Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Pipi Chubby


__ADS_3

Selamat membaca!


1 Bulan kemudian.


Suasana pagi yang begitu indah, hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana Raymond libur dari segala aktivitas kantor dan ia mempunyai rencana akan mengajak Alice ke suatu tempat yang indah di Jakarta.


Namun walau waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 tak ada tanda-tanda dari keduanya akan terjaga, mereka masih terlelap dalam tidurnya. Ya maklum saja, karena pasangan yang sedang berbahagia ini semalam telat untuk tertidur. Olahraga malam yang mereka lakukan membuat keduanya terjaga hingga dini hari. Tak ada lagi nafsu yang menggebu, Raymond lebih bermain dengan sentuhan lembut dan romantis, sangat berbeda dari kebiasaan yang sering dilakukannya, semua bisa ditinggalkan demi kedua buah hati yang kini berada di dalam kandungan Alice. Wanita yang kini begitu dicintainya melebihi apapun.


Alice sudah mulai bergeming dari posisi tidurnya, namun masih dalam keadaan memeluk tubuh Raymond yang bertelanjang dada. Alice mengerjapkan mata dengan perlahan lalu membukanya, kemudian ia menatap wajah Raymond yang kala itu masih tertidur dengan lelap.


"Terima kasih ya sweetu, kamu sudah menjadi suami yang baik untukku dan calon anak-anak kita."


Alice mulai memindahkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu merapikan selimut yang tampak berantakan untuk menutupi tubuh Raymond sampai ke lehernya. Sebelum pergi, Alice yang masih terus menatap kagum wajah suaminya, memberikan kecupan mesra pada pipi Raymond.


"Aku mencintaimu," ucap Alice dengan suara berbisik.


Alice mulai berjalan menuju bathroom untuk mandi dan menyegarkan dirinya.


Ia menyentuh handle pintu bathroom dan membukanya dengan lebar. Alice masuk dan sejenak berdiri di wastafel untuk sekedar bercermin.


Alice mematung di depan cermin, meneliti setiap inci wajahnya, mulai dari kening, mata, dagu, hingga ketika memandang pipinya Alice menyadari, bahwa kini pipinya mulai terlihat lebih chubby dari sebelumnya. Alice mencubit pipi chubbynya dengan sedikit rasa kesal.


Ya ampun sepertinya aku mulai gendut.


Alice menjadi cemas, terbesit kekhawatiran terlihat dari gurat wajahnya yang langsung berubah secara drastis.


Kalau aku tidak cantik lagi, apakah sweetu masih akan setia padaku.


Alice menjadi kurang percaya diri.


Sebaiknya aku harus mengurangi porsi makanku dan aku tidak mau minum susu lagi.


Alice meneruskan langkah kakinya, untuk masuk ke dalam bathtub, menyegarkan diri dengan berendam air hangat yang selalu berhasil mengusir kepenatannya. Alice mulai menikmati hangatnya air yang kini meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Sekejap itu dapat melenyapkan rasa cemas yang kini sedang bergelayut dipikirannya, walau hanya sesaat.


30 menit sudah Alice melakukan segala aktivitasnya di bathroom. Ia akhirnya keluar dan melangkah menuju almari untuk berpakaian.


"Hari ini sweetu akan mengajakku keliling Jakarta, jadi aku harus terlihat cantik walau aku sekarang sudah kelihatan gemuk."



Setelah berkutat dengan kebimbangan dalam memilih pakaian untuk dikenakannya, akhirnya Alice menemukan sebuah pakaian yang sangat disukainya. Ia pun mulai mengenakan pakaian itu.


Kini Alice sudah terlihat cantik dengan make up yang merona di kedua pipinya. Bibirnya yang merekah terlihat semakin sexy dengan warna merah yang membalut bibirnya.


Semoga rambut ini dapat menutupi pipi chubbyku.


