
Selamat membaca!
Nick kini sudah berada di dalam kamar mandi, dengan bersiul ia menikmati kucuran air yang keluar dari shower.
Sementara itu di atas ranjang, Alice mulai bergeming dari tidurnya. Ia terlihat beberapa kali mengerjapkan mata dan saat matanya sudah terbuka, yang pertama dilihat adalah sisi samping ranjang yang sudah tak ada lagi tubuh suaminya terbaring di sana.
"Kemana sweetu?"
Alice mempertegas indera pendengarannya ke arah bathroom yang kini terdengar suara siulan, hal yang memang sering dilakukan Raymond ketika di dalam bathroom.
"Oh sweetu mandi, sebaiknya aku menyusulnya, semalam aku tidak melayani keinginannya, karena aku mengantuk, pagi ini aku akan membuatnya terpuaskan," ucap Alice dengan senyum nakalnya.
Alice keluar dari selimut yang menyingkap tubuhnya. Ia mulai beranjak dengan melangkah perlahan tanpa suara, untuk dapat memberikan sebuah kejutan pada suaminya. Saat ia sudah tepat berdiri di depan bathroom, Alice melucuti pakaiannya satu persatu yang membuatnya kini tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Tubuh Alice yang putih mulus, dengan lekukan yang seksi, membuat mata siapapun yang memandangnya akan terpukau. Walau memang tak dapat dipungkiri perut buncitnya tampak sudah membesar, namun itu tak mempengaruhi keindahan dan keseksian tubuhnya.
Alice mulai menggenggam handle bathroom dengan erat. Ia mulai membukanya perlahan dan melangkah masuk ke dalam.
Alice membuka matanya lebar-lebar, ia mencari keberadaan Raymond yang dilihat sedang memunggunginya, berada di bawah guyuran shower.
"Itu sweetu, sedang keramas. Aku akan masuk dengan perlahan," batin Alice memiliki rencana.
Alice melangkah terus maju, ia membuka pintu kaca untuk masuk ke dalam area shower, setelah Alice merasa cukup dekat, tanpa aba-aba ia melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Nick yang dikiranya adalah Raymond. Alice mulai mengusap dengan lembut dada Nick yang ditumbuhi bulu.
Nick terhenyak menerima sentuhan lembut dari kedua tangan, yang kini terus mengusap tubuhnya dengan lembut, usapan yang dengan cepat membuat birahinya naik seketika.
"Alexa kamu ternyata kembali lagi ya," gumam Nick yang sudah tersenyum merasa senang dengan kehadiran wanita yang dikiranya adalah Alexa.
"Sweetu, maafkan aku ya semalam aku ngantuk jadinya aku tidak bisa melayanimu."
Suara Alice membuat Nick semakin heran. Kini kedua alisnya saling bertaut, mencoba mencermati seluruh perkataan yang terdengar oleh telinganya.
Nick mulai merasa janggal saat dekapan tubuh wanita itu membuat tubuh bagian belakangnya seperti terhimpit suatu gundukan.
"Aneh, sejak kapan perut Alexa sebesar ini," batin Nick yang sudah semakin menikmati usapan tangan Alice pada bagian tubuhnya.
Kedua tangan Alice terus menggerayangi sekujur tubuh Nick, yang semakin mendekati area vital yang sensitif, dimana Nick jr sudah menegang bagai sebuah rudal peluru. Nick mengabaikan segala perasaan yang membuatnya terganggu untuk menikmati belaian tangan Alice, ia kemudian membuang jauh-jauh segala pikiran janggalnya, ia masih terus membiarkan kedua tangan Alice menuju bagian Nick jr yang kini telah meronta meminta untuk dimanjakan.
Hembusan napas Nick mulai terdengar tak beraturan, pikirannya kini semakin dikuasai oleh rasa penasaran, akan lekuk tubuh Alexa yang kini ada di dalam benaknya, terlihat begitu indah seperti biola Spanyol. Tanpa sadar sentuhan tangan Alice mulai menggenggam Nick jr yang membuat Nick langsung mengerang sambil menyebut nama Alexa dengan pelan.
"Alexa, ayo teruskan."
Alice terkesiap, ia langsung melepas genggaman tangannya dan membalikkan tubuh pria yang ada dihadapannya dengan kesal, karena lelaki itu malah menyebut nama wanita lain, Alice sempat mengira bahwa Raymond memiliki selingkuhan baru.
