
Selamat membaca!
Episode ini mengandung bacaan di atas 21+, mohon bijak dalam membaca, terima kasih.
๐๐๐
Mereka berempat akhirnya tiba di sebuah bar yang tidak jauh dari hotel dimana Raymond dan Alice menginap.
"Kamu yakin sweety ke sini?" tanya Raymond ragu melihat Alice.
Alice menoleh menatap Raymond sambil mendongakkan sedikit kepalanya, menyentuh rahang kekar Raymond dan memberi usapan lembut.
"Tenang saja, sweetu, aku sengaja ke sini untuk kamu."
Raymond menarik tangan Alice, menghentikan langkah mereka, hingga membuatnya tertinggal dengan Bryan dan Elvia.
"Maksud kamu?" tanya Raymond penuh selidik dengan menautkan kedua alisnya.
Alice menghela napasnya dalam.
"Aku harus dapat menghilangkan traumaku, mungkin dengan mabuk semua akan berhasil."
Alice tersenyum meyakinkan Raymond.
"Aku tidak mau kalau caranya seperti ini," ucap Raymond dengan wajah yang mulai mengeras.
Alice menatap Bryan dan Elvia yang sudah memasuki bar terlebih dahulu, tanpa menunggu mereka berdua.
"Tapi ini harus aku coba sweetu," gelisah Alice.
Raymond langsung memeluk Alice, ia mengusap lembut pucuk rambut Alice lalu melepas pelukannya dan mencium kening istrinya.
"Tidak dengan cara ini," ujar Raymond tersenyum.
Alice akhirnya menuruti semua perkataan Raymond.
"Kamu tunggu di sini biar aku masuk ke dalam dan langsung pamit kepada Bryan dan Elvia."
Raymond langsung berlari masuk ke dalam bar, meninggalkan Alice dengan gundahnya yang terlihat beberapa kali menendang udara dengan wajah gelisah.
Setelah beberapa menit akhirnya Raymond keluar, namun dengan membawa sebotol martini di tangan kanannya dan sebuah kotak di tangan kirinya.
"Ayo sweety kita kembali ke hotel, ini ada hadiah dari Elvia," ucap Raymond sambil memberikan sebuah kotak pada Alice.
Alice menarik sebelah bibirnya, ia tersenyum tipis menuruti segala keinginan Raymond sambil berpikir, akan isi kotak yang diberikan oleh Elvia.
Aku sudah buntu memikirkan caranya.
Keduanya melangkah menyusuri jalan menuju hotel. Raymond merangkul Alice, memberi kehangatan dari bimbang yang Alice rasakan.
Sesampainya di dalam kamar hotel, Raymond langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak butuh waktu lama, ia akhirnya kembali keluar dengan hanya mengenakan celana pendek dan masih bertelanjang dada, membuat dada kekarnya yang berbulu tipis menjadi pusat perhatian Alice.
Alice mendesah dalam. Saat ini pikirannya dipenuhi berbagai macam rasa yang membuatnya kacau, ia pun beranjak dari sofa untuk menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Alice terus berpikir, sesuatu yang membuatnya merasa tak pantas menjadi istri seorang Raymond Weil.
Aku harus bisa, membuang semua traumaku.
Beberapa menit setelah mandi, Alice keluar menggunakan bathrobe berjalan menuju nakas yang di atasnya ada sebuah kotak yang berisi lingerie merah.
"Shit! Ternyata Elvia memberi aku hadiah pakaian kurang bahan ini, aku kira hadiah apa."
__ADS_1
Elvia mengambil kertas yang berada di dalam kotak itu yang bertuliskan "Semangat Alice, kamu pasti bisa membuang rasa takutmu sedikit demi sedikit, kamu harus bahagia dan menyusulku untuk mengandung."
Alice menajamkan matanya, wajahnya mulai mengeras penuh keyakinan.
"Baiklah, aku akan pakai ini sekarang."
Setelah mengenakan lingerie, ia memberanikan diri untuk bercermin.
"Oh My God!" decak Alice merasa dirinya tidak pantas mengenakan pakaian seseksi ini.
Tiba-tiba terlintas ingatan buruk di pelupuk matanya, sesuatu yang kembali menghantui dirinya tentang Greta dan Raymond yang bercinta di depan matanya.