Alice sengaja mengurai rambutnya yang indah, membaginya dua sisi sampai ke depan bahunya. Sejenak dia mematung di depan cermin, masih kurang percaya diri dengan penampilannya.


Di saat Alice semakin tenggelam dalam rasa cemasnya, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya, memberi dekapan hangat pada tubuh Alice.

__ADS_1


"Kamu ini mengagetkan aku saja," ungkap Alice sedikit cemberut.


"Lagian kamu kenapa melamun sambil bercermin seperti itu?" tanya Raymond yang masih mendekap dan meletakkan wajahnya di bahu Alice.


Mendengar pertanyaan itu, Alice langsung melepas dekapan tangan Raymond.


Ia mulai mengerutkan keningnya untuk memberitahu pada suaminya apa yang saat ini dipikirkannya.


"Coba kamu lihat, pipiku tidak setirus dulu saat sebelum hamil, aku sudah semakin chubby," ungkap Alice dengan gelisah sembari menunjuk kedua pipinya.


Raymond mulai meneliti dan menatap wajah Alice lebih dalam, ia fokus pada bagian yang Alice tunjuk.


"Apanya yang chubby, sweety, itu hanya perasaan kamu saja, kamu itu masih sangat cantik, lihat dong," tutur Raymond diakhiri dengan sebuah penekanan, sembari meminta Alice untuk melihat dirinya di cermin.


Alice melihat cermin yang memantulkan keseluruhan tubuhnya dari akar rambut sampai ujung kakinya.


"Kamu itu sempurna sweety, tidak ada yang sanggup mensejajarkan kesempurnaanmu kecuali bidadari, percaya sama aku."


Kalimat yang diucapkan oleh Raymond, menggetarkan hati Alice, wajahnya bersemu merah menahan malu yang kini menyelimuti dirinya. Pujian yang seolah menerbangkan Alice ke awang-awang, membuatnya merasa beruntung memiliki suami yang begitu romantis.


Kegelisahan yang sempat hinggap di hatinya, sekejap berlalu tanpa permisi. Wajahnya kini tampak kembali berseri dengan mata yang berbinar, terpancar tegas dari kedua matanya bahwa kini ia sudah kembali bahagia.


Setelah melihat expresi wajah istrinya sudah kembali ceria, Raymond segera menuju bathroom.


Sementara Alice melangkah untuk menuju dapur, menyiapkan makanan untuk suaminya. Namun baru saja ia keluar dari kamar, Alice terkejut ketika melihat Risfa sudah berdiri, dengan segelas susu putih di tangan kanannya.


"Selamat siang, Nona Alice," sapa Risfa seraya membungkuk hormat.


"Nona minum dulu susunya, sudah sejak pagi aku menunggumu bangun," tutur Risfa kakinya agak gemetar karena sudah sejak jam 08.00 pagi ia menunggu Alice di depan kamar.


"Ya ampun Risfa, kamu tidak perlu melakukan itu, lain kali tunggulah di bawah, jika aku memintamu untuk membuatkannya maka buatkan, jika tidak ya jangan buatkan, oke!" titah Alice agak sedikit tegas, namun semua itu terucap karena ia tidak mau jika Risfa terlalu berlebihan menghormatinya.


"Oh ya satu lagi, tidak perlu membungkuk untukku," kata Alice sambil mengambil gelas yang berisi susu putih dan langsung meminumnya sampai habis tak tersisa. Alice kembali memberikan gelas yang sudah kosong kepada Risfa. Ia kembali meneruskan langkahnya menuruni anak tangga.


Risfa dengan sigap langsung melangkah melewati Alice, ia kini sudah berada di depan Alice saat menuruni anak tangga. Tiba-tiba terbesit dipikirannya semua yang dikatakan oleh Raymond, membuat Risfa menjadi takut jika melanggar salah satunya.


"Jika sampai sesuatu terjadi pada Nona Alice, aku yang akan mendapatkan hukuman yang berat dari Tuan Raymond," gumam Risfa yang berdesir gugup karena rasa takutnya kini sudah menguasai pikirannya, karena dihantui semua perkataan Raymond.


