Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Tipu Daya


__ADS_3

Episode ini bisa membuat kalian kesal saat membacanya, tapi ketahuilah di situlah maknanya, berarti aku bisa membuat kalian terbawa larut dengan ceritanya, hingga kalian jadi emosi, tapi jangan berhenti sampai di sini ya, karena kisah Alice ke depannya masih panjang. Semangat sahabatku semua.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


NB : Tolong! Selesai membaca episode ini berkomentarlah tetap yang baik, karena komentar kalian dibaca semua pembaca lainnya, jadi jangan sampai komentar kalian menjatuhkan karyaku ini, karena ketahuilah, saat kalian memutuskan membaca sampai di episode ini, berarti kalian sudah ikut larut dalam perjalanan kisah Raymond dan Alice dan tentunya harus kalian ketahui endingnya. Terima kasih ya.


🍁🍁🍁


Selamat Membaca!


Waktu sudah berjalan 1 jam, selama itu mereka terus bersembunyi di dalam tempat persembunyian mereka masing-masing. Namun Richard tampak begitu kesal, dalam pikirannya ia layaknya seorang pengecut hanya bersembunyi tanpa bisa melawan.


Sial, lama sekali keempat pengawalku datang.


Richard bangkit dari posisi duduknya, dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang mengeras, ia melangkah untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


"Elliot berikan pistol yang kau pegang itu! Aku akan keluar untuk menghabisi mereka semua, kalian diam dan tidak perlu ikut campur, lagipula aku penasaran siapa sebenarnya orang-orang ini."


Elliot mencoba menahan kepergian Richard, namun sama seperti Adiknya, watak keras kepalanya tak bisa untuk dicegah, apalagi jika ia sudah memutuskan sesuatu.


Sementara Risfa dan Albert yang masih sangat ketakutan, hanya bisa menatap nanar kepergian Richard.


Elliot menemani Richard untuk membantunya keluar dari tempat rahasia.


"Berhati-hatilah Tuan Richard, ingat jangan sampai terbunuh!"


Richard tersenyum tipis sambil melangkah keluar. Ia mengedarkan matanya menatap tajam keadaan sekitar.


Mereka tidak mencurigai ruangan ini, di sini aman.


Richard terus melangkah dengan hati-hati, ia mulai beranjak untuk keluar dari ruang perpustakaan, namun baru saja ia mau melangkah terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


Richard kembali bersembunyi masuk ke dalam ruang perpustakaan.


"Kau cari ke sana, aku ke sini," ucap Victor kepada Rex, keduanya pun berpisah arah.


Victor mulai melangkah untuk masuk ke dalam ruang perpustakaan. Sementara Rex menuju ruangan yang ada di sebelahnya.


Baru saja Victor melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perpustakaan, Richard tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang dan dengan cepat Richard memelintir kepala Victor, hingga membuatnya mati seketika, Richard menahan tubuh Victor agar tidak jatuh dan menimbulkan suara gaduh yang akan memancing rekannya yang lain untuk datang. Richard bergegas menyembunyikan tubuh Victor di sudut ruangan, di balik rak buku agar tidak terlihat oleh rekannya.


"Satu done, tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka semua?" gumam Richard yang sudah menyembunyikan tubuh Victor.


Richard keluar dari ruang perpustakaan, ia melangkah sambil berjinjit untuk menuju ruangan di sebelah ruang perpustakaan, sebelum masuk Richard mengintip terlebih dahulu keadaan di dalam ruangan.


Di dalam ada satu orang.

__ADS_1


Richard mulai mengendap-endap secara perlahan mendekati satu orang yang kini terlihat sedang bersantai di sebuah sofa.


Richard mengeluarkan pisau kecilnya, dari balik celananya. Saat sudah dekat dengan posisi pria itu, Richard langsung menghujamkan pisaunya tepat di dada kiri pria itu, hingga suara teriakan hampir keluar dari mulutnya, namun dengan cepat Richard menutup mulut pria itu dengan tangannya.


Pria itu langsung mati seketika dengan berlumuran darah, pisau itu tepat mengenai jantung pria malang itu, hingga membuatnya tak dapat bertahan hidup.


"Dua sudah ku bereskan, entah berapa banyak lagi yang tersisa," gumam Richard sambil keluar dari ruangan dan menguncinya agar tidak ada yang bisa masuk dan melihat pria itu sudah mati dengan bekas tusukan di dada kirinya.


🍁🍁🍁


Thomas menunggu dengan cemas di ruang tengah, amarahnya semakin memuncak, membuat wajahnya terlihat murka, karena ia sudah menghabiskan waktu dengan sia-sia dan tanpa hasil.


"Sial, apa yang harus aku lakukan agar mereka keluar?"


Thomas berpikir keras untuk menemukan sebuah cara. Pandangannya kini terhenti menatap ke arah Greta, seketika sebuah ide langsung muncul di dalam benaknya.


