Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
James Datang


__ADS_3

Selamat membaca!


Pagi yang cerah. Namun sudah terlihat kesibukan di rumah kediaman keluarga Weil. Raymond, Alice dan Bibi Mey sudah terlihat rapi untuk berangkat menuju kantor polisi tempat dimana Nicholas saat ini ditahan.


Hari ini untuk pertama kalinya, Alice dan Raymond mengunjungi Nicholas di sel tahanannya. Setelah banyak menunda waktu untuk berkunjung karena banyaknya masalah yang terjadi, akhirnya keduanya berkesempatan untuk mengakhiri kerinduan mereka terhadap Nicholas, bagi Alice sendiri, Nicholas merupakan mertua yang sangat baik, yang memperlakukannya dengan begitu istimewa.


Namun walau begitu, Alice masih menyimpan kecurigaan atas apa yang telah dilihatnya semalam. Alice pun bersikap seolah-olah tidak mengetahui apapun tentang Amita.


Bibi Mey dan Alice sudah berada di dalam mobil, keduanya duduk di kursi belakang, sementara Raymond duduk di samping Albert. Mobil pun melaju meninggalkan rumah kediaman Weil, kali ini kepergian mereka langsung di kawal oleh Benjamin cs.


Bibi Mey seperti sedang memikirkan sesuatu, raut yang bimbang tampak jelas terlihat di wajahnya.


"Apa aku sebaiknya ceritakan saja ya?" gumam Bibi Mey yang saat ini terjadi pergolakan hebat di hatinya.


Bibi Mey mengesah pelan. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka sebuah tabir dari kasus yang telah menimpa Nicholas, hingga membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi selama 15 tahun lamanya.


"Ray, sebenarnya Nicholas bukanlah orang yang mendorong pria malang itu, hingga terjatuh dari atas gedung? Pria itu memang ingin mengakhiri hidupnya, namun CCTV itu terlihat seperti Nicholas mendorongnya, padahal Nicholas hanya ingin mencegahnya."


Perkataan yang membuat Raymond sontak terkejut. Ia tak menyangka jika Nicholas ternyata tidak bersalah seperti yang dikatakan oleh Bibi Mey, namun terbesit di kepala Raymond, kenapa Nicholas tidak melakukan pembelaan dan malah menerima hukuman yang telah diberikan oleh pengadilan terhadapnya.


Sementara itu Alice yang ikut mendengar cerita Bibi Mey, turut merasakan kekesalan yang kini dirasakan oleh Raymond, bahkan kini air mata mulai menganak di kelopak matanya.


"Kenapa Daddy tidak melakukan pembelaan?" tanya Raymond geram terhadap kenyataan yang didengarnya.


Bibi Mey menajamkan sorot mata dengan menautkan kedua alisnya, raut wajahnya terlihat kesal saat membayangkan sosok wanita yang menjadi alasan Nicholas melakukan semua itu.


"Alasannya karena Claire memintanya untuk tidak melakukan pembelaan, Claire tidak ingin Mike sampai tahu jika Ayahnya ternyata ingin bunuh diri, yang akhirnya apabila Mike tahu, ia bisa menyelidiki alasan kenapa Ayahnya sampai ingin mengakhiri hidupnya."


Mendengar cerita dari Bibi Mey, raut wajah Raymond berubah mengeras, ia sampai menggertakkan giginya, menahan amarah yang kini sudah menguasai dirinya.


"Wanita itu sungguh tak bisa dimaafkan, dia memang Ibuku tapi segala perbuatannya banyak menyusahkan orang lain, termasuk memisahkan Richard dari Nicholas, bahkan sampai membuang Leo ke sebuah pulau karena Leo sudah mengetahui keberadaan Richard. Aku harus menemuinya!" tutur Raymond dengan memicingkan matanya.


Alice yang mendengar amarah Raymond mencoba untuk menenangkannya.


"Sweetu, jika kamu ingin menemuinya aku harus ikut, mau bagaimanapun dia adalah Ibumu, sebesar apapun kesalahannya, kita sebagai anak harus ikhlas memaafkan kesalahannya, beliau pasti juga menyesali semua kesalahan yang dilakukannya."

__ADS_1


Perkataan Alice sedikit meredakan amarah Raymond yang hampir memuncak.


"Sweety, hatimu sebenarnya terbuat dari apa ya, apakah di dalam dirimu tidak pernah ada rasa dendam?"


Raymond teringat semua hal yang pernah dilakukannya, mulai dari memaksa Alice untuk menikah dengannya, sampai perselingkuhannya dengan Greta, hingga segala perbuatan jahat yang Greta lakukan pada Alice, namun Alice selalu mudah untuk memaafkan setiap kesalahan orang lain yang telah menyakiti hatinya.


