Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Lembaran Baru


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah acara pemakaman yang mengharukan. Kini seluruh anggota keluarga Weil sudah berada di ruang tamu. Richard pun terlihat berada di sana dengan seorang wanita yang dulu menjadi duri dalam pernikahan Raymond dan Alice.


"Kamu bagaimana kabarnya Alice?" tanya Greta yang duduk bersebelahan dengan Alice.


Tak ada lagi rasa canggung di antara keduanya, mereka terlihat sangat dekat sekarang, terlebih saat ini rencana pernikahan Greta dan Richard akan segera dilangsungkan sekitar 1 bulan dari sekarang, tampaknya keduanya menunggu Alice melahirkan terlebih dahulu, agar Alice bisa datang karena pernikahan akan diselenggarakan di Australia.


"Aku baik Greta, kamu sendiri gimana? Bagaimana kehidupanmu di Australia, pasti sangat menyenangkan ya di sana?"


"Sangat menyenangkan karena ada Tuan Richard yang sudah merubahku, aku sangat beruntung bisa dicintai oleh orang sebaik dia."


Alice turut bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Greta.


"Selamat ya Greta, akhirnya kamu sudah menemukan cinta sejatimu, cinta yang sesungguhnya, cinta yang hanya dimiliki olehmu seorang. Aku bahagia kamu berjodoh dengan orang sebaik Tuan Richard."


"Ya Alice, aku baru menyadari semua kesalahanku saat bersamanya. Maafkan semua kesalahanku yang banyak melukai hatimu ya, Alice."


"Jangan bahas semua yang sudah berlalu Greta, jadikan semuanya pelajaran penting dalam hidup kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan."


Tiba-tiba suara deheman membuyarkan percakapan kedua wanita yang kini tampak begitu akrab. Richard dan Raymond mendekati keduanya dan langsung duduk bersebrangan.


"Kalian sedang bicara apa?" tegur Richard tiba-tiba sambil duduk bersebrangan dengan keduanya.


Kedua wanita itu menatap ke arah Richard dan Raymond dengan sebuah senyuman.


"Tidak apa-apa sayang, biasalah masalah wanita."


Richard terkekeh mendengar perkataan calon istrinya. Seorang Richard yang dengan besar hati, menerima Greta apa adanya, walaupun wanita itu adalah mantan selingkuhan dari adik kandungnya sendiri. Bagi Richard masa lalu adalah masa lalu, yang terpenting saat ini Greta sudah menunjukkan padanya selama di Australia, bahwa sebenarnya Greta wanita yang baik, hatinya sama lembut seperti Alice.


Raymond mulai melihat arloji pada pergelangan tangannya.


"Kita harus jemput Daddy, ayo kita berangkat!"


"Oke ayo para ladies, percakapan bersambung dulu sekarang kita berangkat," tambah Richard dengan nada candanya.

__ADS_1


Greta dan Alice mengikuti perintah dari para pria yang keduanya mempunyai karisma tersendiri. Mereka berempat pun menuju pelataran rumah, sambil melangkah pandangan Greta dan Raymond sejenak saling beradu di satu titik yang membuat mereka seperti bicara dari hati ke hati.


"Maafkan aku Tuan Raymond, karena terlalu banyak mengganggu kebahagiaanmu dengan Alice, semoga kau mau memaafkanku," gumam Greta dengan sorot mata yang sendu.


Tatapan Greta dibalas sebuah senyuman kecil yang terlihat jelas di wajah Raymond.


"Semoga Greta benar-benar berubah dan hidup bahagia dengan Richard. Aku turut bahagia akan hal itu. Walau aku masih penasaran tentang alasan Richard, kenapa dia mau menikahi Greta dengan segala kejahatan yang pernah dilakukannya," batin Raymond yang menyudahi kebenciannya terhadap Greta, terlebih cerita dari Richard membuatnya yakin bahwa memang Greta sudah benar-benar berbeda dengan yang dulu.


πŸ’πŸ’πŸ’


Di dalam mobil seperti biasanya, Albert sudah bersiap di kursi kemudinya dengan Raymond dan Alice pada kursi belakang. Sementara itu Richard mengendarai BMW merah milik Raymond, bersama Greta.


Kedua mobil mulai meninggalkan pelataran rumah kediaman keluarga Weil.


