Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Alice Pasrah


__ADS_3

Tekan like terlebih dahulu sebelum lanjut membaca ya. πŸ€—πŸ˜Š


Selamat membaca!


3 Jam kemudian.


Alice berdiri di depan wastafel, ia membasuh wajahnya yang sedikit ternoda oleh percikan darah suaminya. Terbesit setiap adegan yang telah terjadi di dalam pikirannya, saat Raymond di tusuk dengan sebilah pisau oleh seorang pria yang berhasil ditabraknya. Perasaan Alice kala itu, begitu hancur namun ia tak bisa terus larut dalam kesedihan yang akan membahayakan kandungannya.


"Aku harus kuat, tidak boleh lemah," ucap Alice sambil menepuk-nepuk kedua sisi wajahnya.


Alice masih menatap wajahnya yang sendu, bibir yang biasanya merah kini terlihat pucat tak lagi merekah, ia lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya.


Alice menghela napas dengan kasar, tapi tiba-tiba Risfa membuka pintu bathroom dan melongokan kepalanya, membuat Alice sedikit terkejut.


"Nona, Dokter ingin menemuimu."


Alice segera keluar dari bathroom dan melangkah untuk menghampiri Dokter yang telah selesai menangani Raymond.


Kini Alice sudah berdiri dihadapan Dokter. Wajah yang tampak muram, seperti berat ingin menyampaikan sebuah kabar pada Alice.


Kenapa wajah Dokter seperti itu?


Kesabaran Alice sudah hilang, ia memutuskan untuk bertanya terlebih dulu, setelah hanya mendapati sang Dokter, mematung tanpa suara dihadapannya.


"Bagaimana kondisi suami saya Dokter?" tanya Alice dengan cemas.


Dokter mulai berkata dengan raut simpatiknya.


"Maaf Nona Alice, kami sudah semaksimal mungkin melakukan segala yang terbaik yang dapat kami lakukan, tapi saat ini pasien mengalami koma, entah berapa lamanya kami tidak bisa pastikan, pasien bisa saja sadar dalam waktu dekat atau bahkan kemungkinan terburuknya pasien bisa meninggal. Hal ini dikarenakan pasien kehilangan banyak darah dalam perjalanan ke rumah sakit dan yang paling parah dua tusukan pisau di perutnya tepat mengenai dua organ vitalnya."


Tanpa bisa menjawab sepatah kata pun, Alice limbung tak sadarkan diri, untungnya Risfa yang berdiri di belakangnya sigap menjadi tumpuan tubuh Alice yang saat ini sudah roboh.


Mata Risfa sudah penuh dengan air mata, ia tak sanggup mendengar kenyataan bahwa kini Tuannya mengalami koma. Risfa bersama beberapa team medis yang langsung mendekat, ketika melihat Alice pingsan, kini sudah membawanya untuk dirawat secara intensif di ruang perawatan.


Saat ini Alice sedang dalam penanganan Dokter. Sementara Risfa hanya dapat memandangi dari kejauhan dengan rona kesedihan.


Kasihan Nona Alice, begitu berat cobaannya.


Derai air mata terus mengalir dari kedua mata Risfa. Mendadak dari belakang tubuhnya, Albert muncul memberikan sebuah kekuatan lewat sentuhan lembut pada pundak Risfa, yang saat itu sudah begitu lemah.


"Tuan Raymond pasti sadar, percayalah Risfa, beliau itu tidak mungkin tega membiarkan Nona Alice sendiri, kamu tidak perlu cemas."


Risfa tersadar akan kehadiran Albert, ia langsung memutar tubuhnya dan menghamburkan kesedihan dalam pelukan Albert. Risfa menangis terisak, mengeluarkan rasa sesak yang sudah sedari tadi membelenggu napasnya.


Albert sedikit kaku menanggapi pelukan Risfa.


Aku tuh bukan siapa-siapamu Risfa, apa boleh aku menyentuhmu?


Albert mendengus pelan, ia coba memberanikan diri, memberi kenyamanan untuk Risfa dengan usapan lembut pada rambut dan punggungnya, agar Risfa bisa tenang.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi Tuan Elliot, sepertinya besok pagi dia akan tiba di rumah sakit ini, dengan jet pribadi milik Tuan Raymond."


Risfa yang kini sudah lebih tenang, mengangguk untuk mengiyakan apa yang disampaikan oleh Albert.


"Ternyata Albert itu pria yang lembut dan juga perhatian ya, entah kenapa saat di dekatnya aku begitu tenang," gumam Risfa tersenyum kecil.


Keduanya pun duduk bersebelahan di kursi panjang, yang memang tersedia di depan ruang rawat.


🍁🍁🍁


Keesokan paginya.


Alice mulai tersadar. Ia mengerjapkan matanya dengan perlahan, lalu membukanya.


Dimana ini? Apa aku di ruang rawat?


Alice berkata sendiri tanpa ada siapapun didekatnya. Ia termangu menatap langit-langit, pandangannya kosong penuh keputusasan. Ia perlahan bangkit untuk duduk bersandar dan tak lagi memangku tubuhnya di ranjang.


"Au, kepalaku," ucap Alice merasakan denyut di kepalanya yang terasa sakit.


