
Selamat membaca!
Alice sudah berada di salah satu kamar yang ada di paviliun itu. Ia merebahkan tubuhnya yang sangat lelah, tak lupa ia mengunci pintu kamar, karena Alice masih memendam ketakutan terhadap pria yang ditemuinya, apalagi pria itu sudah menetap di pulau itu selama 17 tahun lamanya.
"Aku gak bisa bayangin, bagaimana jika aku hidup selamanya di sini?"
Pikiran Alice kini carut marut memikirkan nasibnya, kegelisahan yang begitu meresahkan jiwanya, hingga membuatnya tak sengaja terpejam dan kini sudah tertidur lelap.
πππ
Richard dan Elliot sudah berada di Bandara Halim Perdanakusuma.
Tidak tanggung-tanggung Richard mengarahkan 4 helikopter pribadinya untuk memangkas waktu pencarian. Helikopter yang langsung didatangkannya dari Australia.
"Elliot kita harus berpencar, aku menaiki helikopter ini dan kau menaiki helikopter yang di sana!" titah Richard mengatur rencananya, sambil menunjuk helikopter yang harus dinaiki Elliot.
Elliot mengangguk mengiyakan dan mengikuti segala rencana Richard.
Luar biasa Tuan Richard, ternyata dia lebih kaya raya dari Tuan Raymond.
Elliot berdecak kagum menatap di depan matanya 4 helikopter yang sudah berjajar rapi dengan jarak yang berjauhan. Richard harus mengerahkan semua helikopternya, karena titik terakhir GPS pada handphone Alice terakhir terdeteksi berada di tengah laut dan ada 4 pulau yang mengarah dengan arah titik GPS itu.
Kamu berada di pulau mana Alice.
"4 pulau! Salah satunya, Alice pasti berada di sana," ucap Richard sudah berada di dalam helikopternya, masih terus memerhatikan peta yang saat ini dipegangnya.
Pencarian di mulai. Keempat helikopter mulai lepas landas secara bersamaan. Richard turut membawa keempat anak buahnya, yang bernama Colin, Christoper, Benjamin dan Arnold, mereka berada di kedua helikopter yang melaju terlebih dahulu.
Keempatnya siap melaporkan kepada Richard segala hasil pencariannya, dengan alat komunikasi jarak jauh ciptaan Raymond yang diberikan oleh Elliot sebelum lepas landas. Setiap anak buah Richard juga dipasang kamera kecil pada kerah baju mereka masing-masing, semua itu dapat Richard pantau dari sebuah tablet yang kini sudah berada dalam genggamannya.
"Adikku itu memang sungguh pintar, semua teknologi ciptaannya sangat cerdas dan ini semua mempermudah dalam pencarianku untuk menemukan Alice," tutur Richard kagum kepada Raymond.
Kedua helikopter berada di depan helikopter Elliot dan Richard. Setelah memasuki perairan laut Jawa, keempat helikopter mulai menyebar menuju keempat pulau yang diperkirakan menjadi tujuan Alice.
Elliot yang sangat cemas memikirkan Alice, coba bersikap tenang.
Tunggu ya Alice, kamu harus selamat, jangan tinggalkan Kakakmu Alice.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata lolos dari sudut mata Elliot. Ia sangat sedih meratapi nasib Adiknya saat ini. Wajahnya berubah mengeras, saat ia teringat tentang apa yang diceritakan oleh Albert.
"Awas kau Greta, aku bersumpah akan membalas setiap apa yang kau lakukan pada Alice."
Elliot mendengus kasar.
"Jika aku harus membunuhmu, aku akan melakukannya Greta, agar kau tidak lagi mengganggu Alice."
πππ
Setelah melakukan pencarian selama berjam-jam lamanya, mereka masih belum dapat menemukan Alice. Rasa putus asa dan kecewa begitu terlihat dari raut wajah Richard dan Elliot.
"Alice tidak berada di keempat pulau ini, lantas kemana lagi? Aku heran padahal di peta ini hanya ada empat pulau, tapi kenapa Alice tidak berada di salah satu pulau dari keempat pulau ini?" tutur Richard penuh tanda tanya besar.
Di helikopter lain, Elliot yang juga merasa kesal sampai menghentakkan tangannya berkali-kali dengan keras.
"Kemana lagi kita harus mencari keberadaan Alice," Elliot terlihat frustasi, wajahnya sangat kalut memikirkan keberadaan Alice, yang belum juga ditemukan.
