Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Rindu


__ADS_3

Selamat membaca!


Sudah dua Minggu berlalu, sejak kepergian Raymond. Alice masih saja mengurung diri di kamar dan tak mau menemui siapapun, bahkan untuk makan, Risfa harus berusaha keras menyuapinya.


"Nona, sudah jangan terlalu berat memikirkan Tuan Raymond, ingat kata Dokter kemarin, kandungan Nona semakin lemah, karena beberapa hari Nona tidak mau makan dan mengkonsumsi susu juga vitamin, tolong Nona jangan tambah kesedihanmu, ingat kedua anak Nona juga ingin melihat dunia dan bertemu dengan kedua orangtuanya," tutur Risfa sambil menitikkan air mata kesedihannya.


Alice hanya terdiam, sambil tetap meletakkan tubuhnya pada sandaran ranjang, Alice tak bergeming dari posisinya, pandangan matanya kosong terlihat hampa, dengan raut wajahnya yang tak lagi bersinar. Alice terus termangu dalam kesedihannya, 14 hari ia harus menahan kerinduan akan sosok suami yang setiap malamnya, selalu mendekap tubuh Alice di saat terlelap, memberi kehangatan di kala dingin dan memanjakannya ketika Alice rapuh, rasa kehilangan yang semakin menyakitkan, saat Alice kembali teringat semua ini bisa terjadi, karena kesalahannya yang tidak mempercayai suaminya sendiri.


Risfa semakin tidak tega menatap wajah Alice yang terus menangis, dengan mata sembab dan wajah sendu yang pucat, menambah rasa iba Risfa kepada Alice.


"Nona, aku mohon makanlah, sudah sejam berlalu tapi baru dua suap yang kau makan."


Bibir Alice gemetar sambil menahan rasa sesaknya, akibat terlalu lama terisak. Alice mencoba menguatkan dirinya, walau dia sendiri tahu itu merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukannya, dengan air mata yang tak berhenti menetes, ia berusaha mengunyah makanan yang kini sudah berada di dalam mulutnya.


Setelah selesai menyuapi Alice, Risfa pamit untuk keluar dari kamar meninggalkan Alice sendiri.


"Kasihan Nona Alice, kenapa Tuan Elliot lama sekali belum juga kembali membawa Tuan Raymond untuk pulang," gumam Risfa sambil terus melangkah menuruni anak tangga.


Di lantai dasar, Albert yang memang juga mencemaskan keberadaan Alice, langsung mendekati Risfa.


"Bagaimana keadaan Nona Alice?"


"Aku tidak tega Albert dengannya, kasihan dia, aku takut kandungannya kenapa-kenapa," ucap Risfa yang tak terasa air mata masih lolos dari kedua matanya.


"Kamu sabar saja, terus jaga Nona Alice ya, aku yakin sebentar lagi Tuan Elliot akan membawa Tuan Raymond kembali ke rumah."


Albert langsung meraih tubuh Risfa, untuk memberikan sebuah pelukan agar Risfa kembali tenang.


"Makasih ya Albert," ucap Risfa sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke London Eyes? Kita ajak Nona Alice juga."


Usul dari Albert langsung disambut dengan sebuah senyuman oleh Risfa yang kembali bergegas menaiki anak tangga untuk mengajak Alice. Sedangkan Albert menuju ke depan rumah untuk menyiapkan mobilnya.


Setelah susah payah merayu Alice, akhirnya Alice berkenan mengikuti Risfa untuk keluar dari kamarnya, keduanya menuruni anak tangga dengan perlahan. Risfa senantiasa menjaga Alice di sampingnya sebagai penopang langkah Alice yang terlihat gontai karena lemah.


Setibanya di depan rumah, Albert sudah sigap menanti kedatangan Alice dan Risfa di samping pintu mobil.


"Selamat malam Nona Alice," ucap Albert menyapa Alice yang sudah dua Minggu ini tak pernah dilihatnya.


Alice menoleh ke arah Albert, dengan memberi senyumannya yang tipis, namun benar kata Risfa tatapan matanya terlihat kosong dengan mata yang begitu sembab.


