
Selamat membaca!
Raymond terbangun lebih dulu, saat sinar matahari pagi mulai menyongsong matanya. Ia mulai mengerjapkan matanya berulang kali, sebelum akhirnya terbuka dan duduk di tepi ranjang.
Raymond menatap sendu wajah Alice, yang saat ini tertidur di sampingnya.
Aku akan menunggumu sampai akhirnya kita bisa menyatukan cinta kita.
Raymond mendesah dalam.
"Saat ini yang aku pikirkan ingin segera memiliki anak darimu, hal yang tak pernah aku pikirkan sepanjang hidupku, menikah dan mempunyai keturunan, tapi saat kamu hadir, impian itu selalu ada dalam benakku," gumam Raymond masih menatap dalam wajah Alice.
Dengan perlahan Raymond mengelus lembut pipi Alice dengan ibu jarinya, pipi yang selalu memancarkan rona kemerahan yang begitu cantik setiap saat tanpa sentuhan make up.
Alice mulai terjaga, ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan nyawanya. Ia tersadar ada Raymond di sampingnya yang terus menatap wajahnya.
"Sweetu, kenapa kamu selalu memandang wajahku sih?" tanya Alice merasa malu.
"Kamu cantik, aku sangat menyukai wajahmu ketika bangun tidur."
Lagi dan lagi Alice dibuat tersipu malu atas pujian Raymond. Alice menarik selimut hingga menutupi wajahnya, tapi dengan cepat tangan kekar Raymond langsung membuang selimut itu ke lantai.
"Sweetu, jangan sepeti ini, aku malu tahu."
Raymond terkekeh melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan. Selama ini ia tidak pernah menahan hasratnya pada seorang wanita saat berduaan di ranjang, tapi kali ini ia harus kuat menahan hasratnya, demi tidak menyakiti mental Alice yang sebelumnya sudah ia rusak, dengan sebuah pengkhianatan.
Alice menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, namun dengan segera Raymond meraih telapak tangan Alice untuk membukanya. Raymond membungkuk dan tanpa aba-aba ******* bibir Alice, mata hazelnya menatap sendu mata Alice yang membulat.
Alice terkesiap dengan perbuatan Raymond yang langsung mencium bibirnya tanpa izin, ia ingin menolak tapi perkataan Raymond semalam membuatnya tidak tega untuk berontak. Tidak ada balasan dari Alice, ia hanya pasrah dengan cumbuan Raymond saat ini.
Sampai kapan aku menciumi orang yang seperti patung?
Sekali lagi bayangan pengkhianatan Raymond terukir jelas di pelupuk matanya, membuat bulir air mata mulai membasahi kelopak matanya.
Maafkan aku sweetu aku belum bisa melakukannya.
Raymond melihat mata Alice yang mulai berkaca-kaca, ia langsung melepaskan labuhan ciumannya dari bibir Alice. Raymond mengusap lembut bibir Alice dengan ibu jarinya, yang masih terasa hangat dan basah.
"Maafkan aku sudah membuatmu sedih," ucap Raymond dan dengan segera beranjak menuju kamar mandi membawa kesedihannya.
Tak mengapa sweety, aku mengerti. Semua ini adalah salahku atas kebodohan yang telah aku lakukan.
Raymond terus melangkah memasuki kamar mandi. Ia mulai menghidupkan shower untuk membanjiri wajahnya yang tampak begitu kalut.
Biasanya Raymond dengan mudah mendapatkan lebih dari sebuah ciuman bibir dari wanita-wanita lainnya, namun kali ini karena perbuatannya sendiri ia harus menahan segala hasratnya dan bersabar sampai waktu yang tidak pasti.
__ADS_1
Alice tertunduk merasa bersalah, melihat kesedihan Raymond dari raut wajahnya yang tampak jelas terlihat, saat melepas ciumannya dan berlalu dengan cepat.
"Maafkan aku, tuan Raymond. Bayanganmu dengan wanita lain waktu itu masih terus menghantui pikiranku."
Alice mengerti kesedihan Raymond yang selalu mendapatkan penolakan darinya. Ia mencari cara agar bayang-bayang itu bisa pergi menghilang dari benaknya.
Alice mulai meraih ponsel dari dalam laci nakas, yang berada tidak jauh dari ranjang. Ia mulai mencari kontak Elvia, salah satu teman baiknya. Semenjak Elvia diminta oleh Alice untuk mendesain restorannya, hubungan keduanya berlanjut bukan hanya sebatas masalah bisnis, namun kini mereka sudah berteman dengan baik.
Alice mulai menghubungi Elvia dan berbagi segala masalah yang sedang dihadapinya.
"Halo Elvia, aku kini sedang berada di Spanyol, apa kamu ada waktu untuk bertemu?"
Setelah berbincang cukup lama ditelepon, Alice mengakhiri panggilannya. Ia tersenyum kecil, wajahnya sedikit mengeras untuk fokus mencerna segala nasihat yang diberikan oleh Elvia.
