
Selamat membaca!
Richard sudah menghampiri Alice, ia langsung bersimpuh dan mengambil tubuh Alice untuk diletakkan pada pangkuannya, dengan teliti Richard terus memeriksa keadaan Alice, memastikan bahwa tidak ada peluru yang menembus bagian lain yang tidak terlindungi oleh rompi anti peluru yang dipakai oleh Alice.
"Alice kamu baik-baik saja?" tanya Richard dengan cemas terlihat dari raut wajahnya.
Alice membuka mata dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Richard. Kedipan mata Alice langsung menyadarkan pria berbulu lebat, bahwa ini sebenarnya sudah mereka rencanakan.
Syukur aku memberikanmu rompi anti peluruku, firasatku tidaklah salah.
Perasaan Richard kini sudah kembali tenang, saat mengetahui kondisi Alice yang ternyata baik-baik saja.
"Terima kasih Tuan Richard" ucap Alice mengulas senyumnya.
"Sudah kewajibanku melindungimu Alice, karena Raymond adalah Adikku."
Alice mengerutkan keningnya, dalam hatinya seakan berbicara sesuatu.
"Tapi kenapa aku merasa, semua kebaikanmu bukan karena statusmu ya, aku merasa ada alasan lain yang kau miliki Tuan Richard," batin Alice berpikir sambil mencoba bangkit dengan bantuan Richard.
Keduanya kini sudah bangkit. Richard mengajak Alice dan pria berbulu lebat itu untuk meninggalkan pulau ini sebelum malam tiba. Namun Alice masih saja merasa iba dengan Greta, tatapannya terus tertuju pada sisi jurang tempat dimana Greta terperosok jatuh, hingga hanyut terbawa derasnya aliran sungai.
Semoga kau tenang di sana Greta, aku sudah memaafkanmu atas semua kesalahanmu.
πππ
Flashback ON
"Alice," panggil Richard dengan meraih tangan Alice, membuat Alice langsung menghentikan langkahnya untuk mendekati paviliun.
"Firasatku sedikit tidak enak, jadi lebih baik gunakan rompi anti peluru ini untuk berjaga-jaga, lindungi dirimu dan bayi twins mu!" titah Richard memasang raut kecemasan yang begitu terlihat dari wajahnya.
Richard sudah melepaskan rompi anti pelurunya. Kemudian memberikan dan meminta Alice untuk memakainya.
Alice menerima rompi itu dan menuruti perintah Richard, namun Alice bukannya langsung memakainya, ia masih terus menatap wajah Richard, dengan penuh rasa heran karena Richard tidak sadar dan peka akan apa yang dipikirkannya.
Tuan Richard gimana aku bisa memakai rompi ini jika kamu terus menatapku.
Richard mulai bertanya-tanya, saat melihat Alice masih termangu tanpa melakukan apa-apa.
"Kenapa kamu belum pakai rompi itu Alice?"
Alice mendengus pelan. Matanya mengecil menatap Richard dengan penuh sinis.
"Bagaimana aku bisa memakainya, bila kamu terus menatapku?"
Richard terhenyak mendengar perkataan Alice, karena melupakan sesuatu yang terdengar bodoh untuk dirinya. Richard langsung terkekeh geli, hingga membuatnya menggaruk kepalanya berkali-kali, yang padahal tidak terasa gatal sama sekali. Richard coba bersiul untuk mengusir rasa malunya.
"Maaf ya, aku lupa, cepat pakai Alice," ucap Richard yang sudah berbalik tak lagi menghadap ke arah Alice.
__ADS_1
Menyadari sepasang mata Kakak Iparnya tak lagi menatapnya, Alice dengan cepat membuka pakaian, lekukan tubuhnya terlihat menyimpulkan keindahan yang sebenarnya sayang bila harus dilewatkan oleh Richard.
Mata ini terus saja mau melirik ke arahmu Alice, cepatlah ini siksaan untukku.
Alice selesai memakai rompi anti peluru di tubuhnya, kemudian ia kembali mengenakan pakaiannya untuk menutupi rompi anti peluru itu.
"Sudah selesai Tuan Richard."
Richard kini sudah berbalik kembali menghadap Alice, wajah lega tapi terkesan konyol dengan imajinasi yang kini ada dipikirkannya.
"Bodohnya aku jika harus membayangkan lekukan tubuh Alice, sadar Richard dia adalah Adik Iparmu," batin Richard terus merutuki apa yang dipikirkannya.
Kemudian Alice dan Richard melanjutkan langkah mereka untuk mendekati paviliun.
Flashback OFF
πππ
Melihat Alice menghentikan langkahnya dan termangu menatap ke arah jurang tempat Greta terperosok, membuat Richard kembali mendekatinya.
"Ayo Alice," ajak Richard menatap kecemasan Alice.
Alice terkesiap mendengar suara khas Richard, ia menoleh menatap Richard dengan wajah yang masih mengiba memikirkan Greta.
"Sudah jangan pikirkan Greta lagi, dia terlalu jahat, jadi sudah sepantasnya dia mati, agar tidak mengganggu hidupmu lagi."
Alice tersenyum, walau hanya sedikit sunggingan pada bibirnya, senyuman yang terkesan dipaksakan.
Alice kembali melangkah mengikuti Richard dengan mengabaikan rasa ibanya.
Setelah sampai di pesisir pantai. Helikopter terbang merendah, sesuai perintah Richard.
