Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Tersadar


__ADS_3

Selamat membaca!


Tinggalkan like sebelum membaca dan komentar sesudah membaca ya. Terima kasih.


🍁🍁🍁


8 jam sebelum keberangkatan Alice.


Raymond terlihat masih berkutat dengan kesibukannya di ruangannya.


Sudah sejak detik ini, Greta secara resmi diperkenalkan sebagai asistennya yang baru menggantikan posisi Elliot. Bahkan kini Greta sudah bertahta di ruangan Elliot dengan akses penuh ke semua data rahasia MANGO Corporate, yang kini berada dalam genggamannya.


"Sebentar lagi Tuan Will, semua penemuan Raymond Weil akan menjadi milik perusahaan kita juga, tapi permainan ini baru saja di mulai, sebentar lagi kita akan sama-sama menyaksikan detik-detik kehancuran seorang CEO yang bodoh," gumam Greta terkekeh membayangkan semua rencananya, ternyata dengan mudah tak dicurigai oleh Raymond sedikit pun.


🍁🍁🍁


Ruangan Raymond.


Pintu ruangan berbunyi, setelah Raymond berseru dengan perintahnya, barulah Brisca memasuki ruangannya.


"Tuan, 10 menit lagi meeting akan segera di mulai, semua berkas mengenai agenda meeting nanti sudah saya letakkan di meja Tuan Elliot, maaf Tuan, maksud saya Nona Greta,"


Raymond menyela ucapan Brisca.


"Untuk apa kamu memanggil Greta dengan sebutan Nona, memang kamu pikir dia istriku, panggil saja namanya! Posisi kalian saat ini sama," ketus Raymond tegas memberi perintah kepada Brisca, ia tidak suka dengan apa yang didengarnya.


Wanita jal*ng itu seenaknya, merasa bertahta di perusahaan ini.


Entah kenapa, secepat ini aku langsung tidak menyukainya ya.


"Baik Tuan maafkan saya, hanya saja Nona Greta sendiri yang memberi perintah seperti itu Tuan," tutur Brisca sambil membungkuk hormat.


Raymond semakin geram mendengar perkataan Brisca.


"Tuanmu, saya atau dia, Brisca?" tanya Raymond dengan menajamkan sorot matanya.


"Tuan Raymond," Brisca menjawab dengan terbata.


"Jadi ikuti segala perintah saya, oke!" geram Raymond lalu mulai beranjak menuju ruang meetingnya, dengan menggunakan masker untuk menutup memar di ujung bibirnya.


Raymond baru saja tiba di ruang meeting, di sana tampak Greta yang sudah mengganti pakaiannya, sudah bersiap mengikuti meeting yang akan berlangsung.


Di tengah-tengah agenda meetingnya, pikiran Raymond tidak dapat fokus dan selalu tertuju pada Alice.


Brisca menghentikan kalimatnya sambil mengerutkan kening, saat melihat lawan bicaranya bahkan tidak memperhatikan susunan kalimat, yang dengan panjang lebar diucapkannya.


Mata Brisca memandang ke wajah Raymond dengan heran. Tidak seperti biasanya Raymond yang selalu penuh konsentrasi, workaholic dan penuh vitalitas dalam bekerja seolah tak ada lelahnya, hari ini berkebalikan seratus delapan puluh derajat dibanding Raymond biasanya yang arogan.


Raymond terlihat kacau seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, hingga membuatnya tidak dapat fokus.


Brisca tampak cemas terus menatap Raymond.


"Apakah anda baik-baik saja, tuan? Apa perlu saya memanggilkan dokter pribadi anda untuk datang ke sini?" tanya Brisca dengan kalimat formal, namun dengan suara pelan, ia tidak mau klien-klien yang masih mendengar persentase Greta menjadi terganggu.


