
Selamat membaca!
Bandara Heathrow London.
Elliot, Kelly dan Albert sudah bersiap melepas kepergian Raymond dan Alice. Suasana begitu terasa haru.
"Jaga diri kamu Alice, ingat kabari aku kalau sudah sampai di Indonesia," ucap Elliot penuh haru.
Alice menghamburkan kesedihannya, memeluk Elliot dengan erat.
"Sudah jangan nangis, setelah ini kamu harus kuat di sana, jaga diri kamu!" Elliot melepas pelukannya sambil mengusap pucuk rambut Alice untuk menenangkannya.
Alice menarik sudut bibirnya sedikit, melengkungkan senyum kecil yang dipaksakan.
"Tersenyumlah, bahagialah bersama Raymond," ucap Elliot menangkup wajah Alice dan menarik kedua pipinya untuk membentuk senyum di wajah Alice.
"Au sakit Kak," keluh Alice.
Elliot langsung melepaskan tangannya dari pipi Alice.
"Ya maaf, habis kamu nangis terus," ucap Elliot terkekeh.
Alice mengalihkan pandangannya, ia mendekati Kelly dan berdiri dihadapannya.
"Aku titip Kakak aku, jaga dia baik-baik ya," pinta Alice dengan menggenggam kedua tangan Kelly.
Mendapat permintaan seperti itu, Kelly tersenyum menyanggupi apa yang Alice katakan.
"Aku akan menjaga dengan segenap jiwa dan ragaku, kalian juga jaga diri di sana, jangan bersedih ini bukan sebuah perpisahan tapi malah sebuah awal untuk kita kan," tutur Kelly sambil mengusap wajah Alice lembut dengan tangannya.
Sementara perpisahan juga terjadi antara Albert dan Raymond.
"Ini aku berikan smartphone terbaikku, simpan dan jaga ini dengan baik, oke."
Raymond langsung menyodorkan smartphonenya dan memberikan kepada Albert.
"Yang benar ini untukku Tuan, ya ampun aku mimpi apa ya, ini kan barang kesayanganmu dan harganya mahal sekali."
Albert masih terpukau dengan pemberian Raymond.
"Iya Albert, aku juga mengirimkan sejumlah uang dan kau bisa check di rekeningmu."
Lagi dan lagi Albert begitu bahagia, ia sangat berterima kasih atas kebaikan dari Raymond. Perpisahan yang semakin berat untuk keduanya. Tiba-tiba Elliot ikut bergabung dengan keduanya.
"Sudah Albert jangan menangis," ucap Elliot sambil menyikut perut Albert, hingga membuat Albert membungkuk sakit.
"Tuan Elliot itu sakit lho, nanti kalau aku mati siapa yang akan mengemudikan mobilmu, kan kamu akan jadi CEO baru di MANGO Corporate masa nyetir sendirian," keluh Albert diakhiri dengan sindirannya akan status baru yang akan disandang oleh Elliot.
"Cih," Elliot berdecih.
"Mana mungkin begitu saja kamu bisa mati Albert," timpal Elliot.
Albert terkekeh mendengar ucapan Elliot.
"Gaya ucapanmu sudah hampir mirip Tuan Raymond," kata Albert, yang membuat Elliot menggaruk kepalanya walau tidak terasa gatal.
__ADS_1
Raymond hanya tersenyum memandang keduanya.
Mereka yang selalu menemaniku selama ini.
Ternyata berpisah dengan mereka juga menyedihkan untukku.
Tiba-tiba lamunan Raymond pecah ketika suara Elliot berdehem padanya. Raymond langsung melihat Elliot yang kini sudah merapatkan jaraknya.
"Jika kamu sakiti Alice, perkataan yang aku bilang masih berlaku, jadi jaga dia baik-baik, jangan buat Alice menangis," bisik Elliot kepada Raymond.
"Tenang saja Elliot, aku sangat mencintainya dan tidak mungkin menyakitinya kembali," balas Raymond dengan berbisik penuh keyakinan.
Suara announcer di Bandara sudah terdengar memanggil semua penumpang untuk menaiki pesawat.
Alice dan Raymond pamit untuk yang terakhir kalinya. Mereka mulai melangkah pergi sambil sesekali Alice menengok ke belakang untuk melihat Elliot.
Selamat tinggal Kakak.
Elliot, Kelly, dan Albert akhirnya pergi untuk meninggalkan bandara. Namun seketika mata mereka dibuat terbelalak kaget, saat melihat kedatangan Greta yang melangkah dengan sangat tergesa-gesa. Mereka bertiga kompak untuk mengabaikannya, sesaat Greta lewat dihadapan mereka, ketiganya langsung membalikkan tubuh masing-masing hingga wajah mereka tak dapat dilihat oleh Greta.
"Untung saja Tuan Raymond dan Nona Alice sudah naik ke dalam pesawat ya," ucap Albert dengan wajah cemas kepada Elliot.
"Iya tapi yang aku bingung kenapa Greta selalu saja mengejar Raymond, dia seperti sedang menuntut sesuatu dari Raymond."
Kelly merespon ucapan Elliot dengan ketus.
"Namanya juga perempuan perusak rumah tangga orang, ya wajar aja El, dia pasti gak rela dicampakkan begitu saja," tutur Kelly menebak.
Apa benar begitu atau malah ada hal lain yang sebenarnya terjadi.
