Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Stadium 4


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice sudah terlihat duduk di bangku riasnya, berhadapan dengan cermin yang memantulkan wajah cantiknya. Tangannya sudah memegang kotak foundation untuk mulai merias wajahnya. Namun baru saja Alice mengoleskan foundation ke separuh wajahnya, tiba-tiba ponsel Alice berdering membuat Alice mengesah pelan.


Alice menatap layar ponselnya sembari mengerutkan dahinya, karena nomor si penelpon tidak ada dalam daftar kontaknya. Tanpa pikir panjang Alice menjawab panggilan itu.


"Halo, dengan siapa ini?" tanya Alice penasaran.


"Halo Alice, ini aku Mike. Maaf aku menghubungimu lagi, tapi ini darurat dan sangat mendesak. Bisakah kamu dan Raymond bertemu denganku dan Jenny di Restoran Van Den Bosch?" tanya Mike dengan tergesa.


Alice sesaat terdiam, dirinya semakin penasaran dengan maksud dan tujuan Mike.


"Baik aku akan datang," jawab Alice dengan wajah datarnya.


"2 jam lagi ya, tolong jangan sampai tidak datang! Terima kasih Alice," ucap Mike dari seberang sana sambil mengakhiri sambungan teleponnya.


Alice kembali melanjutkan aktivitasnya, namun ia begitu ragu apa suaminya mau untuk menemui Mike.


"Sebaiknya aku coba bicarakan ini dengan sweetu atau sebaiknya aku tidak usah memberitahunya," gumam Alice menimang-nimang langkah yang akan diambilnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Nick sudah berada di dalam lift bersama Dave. Keduanya menuju ruang meeting yang memang tersedia dan menjadi salah satu keunggulan dari fasilitas yang ada di hotel bintang 5 ini. Pintu lift terbuka, keduanya segera keluar dan langsung menuju ke arah ruang meeting. Sesampainya di ruang meeting sudah tampak terlihat Rafael dan beberapa stafnya sudah berada di sana.



Ruang meeting yang terbuat dari material kaca yang dapat terlihat dari arah luar ruangan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah selesai merapikan diri. Alice keluar dari kamar dan langsung menuju ke arah lift. Sesampainya di depan lift, tak berapa lama pintu lift terbuka, Alice pun melangkahkan kakinya untuk masuk. Pintu lift kembali tertutup dan mulai turun ke lantai dasar. Saat lift terdengar berbunyi, yang menandakan bahwa lift sudah berada tepat di lantai yang diinginkan, pintu lift pun terbuka, Alice keluar untuk menuju lobi.


Saat melewati sebuah ruangan kaca yang ada sebelah kanannya, Alice tampak melirik ke arah ruang kaca tersebut, namun tanpa disangka kedua matanya menangkap sebuah objek yang sebenarnya tak ingin dilihatnya kembali.


"Itu kan pria menyebalkan itu," ucap Alice pelan dengan wajah yang kini berubah menjadi tak biasa.


Alice mendekati ruang kaca itu lebih dekat, untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nick. Alice berdiri mematung di depan pintu kaca yang menampakkan keadaan di dalam dengan begitu jelas.


"Jadi dia adalah CEO di perusahaan itu," batin Alice yang menguping segala percakapan yang sedang terjadi di dalam.


Keberadaan Alice ternyata mendapat perhatian dari Dave, ia beranjak dari kursinya untuk menghampiri Alice yang terus mengamati Nick. Melihat kedatangan Dave, Alice dengan cepat berlalu meninggalkan ruang kaca tersebut, langkah Alice begitu panjang hingga membuat Dave terlambat untuk mendekatinya.


Dave membuka pintu kaca itu, kemudian keluar dari ruang meeting, pandangannya tetap tertuju pada punggung Alice yang kini semakin menjauh.

__ADS_1


"Aneh wanita itu siapa sebenarnya? Pasti ada hubungannya dengan Tuan Nick, entah hal apa lagi yang dilakukannya?" gumam Dave dengan penuh selidik.


Dave kembali ke dalam ruangan, bersama segala pikiran yang kini membuatnya penasaran, tentang sosok Alice yang sedari tadi memerhatikan Nick dari depan ruang kaca.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Alice menunggu kedatangan Raymond di lobi hotel, baru lima menit menunggu, mobil mewah yang dikendarai oleh Albert sudah tiba di depan lobi.


"Sweety, masuklah!" titah Raymond yang duduk di belakang sambil membuka kaca mobil.


Alice mengangguk dan masuk ke dalam mobil setelah petugas valet membukakan pintu mobil untuk Alice.


"Terima kasih," ucap Alice sembari menganggukkan kepalanya pada petugas valet yang sudah membantunya.


"Kembali kasih, Nona."


Raymond tersenyum melihat sikap ramah Alice pada semua orang yang membantunya, dalam hati Raymond tak pernah menyesal memilih Alice untuk menjadi pendampingnya pada saat pertama kali mereka bertemu. Alice adalah sosok yang mampu merubah kpribadian Raymond yang terkenal anguk dan arogan.


