
Selamat membaca!
Alice dan Raymond sudah berada di dalam pesawat, mereka harus mengakhiri honeymoonnya lebih cepat dari rencana semula.
Raymond terlihat panik dengan wajah cemasnya, memikirkan masalah besar yang sedang terjadi di London.
"Sabar ya sweetu, kita hadapi bersama-sama," ucap Alice menatap wajah sendu Raymond sambil menggenggam tangannya erat.
"Aku minta maaf keluargamu jadi ikut terdampak karena masalah ini, sampai keluargamu harus pindah ke Swedia dan menjual restoran juga rumah mereka di London."
Raymond mengesah kasar. Wajah sendunya semakin memperlihatkan kesedihan di sudut-sudut matanya yang tampak bulir bening membasahi.
"Tidak apa sweetu, yang terpenting saat ini mereka aman di rumah Nenekku," ucap Alice yang sebenarnya juga ikut sedih meratapi nasib keluarganya, namun ia tak mau menambah beban Raymond jika melihatnya bersedih.
Aku harus tegar untuk menguatkannya.
Raymond masih memikirkan semua yang diceritakan oleh Albert.
Albert memberitahu Raymond bahwa saat ini Nicholas sudah ditahan atas segala dakwaan pembunuhan, itu membuat kondisi keamanan tidak kondusif untuk semua keluarga dan pekerja di rumah kediaman Weil.
Pembunuhan yang terkuak membuat semua orang di London begitu membenci Nicholas dan juga ikut memboikot Perusahaan MANGO Corporate, sampai akhirnya kini diambil alih oleh Will, bahkan rumah kediaman Weil terus-menerus didatangi ribuan orang yang berdemonstrasi menuntut keadilan atas pembunuhan yang terjadi.
Adams Verdy Wiliam merupakan wartawan yang disegani di London. Karirnya terbilang gemilang hingga banyak orang yang menyukainya. Itu yang membuat berita pembunuhannya menjadi besar saat baru terkuak, hingga memancing amarah semua masyarakat London.
๐๐๐
Bandara Heathrow, London.
Raymond dan Alice melangkah menuju lobi bandara, di sana sudah ada Albert yang datang untuk menjemputnya.
Namun langkahnya begitu menjadi perhatian setiap orang yang memandangnya di bandara.
"Sweetu, orang-orang melihat kita penuh kebencian," ujar Alice bergedik ngeri sambil mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya.
Raymond menuntun Alice untuk mempercepat langkahnya, ia tidak ingin keadaan yang terjadi saat ini berakibat buruk pada Alice, apalagi jika sampai melukainya.
Setelah sampai di luar lobi bandara, mata Raymond mencari keberadaan mobil mewahnya yang tak terlihat satu pun di sana, sampai akhirnya ia menyadari keberadaan Albert di sebuah mobil listrik yang merupakan armada taksi di bandara, dengan klakson yang berbunyi menandakan panggilan untuk Raymond.
Albert bergegas membukakan pintu mobil untuk Raymond dan Alice agar masuk. Seperti biasanya Albert membungkuk hormat kepada keduanya.
Raymond masuk ke dalam mobil, membawa keanehan di raut wajahnya. Ia mulai duduk di dalam mobil yang baru pertama kali ia naiki, mencari kenyamanan yang memang sulit didapatnya di dalam mobil kecil ini.
__ADS_1
"Albert kenapa kamu tidak membawa salah satu mobilku?" ketus Raymond tak nyaman.
"Maaf Tuan, semua mobil Tuan sudah di sita karena itu merupakan aset yang termasuk dalam MANGO Corporate, tak ada yang tersisa Tuan, itulah mengapa saat ini saya bekerja sebagai supir taksi."
Albert menghela nafasnya dalam.
Alice menjadi iba pada Albert, kini pandangannya menatap ke wajah Raymond yang semakin kacau dengan beragam pikiran di kepalanya.
Raymond menghentakkan tangannya ke pintu mobil dan sangat mengagetkan Alice, namun tidak dengan Albert yang telah terbiasa oleh suara hentakan itu.
Alice menjadi takut, namun dengan cepat Raymond meneduhkan wajahnya untuk meminta maaf kepada Alice.
"Maafkan aku sweety, aku terlalu emosi karena sudah diperdaya oleh Greta," keluh Raymond mendesah pelan.
Alice kembali menggenggam erat tangan Raymond untuk menenangkannya.
"Tuan, Anda tidak bisa pulang ke rumah, saat ini hampir setiap hari para demonstran itu mengepung sekeliling rumahmu, Tuan," tutur Albert dengan wajah cemas bergelayut menaungi wajahnya.
"Aku ingin ke MANGO Corporate, apa aku bisa ke sana," pinta Raymond kepada Albert.
"Saya usahakan Tuan, tapi kalau menurut saya sebaiknya Tuan pergi meninggalkan London, mulailah kehidupan yang baru bersama Nona Alice, Tuan."
Perkataan Albert seperti merendahkan harga diri Raymond sebagai CEO MANGO Corporate. Ia begitu geram mendengarnya, amarahnya seperti memuncak sampai ke ubun-ubun, namun ia tak bisa melampiaskan kemarahannya di depan Alice, karena ia tak mau membuat Alice menjadi ketakutan terhadapnya. Raymond ingin kenyamanan selalu terasa di saat Alice dekat dengannya.
"Lantas bagaimana dengan Kakakku, Albert, aku coba menghubunginya, namun ponselnya tak kunjung aktif."