"Mungkin Elvia benar-benar bisa memberikan aku cara untuk bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Mungkin malam ini aku bisa melakukannya."
Alice bangkit dari ranjang dan menghubungi pelayan resto, meminta mereka untuk mengantarkan sarapan pagi ke kamar.
Pagi ini Alice ingin sarapan berdua bersama Raymond di balkon kamarnya.
Alice sudah terlihat berada di balkon kamarnya, ia sudah duduk di sana menatap indahnya alam pagi di San Sebastian.
"Indahnya tempat ini, aku bersyukur dapat menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, benar kata Elvia, Spanyol memang indah," ucapnya dengan berdecak kagum atas apa yang dilihatnya, sambil duduk dengan santapan pagi yang sudah tersedia di atas meja.
"Sweetu, apa kamu menangis di kamar mandi?" tanya Alice terus menatap Raymond lebih dalam.
"Tidak sweety tadi mataku terkena sampo, makanya jadi merah seperti ini," ucap Raymond mengelak sambil menyentuh pipi Alice dan mulai duduk di sebelahnya.
Alice hanya dapat mengiyakannya, walau ia sebenarnya tahu jika Raymond saat itu sudah berbohong.
Pagi itu mereka mulai menyantap sarapan pagi, ditemani keindahan alam San Sebastian, tanpa canda, tanpa tawa, suasana terlihat kembali canggung, Raymond yang terdiam dengan kesedihannya, sementara Alice masih mematung karena rasa bersalahnya.
Aku akan berusaha agar malam nanti tidak akan sama dengan tadi malam, sweetu.
Alice meniatkan segala ucapannya dengan kuat.
πππ
Rumah Raymond.
Beberapa polisi sudah berdatangan mengepung rumah Raymond. Suasana di London saat ini begitu memanas, setelah semua media di Inggris menyoroti kasus pembunuhan yang baru terungkap lewat rekaman CCTV.
Pembunuhan seorang wartawan ternama di kota London, yang bernama Adams Verdy Wiliam.
__ADS_1
πππ
Handphone Alice bergetar, ketika dirinya sedang mengenakan pakaiannya.
Tertera di layar handphonenya, panggilan telepon dari Tara. Namun telepon tak terangkat oleh Alice karena ia tidak mengetahuinya.
"Sweety ayo, aku lihat tadi di depan ada sebuah pawai, apakah kamu tidak penasaran?" teriak Raymond memanggil dari depan pintu kamar.
Alice menoleh, ia sudah terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya.
Sambil tergesa ia mengambil handphone yang berada di atas nakas dan memasukkan ke dalam tas kecil, tanpa sempat melihat layar handphonenya.
Alice setengah berlari menghampiri Raymond, hingga ia tersandung kaki meja rias dan membuatnya terjatuh.
Beruntungnya ada Raymond di sana yang langsung menangkap tubuh Alice, jika tidak mungkin tubuhnya sudah terbentur kerasnya dasar lantai.
Pandangan keduanya saling beradu, lagi dan lagi detak jantung mereka berlomba saling memacu.
Ini adalah jodohku, seorang CEO Tampan dari MANGO Corporate.
Tatapan Alice begitu dalam, sama seperti Raymond yang tak berkedip memandangi wajah Alice dengan penuh cinta.
"Perjalanan kita dimulai dari sini Alice, hari ini dan setelahnya, kita akan selalu bersama, apapun aral rintangan yang menghadang. Walau ribuan hari aku harus menunggu sampai lukamu sembuh, aku akan selalu setia menanti sampai saat itu tiba, aku tidak akan lelah, tak akan pernah mengeluh."
πππ
Apartemen Elliot.
Elliot terlihat masih tertidur pulas di atas ranjangnya, namun ada beberapa orang dengan tubuh kekar yang berotot sudah berdiri di depan kamarnya, pintu pun terbuka dengan mudah walau sebenarnya sudah terkunci dari dalam.
Keempat orang laki-laki itu bergegas masuk dengan wajah yang tidak bersahabat, menuju tempat dimana Elliot berada.
Suara langkah kaki membangunkan Elliot, ia tersadar dan membuka matanya, kini dirinya terhenyak membuat matanya terbelalak kaget, saat dihadapannya sudah ada empat orang yang siap menyergapnya. Elliot tak mampu berbuat banyak, perlawanannya sia-sia, sampai akhirnya keempat laki-laki itu membawa Elliot dengan paksa.
"Apa-apaan kalian ini? Siapa kalian? Jawab pertanyaanku?" teriak Elliot berontak.
Teriakan Elliot tak berlangsung lama, hentakan tangan kekar seorang laki-laki pada leher Elliot, membuatnya tak sadarkan diri.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Ikuti terus kisah Alice dan Raymond yang semakin seru. Berikan juga like, komentar dan vote kalian ya, dukungan kalian membuatku semangat untuk terus berkarya. Terima kasih semua.
__ADS_1
Sehat selalu ya. πππ€