Risfa terus melangkahkan kakinya, dengan perlahan mengikuti irama langkah kaki Alice, yang terlihat lihai menuruni anak tangga yang mempunyai bentuk sedikit berbelok di bagian bawahnya.


"Aduh Nona Alice pelan-pelan dong, aku kan takut Nona jatuh, kalau Nona sampai jatuh, habis aku," gerutu Risfa di dalam hatinya.


Alice langsung berlalu melewati Risfa yang sudah dapat bernafas dengan lega.


Tegang, tegang, kaya lagi nonton film horor.


Namun saat Alice menoleh ke arah Risfa membuat pandangannya tak lagi melihat langkahnya, tiba-tiba Alice bertabrakan dengan Siti, yang membuat Siti jatuh hingga tersungkur ke mencium lantai.


Risfa dengan cepat berlari menghampiri Alice yang mengaduh sakit pada bagian lengannya.

__ADS_1


"Nona Alice gak apa-apa kan, ya ampun Nona jangan kasih tahu Tuan Raymond ya, kalau Nona habis ditabrak Siti, nanti aku bisa dimarahin, Tuan."


"Udah Risfa kamu gak usah cemas sama aku, aku tuh gak apa-apa, mending kamu khawatir sama Siti, dia sampai jatuh begitu," tutur Alice memberitahu Risfa, kemudian ia melihat keadaan Siti yang masih tergeletak di dasar lantai, "Siti kamu gak apa-apa kan, maaf ya saya tadi gak lihat kamu."


Alice membantu Siti untuk kembali berdiri.


"Dasar Siti, coba kalau Nona Alice jatuh dan kandungannya kenapa-kenapa, aku yang digantung sama Tuan Raymond," gumam Risfa melihat Siti dengan sinis.


"Saya gak apa-apa Non, maaf saya gak lihat Nona Alice lewat," ucap Siti dengan membungkukkan sedikit tubuhnya untuk meminta maaf.


Alice tersenyum memaafkan Siti karena memang situasinya Alice yang kurang memperhatikan jalan, karena sedang menoleh ke arah Risfa. Alice melanjutkan langkahnya meninggalkan Siti dan Risfa, untuk menuju ke dapur.


"Benar gak apa-apa Siti? Mau ke rumah sakit gak?"


Wah Risfa ternyata baik banget ya, dia perhatian sama bawahannya.


"Gak usah, gak apa-apa benar kok saya baik-baik aja," jawab Siti dengan senyum polosnya.


Risfa tersenyum tipis.


"Biar diperiksa kali aja ada luka dalam atau ada yang harus diamputasi," ledek Risfa dengan ketus.


Siti tersedak salivanya sendiri, ia langsung ketakutan dengan tatapan sinis yang ditujukan kepadanya.


"Saya permisi dulu ya."


Siti dengan cepat berlalu dengan langkah tergesa.


"Masa iya cuma jatuh begitu doang harus di amputasi segala, mending di amplopin kek gitu, salam tempel," gerutu Siti terus mengoceh sebel kepada Risfa.


Risfa masih menatap kesal langkah Siti yang semakin jauh darinya.


Aneh Tuan Raymond, kenapa dia mau memperkerjakan orang aneh begitu ya.


Risfa kembali menyusul Alice yang sudah lebih dulu pergi, dengan setengah berlari.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Di depan perumahan Green Andara, pinggir tol.



Sebuah mobil sudah terparkir seperti menunggu seseorang. Mobil dengan kaca yang gelap tidak dapat terlihat siapa yang berada di dalamnya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Ikuti terus kisah selanjutnya, karena akan memasuki episode-episode tegang, jadi jangan lewatkan ya. Tetap beri dukungan kalian dengan like, komentar dan vote ya.

__ADS_1


Aku up lagi nanti malam ya. Terima kasih.


__ADS_2