Anda akan bahagia jika bertemu Anda, aku yakin itu, karena aku sendiri tidak pernah bertemu dengan Ayah kandungku," tutur Alice menunjukan sebuah ketegaran, walau ada kesedihan tersirat dari setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.
Richard tak menanggapi ucapan Alice dan Leo, namun ia terus mencermati setiap reaksi di wajah Alice, hingga ia dapat membaca kesedihan yang saat ini Alice rasakan.
Richard tersenyum tipis menatap Alice, seperti timbul sebuah ide dalam isi kepalanya.
Tunggu saja Alice, pertemuan itu akan terjadi.
Ketiganya melanjutkan santap pagi mereka. Setelah selesai memenuhi isi perutnya, kini ketiganya bersantai sejenak sebelum jam keberangkatan tiba.
1 jam kemudian.
Alice sudah berada di dalam mobil mewah Richard. Perjalanan mereka menuju bandara dikawal oleh keempat pengawal pribadi Richard. Benjamin, Christoper, Colin, dan Arnold akan dibawa ikut serta ke London.
Richard sudah menyiapkan pesawat pribadinya yang sudah menunggu di Bandara Halim Perdanakusuma.
Sesampainya di Bandara, semuanya melangkah untuk menaiki pesawat, Alice terkagum dengan pesawat pribadi milik Richard yang kini terpampang nyata dihadapannya.
__ADS_1
Belum selesai kagum dengan badan pesawat yang terlihat gagah dan elegan. Alice kembali dibuat takjub dengan bagian dalam pesawat.
Alice akhirnya duduk bersebrangan dengan posisi Richard yang sudah duduk terlebih dahulu. Setelah semua memasuki pesawat, pesawat mulai lepas landas meninggalkan bandara menuju London. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menyapa Alice dan menghampirinya, setelah pesawat sudah berhasil lepas landas.
"Selamat datang kembali di London, Nona Alice," sapa Risfa dengan membungkuk hormat.
Alice terhenyak melihat Risfa.
"Risfa, terus Albert dimana?"
Seorang pria yang sedang duduk dengan membelakangi Alice tiba-tiba berdiri dan menyapa Alice.
"Aku di sini Nona Alice," jawab Albert tersenyum.
Albert memutuskan untuk kembali ke London, setelah Richard meneleponnya dan untuk jabatan yang ditinggalkan oleh Raymond, kini Alex selaku CEO sudah menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya, namun semua itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan untuk Albert, walau hanya beberapa hari dirinya menjabat.
Kebahagiaan Alice saat ini terasa lengkap, kehadiran asisten dan supir pribadinya yang sudah mempunyai kedekatan lebih dari hubungan antara seorang majikan dan pekerja, karena Alice sudah menganggapnya seperti keluarga. Namun tiba-tiba ia kembali teringat suaminya, yang sampai saat ini ia tahu masih dalam kondisi koma. Raut wajah Alice kembali berubah muram, hingga membuat binar kebahagiaan di matanya sirna berubah kembali sendu.
Richard membaca kesedihan Alice saat ini, tak sedetikpun Richard mengalihkan pandangannya, walau Alice sepertinya tidak menyadari tatapannya.
๐๐๐
Greta sudah semalam memulihkan kondisinya di paviliun. Setelah beristirahat dan tenaganya sudah kembali, Greta menuju pesisir pantai.
"Aku bisa kembali dengan menggunakan kapal pesiar milik Zack, tapi bagaimana cara mengendarainya?"
Greta tampak cemas. Ia terus melangkah melewati jalan setapak. Tibalah Greta di pesisir pantai, Greta mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kapal pesiarnya.
"Itu dia!" ucap Greta lalu melangkah mendekati kapal pesiar itu, ia kemudian masuk ke dalam kapal dan mulai mencoba untuk menjalankan kapal itu.
Setelah beberapa kali gagal cara menjalankan kapal itu, Greta yang sempat putus asa mulai mencari-cari petunjuk mengenai cara penggunaan kapal itu di sebuah nakas yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berada.
"Biasanya ada petunjuk cara menggunakannya kan," tutur Greta terus mencari dengan wajahnya yang cemas.
"Aku harus menemukannya dan cepat kembali agar aku bisa membalaskan dendamku pada Alice," gumam Greta yang tidak menyerah terus mencari.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
__ADS_1