Saat wajah pria yang dilihatnya bukanlah wajah dari suaminya, kedua mata Alice terbelalak, hingga membulat sempurna. Alice berteriak kaget dengan sekeras-kerasnya sampai memenuhi seisi bathroom, sambil berangsur mundur, Alice menutupi lekuk tubuhnya terutama bagian dadanya dengan kedua tangannya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?" bentak Alice terlihat geram.
Nick tak kalah terkejut, ia begitu terhenyak saat wanita yang kini ada dihadapannya bukanlah Alexa seperti apa yang disangkanya. Namun Nick masih terus memandangi tubuh Alice dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan cermat.
"Wanita ini cantik juga, walau sedang hamil tapi tubuhnya masih membuatku bergairah saat memandangnya," batin Nick menatap kagum seluruh bagian tubuh Alice.
__ADS_1
"Lihat apa kamu? Cepat tutup matamu!" bentak Alice murka.
Melihat pria yang tak dikenalnya terus menikmati keindahan tubuhnya, Alice langsung bergegas keluar dari ruang kaca, untuk menuju keluar dari kamar mandi.
Alice kemudian menahan pintu bathroom sambil berteriak kesal mengultimatum Nick.
"Stop jangan keluar, sebelum aku memakai pakaianku."
Alice dengan cekatan mengambil pakaiannya yang teronggok di dasar lantai dan langsung mengenakannya.
Nick keluar dari bathroom, dengan melilitkan handuk putih untuk menutupi bagian Nick jr-nya yang kini langsung meredup. Di depan bathroom, Alice menatap wajah Nick dengan sorot mata tajam yang penuh kebencian. Ia merasa jijik karena tangannya menggenggam sesuatu yang ternyata bukan milik suaminya.
"Ini kamar saya, kenapa Anda masuk ke sini? Saya pasti akan memperkarakan perbuatan Anda, agar Anda bisa mendapatkan pelajaran!" bentak Alice dengan keras ke depan wajah Nick, sampai hembusan napas Nick begitu terasa mengibas wajah Alice.
Nick melotot tak mau kalah, iya ikut merasa jengah terus menerus dituduh salah masuk kamar. Walau memang pada kenyataannya, ia memang salah, namun karena angka pada pintu hotel berubah akibat benturan tubuh Raymond, itu membuat Nick jadi tak merasa bersalah, saat memasuki kamar yang sebenarnya bukanlah kamarnya.
"Ini kamar saya, Anda yang salah!" bentak Nick lebih keras.
Nick mendekati wajah Alice, membuat Alice beringsut menjauhi wajahnya. Alice tak kehilangan akal untuk membuktikan apa yang dikatakannya, ia meraih tangan Nick dan menyeretnya menuju keluar kamar untuk melihat angka yang tertera pada pintu kamar.
Nick hanya mengikutinya, ia tak melawan dan hanya diam menatap kagum seorang wanita hamil yang tak dikenalnya, kini sedang menarik tangannya dengan kasar.
Alice mengambil sebuah kartu pada nakas, untuk membuka akses pintu agar terbuka, setelah pintu terbuka, Alice menarik tangan Nick lebih keras dan menghempaskan dengan sekuat tenaganya.
"Itu lihat, tertera ini no ..."
"Bagaimana Nona, jadi siapa yang salah masuk kamar?" ucap Nick sambil menyilang kedua tangan dan diletakkan di atas dadanya.
"Aneh, tapi kenapa kartu akses ini dapat membuka pintunya, padahal kartu ini adalah kartu akses no 19 tapi di pintu tertera dengan nomor 16," gumam Alice memutar otaknya untuk berpikir keras, sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Pandangan Alice terhenti di sebuah kamar yang berada persis di seberang kamarnya. Ia kemudian memipihkan tatapan matanya sambil mendekati pintu yang juga sama tertera dengan nomor 16. Pintu hotel yang tertutup rapat.
"Jangan-jangan pintu ini..."
Alice lebih dekat ke arah pintu, kemudian ia menggunakan kartu akses kamar nomor 19 untuk membuka pintu yang saat ini ada dihadapannya. Pintu pun tidak terbuka.
"Sekarang aku mulai mengerti dengan semua kesalahpahaman yang menyebalkan ini," gumam Alice sudah menemukan jawabannya.
