Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Demi Baby Twins


__ADS_3

Author boleh kan ya minta kalian semua yang sudah baca karya ini untuk check like kalian yang terlewati di setiap episode, like kalian sangat mempengaruhi karya yang aku buat, jadi jangan pernah lupa like ya. Jika kalian berkenan vote juga boleh, siapa tahu vote kalian membawa Alice terbang sampai ke 20 besar ranking vote, (Ya bermimpi boleh aja kan), hehe..


Selamat membaca!


Saat Alice dilanda kecemasan, kedua bayi di dalam kandungan Alice bergerak seolah memberi isyarat, untuk Alice mempertahankan pernikahannya.


Baby twinsku seolah tahu saat ini kedua orangtuanya ingin berpisah.


Alice tiba-tiba mengaduh, merasakan perih akibat gerakan kedua bayi di dalam kandungannya. Raymond terhenyak, raut wajah cemas langsung tampak menaungi raut wajahnya, dengan cepat Raymond mendekati Alice untuk melihat keadaannya.


"Kamu kenapa sweety, apa yang terjadi dengan kandungan kamu?" tanya Raymond yang melihat Alice kesakitan sambil memegangi perutnya.


Alice meringis menahan perih di perutnya yang semakin bertambah. Raymond kini semakin cemas, raut wajahnya tak lagi memikirkan perpisahan yang tadi ia ucapkan. Ia bergegas merengkuh tubuh Alice dan menggendongnya, dengan langkah yang tergesa walau sedikit tertatih, Raymond terus membawa Alice menuju ke depan rumah untuk membawanya ke rumah sakit.


Tatapan Alice tertuju pada wajah Raymond, yang sedang menahan berat tubuhnya, yang bisa dikatakan semakin bertambah, terlebih saat ini Alice sedang mengandung baby twins.


"Sweetu, kedua anak kita tidak mau kita berpisah sweetu, mereka memberitahuku lewat gerakannya."


Raymond mengesah pelan, lalu tersenyum tipis menatap wajah Alice. Pandangan mereka saling bertaut, seolah saling merindu. Namun seketika Raymond merasakan sakit yang begitu hebat di bagian perutnya, maklum saja bekas jahitan dari luka tusukan belum sepenuhnya mengering, bahkan Raymond harus kembali ke rumah sakit untuk melepas bekas jahitan di perutnya dalam 1 Minggu ke depan.


Melihat wajah Raymond yang pucat, Alice yang sakitnya sudah membaik, meminta Raymond menurunkannya, kini mereka sudah sampai di ruang tamu. Keadaan Alice sudah lebih baik dari sebelumnya, namun tidak dengan Raymond, Alice membuka baju Raymond dengan perlahan, sekejap ia terhenyak, raut wajahnya menjadi begitu cemas karena ia melihat darah kini sudah merembes dari jahitan yang belum mengering pada perut Raymond.


Alice melangkah dengan cepat untuk memanggil Albert. Kebetulan Albert yang belum tertidur mendengar suara Alice yang terdengar panik, ia pun segera menghampiri sumber suara yang ternyata berasal dari ruang tamu.


Alice dan Albert bertemu di pertengahan jalan menuju kamar Albert.


"Ada apa Nona Alice?" tanya Albert yang ikut cemas melihat kepanikan di raut wajah Alice.


"Tuan Raymond... Ada darah yang keluar dari bekas jahitan di perutnya."


Albert tak membuang waktu, ia berlari diikuti oleh Alice yang mengekor tepat di belakangnya, untuk melihat kondisi Raymond.


"Ya ampun Tuan Raymond," ucap Albert terkejut melihat darah yang sudah mulai membasahi pakaian Raymond, kondisi Raymond kini terlihat pucat.


Albert mulai memapah tubuh Raymond, untuk menuju ke luar rumah. Setelah susah payah sampai ke halaman rumah. Albert bergegas mengeluarkan mobil dari garasi, setelah menyandarkan Raymond pada sebuah kursi yang terletak di halaman rumah


Mobil sudah terparkir di pelataran rumah. Albert lalu kembali memapah tubuh Raymond dengan bantuan Alice, untuk meletakkannya di kursi belakang mobil.


Albert segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit yang letaknya lumayan jauh dari rumah mewah keluarga Weil.


Alice terlihat sangat panik, karena saat ini wajah Raymond semakin pucat dan sudah tak sadarkan diri.


"Bertahanlah sweetu, aku mencintaimu sweetu, aku ingin kita selalu bersama demi kedua buah hati kita, aku akan berusaha melupakan semua masa lalumu dengan Greta, tapi aku mohon bertahanlah untuk kedua anak kita."


Air mata Alice menetes deras membasahi wajahnya. Ia menyentuh lembut pucuk rambut Raymond dan mencium keningnya.


