
Halo para pembaca semua. Terima kasih atas dukungan kalian ya. Jangan lupa berikan like, komentar dan vote kalian untuk TMCA.
Selamat membaca!
Greta kini sudah berada di ruang UGD, karena kram yang dirasakannya, berbeda dengan yang pernah dialaminya sewaktu di London.
Zack menunggu dengan tak nyaman di depan ruang UGD.
"Sebenarnya penyakit apa yang diderita oleh Greta sampai dia tidak sadarkan diri seperti ini."
Di tengah penantian yang cukup lama, akhirnya seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Zack bergegas mendekatinya.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Zack dibalut rasa cemas.
Wajah Dokter terlihat bimbang, antara ingin menyampaikan atau tidak kepada Zack.
"Dokter?"
Zack kembali mengulang pertanyaannya. Rasa penasarannya semakin menggebu berkecamuk di dadanya. Pikirannya saat ini tak lagi tenang. Zack kini dilanda kecemasan yang membuat hati dan pikirannya seperti tidak singkron. Ia sama sekali tidak bisa menebak atau bahkan berani menduga-duga, apa yang ingin Dokter katakan dengan wajah bimbang yang sangat jelas terlukis di wajahnya.
πππ
Mobil mewah Raymond sudah memasuki lobi Rumah Sakit Permata. Kebetulan rumah sakit ini mempunyai kredibilitas yang bagus dan pelayanan baik di daerah Jakarta Selatan.
Raymond membimbing Alice dengan perlahan untuk turun dari mobil. Risfa terlihat sigap, ia sudah menyambut Alice di depan pintu mobil tempatnya keluar.
"Hati-hati Nona Alice, perhatikan langkahmu, jalannya agak menurun sedikit," ucap Risfa menjaga langkah Alice.
"Yes I see Risfa," jawab Alice dengan lugas.
Ketiganya akhirnya melangkah menuju ruang Dokter, dimana mereka sudah membuat janji untuk melakukan kunjungan di jam 14.00. Raymond mengintip jam yang ada dipergelangan tangannya, untuk melihat waktu mereka tiba di rumah sakit.
Sungguh tepat, jam kunjungan hanya selisih 5 menit dengan waktu mereka tiba. Langkah hati-hati terus dipijakan oleh Alice menyusuri lorong rumah sakit, ia berjalan sejajar dengan Risfa yang senantiasa selalu mendampinginya.
Sementara Raymond harus singgah sejenak untuk merapatkan dirinya ke meja resepsionis, demi mengurus administrasi kunjungannya kali ini.
Selesai dengan urusan yang menyita sedikit waktu kebersamaannya dengan Alice. Raymond segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Alice dan Risfa. Memang sejak Alice mengandung entah kenapa Raymond selalu ingin berada di dekat Istrinya, untuk sekedar berbincang ringan, bermanja ria, atau bahkan hanya memandang wajah Alice yang sedang tertidur, itu sudah cukup memberikan ketenangan pada hatinya.
Raymond memang merasakan perubahan yang berbeda dalam dirinya, beberapa hari ini jika jauh dari Alice membuat perasaannya sangat resah dan tak nyaman, walau hanya berpisah untuk beberapa saat saja.
Atau mungkin itu disebabkan karena faktor bawaan baby, entahlah.. Namun Raymond menikmati segala perubahannya, tak pernah sekalipun ia mengeluh menjalaninya, baginya inilah kehidupan yang sepatutnya ia jalani, memiliki seorang istri yang begitu mencintainya dan dengan limpahan harta yang mungkin tidak akan habis 7 turunan, juga kehadiran seorang baby yang akan menyempurnakan kehidupannya.
Satu belokan koridor dilalui, kini pandangan Raymond sudah berhasil menangkap objek yang dikenalnya, sosok Alice dan Risfa sudah terlihat berada beberapa meter di depannya. Namun tiba-tiba.
Bruk
Tubuh Raymond bertabrakan dengan seorang pria, yang tampaknya sedang terburu-buru.