Alice meraih tangan suaminya, ia coba menguatkan hatinya yang saat ini, Alice tahu jika suaminya masih bersedih atas kepergian ibunya.


"Kamu yang sabar dan ikhlas ya sweetu."


Raymond menatap wajah istrinya dengan lekat, ia melabuhkan sebuah ciuman singkat pada kening Alice sambil mengusap bagian belakang kepala istrinya dengan lembut.


"Pasti sayang, aku akan selalu berada di sampingku, hanya maut yang dapat memisahkan kita."


Baru saja Alice selesai berucap, tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat tubuh keduanya terguncang ke arah depan. Raymond mencermati keadaan istrinya yang mengaduh karena menahan tubuhnya agar tidak terbentur kursi kemudi yang berada di depannya.


"Kau tidak apa-apa Alice."


"Iya sweetu, aku hanya kaget saja."


"Maafkan aku Tuan, mobil di depan itu berhenti mendadak, sepertinya kita menabraknya."


Raymond yang kelihatan gusar dengan kejadian yang telah menimpanya, langsung keluar dari dalam mobil, dengan langkah tergesa menuju ke depan mobil untuk menegur si pengemudi yang mobilnya terlihat rusak di bagian bumper belakangnya.


Raymond mengetuk kaca bagian depan di sisi kursi kemudi dengan keras. Sampai akhirnya kaca mobil itu terbuka.


"Eh Nona, kenapa berhenti mendadak seperti itu!" tegur Raymond dengan lantang.

__ADS_1


Tak lama ternyata Alice juga keluar dari dalam mobil dan langsung meraih lengan suaminya itu, kericuhan yang terjadi sempat membuat lalu lintas menjadi padat, karena mobil keduanya menghalangi kendaraan lain untuk melewatinya.


"Sudah sweetu, ayo kita masuk, mungkin Nona ini tidak sengaja."


Amarah Raymond seketika mereda dengan memandang wajah Alice. Namun ketika suara wanita itu terdengar keras balik menyalahkannya, amarah kembali menguasai diri Raymond.


"Tuan, yang rusak itu mobil saya, kenapa Anda yang marah-marah, Tuan lihat tidak saya berhenti mendadak karena memang ada seorang anak kecil yang nyebrang mendadak."


Pandangan Raymond langsung mencari keberadaan anak kecil seperti yang dikatakan oleh Alexa.


"Ternyata memang benar."


Raymond dapat melihat jelas orangtua dari sang anak sedang memeluk tubuh anaknya yang sepertinya terlepas dari genggaman tangan si ibu.


"Okelah kalau begitu kita anggap ini selesai."


Raymond langsung pergi begitu saja meninggalkan Alexa, sementara Alice hanya melangkah mengikuti suaminya yang menuntunnya kembali menuju mobil. Namun baru dua langkah Raymond dan Alice berlalu, Alexa dengan cekatan berdiri menghalangi mereka.


"Tidak bisa pergi begitu saja, Anda harus mengganti kerusakan mobil saya, atau saya akan laporkan ini kepada pihak kepolisian saja."


Raymond terkekeh lucu mendengar ancaman dari Alexa, dengan sorot mata yang tajam ia menatap wajah Alexa yang sepertinya tak gentar menghadapi Raymond.


"Kau sepertinya tidak mengenalku ya, lapor saja pada polisi, aku tunggu!"


Raymond mengabaikan ancaman Alexa, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dalam mobil, namun sekali lagi Alexa tidak menyerah, dengan gigih ia terus menghalangi langkah Raymond dan Alice.


"Enak saja mau pergi begitu saja, pria sejati itu adalah pria yang bertanggung jawab Tuan, jangan hanya kaya Anda juga harus menunjukkan kebaikan dalam hati Anda."


Perkataan yang mampu membuat Alice kini memihak Alexa, sebagai sesama wanita dirinya begitu paham akan situasi yang saat ini menimpanya.


Alice mengusap lembut lengan kekar suaminya, dengan senyuman ia coba menyarankan suaminya untuk mengganti saja kerusakan pada mobil wanita yang terus menuntut pertanggungjawaban Raymond.


Raymond berdecih kesal. Walau terpaksa ia pun mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan mengambil beberapa lembar dollar untuk diberikan kepada Alexa. Setelah memberikan uang pada Alexa, keduanya meninggalkan Alexa begitu saja.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2