
Selamat Membaca!
Setelah selesai memasangkan sebuah mikro chip pada lengan Alice, Raymond segera turun ke lantai bawah, dari kejauhan sambil menuruni anak tangga, pandangan mata Raymond langsung tertuju pada kedua pria yang sedang serius membicarakan tentang apa yang terjadi saat ini.
"Aku sudah menghubungi keempat pengawalku, mereka akan segera tiba di sini, sepertinya keadaan saat ini sangat berbahaya untuk kita, terutama Alice," tutur Richard menautkan kedua alisnya, wajahnya mengeras menunjukkan keseriusan.
Raymond yang baru datang, langsung duduk di sofa kosong yang berada di seberang Richard dan Elliot.
"Jadi sebenarnya ketiga orang itu suruhan siapa?" sambar Raymond bertanya pada keduanya.
Elliot menoleh menatap Raymond.
"Menurut analisaku, setelah kemungkinan pertama salah, ini ada hubungannya dengan Greta dan pria yang dibunuh Tuan Richard di pulau."
Richard berdehem karena melihat Elliot meliriknya.
"Maksud kalian kemungkinan pertama salah itu apa? Apa jangan-jangan kalian menuduhku yang memerintahkan ketiga orang itu?" tanya Richard menduga dengan kesal.
Raymond terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Richard. Sementara Elliot hanya diam merasa tak enak, karena analisa pertamanya ternyata salah.
Tanpa mereka sadari sepasang mata saat ini terus melihat dan mendengarkan obrolan mereka.
"Bagaimana kondisi Albert saat ini?" tanya Raymond mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku sudah menyuruh Risfa untuk menjaganya, saat ini dia masih lemah, tapi sudah sadarkan diri," jawab Elliot dengan wajah yang lebih tenang.
"Bagus, aku bersyukur orang-orang bodoh itu tidak menghabisi Albert."
Tak berapa lama saat ketiganya masih saling berargumen tentang apa yang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah depan rumah, membuat ketiganya terperanjat kaget, mereka langsung sigap dan bangkit dari posisi duduknya.
"Sial, bahkan mereka sampai ke rumahku, seakan tidak takut jika mereka sedang berhadapan dengan keluarga Weil."
"Keempat anak buahku masih belum tiba, tapi kita sudah kedatangan tamu yang tak di undang, mau tak mau kita harus melawan mereka, walau kita hanya bertiga," tutur Richard yang melangkah dengan tergesa menuju ruang kendali CCTV untuk melihat apa yang terjadi.
Elliot mengekor di belakang Richard.
Sementara Raymond terlihat sangat kesal sambil mengepalkan tangannya, wajahnya kini terlihat panik, karena keadaan saat ini sangat membahayakan untuk keselamatan Alice.
πππ
18.30
Beberapa mobil sudah masuk terparkir sembarangan di pelataran rumah kediaman keluarga Weil. Terlihat kedua penjaga gerbang sudah mati tertembak termasuk Chris.
Thomas turun dari mobilnya, dengan bergegas ia mulai menjalankan rencananya, mobil perusak sinyal dan pemutus aliran listrik sudah terparkir juga di sana.
"Aktifkan sekarang!" titah Thomas.
Dalam sekejap semua cahaya di rumah kediaman keluarga Weil padam, keadaan berubah menjadi gelap gulita, bahkan jaringan telepon semua terputus.
__ADS_1
Raymond yang sudah berada di depan pintu kamarnya menyadari bahwa ini adalah perbuatan orang-orang yang saat ini berada di depan rumahnya.
"Sial, mereka memutuskan aliran listriknya."
Raymond dengan tergesa masuk ke dalam kamarnya. Ia menghampiri Alice dan dengan perlahan mulai membangunkannya.
Sementara Elliot dan Richard dibuat terkejut karena baru saja mereka ingin melihat CCTV, namun dalam sekejap semua layar LED pada ruang pemantau sudah padam.
"Ini pasti ulah mereka," ucap Elliot berdecak kesal.
Richard langsung berpikir dengan keras.
"Mereka benar-benar ingin membunuh kita," ucap Richard masih coba menemukan cara agar bisa lolos dari situasi ini.
πππ
Thomas sudah berada di depan pintu utama menuju ke dalam rumah, bersama ke 15 anak buahnya yang mengekor di belakangnya. Sementara George beserta 12 orang lainnya menuju ke belakang rumah untuk masuk melalui arah lainnya.
"Cepat bobol pintu ini Raid!" titah Thomas kepada salah satu anak buahnya.
Raid langsung menembak handle pintu yang terkunci rapat, beberapa tembakan yang membuat pintu menjadi hancur dan langsung terbuka. Beberapa anak buah Thomas mulai masuk terlebih dahulu, terlihat semua dilengkapi dengan senjata di tangannya masing-masing, bahkan bukan hanya itu mereka juga menggunakan rompi anti peluru untuk melindungi diri.
Richard dan Elliot semakin terdesak mendengar suara deru langkah dan letupan tembakan yang semakin terdengar dekat.
"Sial mereka sudah masuk ke dalam rumah," ucap Elliot dengan dahi yang berkeringat.