Raymond coba menenangkan segala kegelisahan Alice.
"Tenang saja sweety, Elliot itu asistenku, dia sama cerdasnya denganku, dia akan baik-baik saja." tutur Raymond memuji Elliot, sambil mengusap lengan Alice untuk menenangkannya.
Alice menatap teduh wajah Raymond, mencoba mempercayai perkataannya dan mengusir rasa cemas yang terus mengekor hatinya.
Mobil Albert sudah tiba di lobi MANGO Corporate.
Tanpa aba-aba Raymond bergegas turun dari mobil, meninggalkan Alice bersama Albert di dalam mobil. Raymond melarang Alice untuk mengikutinya, ia tak ingin Alice sampai melihat kemurkaannya.
Raymond mempercepat langkahnya, ia sudah masuk ke dalam lift pribadinya, namun saat ia ingin memasuki lift, akses finger print telah diubah bukan lagi menggunakan sidik jarinya.
"Sial berani sekali kau Will, kurang ajar!" gerutu Raymond sangat murka yang wajahnya sudah memerah padam.
Raymond berpindah ke lift umum untuk menuju ruang pribadinya.
Sesampainya di depan pintu, Raymond masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Pandangannya langsung tertuju kepada Will yang saat ini sedang duduk santai di kursi kebesarannya. Raymond menghampirinya dengan menajamkan sorot matanya, yang terpancar kemurkaan.
__ADS_1
"Selamat datang Ray, aku sudah menunggu kedatanganmu," ucap Will terkekeh licik.
Raymond mengacuhkan teguran Will dan terus mendekatinya.
bruk
Dengan keras Raymond menghentakkan meja kerjanya, membuat Will langsung bangkit tersulut amarahnya. Will mencengkram kerah baju Raymond dengan keras, sampai membuat tubuhnya terangkat, karena memang postur tubuh Will lebih kekar dan tinggi dari Raymond.
"Kamu memang bodoh Raymond Weil," ledek Will merendahkan Raymond, dengan wajah konyolnya.
Namun tanpa disadari Will, bogem mentah sudah disiapkan oleh Raymond lewat kepalan tangannya, tanpa aba-aba, dalam hitungan detik pukulan keras mendarat telak di pipi kanan Will, membuat cengkeramannya terlepas dan wajah Will sampai berpaling karena efek pukulan itu, terlihat tetesan darah keluar dari sudut bibirnya.
"Kau tahu Ray, karena pembunuhan yang dilakukan oleh Ayahmu, Ayahku juga ikut menyusul kepergian Adiknya," geram Will sambil melangkah menghampiri Raymond.
Raymond terhenyak mendengar perkataan yang Will ucapakan
Jadi Ayahnya Mike adalah Adik dari Ayahnya Will.
"Tapi ini kesalahan Ayahku, aku sendiri tidak tahu jika Ayahku melakukan itu, jika aku tahu pasti aku akan melarangnya," kilah Raymond dengan tegas.
Will tak menggubris ucapan Raymond, ia terus mendekatinya, keduanya tak terhindarkan saling baku hantam, beberapa kali pukulan Will dapat dipatahkan oleh Raymond, sampai akhirnya Raymond berhasil mendaratkan lagi pukulan telak di wajah Will, hingga membuat Will tersungkur jatuh ke dasar lantai. Belum juga Will bangkit, Raymond langsung menghadiahkannya lagi sebuah tendangan keras ke arah perut Will sampai membuat Will batuk hingga mengeluarkan darah.
Will terkekeh lucu tersirat sebuah rencana di raut wajahnya, membuat Raymond heran berjuta tanda tanya dipikirannya.
"Sudah terluka seperti itu, masih bisa kamu ketawa!" tegas Raymond dengan wajah heran.
"Dasar bodoh kamu Ray, kamu pikir bagaimana mungkin satu pun pukulanku tidak ada yang mengenaimu," ucap Will tertawa renyah, sengaja masih tersungkur dan tidak mencoba untuk bangkit.
Raymond terperanjat kaget, ia menyadari sebuah jebakan dari Will. Wajahnya mulai panik, dahinya berkeringat karena ia termakan perkataan Will yang menyulut emosinya.
Tak lama dalam hitungan detik beberapa polisi langsung mendobrak pintu yang tertutup, mereka langsung masuk dan mendapati Raymond telah menganiaya Will membuatnya terluka di wajahnya sampai berlumuran darah.
Raymond akhirnya tak berkutik, ia coba membela dirinya, ia berteriak mencoba melawan namun usaha sia-sia. Raymond pasrah kedua tangannya diborgol dan ia harus ditangkap karena tindak penganiayaan yang dilakukannya terhadap Will.
Saat Raymond dibawa oleh beberapa polisi ke luar ruangan, ia melihat sosok Greta melintas masuk ke dalam ruangan, mereka saling bertatapan, Raymond mengetahui bahwa ini adalah jebakan yang dilakukan oleh Will dan yang memanggil polisi-polisi ini pasti adalah Greta.
"Kau licik Greta," ucap Raymond menatap tajam Greta dengan kekesalannya.
Greta menanggapi dengan santai, ia tersenyum tipis menatap Raymond yang saat ini tak berdaya termakan jebakannya.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Ikuti kisah yang semakin seru, penuh intrik dan derai air mata. Bagaimana cara Alice menyelamatkan Raymond dari penjara?
__ADS_1
Terus dukung novel ini dengan like, komentar dan jika berkenan vote juga ya. Terima kasih.
Sehat selalu ya.