Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Richard Datang


__ADS_3

Selamat membaca!


Deru langkah terdengar kasar memenuhi lorong rumah sakit. Suara tegur sapa dari para petugas medis yang berpapasan dengannya, terelakkan begitu saja tanpa dijawab oleh Raymond. Tatapan matanya terus tertuju ke arah depan dengan sorot mata yang begitu tajam, terlihat dari manik matanya yang berwarna biru, kemurkaan atas apa yang saat ini terjadi.


"Kurang ajar kau Patricia, jika sampai aku tidak berhasil menemukan anakku, aku bersumpah tidak akan memaafkanmu dan Adikmu akan menjadi pelampiasanku."


Raymond kini sudah tiba di depan ruang bayi. Ia membuka pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara tangisan dari para bayi yang seperti terkejut mendengarnya.


Suster pun langsung mengecam tindakan yang Raymond lakukan.


"Maaf Tuan Raymond, Anda harus mengetuk pintu ketika ingin masuk!"


"Kau tidak usah mengajariku sopan santun, kalian yang kerja tidak benar! Apa aku perlu menutup rumah sakit ini dan aku ratakan dengan tanah!"


Ancaman Raymond dengan suara arogannya, membuat kedua suster tercekat kaget, mereka hanya diam dengan wajah yang kini sudah memucat.


"Kalian ini! Kerja tidak ada yang benar, kenapa anakku sampai bisa ditukar oleh seorang wanita yang bernama Patricia!"


Kedua suster itu lagi-lagi dibuat terhenyak kaget, dahi mereka tampak mulai berkeringat, karena semakin tersudut dengan langkah Raymond yang kini sudah tepat berdiri dihadapan keduanya.


"Jawab!" bentak Raymond dengan penuh amarah.


Seorang suster akhirnya mulai teringat akan suatu peristiwa di saat seorang wanita memanggilnya dan suster itu pergi meninggalkan wanita itu sendiri di depan ruang bayi. Setelah menceritakan semua itu, Raymond semakin geram menatap wajah suster itu dengan tatapan murka.


"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau meninggalkan seorang wanita yang tidak kau kenal di ruang bayi dalam keadaan tidak terkunci!"


Suster itu terus meronta-ronta memohon maaf kepada Raymond. Wajahnya sudah penuh dengan bulir air mata dan seorang suster lagi sedang berusaha menenangkan beberapa bayi, yang saat ini menangis karena mendengar amarah Raymond.


Raymond tak menghiraukan suster itu, ia menyingkirkannya dengan kasar dari hadapannya.


"Pergi kau, aku tidak ingin melihatmu!"


Suster itu pergi seketika tanpa berpikir panjang. Bagaimana mereka tidak takut, karena saat ini kedua suster itu dapat melihat jelas, di balik jas yang Raymond kenakan, terdapat sebuah pistol Desert Eagle yang bisa sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa mereka.


Raymond menatap ke dua buah ranjang bayi yang tertulis bahwa itu merupakan kedua anaknya.


"Anakku, aku pasti akan menemukan kalian, tenang saja kalian tidak akan pernah terpisah dari Daddy!"


Raymond mulai memperhatikan ke semua ranjang bayi, ia coba mengenali wajah kedua anaknya yang hanya dilihatnya beberapa detik, saat suster hendak membawanya ke ruang bayi.


"Sial, wajah bayi di sini hampir semua sama!"


Raymond terlihat geram, sampai menggertakkan giginya dengan keras. Beberapa kali ia menghentakkan tangannya ke arah dinding yang berada di dekatnya. Seketika air mata lolos dari kedua mata Raymond. Ia merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi dalam kehidupan Alice, bahkan sampai saat ini pun masih saja ada masalah yang mengganggu kebahagiaan mereka.


"Maafkan aku sweety."


Tak lama sebuah tangan menyentuh pundak Raymond dengan erat.


"Sabar Ray, kita pasti akan menemukan kedua anakmu."


Raymond berbalik. Ia sungguh terkejut saat dilihat Richard kini ada dihadapannya.

__ADS_1


"Aku ada di sini Ray, bahkan Benjamin, Colin, Christopher dan Arnold juga datang, mereka bersama Albert sedang mengisolasi rumah sakit ini, sambil mempelajari rekaman CCTV yang ada."