"Tuan Richard, Tuan Elliot."
Tiba-tiba terdengar suara Benjamin memberi laporan, terdengar dari wireless yang mereka pakai.
"Ya masuk Benjamin, ada apa?" jawab Richard.
"Saya rasa tujuan Nona Alice tidak tertera pada peta ini, mungkin penculiknya membawa Nona Alice ke sebuah pulau yang berada beberapa mil dari Pulau Pantara, pulau yang letaknya paling ujung di Kepulauan Seribu, tapi ternyata ada sebuah pulau yang sudah hilang dari Peta, saya melihat arsip Peta 20 tahun silam, ada satu pulau ternyata masih lebih jauh dari Pulau Pantara, itu memakan waktu 1 jam untuk kita tempuh dengan helikopter."
Richard dan Elliot terhenyak mendengar penjelasan Benjamin.
"Luar biasa, Benjamin kau selalu bisa diandalkan, aku ikuti arah tujuanmu, ayo cepat kita tidak tahu apa Alice mampu bertahan dalam waktu 1 jam," tutur Richard memuji anak buahnya, yang memang selalu bisa diandalkannya, saat situasi mengalami kebuntuan.
Elliot kembali menaruh harapannya, wajahnya yang tadinya redup, kini kembali bersemangat untuk terus melakukan pencarian.
"Semoga kali ini tidak salah, semoga Alice benar ada di pulau itu," lirih Elliot berharap.
Elliot terus menatap ke laut yang menghampar luas. Laut indah dengan jajaran pulau-pulau, seperti taburan bintang di langit di kala malam.
πππ
Greta terlihat sedang bersama Zack di dalam mobil mewahnya. Wajahnya terlihat begitu resah tak tampak menunjukkan sebuah ketenangan.
Zack yang melihatnya menjadi penasaran dengan apa yang saat ini dipikirkan oleh Greta.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apakah kamu tidak puas melihat Alice akan mati di pulau itu?"
Greta mendengus kasar. Ia menoleh menatap Zack.
"Aku tidak puas, apalagi setelah dia mematahkan sedikit hidungku, aku seperti ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri," keluh Greta sambil memegangi hidungnya.
Tak lama terdengar bunyi ponsel berdering. Zack kemudian langsung mengambil ponselnya dan memasang wireless untuk menjawabnya.
"Iya bagaimana, apa di dalam nakas kau menemukan handphone itu?"
"Tidak Tuan, kami berdua sudah mencarinya tapi tidak kami temukan."
Zack berpikir dengan keras, ia mencoba mengingat keberadaan handphonenya yang satu lagi.
"Tapi memang betul, aku letakkan di dalam nakas di kapal pesiarku, aku tidak mungkin salah mengingat," gumam Zack dengan mengerutkan keningnya.
"Jangan-jangan Alice yang mengambilnya, berarti tidak lama lagi, akan ada yang datang untuk menolongnya ke pulau itu."
Greta sontak kaget. Wajahnya menjadi semakin geram dengan kenyataan yang dilontarkan oleh Zack.
"Kita harus kembali ke pulau itu, sebelum terlebih dulu ada yang datang untuk menolong Alice, aku tidak ingin dia selamat, aku ingin Alice mati di tanganku."
Zack memicingkan senyumnya. Ia kembali mengambil ponsel untuk menghubungi asistennya.
"George, segera kirim 8 orang untuk menyusulku ke pulau yang sudah ku kirim titik koordinat lewat WhatsApp, bekali mereka dengan pistol, kita akan sedikit berpesta."
Zack tersenyum tipis, ia terlihat angkuh merasa menang dengan apa yang akan dihadapinya, walau sebenarnya ia belum mengetahui akan berhadapan, dengan seorang Richard Marx.
Di sisi lain Greta tersenyum puas, ia tak sabar menantikan saat dimana bisa membunuh Alice dengan tangannya sendiri.
Tunggu mautmu datang Alice.
Zack menajamkan pandangan dan memerintahkan kepada supirnya untuk kembali ke dermaga.
Mobil langsung memutar arah tujuannya, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi, membelah lalu lintas yang terlihat agak renggang.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Ikuti terus kisah Alice. Jangan lupa like dan komentar kalian ya. Terima kasih.
Sehat selalu.
__ADS_1