Raymond menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Brisca, ekspresinya dingin seolah terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


"Kamu pikir aku sakit? Apa aku terlihat lemah hingga kamu menyuruhku memeriksakan diri?" jawab Raymond dengan mengontrol suaranya agar terdengar pelan.


"Eh, tidak Tuan, bukan begitu namun dari wajah Anda yang pucat, nampak sepertinya Anda sedang mempunyai masalah, Anda tidak fokus seperti biasanya, Tuan," ungkap Brisca menjabarkan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Raymond menyadari semua yang dikatakan Brisca memang ada benarnya. Ia berpikir sejenak untuk membuat keputusan.


Setelah ia meyakini apa yang akan dilakukannya. Raymond mulai kembali berbicara kepada Brisca, yang sudah sedari tadi menunggunya.


"Brisca aku ingin meeting hari ini dilaksanakan dengan singkat, buang basa-basi yang tidak perlu dan aku ingin perjanjian kerja sama dengan Perusahaan Oscar dilakukan secepatnya!" titah Raymond dengan wajah datarnya.


"Baik tuan, tapi bukannya nanti siang ada jamuan makan siang di Restoran Phoenix dengan klien kita yang lain, sekaligus membahasa rencana bisnis untuk bulan depan," ujar Brisca mengingat jadwal yang terlupakan oleh Raymond.


Raymond tersadar lalu menepuk keningnya pelan. Ia akhirnya berpikir kembali.


Raymond menghela napasnya kasar, membuang beban yang terasa menyesakkan dadanya. Ia teringat kembali tentang kejadian saat dirinya, melupakan keberadaan Alice di ruang pribadinya. Kejadian yang selalu menghantui pikirannya dan mengganggu semua aktivitasnya.


"Aku harus mencari keberadaan Alice, Daddy pasti akan sangat marah jika aku pulang tidak bersama dengannya," gumam Raymond mendesah kasar.


"Brisca cancel saja jadwal ke restoran itu, katakan pada Mr. Rudolf saya sedang tidak enak badan, ubah jadwalnya seminggu kemudian, karena hari ini saya ada urusan yang lebih penting daripada undangan makan siang itu." tutur Raymond memberi perintah.


Brisca mau tak mau menuruti segala perintah Raymond dan langsung mengirim pesan kepada assisten Mr. Rudolf mengenai pembatalan sepihak yang Raymond perintahkan.


"Kamu lanjutkan meeting ini, saya harus pergi sekarang, handle semua urusan kantor berdua dengan Greta ya!" titah Raymond sambil melengos meninggalkan ruang meeting.


Greta melihat Raymond yang tergesa-gesa meninggalkan ruang meeting.


Mau kemana kira-kira Tuan Raymond.


Raymond mempercepat langkahnya, ia menaiki lift khusus yang memang tersedia untuknya. Setelah sampai di lobi kantor ia memerintahkan salah satu stafnya untuk memanggil Albert.


"Sulit juga ternyata bila tidak ada Elliot. Lalu kemana aku harus mencari Alice? Semua akses masih Elliot yang pegang," gumam Raymond kesal.


Sebenarnya bisa saja Raymond menghubungi Elliot dan meminta maaf untuk meminta akses GPS Alice berada, tapi rasanya itu sangat tidak mungkin untuk dilakukannya, harga diri dan ego yang begitu besar masih terus dijunjung setinggi langit oleh Raymond.


Raymond mendesah kasar, kejadian tadi pagi saat Alice keluar dari ruang pribadinya dengan kesal masih terus menghantui pikirannya.


Tekad Raymond sudah bulat, wajahnya mengeras penuh keyakinan, kali ini dalam benaknya hanya satu, ia harus menemukan Alice dan membawanya kembali pulang.


Raymond mengepalkan tangannya dengan erat dan menendang udara kencang-kencang.


Mobil mewah Raymond sudah tiba di depan lobi. Albert langsung turun dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Raymond.


"Silahkan Tuan," ucap Albert sambil membungkuk hormat.