"Kasihan Nona Alice, semoga Tuan Elliot segera kembali dengan membawa Tuan Raymond," gumam Albert sambil menutup pintu mobil, setelah Alice masuk.


Albert pun kembali duduk di kursinya dan mulai melajukan mobil meninggalkan rumah kediaman keluarga Weil. Sementara Alice hanya termangu menatap ke arah luar mobil tanpa berkata apapun. Risfa menoleh menatap Albert, pandangan mereka sesaat saling beradu seolah mengisyaratkan perasaan yang sama terhadap Alice, yang saat ini begitu sendu semenjak kepergian Raymond.


Lalu lintas jalan terlihat lengang, udara dingin yang mulai membalut suasana sekitar London Eye, membuat tiupan angin terasa membekukan udara. Mobil yang dikendarai Albert tak lama terlihat memasuki area London Eye, tempat yang Raymond pernah janjikan kepada Alice, bahwa ia akan mengajak Alice untuk melihat keindahan London Eye, yang selalu berhasil membuatnya tenang, ketika kesedihan datang menyapanya.



"Iya Nona, betul, tempat ini adalah tempat favoritnya," jawab Albert tersenyum.


"Andai dia menepati janjinya untuk mengajakku ke sini, pasti malam ini akan sangat indah untukku," lirih Alice mendesah kasar, kesedihan dalam hatinya begitu menyesakkan, bila mengingat sosok suami yang begitu dirindukannya.


Risfa dan Albert kembali saling menatap dengan wajah yang sendu. Mereka turut merasakan kesedihan yang kini dirasakan oleh Alice.


"Ayo Nona kita keluar," pinta Albert kepada Alice.


Alice menghela napasnya dalam-dalam, sambil menyeka air matanya, Alice menatap wajah Albert dan menolak ajakan Albert dengan ramah.

__ADS_1


"Kalian saja berdua, aku akan menikmati London Eye dari dalam mobil saja, pergilah!"


Setelah Risfa memaksanya berulangkali, namun Alice tetap pada pendiriannya. Walau dengan perasaan yang berat, keduanya meninggalkan Alice sendiri di dalam mobil, untuk lebih mendekat ke arah London Eye.


Albert melangkah berdampingan dengan Risfa, kedua tangan mereka saling bertaut mesra, terlihat Risfa sudah tak malu-malu lagi memanjakan dirinya kepada Albert.


Tanpa keduanya sadari, apa yang mereka lakukan justru mengundang kesedihan untuk Alice, rasa rindu terhadap seorang Raymond Weil, pria yang saat ini begitu dicintai oleh Alice.


"Maafkan Mommy ya Nak, karena Mommy, kalian jadi harus terpisah dari Daddy kalian, semoga Uncle Elliot segera menemukannya, sebelum kalian terlahir ke dunia ini," lirih Alice dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya.


🍂🍂🍂


Tak berapa lama Albert dan Risfa datang kembali, hati mereka pun tak enak bila harus meninggalkan Alice terlalu lama sendiri di dalam mobil. Namun tampak ada sesuatu di wajah mereka yang terlihat sedikit berbeda. Jauh sebelum masuk ke dalam mobil, Albert meraih tangan Risfa yang membuat langkahnya terhenti sejenak.


"Kita harus jaga rahasia ini, ingat Risfa!" titah Albert mengingatkan.


"Tapi aku tidak tega dengan Nona Alice," ucap Risfa sambil menautkan kedua alisnya dengan raut wajah cemas.


"Percayalah semua pasti sudah dipikirkan dengan sangat baik olehnya," jawab Albert meyakinkan Risfa.


"Baik, aku akan tutup mulut," ucap Risfa mengangguk ragu.


Keduanya kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke dalam mobil.


🏵️🏵️🏵️


Bersambung✍️


Terima kasih atas dukungan kalian semua. Jangan bosan terus mendukung karyaku.

__ADS_1


Mampir juga ke karyaku yang lain ya :



__ADS_2