"Auch, sobat perhatikan langkahmu," tegur Raymond dengan suara agak keras, namun tidak marah.
Teguran Raymond terdengar oleh pria itu, membuatnya menoleh dan kembali melangkah mendekati Raymond.
"Sorry brother, aku terburu-buru kepanikan ini membuat langkahku jadi tak mempunyai mata untuk melihat," tutur Zack dengan wajah yang begitu kalut.
Raymond menyadari suatu hal dari perkataan yang terlontar dari mulut Zack.
Raut wajah pria ini begitu cemas, mungkin istri atau keluarga dekatnya sedang sakit parah.
__ADS_1
"Fine, perhatikan langkahmu setelah ini, take care brother and good luck." tutur Raymond dengan santai, lalu kembali bergegas untuk menyusul Alice dan Risfa.
Zack kembali melanjutkan langkahnya untuk mengurus segala administrasi yang dibutuhkan, karena Greta harus dirawat selama kurang lebih 2 hari.
πππ
Alice sudah berada di ruang Dokter, tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu besar seperti ranjang di rumahnya, tapi bukannya itu memang hanya ranjang untuk pemeriksaan, jadi alangkah baiknya jika memang ukurannya seperti itu.
Dokter sudah bersiap melakukan pemeriksaan, ia membuka blouse yang dikenakan oleh Alice sebatas perutnya dan mengoles sedikit jelly di atas perut Alice untuk mulai melakukan USG pada kandungannya.
Raymond yang melihatnya mendengus kesal.
"Sial, Dokter itu berani sekali menyentuh perut Alice, mungkin aku harus mengganti Dokter kandungan itu dengan Dokter wanita saja."
Raymond yang cemburu bergegas merapatkan langkahnya, berdiri di samping Alice, namun malah menghalangi pandangan Dokter untuk melihat layar USG.
"Permisi Tuan, maaf."
Raymond yang menyadarinya lalu bergeser sedikit menjauh dari ranjang Alice untuk memberikan celah pada Dokter agar dapat melihat hasil USG yang sudah tampak pada layar monitor.
Dokter memperhatikan monitor dengan seksama, dia terus menggerakkan transducer yang menempel pada perut Alice. Dokter mulai tersenyum lebar. Raymond yang melihat perubahan expresi di wajah Dokter menjadi sangat heran. Tanda tanya besar menaungi isi kepala Raymond saat ini. Sementara Alice yang ikut menyaksikan layar monitor tak dapat mengartikan apapun dari apa yang dilihatnya. Namun saat ini perasaannya sungguh menyenangkan, sangat indah dan luar biasa membayangkan bahwa dirinya akan menjadi seorang Ibu.
"Selamat Tuan, Anda bukan hanya akan mempunyai satu orang anak, melainkan dua."
Raymond tercekat mendengar perkataan Dokter.
"Maksud Dokter?"
Sebuah pertanyaan secara serempak lolos dari mulut Alice dan Raymond yang langsung menoleh, menatap dalam wajah Dokter.
"Saya melihat dari hasil USG, janin yang ada di dalam kandungan Nona Alice berjumlah 2."
"Jadi anak saya kembar, Dok?" tanya Alice yang masih terperangah tak percaya dengan hasil diagnosa, Dokter.
"Betul Nona Alice, selamat ya bayi Anda kembar."
USG telah selesai. Alice dan Raymond kini sudah duduk dan mendengarkan lebih detail hasil diagnosa yang akan disampaikan oleh Dokter.
Raymond menggenggam erat tangan Alice dengan lembut, jemari mereka saling bertaut manja, di atas pangkuan Alice.
Aku sangat bahagia sweety.
"Ada hal yang harus Anda perhatikan Tuan Raymond, ini untuk kelangsungan dan kesehatan kandungan istri, Anda."
Perkataan Dokter membuat Raymond menautkan kedua alis untuk fokus mendengarkan apa yang disampaikan oleh Dokter. Wajahnya penuh keseriusan karena ini menyangkut tentang kehamilan Alice.