"Maafkan aku sweetu hatiku sempat berpaling dan hilang keyakinan padamu, namun aku yakin itu hanyalah kekagumanku saja, karena Tuan Richard menjadi pahlawan saat menolongku di pulau, tapi rasa cintaku masih tetap untukmu, karena aku mempunyai impian, kita selalu bersama dan menua bersama."


Alice mulai memanjatkan doa untuk kesembuhan suaminya.


Beberapa menit kemudian.


Mobil mewah yang dikendarai oleh Albert sudah mulai memasuki lobi rumah sakit. Raymond akhirnya sudah berada dalam penanganan team medis rumah sakit. Sementara Albert dan Alice hanya dapat menunggu Raymond dengan duduk di depan ruang IGD.


"Semoga Tuan Raymond cepat sadar," ucap Albert berharap.


Alice menoleh menatap Albert, dengan wajah yang kini sudah terlihat begitu sendu.


"Nona Alice, harus paham kenapa Tuan Raymond cemburu dengan Tuan Richard, karena selain kehamilan Greta, alasan Tuan Raymond memutuskan pergi ke Indonesia adalah karena Tuan Richard memberi penawaran kepada Tuan Raymond untuk melepas Nona Alice untuknya dan MANGO Corporate bisa kembali dalam kekuasaan Tuan Raymond seutuhnya," tutur Albert menceritakan apa yang didengarnya dari curahan hati Raymond sewaktu di London Eye.


Alice terhenyak. Matanya membulat sempurna saking terkejutnya mendengar apa yang dikatakan oleh Albert. Ia tak menyangka bahwa Richard mempunyai niat yang buruk pada pernikahannya.


"Jadi seperti itu Albert, aku baru tahu."

__ADS_1


Alice menunduk, matanya memerah menyesali semua yang telah dilakukannya, sambil mengepalkan tangan dipangkuannya. Alice beberapa kali menghentakkan kepalan tangannya, pada kedua pahanya yang merapat.


"Aku bodoh."


"Aku bodoh."


Alice terus merutuki kesalahannya. Ia hampir mengiyakan perpisahan yang diucapkan oleh Raymond, karena sebuah perasaan yang sebenarnya masih belum ia tahu terhadap Richard, apa itu hanya sebuah kekaguman atau benar perasaan cinta.


Alice menangis tersedu di samping Albert. Namun Albert tak bisa berbuat apa-apa, selain diam dan mendengarkan rasa sesal yang terlontar dari mulut Alice.


Setelah 30 menit berlalu, Alice masih menangis dengan wajah sendunya. Tiba-tiba seorang Dokter keluar dari ruang UGD dan datang menghampiri Alice dan Albert, membuat Alice dengan cepat menyeka air matanya, keduanya langsung bangkit menyambut kedatangan Dokter.


"Gimana Dok, keadaan suami saya?"


Alice bertanya dengan raut penuh kecemasan.


"Begini Nona, suami Anda kondisinya saat ini sudah membaik, kami sudah melakukan jahitan ulang pada kedua luka tusukan di perutnya, namun kami harus tekankan sekali lagi, pasien harus istirahat penuh sampai jahitannya mengering, jangan sampai hal ini terulang lagi ya."


"Baik Dokter, terima kasih banyak."


Sebuah senyuman terbit dari kedua wajah Alice dan Albert, saat mendengar kabar baik yang disampaikan Dokter.


Dokter akhirnya kembali melanjutkan aktivitasnya dan meninggalkan keduanya.


Alice dan Albert kembali menunggu dengan duduk lebih tenang di depan ruang UGD.


Terima kasih Tuhan, terima kasih KAU telah mengabulkan segala doaku.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


10.00


Alice sudah terbangun sejak pagi, kini ia terduduk di sebuah kursi yang terletak di samping ranjang dimana Raymond berbaring.


"Aku akan selalu mencintaimu sweetu."


Alice mengusap pucuk rambut Raymond dan memberikan kecupan pada keningnya dengan lembut. Kecupan yang membuat Raymond terbangun, ia mulai mengerjapkan mata dan membukanya perlahan. Raymond langsung memberi tatapannya pada wajah Alice yang kini ada di dekatnya. Wajahnya menatap nanar ke arah Alice.


"Sweety, kamu tidak pulang?" tanya Raymond parau.


"Tidak, kalau aku pulang siapa yang akan menjagamu di sini, lagipula kedua anak dalam kandunganku sepertinya tidak mau jauh dari Daddy-nya," tutur Alice menerbitkan senyum di wajahnya sambil memeganginya perutnya.


"Bagaimana kondisi kandungan kamu, bukannya semalam itu kamu kesakitan?" tanya Raymond lirih.


"Saat kamu menggendongku, entah kenapa sakitnya langsung hilang, mungkin kedua anak kita ingin dekat dengan Daddy-nya," tutur Alice dengan menggenggam tangan Raymond yang terpasang infus di tangannya.