Nick mengacuhkannya, ia hanya memunggungi Alice yang dilihatnya seperti orang kebingungan. Namun tiba-tiba tangan Alice meraih pundak Nick dengan kasar, ia mulai meminta Nick untuk membalikkan tubuhnya. Nick pun berbalik, ia menatap wajah Alice yang saat ini terlihat memicingkan senyum kesalnya.
"Ada apa lagi Nona?" tanya Nick sambil mengedikkan bahunya.
Alice menautkan kedua alisnya dengan wajah yang menatap remeh ke arah Nick.
"Coba lihat ini, Tuan sok pintar tapi bodoh!" ucap Alice sambil menunjuk sebuah pintu kamar dengan angka 16 yang tertera di sana.
Nick melihat pintu kamar itu, wajahnya kini tampak heran tak percaya dengan apa yang kini dilihatnya.
"Bagaimana bisa ada nomor yang sama?"
__ADS_1
Alice mulai mendekat kembali ke pintu kamarnya, dengan menyentuh angka 6 yang kemudian ia putar angka itu, hingga membentuk angka 9.
"Kau lihat ini!"
Nick terperanjat kaget.
"Berarti aku yang salah masuk, bukan wanita itu, bodoh sekali kau Nick," gerutu Nick merutuki kebodohannya.
"Sekarang aku akan melaporkanmu pada Manager hotel ini dan aku tidak akan melepaskanmu," kesal Alice sambil menunjuk wajah Nick.
Raut wajah Nick kini sudah berubah menjadi pucat pasi saat ini, seperti tidak ada darah yang mengalir ke dalam otaknya.
Namun tiba-tiba sebuah ide terbesit dalam pikirannya. Wajahnya kini kembali mengeras, seolah menantang Alice.
"Lapor saja, aku tidak takut! Paling aku tinggal balik melaporkanmu, bahwa kamu itu melecehkanku dengan menyentuh kemaluanku tanpa izin."
Sontak perkataan Nick membuat Alice semakin geram. Ingin rasanya ia memukul pria menyebalkan yang kini ada dihadapannya itu, namun apa daya perkataan Nick mampu menyiutkan nyalinya.
"Benar juga, nanti aku sendiri yang akan malu, lagipula dia tidak sengaja masuk ke kamarku, kalau bukan karena angka itu yang jatuh. Sial sekali aku ini, harus menyentuh sesuatu yang bukan milik suamiku, membayangkannya kembali saja langsung membuatku jijik."
Alice menajamkan tatapan matanya ke arah Nick yang kini terlihat sangat santai.
"Baik, kita lupakan semua yang sudah terjadi, anggap saja kamu tidak pernah masuk ke kamar ini, begitu juga aku, aku akan menganggap tidak pernah masuk ke dalam bathroom itu!"
Nick tersenyum dengan wajah penuh kemenangan, karena dia merasa puas berhasil lolos dari ancaman Alice.
Alice kembali masuk ke dalam kamarnya dan langsung membanting pintu dengan keras.
"Sial, pakaian dan kartu akses masuk ke kamar masih tertinggal di dalam."
Nick kembali mendekati kamar Alice, ia mencoba mengetuk pintu dengan perlahan. Namun setelah lama mengetuk, Alice masih belum membukakan pintunya juga, sampai akhirnya, terlintas di dalam pikirannya, meeting dengan Rafael yang sebentar lagi akan berlangsung di hotel ini.
"Sial aku bisa telat ini!"
Nick kehilangan kesabarannya, ia semakin menambah tenaganya, hingga suara ketukan terdengar sangat keras. Tak lama Alice membukakan pintu sambil membuang seluruh pakaian beserta kartu akses kamar milik Nick dan langsung menutupnya kembali, kali ini dengan suara yang terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Nick dengan cepat memunguti pakaian yang teronggok sembarang di dasar lantai. Setelah mengambil kartu akses kamarnya, ia menuju kamar dan langsung membuka pintu kamar, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk, namun sebelum menutup pintu pandangannya masih menatap ke arah kamar Alice.
"Wanita itu sungguh luar biasa. Pengalaman tadi sangat berkesan untukku, aku tidak mungkin melupakannya, tapi seandainya itu Alexa pasti akan lebih sempurna."
Nick akhirnya menutup pintu kamarnya dengan pelan untuk masuk ke dalam.
🏵️🏵️🏵️
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih ya.
Jangan kendor dengan like dan komentarnya agar aku selalu semangat dalam berkarya.
__ADS_1