
Ketahuilah episode memang menyebalkan, tapi setelah kalian baca ini dan jika kalian memutuskan untuk berhenti membaca kelanjutan sama artinya kalian tidak menyelesaikan apa yang sudah kalian mulai.
Kisah Alice masih panjang jadi ikuti terus ya. Terima kasih.
πππ
NB : Tolong! Selesai membaca episode ini berkomentarlah tetap yang baik, karena komentar kalian dibaca semua pembaca lainnya, jadi jangan sampai komentar kalian menjatuhkan karyaku ini, karena ketahuilah, saat kalian memutuskan membaca sampai di episode ini, berarti kalian sudah ikut larut dalam perjalanan kisah Raymond dan Alice dan tentunya harus kalian ketahui endingnya. Terima kasih ya.
πππ
Selamat membaca!
Alice mundur beberapa langkah menjauh dari pintu, memberikan ruang pada Richard untuk masuk ke dalam apartemennya. Namun di saat bersamaan Richard masuk, Greta tampak mengekor di belakangnya.
Alice terhenyak luar biasa, wajahnya tak bisa dipungkiri sangat geram melihat sosok wanita itu hadir di depan matanya.
"Alice, apakah kamu mengenal wanita ini, namanya Greta, dia bilang ingin menjumpaimu jadi aku ajak saja dia bersamaku," tutur Richard yang melihat keanehan dari wajah Alice seperti menunjukkan ketidaksukaan terhadap Greta.
Richard tak ingin ikut campur yang bukan urusannya.
"Oke, aku tinggal ke dalam, soalnya aku sangat lelah hari ini," ucap Richard sambil melangkah pergi meninggalkan ketiganya, yang tampak suasana mulai berubah memanas.
Raut wajah Alice tampak tak suka, sementara Raymond tertegun menatap ragu wajah Greta, ia membagi pandangannya ke arah Richard yang menyapanya saat lewat dihadapannya.
Dia Kakakku, aku baru melihatnya dari dekat.
Raymond kembali menajamkan pandangannya ke arah Greta, sebelum Greta melangkah lebih dekat menghampiri Alice. Raymond segera menghadang langkahnya, ia berdiri menjadi benteng untuk melindungi Alice, membuat langkah Greta terhenti, hingga tubuh Raymond menutupi pandangan Alice.
Greta menatap kedua mata hazel Raymond dengan dalam, menyiratkan sebuah cinta yang tumbuh di hatinya untuk Raymond, terlebih saat ini benih cintanya sudah bersemi dan hidup di dalam perutnya. Greta meraih tangan Raymond, lalu memberikan sesuatu di atas telapak tangannya. Greta menuntun Raymond untuk merapatkan jemarinya, bermaksud menutup benda yang ada di tangannya dari pandangan Alice. Namun sebelum jemari Raymond menutup ia sudah melihat sebuah benda putih, tidak terlalu panjang dengan menunjukan 2 garis merah.
Raymond sontak kaget, matanya sampai terbelalak melihat saat ini yang digenggamnya adalah bukti kehamilan Greta.
Greta hamil, oh my God, bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Alice, aku tidak ingin dia membenciku.
Dahi Raymond kini semakin lembab berkeringat, ia tampak gugup, masih berdiri dengan begitu tegap untuk menopang raganya agar tidak limbung. Raymond benar-benar sangat terpukul dan sakit dengan kenyataan ini. Saat Raymond termenung dengan berbagai macam ketakutannya, tiba-tiba Alice maju melewati Raymond, ia sedaritadi menaruh curiga dengan apa yang keduanya lakukan.
Alice mengeraskan wajahnya, menunjukan amarah yang saat ini tertahan dalam dirinya, namun walau begitu ia masih terlihat cantik berseri.
"Apa yang kamu berikan kepada suamiku? tegur Alice dengan tegas, tanpa sebuah kode ia langsung mendorong tubuh Greta lumayan keras, hingga membuat Greta mundur beberapa langkah, menjauhi Raymond.