Setelah Albert menutup kembali pintu mobilnya, ia segera masuk dan duduk di kursi kemudinya, dengan cepat melajukan mobilnya, membelah lalu lintas kota London yang terlihat renggang.


Albert terus mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan yang jelas.


Sebenarnya ini mau kemana.


Jika aku bertanya apa Tuan Raymond tidak akan marah.


Wajahnya kelihatan tampak kusut hari ini, aku tidak mau terkena imbas dari kekesalannya.


Albert terus menggerutu dalam hatinya, tanpa mengurangi kecepatannya, walau tidak ada arah tujuan yang jelas.


Raymond masih terus berpikir, hingga tiba pada satu keputusan yang di luar dari kebiasaannya, walau dengan hati bimbang.


Raymond mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu mulai membuka suaranya untuk memberikan perintah pada ponsel canggihnya.


"Hubungi Elliot!"


"Kenapa tidak di angkat?" kesal Raymond terlihat sangat geram, karena ia tak nyaman menunggu.

__ADS_1


Setelah beberapa kali ia terus menelpon, akhirnya suara Elliot mulai terdengar dari seberang sana.


"Ada apa?" tanya Elliot dengan ketus.


Raymond hanya terdiam tanpa bersuara sedikitpun. Egonya kembali mengunci mulutnya, membuat pertanyaan Elliot yang sudah terdengar tak terbalas kata.


"Tidak usah pikirkan Alice lagi, aku akan membawanya pergi dari London dan surat perceraian akan segera datang ke rumahmu, tunggu saja!" tutur Elliot walau ia tak dapat jawaban dari Raymond tapi ia yakin Raymond mendengar ucapannya.


Raymond mematikan teleponnya dengan kesal.


Entah kenapa batinnya terasa berkecamuk. Pergolakan hebat dalam dirinya membuat egonya lenyap bagai debu. Wajah arogan yang angkuh, seketika pudar oleh rasa pedihnya.


Raymond menahan dengan kuat rasa sakitnya. Matanya tiba-tiba mulai memerah dan basah. Sesekali ia menyeka bulir bening di ujung matanya.


Wajah Raymond tak lagi dapat mendongak naik, ia hanya tertunduk dengan kesedihan yang begitu larut, terlihat dari wajahnya.


Alice akan pergi.


Apa ini akhir pernikahanku?


Raymond teringat semua hal yang pernah dilewatinya bersama Alice.


Mulai dari awal pertemuannya.


Waktu Alice ke kantor MANGO Corporate dan Raymond memberitahu Elliot adalah Raymond.


Sampai kejadian di malam pertamanya.


Saat dirinya memandangi tubuh indah Alice.


Yang paling membuatnya terkejut adalah ketika Alice ingin memberikan padanya saham Nicholas.


Semua memori itu bergantian menyelinap hadir di dalam ingatannya.


Kenapa aku sangat kehilangannya ya?


Apa aku sudah mencintainya?


Kesedihan Raymond memuncak, saat ia teringat telah mengkhianati pernikahan yang baru satu hari dijalaninya.


Beberapa kali Raymond menghentakkan kepalan tangannya ke pintu mobil, membuang rasa kesal yang sudah begitu meresahkannya.


Albert terhenyak mendengarnya, ia coba melindungi dirinya dengan tidak bertanya pada Raymond.


Walau suara itu sudah sering ku dengar tapi kenapa setiap kali mendengarnya, jantungku masih terasa mau copot ya.


Albert menghela napasnya dalam.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Ikuti terus perjalanan Raymond dalam menemukan Alice, apakah Raymond sudah berubah? Apakah sedikit cinta yang ia rasakan untuk Alice, dapat membuatnya menjadi suami yang baik?


Bagaimana dengan pernikahan mereka?


Ditunggu kelanjutannya ya.


Terima kasih, sehat selalu semua 😍

__ADS_1


__ADS_2