Alice menggeleng kasar dan memukul kepalanya sendiri.
"Aku harus bisa menggantikan bayangan menjijikkan itu, dengan memori indah malam ini."
Alice menoleh ke arah ranjang, terdengar deru napas Raymond mulai teratur pertanda ia sudah terlelap.
Pandangan Alice mencari sesuatu yang Raymond bawa tadi, butuh waktu lama untuk Alice menemukannya karena Raymond menyembunyikannya di dalam kulkas.
Tanpa pikir panjang Alice meraih botol minuman itu dan kembali menutup kulkas. Ia mencoba untuk membuka tutup botol tersebut, namun ia kebingungan bagaimana cara membukanya.
Bagaimana cara membukanya?
Alice menghubungi pelayan hotel untuk membantunya membuka botol tersebut. Ia kembali mengenakkan bathrobe dan bersiap di depan pintu hotel menunggu sang pelayan datang.
"Apa yang bisa saya bantu, nona?" tanya seorang pelayan yang tiba dihadapan Alice.
"Eh, ini pak, saya mau minta tolong bukakan tutup botol ini," jawab Alice menyerahkan botol minuman itu pada pelayan.
Pelayan tersebut tersenyum menahan gelak tawanya. Ia menerima botol tersebut dan membuka tutup botol hanya dengan satu gerakan menggunakan kuku ibu jari.
Alice menyipitkan matanya dan tersedak salivanya sendiri, ia memukul keningnya sendiri dengan telapak tangan.
Ternyata semudah itu.
"Terima kasih ya pak," ucap Alice dengan tersenyum.
Pelayan tersebut membungkukkan setengah badannya dan berlalu pergi dari hadapan Alice.
Wajah Alice merona menahan malu, hingga ia kembali masuk ke dalam kamar. Raymond masih tetap berada di posisi yang sama. Alice menuju balkon hotel dan langsung menuangkan minuman tersebut pada gelas kaca bening.
Alice meminum bir sambil menjepit hidungnya, ia menggeliat karena rasa yang aneh dari minuman yang baru pertama kali dirasakannya.
Alice memaksakan dirinya, hingga tak disangka ia sudah menghabiskan setengah botol bir dan mulai kehilangan setengah kesadarannya.
"Argh, kepalaku sakit sekali," ucap Alice sembari memegangi kepalanya.
"Kenapa aku seperti melayang setelah minum-minuman ini sih."
Alice merebahkan kepalanya di atas meja, tanpa sengaja tangannya menyenggol botol bir hingga terjatuh dan botolnya pecah berkeping-keping.
Suara pecahan kaca membuat Raymond terjaga dari lelapnya, ia menyingkirkan selimut yang menghangatkannya. Raymond berjalan dengan cepat menuju sumber suara.
Terdengar Alice sedang berbicara sendiri dengan mata terpejam, kepalanya berada di atas meja.
Tatapan tajam Raymond tertuju pada pecahan botol yang berserakan di lantai. Ia merasa kesal dengan tindakan bodoh yang Alice lakukan.
"Sweety, kenapa kamu melakukan ini?"
Raymond meraih tubuh mungil Alice hingga berada dalam pengakuannya. Ia meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dan mulai menyelimutinya.
Raymond hendak melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk Alice, tapi tangannya dengan cepat di tahan oleh Alice.
"Kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri."
"Aku mau ambilkan kamu air minum," ujar Raymond yang wajah panik melihat kondisi Alice.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau, duduklah disini dan temani aku," ucap Alice menepuk-nepuk sisi ranjang.
Raymond mengurungkan niatnya dan menuruti segala kemauan Alice.
Tiba-tiba Alice bangkit dan melepas bathrobe yang dikenakannya hingga teronggok di dasar lantai. Mata Raymond membulat besar melihat kini dihadapannya, Alice hanya mengenakan lingerie merah yang seksi. Tak ayal itu membuat birahi Raymond merayap naik, menembus kisi-kisi otaknya.
Ya ampun Raymond jr langsung tersadar dari tidurnya.
Raymond terus menatap tubuh indah Alice, hingga ia tak mau berkedip untuk membuang sedetik waktu pun, melewati keindahan yang saat ini ada dalam pandangannya.