"Nona Alice harus menghindari stres dan kelelahan yang berlebihan, karena itu akan menimbulkan efek yang buruk terhadap janin yang dikandungnya, bahkan dampak terburuknya adalah dapat mengakibatkan keguguran."
Raymond menoleh ke arah Alice, membuat pandangan mereka saling beradu tatap, dapat tersirat sebuah kecemasan di wajah Alice saat ini, namun saat Raymond mengulas senyum di wajahnya keresahan dalam hati Alice sekejap memudar.
"Baik Dokter, saya paham."
Alice dan Raymond akhirnya keluar dari ruang Dokter. Wajah yang berseri dari keduanya membuat Risfa tampak semakin penasaran untuk bertanya pada majikannya.
Raymond langsung memberikan sebuah resep vitamin kepada Risfa, untuk ditebusnya di apotik rumah sakit.
Keduanya melanjutkan langkahnya menuju lobi rumah sakit.
__ADS_1
πππ
Greta sudah dipindahkan ke dalam ruang rawat VIP yang terletak di lantai 6. Greta masih belum sadarkan diri, ia kini hanya tergeletak lemas di atas ranjang dengan infus yang terpasang di tangannya.
Zack sudah terlihat duduk di samping ranjang. Ia sengaja mendekatkan dirinya dengan Greta, berkata lebih dekat walau saat ini Greta belum juga sadar. Zack menggenggam tangan Greta dengan perlahan.
"Katakan padaku pria mana yang membuatmu hamil dan lepas dari tanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya!"
Kesal yang begitu dalam, terasa mencabik perasaan Zack. Ia tidak terima dengan apa yang telah menimpa Greta saat ini.
"Saat aku tahu siapa pria itu? Aku akan mengajarkan padanya, arti sebuah tanggung jawab itu seperti apa!" geram Zack yang semakin erat menggenggam tangan Greta.
Tiba-tiba Greta mulai menggerakkan matanya. Ia mulai bergeming dari tidurnya. Greta mulai membuka matanya dengan perlahan, pandangan yang masih kabur membuatnya beberapa kali mengerjapkan matanya untuk memperjelas pandangan matanya.
"Greta kamu sudah sadar?"
Greta sudah mulai jelas memandang sekelilingnya.
"Dimana aku?"
"Zack.."
Zack tersenyum lega, ia bangkit dari duduknya dan lebih dekat ke wajah Greta untuk mendengar kalimat lirih yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa aku bisa di sini Zack?"
Zack akhirnya menceritakan semua kepada Greta, saat ia menemukan Greta pingsan di ruangannya hingga Greta saat ini sudah berada dalam perawatan di rumah sakit.
"Apa yang Dokter katakan?" ucap Greta parau.
Kenapa aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah perutku.
Sejenak Zack terdiam. Berpikir untuk melawan kenyataan yang ada.
"Aku sebenarnya berat mengatakan ini padamu, tapi kamu harus tahu yang sebenarnya."
"Jangan kamu katakan kalau aku keguguran.."
Zack hanya terdiam, mengangguk kecil mengiyakan apa yang Greta ucapkan.
Greta menangis histeris, ia merintih dan terus meronta, merasa kesal dengan apa yang telah terjadi. Zack berusaha menenangkannya, ia langsung mendekap tubuh Greta yang terus meronta, mencoba meredamkan amarahnya yang saat ini begitu berkecamuk dalam dirinya.
"Sudah Greta, kamu harus ikhlas, tenangkan dirimu."
Zack terus mendekap erat tubuh Greta, sampai akhirnya Greta lemah terkulai dalam dekapan Zack, ia tak sadarkan diri kembali dengan air mata yang sudah membenamkan wajahnya.
"Greta.."
Zack menjadi panik, ia segera menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.
Tangisan dan air matamu ini, akan jadi alasan kuat untuk membuat perhitungan dengan laki-laki yang sudah membuatmu seperti ini.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Ikuti terus kisahnya ya, jangan bosan-bosan ya..
__ADS_1
Mampir ke karya aku yang lain ya.