Mobil melaju dengan cepat, hingga tak terasa, kini mereka sudah mulai memasuki parkiran kantor polisi, diiringi oleh keempat motor yang dinaiki oleh Benjamin cs.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Restoran Chopra.


Amita terlihat sedang berada di ruangannya. Raut muram dengan gurat cemas terlukis jelas di wajahnya, karena sudah 3 jam sejak restoran dibuka, tidak ada satu orang pun yang datang berkunjung.


"Tidak seperti biasanya, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Amita sambil menghentakkan jemari pada meja kerjanya.


Tiba-tiba terlintas di pikirannya ancaman yang dilontarkan oleh Raymond, membuat Amita tersadar, bahwa mungkin semua ini adalah ulah dari seorang Raymond Weil.


"Aku akan tunggu hingga besok, jika memang besok hal ini terulang lagi, sudah bisa dipastikan ini adalah rencana Raymond Weil untuk membuatku menuruti semua keinginannya," gumam Amita sambil berpikir keras.


"Iya, masuk!" titah Amita mengeraskan suaranya.


Pintu terbuka dan seorang pelayan muncul langsung menghadap Amita.


"Begini Nona, ada seorang polisi datang ingin menemui Nona, katanya penting," ucap seorang pelayan memberitahu.


Amita mengerutkan keningnya, beragam pertanyaan langsung bermunculan memenuhi isi kepalanya.


"Izinkan saja masuk, tidak mungkin juga kita mengusir seorang polisi bukan."


Pelayan itu kemudian tersenyum kecil mendengar candaan Amita, ia lalu keluar dari ruangan untuk mempersilahkan polisi tersebut untuk masuk.


Pintu ruangan terbuka lebar, seorang polisi mulai memasuki ruangan Amita, kedatangan seorang tamu terlebih itu adalah seorang polisi, membuat Amita langsung bangkit dari posisi duduk untuk menyambutnya.


"Selamat siang Sir, ada yang bisa saya bantu? Ayo mari silahkan duduk!" tanya Amita diakhiri dengan mempersilahkan polisi itu untuk duduk di kursi yang tersedia.

__ADS_1


Polisi itu kini sudah duduk berhadapan dengan Amita, menatap wajah Amita dengan sedikit rasa kagum akan kecantikan wanita asal India ini.


"Wanita India memang selalu terlihat cantik," gumam polisi itu yang terpukau menatap wajah Amita.


Amita berdehem keras.


"Sir, bisa katakan apa keperluan Anda datang ke restoran saya ini?" tanya Amita dengan rasa heran.


Polisi itu tersadar dari segala kekagumannya.


"Sebelumnya perkenalkan saya adalah James, pimpinan kepolisian kota London. Nona Amita, di sini saya melihat bahwa surat izin tempat usaha Anda sudah habis masa berlakunya, jadi dengan sangat menyesal saya harus menutup restoran Anda ini," tutur James menjelaskan duduk perkaranya dengan tegas.


Semua yang disampaikan oleh James, membuat Amita begitu terhenyak tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Tidak mungkin Sir, Anda jangan main-main dengan saya, saya baru membeli tempat ini sekitar 3 bulan yang lalu, saat situasi di London sedang mencekam, karena kasus pembunuhan seorang wartawan yang melibatkan keluarga Weil," tutur Amita dengan menautkan kedua alisnya.


"Tapi Anda bisa lihat sendiri dokumen ini Nona!" titah James sambil menyodorkan sebuah dokumen kepada Amita.


Amita mengambil dokumen itu, setelah itu ia langsung membuka dokumen tersebut dan melihat masa berlaku dari surat izin usaha restorannya, yang ternyata memang benar sudah tidak berlaku sekitar 4 bulan yang lalu.


"Bagaimana mungkin Adrian menjual tempat usaha ini sedangkan surat izinnya sudah berakhir, aku memang bodoh tidak teliti tentang surat izin restoran ini terlebih dahulu, tapi kalau memang akan ditutup kenapa bukan dari sebulan lalu, kenapa baru sekarang setelah CEO MANGO Corporate itu datang menawar restoran ini?" gumam Amita merasa aneh.


Amita mengesah pelan, ia merasa seperti dipermainkan oleh Raymond.


"Jika ini benar permainan yang kau buat, aku akan membalasmu Tuan Raymond, kau belum kenal siapa itu Amita Chopra yang sebenarnya," gumam Amita menahan amarah yang kini sudah menguasai dirinya.


James bangkit dari posisi duduknya. Ia pamit kepada Amita, namun sebelum keluar dari ruangan, James berpesan pada Amita untuk segera menutup restorannya dalam 2x24 jam atau dirinya akan ditahan atas tuduhan tidak mengindahkan himbauan polisi dan melakukan usaha tanpa disertai dengan surat izin.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Apa yang akan dilakukan oleh Amita?


Apakah rencana Raymond akan berhasil?

__ADS_1


__ADS_2