Alice mulai menerjang tubuh kekar Raymond hingga membuat Raymond terjatuh merebahkan dirinya di atas ranjang. Alice terlihat begitu liar, ia mulai melucuti dengan cepat semua pakaian yang dikenakan oleh Raymond.
Alice menggeliat hebat menyusuri tubuh Raymond yang kini tanpa sehelai pakaian pun, bahkan Raymond jr pun kini sudah terlihat gagah dan kekar berdiri.
"Sweety, kamu itu mabuk, kendalikan dirimu," pinta Raymond mencoba menolak belaian Alice.
Alice menyibakkannya tangan Raymond yang mengganggu gerakannya, ia mulai memberi ciuman pada bibir Raymond, mereka kini mulai memagut lembut, Raymond akhirnya tak mampu lagi menahan dirinya, ia membalas pagutan bibir Alice dan mulai mengulum bibir merah Alice yang merekah dengan mengaitkan lidah mereka. Ciuman yang berlangsung cukup lama sampai membuat bibir mereka terasa panas dan basah.
"Aku mencintaimu sweetu," ucap Alice parau.
Tangan Alice dengan lembut meraih Raymond jr, membuat Raymond tercekat kaget.
Alice memulai gerakannya naik dan turun, dengan posisi di atas tubuh Raymond, ia menjadi pusat irama bercinta malam itu, napas keduanya semakin berderu hebat memburu nafsunya.
Alice terlihat meringis kesakitan dan mengaduh, membuat Raymond tampak khawatir padanya.
"Sweety, kamu tidak apa-apa," ucap Raymond cemas.
Alice mengabaikan ucapan Raymond, ia terus melanjutkan gerakannya, membuat keduanya kini merasakan kenikmatan yang sudah lama ada dalam angan mereka, untuk Raymond ia sangat merindukan momen ini.
"Aku mencintaimu sweety," ujar Raymond yang mulai berkeringat di sekujur tubuhnya.
Alice mendesah hebat, membuat permainan mereka berlangsung semakin cepat, sampai akhirnya keduanya menemukan puncak kenikmatan.
Tubuh Alice langsung roboh terkulai lemas di atas tubuh kekar Raymond, hingga tubuhnya terjatuh di samping suaminya.
Dada Alice naik turun mulai teratur, napasnya kembali normal setelah melewati malam pertamanya yang begitu panjang.
Raymond mendekap tubuh Alice dengan erat dan mengecup keningnya dengan kecupan lembut hingga berlangsung lama.
"Terima kasih sweety, malam ini kamu menunjukkan perasaan cinta yang sesungguhnya, kamu rela meminum-minuman yang sebelumnya pernah kamu sentuh hanya untuk menuruti kemauanku."
Tiba-tiba tangan Raymond berlabuh di atas perut rata Alice.
"Semoga ada benih cinta kita malam ini berbuah di dalam perutmu yang seksi ini."
Tak lama suara dering handphone mengusik kebahagiaan mereka malam ini. Raymond bangkit perlahan dengan meletakkan kepala Alice di atas bantal. Ia lalu mengambil smartphonenya untuk menjawab panggilan telepon yang berbunyi.
Di layar smartphone tertulis nama Albert.
"Halo, ada apa Albert?" jawab Raymond dengan wajah datarnya.
"Tuan sudah berulang kali aku menghubungimu namun kamu baru menjawabnya sekarang," ujar Albert dengan nada panik terdengar oleh telinga Raymond.
Rahang Raymond mengeras ia mulai membaca suatu masalah sedang terjadi di London.
Raymond terbata, bibirnya terlihat gemetar, sampai smartphone yang dipegangnya terjatuh dan terbentur dasar lantai. Ia duduk di tepi ranjang dengan memangku kedua tangannya yang mengepal.
Ada apa ini sebenarnya?
"Tidak mungkin aku pulang malam ini juga, aku harus menunggu pagi sampai kesadaran Alice kembali." ucap Raymond sambil menatap wajah Alice yang sedang tertidur lelap.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Ikuti terus ya kisah selanjutnya yang akan lebih seru, penuh kejutan dan semakin tegang. Berikan dukungan kalian terus ya dengan like, komentar dan vote.
__ADS_1
Sehat selalu ya.