Alice mencoba memijat lembut keningnya, untuk mengurangi sakit yang dirasakan. Pikirannya kembali teringat kondisi Raymond yang saat ini dinyatakan koma oleh Dokter.


"Sweetu, kamu harus sadar, kamu sudah janji akan sering mengajakku makan malam kan."


Alice tak sanggup membayangkan, kehidupannya tanpa sosok suami di sampingnya. Wajah Raymond memberi rindu yang teramat dalam di hati Alice. Ia coba untuk tegar, mencoba kuat demi kedua buah hati yang berada di dalam kandungannya.


Pintu ruangan mulai berbunyi, ketukan berirama dari seseorang yang meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan.


Alice sontak kaget, ketika yang datang adalah 2 orang polisi berseragam dengan wajah tegas.


Saat kedua polisi mulai masuk, Albert mengekor di belakangnya untuk ikut melihat keadaan Alice.


Albert yang belum mengetahui maksud kedatangan kedua polisi itu, semakin penasaran hingga ia memutuskan untuk bertanya secara langsung.


"Maaf Pak Polisi, ada perlu apa dengan Nona Alice?"


"Kami sudah mendapat surat perintah, untuk menangkap saudari Alice, karena kasus tabrak lari terhadap saudara Kevin O'Leary yang menyebabkan beliau tewas di tempat kejadian."


Tak pelak perkataan dari polisi tersebut, mengejutkan Albert.


"Ta..pi Pak, kejadian yang sebenarnya kami hanya melakukan pembelaan diri," ucap Albert terbata menjelaskan.


"Silahkan beri kesaksian nanti di kantor polisi, Anda bisa menyiapkan pengacara untuk mendampingi tersangka."


"Saudari Alice, ayo silahkan ikut kami."


Kedua petugas terkesan memaksa tanpa mengabaikan kondisi Alice yang saat ini masih terbaring di atas ranjang.


Albert menaruh kecurigaan pada kedua polisi itu. Ia pun menolak dengan keras dan coba menghalangi kedua polisi yang ingin membawa Alice, namun usaha Albert sia-sia. Alice hanya pasrah mengikuti langkah kedua polisi itu. Ia bahkan tidak membela dirinya, tanpa perlawanan bahkan penolakan sama sekali, tatapan matanya kosong. Ia seperti kehilangan semangat untuk hidup.

__ADS_1


Albert hanya bisa menatap kepergian Alice bersama kedua polisi itu dengan raut kecemasannya.


Bagaimana ini? Kenapa semua jadi begini?


Tak lama Risfa datang kembali dari ruang Dokter, ia ingin menyampaikan sebuah kabar baik yang mungkin akan membuat Alice kembali memiliki sebuah harapan.


Risfa menatap ranjang kosong yang tidak tampak Alice berada di atasnya. Ia langsung mengalihkan pandangannya kepada Albert yang berada tidak jauh darinya.


"Albert apa kamu melihat, Nona Alice?"


Albert mendengus kesal.


"Nona Alice sudah dibawa kedua polisi atas tuduhan telah menghilangkan nyawa orang lain, karena tabrak lari."


Spontan perkataan Albert membuat Risfa diam seribu bahasa. Matanya membulat sempurna saking kagetnya.


"Kenapa seperti itu Albert? Lantas apa yang akan kita lakukan?"


Albert kembali duduk di kursi panjang, ia melempar tubuhnya untuk bersandar dan meletakkan kepalanya sejenak.


"Aku tidak mengerti Risfa, aku bingung." ucap Albert sambil memijat keningnya.


Risfa ikut duduk di samping Albert.


"Dokter mereferensikan Tuan Raymond agar dibawa ke temannya yang berada di London, katanya Dokter itu memiliki metode khusus untuk bisa menyadarkan pasien yang sedang dalam kondisi koma."


Albert mengerutkan keningnya kesal.


"Sial.. Sial.. Andai aku punya kuasa untuk mencegah kedua polisi itu membawa Nona Alice, sekarang kita hanya tinggal menunggu kedatangan Tuan Elliot saja."


Keduanya akhirnya sama-sama menghela napas dengan sangat dalam.


🍁🍁🍁


Alice sudah berada di dalam mobil, namun yang dilihatnya bukanlah mobil polisi, melainkan mobil Jeep berkaca gelap.



Sebelum memasuki mobil salah satu polisi itu memasangkan borgolnya ke tangan Alice. Alice hanya bisa pasrah walau sebenarnya ia merasa ini tidaklah adil untuknya. Pintu mobil terbuka dan Alice masuk ke dalam mobil.


Ia duduk di kursi belakang bersama satu orang polisi sementara satu polisi lainnya duduk di depan kemudi. Mobil Jeep mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.


Selama di perjalanan Alice hanya mematung diam menatap ke arah lalu lintas yang dilihatnya.


Kenapa hidupku jadi seperti ini?


Mobil Jeep berhenti di sebuah lampu merah jalan, secara bersamaan mobil Elliot melintas di arah sebaliknya, kedua mobil saling berpapasan begitu dekat, namun mustahil bagi Elliot melihat Alice berada di dalam mobil Jeep, karena kaca mobil sangat gelap hingga tidak mungkin dapat terlihat dari sisi luar mobil.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung✍️


Berikan dukungan kalian terus ya. Jangan kendor, dengan like dan komentar kalian. Terima kasih.


__ADS_2