Greta tersenyum tipis, menatap angkuh wajah Alice dengan penuh kemenangan. Ia mengangkat sebelah alisnya sembari berlalu pergi.
"Apa maksud wanita jal*ng itu? Tatapan dan ekspresi wajahnya sangat meremehkanku, memang apa yang membuatnya bisa besar kepala seperti itu," tutur Alice penuh tanya dalam pikirannya, ia terus menatap punggung Greta yang semakin lama, semakin menjauh.
__ADS_1
Alice langsung menutup dan pintu langsung terkunci otomatis.
Pandangan Alice langsung tertuju pada Raymond yang sudah sejak tadi mematung tanpa suara di belakangnya. Raymond kelihatan kesal, ia terus menahan amarahnya, hingga membuat wajahnya memerah padam. Raymond sangat merutuki kebodohannya, lagi-lagi karena hawa nafsu yang tidak dapat ia kendalikan membuat rumah tangganya, kini diambang kehancuran.
Alice menatap lekat wajah Raymond, ia terus bertanya di dalam hatinya, atas apa yang telah terjadi saat ini. Alice coba mencerna setiap detailnya kedatangan Greta, hingga Alice mulai mencurigai sebuah benda yang sedang Raymond genggam di tangan kanannya. Alice ingin menggapainya untuk melihatnya, namun Raymond dengan cepat menghindar dan menghalangi dengan tubuhnya.
"Apa itu sweetu, tolong katakan dan tunjukkan padaku!" titah Alice masih sabar, walau amarah terasa tertahan di kerongkongannya.
"Ini hanya flashdisk sweety," kilah Raymond tak ingin Alice tahu.
Alice menajamkan pandangannya, ia memipihkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas ke arah tangan kanan Raymond. Alice dengan cepat bergerak ke belakang tubuh Raymond, untuk mengambil sebuah benda yang diberikan oleh Greta, ia terus berusaha mengambilnya walau Raymond dengan sekuat tenaga terus menghindar.
Raymond perlahan mundur sampai setengah tubuhnya terbentur di dinding pembatasan antara ruang tamu dengan ruang tengah.
Alice semakin maju mendekati Raymond, langkahnya kini tak tertahan ia sudah berada dihadapan Raymond, hingga membuat Raymond tak bisa berkelit lagi, ia akhirnya pasrah dan bermaksud akan menunjukkannya kepada Alice.
"Mungkin ini akhir dari pernikahanku, saat melihat semua ini, pasti Alice akan membenciku," gumam Raymond sambil memejamkan mata, membayangkan hal terburuk yang akan terjadi saat Alice melihat testpack di tangannya ini.
Raymond mengesah kasar.
Alice menuntut Raymond untuk menunjukkan apa yang kini ada digenggamannya, namun saat beberapa detik ia ingin menunjukkan kepada Alice, sebuah tangan dari belakang tubuhnya dari balik dinding seperti mengambil testpack itu dan memberikan sebuah benda yang sesuai dengan deskripsi yang telah Raymond sebutkan.
"Kalau kamu tetap ingin tahu, aku tidak akan memaksa kamu untuk percaya sama aku," ujar Raymond sambil meletakkan tangannya dihadapan Alice, membuka perlahan tangannya dan langsung terlihat sebuah flashdisk di atas telapak tangan Raymond.
Alice mengambil flashdisk itu dari tangan Raymond. Ia mulai meneliti sampai mengangkat benda mungil itu ke hadapan wajahnya.
"Benar ini flashdisk, kenapa seperti ada hal yang penting ya? Aku penasaran dengan apa isi flashdisk ini? Aku mau lihat dulu ya sweetu?" tutur Alice penasaran sambil berlalu meninggalkan Raymond, yang masih mematung tak bergerak.
Aku selamat, syukur ada yang menukar flashdisk itu.
Tapi siapa orang yang telah melakukan itu, pasti Elliot.