Atau jangan-jangan Greta hamil anak Raymond, makanya dia terus mengejar Raymond.
Elliot semakin terhenyak dengan dugaannya sendiri, ia mengaitkan tentang keputusan Raymond yang tiba-tiba saja ingin pergi dari London.
Apa ini alasan Raymond pergi, dia ingin lari dari tanggungjawabnya.
Wajah Elliot mengeras dan memerah, dahinya ikut mengernyit menatap tajam ke arah Greta yang melangkah tanpa arah mencari keberadaan Raymond. Elliot mulai melangkah dengan amarah yang ditahannya, sementara Kelly yang melihatnya hanya terperangah dengan apa yang akan dilakukan oleh Elliot.
Albert tersadar kini langkahnya hanya sendiri tanpa Elliot dan Kelly yang masih jauh di belakangnya.
"Walah pantas saja aku kaya omong sendiri gak ada yang nyaut," keluh Albert dengan menepuk keningnya.
Albert mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Elliot dan Kelly. Saat dia mengetahuinya lagi-lagi matanya membulat besar.
"Wah, wah, ngapain Tuan Elliot nyamperin ular itu aduh, aduh, ini namanya nyari penyikut, eh penyakit maksudnya."
Albert melangkah cepat dengan setengah berlari untuk mencegah Elliot yang semakin mendekati Greta. Namun sayang posisi Elliot lebih dekat dengan Greta, dari belakang tubuh Greta, Elliot menarik tangan kanan Greta hingga membuatnya berputar menghadapnya.
Greta terhenyak melihat kini dihadapannya ada Elliot yang menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Greta yang napasnya terengah-engah menjawab dengan terbata.
"Aku ingin menemui Tuanmu."
__ADS_1
Elliot menautkan kembali kedua alisnya.
"Untuk apa? Apakah kamu tidak tahu Raymond sudah menikah dengan Adikku, apakah kamu sebagai sesama wanita tidak berpikir bahwa dikhianati itu sangat menyakitkan," ketus Elliot menghardik Greta.
Aku harus membuat Elliot merasa kasihan denganku.
Greta mulai terisak, menangis sambil meletakkan lemah kedua kakinya bersimpuh di bawah kaki Elliot. Ia tak mempedulikan pandangan orang-orang sekitar yang melihatnya, seolah urat malu Greta memang sudah habis dimakan rayap.
"Elliot, tolong izinkan aku bertemu dengan Raymond, aku janji aku tidak akan menggangu rumah tangganya dengan Alice," Greta terus memegangi kedua kaki Elliot, untuk memohon dengan tangisannya yang deras menghujam wajahnya.
Elliot yang merasa risih terus berusaha melepaskan genggaman tangan Greta pada kedua kakinya.
"Lepaskan, apa kau tidak tahu malu, dasar wanita jal*ng," ketus Elliot lantang dengan kasar.
"Tidak, aku tidak akan melepaskannya," Greta terus bersimpuh di kaki Elliot.
Kelly yang melihatnya tampak gusar, ada amarah yang juga membara dalam dirinya terlebih saat ini Greta sudah menyentuh Elliot, calon suaminya.
"Hei kau wanita jal*ng, lepaskan Elliot, jangan sampai aku panggilkan polisi bandara ya," bentak Kelly membuat hampir semua orang yang berada di bandara mengalihkan pandangannya untuk menatap mereka.
Sadar menjadi sorotan orang banyak, Elliot segera melepaskan genggaman Greta dengan lebih kasar sampai membuat Greta terhempas jatuh hingga kepalanya membentur lantai.
Benturan di kepalanya, membuat Greta langsung tak sadarkan diri. Elliot yang melihatnya langsung panik, suasana semakin ricuh di bandara karena orang-orang terus menyalahkan Elliot atas insiden itu. Kericuhan yang terjadi di bandara, mengundang beberapa polisi untuk datang membantu, mereka dengan cepat membawa Greta ke ruang pertolongan pertama di bandara.
Ampun pingsan segala lagi, bikin kerjaan aja.
Albert menghampirinya dan mulai bertanya kronologis yang baru saja terjadi kepada Elliot, yang menyebabkan Greta menjadi tak sadarkan diri.
Elliot menatap Greta dengan rasa bersalahnya.
Mungkin aku harus lebih mengendalikan emosiku terhadapnya.
Di ruang pertolongan pertama, setelah beberapa waktu menunggu, Greta mulai siuman. Ia mulai mengerjapkan dengan perlahan kedua matanya. Greta membuka matanya, ia melihat aneh keadaan di sekelilingnya.
"Ini dimana ya? Siapa yang sudah menolongku dan aku dimana ini?"
Elliot datang mendekati Greta untuk menjawab segala pertanyaannya.
"Kamu di ruang pertolongan pertama, ada apa denganmu, kenapa sampai pingsan seperti itu? Padahal benturan di kepalamu tidak terlalu keras."
Greta menelan salivanya dengan kasar.
Apa jangan-jangan dia tahu aku hanya pura-pura pingsan.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Sehat selalu ya.
Terima kasih.
Jangan kasih kendor untuk memberikan like, vote dan komentar kalian dan jangan sampai ada episode yang ke skip likenya ya ๐ค
Kalian team Greta atau team Alice?
__ADS_1
yuk ramaikan kolom komentar ๐ค๐๐