"Maafkan aku sweety, jika selama menjadi suamimu, aku belum bisa membuatmu bahagia."


Raymond menunjukan sebuah ketulusan yang terpancar dari raut wajahnya, seketika air mata keluar dari kedua sudut mata Alice, Ia terharu dengan perkataan suaminya, seakan menohok hatinya yang hampir berpaling darinya.


"Aku juga minta maaf padamu sweetu, aku sempat meragukanmu, perkataan Greta di pulau membuat aku begitu sakit hati mengetahui tentang kehamilannya."


"Memang itu salahku sweety, aku yang tidak jujur padamu."


"Sudah tidak usah dibahas lagi, sekarang yang terpenting kamu istirahat dan cepat sembuh ya."


Alice mengulas senyum di wajahnya, menggenggam tangan Raymond dengan erat dan mengangkatnya perlahan lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan lembut.


Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi. Tak lama Albert dan Risfa masuk ke dalam ruangan dengan membawakan Alice pakaian ganti dan segala perlengkapan mandi, juga ponsel Alice yang tertinggal di rumah.


Alice langsung izin kepada Raymond, meninggalkannya terlebih dahulu untuknya mandi.

__ADS_1


Albert mendekati Raymond yang masih menatap kepergian Alice.


"Maafkan aku ya Tuan, aku sudah menceritakan apa yang kau ceritakan padaku saat di London Eyes."


"Tidak apa-apa Albert, aku tahu."


"Bagaimana keadaanmu Tuan?" tanya Risfa ikut bergabung dalam obrolan mereka.


"Baik Risfa, jauh lebih baik dari semalam."


Keduanya langsung menuju sofa yang berada di sudut ruangan, membiarkan Raymond sendiri agar bisa beristirahat dengan tenang.


🍁🍁🍁


Selesai melakukan aktivitasnya di kamar mandi, ponsel Alice berbunyi, ia mengambil ponselnya di atas nakas dekat bathroom. Alice mulai membuka ponselnya dan membaca sebuah pesan yang masuk. Alice tercekat saat membaca isi pesan itu berasal dari Richard.


"Aku tunggu kamu di seberang rumah sakit di sana ada sebuah cafe, ini aku Richard."


Alice berpikir sejenak.


"Sebaiknya aku menemuinya, aku ingin minta penjelasan padanya tentang penawarannya kepada sweetu."


Alice kemudian melangkah keluar dari ruang rawat, ia menitipkan Raymond pada Albert untuk menjaganya.


Alice berjalan menuju lift, diikuti oleh Risfa yang berjalann sejajar dengannya.


"Risfa menurutmu apa keputusanku benar untuk menemui Tuan Richard?"


"Temui saja Nona, lagipula Tuan Richard sudah menolong Nona sewaktu di pulau."


Alice mengesah pelan, walau ia agak sedikit ragu, namun ia memang harus bertemu untuk melayangkan protes, akan penawaran yang telah diberikan kepada suaminya.


"Aku harus bicara pada Tuan Richard, apa maksud penawarannya itu! Aku ini istri dari Adiknya kenapa dia tega berbuat seperti itu?" gumam Alice sambil terus melangkah bersama Risfa menuju pintu keluar rumah sakit.


Sesaat keduanya hampir keluar dari rumah sakit, tiba-tiba seorang suster yang sudah mengenal Alice, memanggilnya.


"Nona, maaf mengganggu."


Suster itu menghampiri Alice dan langsung menegurnya.


"Iya Suster ada apa?"


"Ada administrasi yang harus diurus untuk kepulangan Tuan Raymond, Anda diminta untuk segera mengurusnya."


Alice sempat bingung dan berpikir sejenak, sebelum akhirnya Risfa yang mengajukan dirinya.


"Sudah biar saya saja, Nona silahkan lanjutkan tujuan Nona."


Risfa dan Suster akhirnya pergi meninggalkan Alice untuk menuju bagian administrasi. Alice melanjutkan langkahnya menuju sebuah cafe yang terletak diseberang rumah sakit.


Alice memandang ragu ke arah cafe, ia menoleh ke kiri dan kanan untuk bersiap menyebrang jalan, Alice menilik keadaan lalu lintas yang saat itu terlihat lumayan renggang, hanya ada beberapa mobil yang lalu lalang di jalan itu.


Saat Alice sudah melihat kondisi jalan yang kosong, ia mulai melangkah dengan cepat untuk menyebrang jalan. Namun tiba-tiba sebuah mobil dari arah kanan Alice muncul dengan mengejutkan dari sebuah pertigaan jalan, mobil melaju dengan sangat kencang, Alice terhenyak kaget menatap mobil yang makin mendekatinya.


Ya Tuhan lindungi aku dan baby twinsku.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Ramaikan kolom komentar ya.


Menjelang ending season pertama, jadi ikuti terus dan jangan lewatkan ya.

__ADS_1


__ADS_2