Thomas mulai menodongkan pistolnya ke pelipis Greta, Greta tercekat kaget sambil menelan salivanya dalam-dalam.


"Apa yang kau lakukan Thomas?" ketus Greta bertanya.


"Percayalah, menangis dan memohonlah agar Alice keluar dari tempat persembunyiannya!" bisik Thomas dengan pelan.


Greta menangis terisak, ia meronta dan memohon meminta belas kasihan agar Thomas tidak menembaknya.


"Tolong aku Alice, tolong, mereka akan membunuhku Alice."


"Itu suara Greta, sweetu, kita harus menyelamatkannya!"


Alice beranjak keluar, namun Raymond meraih tangan Alice untuk menahannya agar tidak keluar.


"Jangan sweety, itu jebakan, aku tahu betul siapa Greta, bisa jadi mereka satu komplotan dengan Greta yang mencoba membunuhmu waktu di pulau," tutur Raymond dengan mengerutkan keningnya, ia tampak tidak setuju dengan keputusan Alice.


Alice berpikir sejenak, namun tiba-tiba jeritan Greta kembali terdengar.


"Au sakit, ampun jangan bunuh aku."


"Tolong aku Alice, tolong aku."


"Aku mohon jangan biarkan aku mati, bukankah kau berhutang budi padaku, aku kan telah menyelamatkanmu, Alice."


Semua perkataan dari Greta tampaknya berhasil membuat hati Alice melunak untuk percaya padanya. Alice mengabaikan segala larangan dari Raymond.


"Kamu dengar itu sweetu, Greta sedang kesakitan, aku sudah berhutang budi padanya, dia telah menyelamatkanku, kamu harus ingat itu."


Alice menyibakkan tangan Raymond yang menggenggamnya dengan erat, setelah terlepas dengan tergesa ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Dasar wanita itu memang keras kepala."


Raymond menggelengkan kepalanya begitu kesal dengan apa yang Alice putuskan. Raymond langsung berlari ke depan Alice, dengan tubuhnya ia coba menghalangi jalan Alice untuk keluar.


"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar."


Alice terdiam dihadapan Raymond. Ia berusaha mencari celah agar dapat melewati tubuh suaminya yang saat ini coba menghalanginya.


"Kamu dengar itu, suara Greta semakin keras kesakitan, mereka terus menyiksanya, aku sebagai sesama wanita tidak tega mendengarnya sweetu."


Raymond menangkup kedua sisi wajah Alice dengan lembut. Ia coba memberi penjelasan pada Alice yang saat ini sedang berada dalam tipu daya Greta.


"Dengarkan aku sweety, aku tahu saat ini kamu sedang mengandung dan itu mungkin berdampak buruk pada daya ingat kamu yang semakin menurun, mungkin kamu lupa Greta itu sudah berulang kali selalu menipu kita, jadi tolong kali ini jangan sampai tertipu lagi ya sweety, aku mohon demi keselamatan kedua anak kita."


Alice berpikir keras untuk mencerna semua perkataan Raymond. Namun di saat dirinya ingin menuruti perkataan suaminya, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dari Greta.


"Tolong aku Alice, mereka akan membunuhku, aku mohon Alice selamatkan, au ampun tolong biarkan aku hidup."


Teriakan Greta semakin membuat hati Alice kembali mempercayainya. Wajahnya mengiba memikirkan Greta yang di dalam bayangannya saat ini sedang di siksa dengan begitu sadis, oleh para penjahat yang ada di luar sana.


"Aku harus keluar sweetu."


"Tapi kamu tidak akan bisa keluar, karena aku tidak akan membiarkanmu."


Alice sungguh jengkel dengan Raymond, ia memutar otaknya untuk menemukan sebuah cara, agar bisa lolos dari hadangan suaminya.


Maafkan aku Raymond jr.


Tanpa sebuah aba-aba dan di luar dugaan Raymond, Alice menendang ke arah Raymond jr-nya, tendangan yang tidak begitu keras, namun sudah cukup untuk membuat Raymond meringis kesakitan dan tumbang meringkuk di dasar lantai.


"Auu, sweety, kenapa kamu tendang harta yang paling berhargaku."


Alice menatap dengan perasaan bersalah ke arah Raymond yang saat ini masih kesakitan, ia sebenarnya tidak tega meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti itu, namun demi bisa membalas budi kepada Greta, ia sampai rela menyakiti suaminya sendiri.


Greta terus berteriak kesakitan, ia mengiba, merintih dan menangis terisak membuat Alice begitu kesal dengan para penjahat itu, yang hanya berani kepada wanita.


Alice akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, sementara Raymond masih meringkuk sambil menatap nanar kepergian Alice bercampur dengan rasa kesal.


Sial, aku belum bisa bergerak.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Apakah Alice akan tertangkap?

__ADS_1


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


__ADS_2