Alice mendongak melihat anak tangga yang terjulur ke bawah, sebuah jalan menuju kebebasan yang kini ada dipikirannya. Kebebasan untuknya bisa kembali bertemu dengan suaminya.
Aku harus bisa, walau aku takut.
Melihat ketakutan Alice di raut wajahnya, Richard coba menenangkannya.
"Aku akan menjagamu, percayalah."
Kata-kata Richard seolah menjadi penenang untuk Alice yang saat ini seperti dibelenggu ketakutan. Kini kekuatan mulai timbul dipikirannya. Alice pun mulai melangkah dengan perlahan menaiki anak tangga, diikuti oleh Richard yang berada tepat di belakangnya.
Angin sedikit kencang berhembus, menggoyahkan anak tangga yang berangsur tak tenang, membuat rasa takut Alice merangkak naik masuk ke dalam pikirannya.
"Kamu bisa Alice, kamu bisa, anggap ini tak setinggi apa yang kamu lihat Alice, kamu pasti bisa," batin Alice memotivasi dirinya sendiri.
Alice dengan cepat membuang rasa takutnya, ia mengencangkan genggaman tangannya pada tumpuan yang dipegangnya. Alice terus melangkah menaiki anak tangga. Beberapa kali Richard dan Alice beradu pandang, saling tatap namun dengan cepat selalu Alice abaikan. Hingga akhirnya mereka sudah tiba di dalam helikopter. Alice pun langsung merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi helikopter, menatap ke arah pulau dengan tatapan yang nanar.
Selamat tinggal pulau, selamat tinggal Greta.
__ADS_1
πππ
2 jam kemudian.
Sebuah apartemen di pusat kota, tidak jauh dari lokasi tempat Elliot dirawat.
Pria berbulu lebat tampak begitu bahagia sudah kembali pada dunia nyata, terlalu lama terkurung di dalam pulau membuatnya kini berubah menjadi norak, saat melihat gedung-gedung tinggi dengan gemerlap kilau lampu dari balkon apartemen.
"Ini apartemenmu Tuan Richard?" tanya pria berbulu lebat yang sampai sekarang belum memperkenalkan namanya, pria itu melihat dengan decak kagum yang luar biasa ke sisi luar apartemen.
"Betul Tuan, ini ku beli waktu aku menjalin kerjasama bisnis dengan salah satu pengusaha di Jakarta," jawab Richard yang duduk di sofa dengan santai.
"Kau hebat, seperti Tuanku waktu aku masih bekerja untuknya di London."
"Oh jadi kau tinggal di London, kalau boleh tahu siapa nama Tuanmu itu?" tanya Richard penasaran dengan latar belakang pria itu.
Belum juga pria berbulu lebat itu menjawab, tiba-tiba Alice datang dan memerintahkan pada pria itu menuju bathroom untuk membersihkan dirinya yang tampak usang di mata Alice.
Alice sudah terlihat lebih segar, setelah memanjakan diri di bathroom dengan mandi dan berendam air hangat. Wajahnya sudah kembali berseri, melenyapkan penat yang sempat bergelayut di kantong matanya. Senyum manis yang terlihat, menjadi sebuah pertanda bahwa kini Alice sudah lebih tenang dari keadaan sebelumnya, sewaktu masih di pulau.
Pria berbulu lebat itu sudah menuju bathroom, ia menyentuh handle pintu lalu membukanya, pria itu kemudian masuk dan menyempatkan diri untuk bercermin di sebuah cermin wastafel di dalam bathroom.
Pria itu mulai menyentuh rahangnya yang tampak tidak terurus dengan bulu rambut yang lebat.
Lebih baik aku cukur semua bulu rambut pada wajahku.
Pria itu mulai mencukur abis bulu rambutnya, dengan menggunakan alat pemotong yang tersedia di wastafel. Beberapa menit kemudian ia sudah selesai dan tinggal merapikan setiap inchi bulu yang masih tersisa pada wajahnya.
"Kalau begini aku terlihat lebih tampan bukan," ucapnya memuji dirinya sendiri.
Pria itu melanjutkan aktivitasnya di bathroom, setelah selesai ia langsung mengenakan pakaian yang telah diberikan oleh Richard.
"Kalau melihat penampilanku saat ini, aku terlihat seperti dulu waktu menjadi asisten Tuan Nicholas, tapi bagaimana kabar beliau saat ini ya? Apa anaknya yang hilang itu sudah diketemukan? Tapi lebih baik aku temui Jasmine dulu, aku rindu dengan putri kecilku itu," gumam pria itu teringat masa lalunya.
πππ
Satu tangan tampak muncul dari perbatasan antara sungai dan lautan. Satu tangan yang dengan erat menyentuh bebatuan untuk menjadi tumpuan agar tubuhnya tidak terus terbawa arus, tubuh yang lemas, dengan rasa sakit di sekujurnya. Kini Greta mulai menapaki pinggir sungai, melangkah tergontai dengan sisa tenaganya.
"Untung saja aku sempat memakai rompi anti peluru milik Zack," ucap Greta terengah-engah, ia coba mengatur napasnya yang terdengar payah.
Zack kematianmu akan ku balaskan, aku berjanji tidak akan melepaskan Alice.
Greta menggertakkan giginya dengan rahang yang mengeras, amarah yang begitu memuncak terlihat dari raut wajahnya.
__ADS_1
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