Kemudian tangan kanan Raymond memeluk tubuh Alice dan menyandarkan kepala istrinya di bahunya, lalu bibirnya mengecup lembut kening Alice.


"Kita mau kemana sweety?" tanya Raymond yang belum tahu kemana istrinya itu mengajaknya.


"Kita mau makan siang di restoran Van Den Bosch, aku lagi pengen makan di sana," jawab Alice berbohong, ia memilih untuk tidak berkata jujur pada suaminya, bahwa ia ingin mempertemukan Raymond dengan Mike.


Seorang pelayan menghampiri keduanya untuk melayani.


"Selamat siang Nona dan Tuan, mau duduk di sebelah mana?" tanya salah seorang pelayan itu dengan ramah.


"Saya mau keliling dulu ya, soalnya mau cari tempat yang pas," jawab Alice karena ia harus mencari dimana Mike dan Jenny menunggunya.


Alice menarik tangan suaminya untuk mengikuti langkah kakinya. Sementara pelayan itu hanya tersenyum mengiringi langkah keduanya.


"Sweety, kita duduk di private room paling atas saja."


"Boleh sih, tapi aku pengen cari yang pas dulu ya."


Alice mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh meja yang berada di resto ini, hingga akhirnya kedua bola matanya menemukan objek yang memang sudah sedari tadi dicarinya.


"Sweetu, kita duduk di sebelah sana aja yuk. Kayanya tadi aku lihat ada Jenny sahabat aku sewaktu kuliah dulu."


Raymond mengerutkan keningnya, ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh dari diri istrinya saat ini.


Alice menarik tangan Raymond, untuk menuntunnya menuju meja dimana Mike dan Jenny, sudah menunggu kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


Mata Raymond memicing melihat siapa yang ada di sana, sorot matanya tajam penuh selidik menatap ke arah dua sosok yang memang dikenalnya.


Hawa kebencian mulai menyelimuti pikiran Raymond, ia akhirnya mencoba menghentikan langkah Alice yang terus membawanya menuju meja tempat Mike dan Jenny berada.


"Aku tidak mau!"


Raymond menatap tajam wajah Alice dengan rahang yang mengeras.


"Maafkan aku sweetu, jika aku jujur padamu, aku sangat yakin kamu akan menolak untuk aku ajak ke tempat ini, aku mohon kali ini saja turuti keinginanku dan dengarkan apa yang akan disampaikan oleh Mike."


Raymond terlihat geram dengan Alice, namun sentuhan tangan Alice pada rahang wajahnya, mampu melunakkan amarah yang kini menguasai dirinya.


Raymond mengesah kasar. Ia akhirnya kembali mengikuti langkah Alice, walau dengan keterpaksaan.


Melihat kedatangan Raymond dan Alice, Mike bangkit dari duduknya, untuk mempersilahkan keduanya menempati dua buah kursi yang berada dihadapannya.


"Selamat siang Ray, siang Alice. Ayo silahkan duduk!" sapa Mike dengan ramah pada keduanya, kali ini Mike lebih tenang menepikan rasa dendamnya demi Claire yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Raymond dan Alice akhirnya duduk bersebrangan dengan Jenny dan Mike.


"Perutmu sudah besar Jenny, sepertinya kita sama ya?"


"Ya begitulah Alice, kamu apa kabar?" tanya Jenny yang sudah lama sekali tak menegur sapa dengan sahabatnya itu.


"Aku baik Jenn, aku bahagia melihatmu dan Mike akhirnya menikah, bahkan sekarang kamu sudah hamil dan akan segera melahirkan."


Mike melirik ke arah Alice mendengar perkataannya, di satu sisi hatinya masih tersimpan dengan rapat, rasa cinta yang dulu begitu indah untuk Alice.


"Sebenarnya impianku adalah menikah denganmu Alice, tapi aku bersyukur Jenny adalah istri yang baik, walau ini tak mudah untukku, tapi saat ini aku sudah dapat mencintai Jenny."


Jenny menatap wajah suaminya yang kini melamun memandangi Alice. Satu gerakan tangan Jenny sambil menggenggam tangan Mike, langsung membuyarkan tatapan mata yang sedari tadi membuat Raymond mampu membaca tatapan Mike yang tertuju ke arah istrinya, membuat Raymond tersulut emosi.


Raymond bangkit meraih tangan Alice dengan maksud untuk pergi dari tempat yang hanya membuat hari yang dilewatinya menjadi tak menyenangkan. Alice tak dapat menolaknya, ia pun mau tak mau mengikuti perintah suaminya yang saat ini terlihat begitu emosi.


Melihat kepergian Raymond, Mike langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Mommy Claire sedang kritis, dia menderita kanker stadium 4, bahkan saat ini hidupnya sudah tak lama lagi! Dia sangat ingin bertemu denganmu" tutur Mike dengan lantang, bahkan sampai urat kehijauan nampak jelas pada lehernya.


Langkah Raymond terhenti seketika. Alice yang mendengarnya pun terhenyak begitu kaget.


"Mommy Claire..."


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2