"Aku hanya memiliki dua buah pistol, ini tidak akan cukup untuk menghabisi mereka semua, pegang ini satu," ujar Richard sambil memberikan satu pistolnya kepada Elliot.
"Satu-satunya jalan adalah kita harus bersembunyi, setidaknya sampai keempat anak buahku datang."
Elliot berpikir dengan cepat.
"Ikuti aku! Aku tahu sebuah tempat yang aman."
Sebelum menuju tempat persembunyian, Elliot dan Richard menuju kamar Albert terlebih dahulu, untuk memberitahu bahwa keadaan saat ini sangat tidak aman.
"Albert, Risfa, cepat ikuti aku, kita tidak punya banyak waktu!"
Tanpa bertanya apapun, Risfa dan Albert langsung mengekor di belakang Elliot dan Richard, menuju ke sebuah ruang rahasia yang memang diciptakan untuk situasi seperti ini.
"Elliot saat seperti ini kenapa kau malah mengajak kita untuk membaca buku?" goda Richard yang sebenarnya sudah bisa menebak, ruang rahasia itu berada dalam rak buku.
"Saat seperti ini Anda sangat pintar bergurau Tuan," ucap Elliot tersenyum kecil sejenak melupakan ketegangan yang terjadi.
"Hahaha aku hanya mencoba mencairkan suasana Elliot," elak Richard dengan gelak tawanya yang tidak terlalu keras.
Albert dan Risfa yang saat ini sudah benar-benar takut, menjadi aneh dengan sikap keduanya yang masih saja santai menghadapi situasi seperti ini, padahal Albert saja sudah sejak tadi menahan pipisnya, sejak suara tembakan beberapa kali terdengar di depan pintu.
Elliot mulai menggeser satu buah buku sebagai akses agar pintu rak terbuka. Sesaat rak yang dipenuhi buku itu sudah terbuka layaknya sebuah pintu otomatis, ruang rahasia pun kini terpampang nyata dihadapan mereka.
__ADS_1
"Wah, aku baru tahu Tuan Raymond memiliki ruang rahasia seperti ini," tutur Risfa berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
"Sudah nanti saja kagumnya, cepat masuk, mereka semakin mendekat!" titah Elliot yang mendengar suara deru langkah ingin memasuki ruang perpustakaan ini.
Mendengar perkataan Elliot, Risfa dan Albert bergegas masuk dengan cepat ke dalam ruang rahasia, demikian juga dengan Richard. Setelah masuk Elliot langsung menutup pintu rahasia dengan mengembalikan buku itu ke posisinya semula.
Pintu rahasia pun tertutup dan terlihat seperti layaknya sebuah rak buku.
Tak lama dua anak buah Thomas masuk ke dalam untuk memeriksa seisi ruangan perpustakaan.
"Coba periksa di sudut sana!" perintah Ken terhadap Frei.
Frei memeriksa sesuai perintah Ken, namun setelah melihat dengan seksama seisi ruangan perpustakaan, ia tak dapat menemukan siapapun di dalam ruangan.
"Aku tidak menemukan apapun."
"Aku juga tidak, berarti mereka tidak ada di ruangan ini," ucap Ken menyimpulkan.
Ken lalu menggunakan sambungan wireless-nya untuk memberitahu pada Thomas.
"Tuan, ruang perpustakaan clear."
Thomas menjadi geram karena hampir semua ruangan di lantai dasar, hanya ada beberapa pelayan yang berhasil mereka tangkap dan masih belum juga menemukan keberadaan target yang mereka cari.
"Sial bersembunyi dimana mereka!" geram Thomas sambil menembak ke arah langit-langit dan meneriaki semua yang ada di dalam rumah untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Letupan tembakan yang terdengar bising dan juga suara teriakan dari Thomas membuat Alice semakin panik, ia kini bersama Raymond berada di kamarnya. Kamar yang di dalamnya juga terdapat sebuah ruang rahasia yang siapapun orangnya akan sangat sulit untuk menemukannya.
"Aku takut sweetu."
"Tidak perlu takut sweety, mereka tidak akan menemukan kita."
"Tapi sampai kapan kita di sini?" tanya Alice menautkan kedua alisnya tanda ia begitu cemas.
"Tenang saja, aku sudah mengirim sebuah pesan pada Alexander Kemal Malik, dia pasti akan datang menolong kita, sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah bersembunyi."
Setelah menggeledah setiap ruangan dan menjelajahi semua sudut rumah, Thomas dan anak buahnya tidak berhasil menemukan keberadaan siapapun.
"Kemana mereka bersembunyi?"
Thomas terkekeh geli menerima kenyataan bahwa begitu susahnya ia dan anak buahnya untuk menemukan targetnya.
"Keluarga Weil sudah menciptakan rumah ini sebagai benteng pertahanannya yang sangat sempurna, tapi mau sampai kapan mereka akan bertahan, pasti itu tidak akan lama!"
Cepat atau lambat aku pasti akan bisa menemukanmu Richard.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Apakah Alex dan keempat anak buah Richard akan datang tepat waktu?
__ADS_1