Raymond mulai melangkah masuk ke ruang tengah, ia mulai mengedarkan pandangannya melihat ke sekelilingnya.
"Tidak ada orang satu pun, lantas siapa yang menukar testpack itu," ucap Raymond pelan dengan penuh tanda tanya.
Raymond lalu beranjak untuk mengambil smartphonenya, setelah mengutak-atiknya ponsel pintarnya, ia langsung menuju sudut ruangan yang jaraknya semakin menjauh dari tempat Alice sedang mencari tahu isi dari flashdisk itu.
Raymond terlihat sedang menghubungi seseorang. Tak lama terdengar suara wanita dari seberang sana dengan suara lembutnya, namun bernada manja.
"Iya halo, Tuan arogan, aku tahu kamu pasti akan langsung menghubungiku," ucap Greta dengan suara khasnya, lembut, manja dan menggoda.
Raymond mendengus kasar mendengar suara Greta.
__ADS_1
"Aku tidak mau berbaik hati denganmu Greta, kamu pikir bisa mengancamku dengan testpack palsumu," ketus Raymond begitu kesal.
"Aku tahu itu, kamu tidak akan mudah mempercayai kehamilanku, tapi jika kamu tidak percaya, bukan masalah untukku, aku tinggal datang lagi dan langsung memberitahu istrimu, nanti kita lihat apa reaksinya," ancam Greta yang tahu kelemahan Raymond saat ini.
"Jika kamu memberitahu Alice, kamu tidak akan dapat apapun, kamu ingat itu!"
"Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung saat ini, nikahi aku dan aku akan menjaga rahasiamu seumur hidup, selain itu aku akan membantumu untuk merebut kembali kekuasaan MANGO Corporate dari tangan Will."
"Cih," Raymond berdecih kesal.
"Kamu pikir aku bisa kamu bohongi lagi, aku tidak akan tertipu untuk ketiga kalinya dengan akal bulusmu," tutur Raymond dengan lantang, namun dengan suara tertahan agar tidak terlalu keras terdengar.
"Kali ini aku tidak akan membohongimu, karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, Tuan Raymond, ya aku mencintaimu, sejak pertama kali kita berhubungan, sebenarnya berat bagiku melihat kamu hancur tapi aku tidak berani melawan Tuan Will."
Greta mulai terdengar menangis. Suara tangisan yang begitu terisak, sejenak membuat Raymond termangu. Ia mulai berpikir untuk menemui Greta dan membahas ini secara langsung karena keadaan tidak memungkinkan untuknya membahas semua hal ini terlalu lama di apartemen. Raymond takut Alice akan mendengar dan mengetahui pembicaraannya.
Raymond terlihat menimang-nimang keputusannya, hingga akhirnya ia sudah mantap untuk menjawab.
"Baik, aku akan menemuimu, sore ini jam 4, aku akan datang ke apartemenmu, tidak ada kamera, tidak ada obat perangsang, tidak ada minuman, ingat itu baik-baik!"
"Baik Tuan arogan. Aku tunggu, karena memang itu yang selalu aku lakukan, menunggu kedatanganmu dari balik pintu apartemenku."
Sambungan telepon terputus sebelum Greta selesai berucap.
"Dasar Tuan arogan," ucap Greta sambil meletakkan ponselnya di sebelah kursi mobilnya yang kosong.
Greta menarik sebelah sudut bibirnya, ia memicingkan senyum liciknya.
"Baru saja aku menangis, hatinya sudah luluh ingin menemuiku, selanjutnya sedikit demi sedikit aku akan buat dia melupakan Alice," gumam Greta yang sudah berada di dalam mobilnya, tersenyum bahagia merayakan kemenangannya.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Semangat up..
Sehat selalu semua..
Terima kasih atas dukungan kalian..
Jangan lupa like di setiap episodenya ya jangan sampai ada yang ke skip ya.. π€ππ
Ditunggu komentarnya dan jika berkenan vote juga ya.
__ADS_1