Raymond tampak tersenyum walau samar, ia menyeka air matanya dan mencoba tegar untuk kuat dalam menghadapi masalah ini. Jujur saja bagi Raymond, kedatangan Richard dan para bodyguard-nya membuatnya sangat tenang dalam menghadapai semua masalah ini.


"Let's fine your baby?"


Richard menepuk bahu Raymond, keduanya kemudian kembali mengamati sejumlah bayi yang ada di ruangan ini.


"Total bayi di sini ada 10 orang, 2 di antaranya adalah bayimu, Ray. Aku sudah memerintahkan untuk melakukan test DNA pada seluruh bayi yang ada di sini dan akan di cocokkan dengan DNA-mu."


"Terima kasih Richard, kau adalah Kakak yang terbaik, selalu menjadi solusi di saat otakku buntu!"


Raymond memeluk tubuh Richard dengan erat. Pelukan singkat yang membuat hubungan keduanya semakin dekat saat ini. Walau lahir dari rahim yang berbeda, namun darah Nicholas membuat mereka selalu memiliki kontak batin yang kuat.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Jari jemari Alice mulai dapat digerakan dengan perlahan, matanya mulai terbuka dengan sempurna dan melihat bahwa di sampingnya sudah berada Nicholas yang sedang duduk di sebuah kursi dengan menggenggam tangannya. Alice pun mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan tempatnya berada saat ini.


"Halo Dad," lirih Alice dengan parau, memanggil Nicholas yang saat ini begitu sendu hanya menunduk sambil terus menggenggam tangannya.


"Dimana anak-anakku?" gumam Alice dengan napas tercekat karena masker oksigen yang masih terpasang di wajahnya.


Nicholas dengan cepat menatap wajah Alice dan menyambutnya dengan penuh senyuman. Nicholas semakin menggenggam erat tangan Alice dan mengusapnya penuh kelembutan.


"Apa yang kamu rasakan, Nak? Apa ada yang sakit?" tanya Nicholas yang masih diselimuti rasa cemas.


"Dad, dimana Raymond dan kedua anakku?"


"Raymond sedang melihat anak-anak kalian di ruang bayi. Kamu tenang saja Alice, semuanya baik-baik saja."


"Sangat sempurna sayang, yang perempuan cantik dan yang laki-laki sangat tampan. Mereka lahir dalam keadaan sehat. Mungkin sebentar lagi Raymond akan kembali menemuimu di sini, kamu sabar ya!"


Nicholas terpaksa menutupi masalah yang terjadi terhadap kedua anak-anak Alice. Ia tidak ingin bila nanti Alice tahu, hanya akan membuat kondisinya menurun. Walaupun sebenarnya Nicholas saat ini sangat dirundung kecemasan yang luar biasa, memikirkan apakah kedua cucunya sudah ditemukan atau malah sebaiknya?


"Alice maafkan Daddy, tidak bisa menceritakan ini kepadamu. Daddy tidak ingin memberikanmu beban pikiran, karena kamu baru saja sadar."


Alice tersenyum, tangannya yang bebas membuka oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, untuk memudahkan Alice berbicara dengan Nicholas.


"Dad, kapan bayiku bisa dipindahkan ke ruangan ini? Aku ingin memeluk mereka."


"Tunggu semuanya selesai ya, sayang."


"Maksud Daddy?"


"Hmm, tunggu sampai Raymond kembali ke sini ya! Karena Daddy juga sedang menunggu jawaban itu dari Raymond."


Alice mengangguk, mengiyakan semua yang dikatakan oleh Nicholas.


"Alice, apa kamu membutuhkan sesuatu? Biar Daddy mengambilkannya untukmu."


Nicholas menawarkan sesuatu untuk mengalihkan topik pembicaraan Alice saat ini.

__ADS_1


"Alice ingin minum Dad, rasanya sangat haus sekali."


"Baiklah, sebentar ya Daddy ambilkan dulu."


Setelah mengambil satu gelas air putih untuk diminum Alice, Nicholas kembali duduk di tempatnya semula.


"Daddy, apa Elliot dan keluargaku datang ke rumah sakit selama aku belum sadar?"


"Elliot belum bisa dihubungi sampai dengan saat ini, Alice. Keluargamu masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai."


Alice mengangguk mengerti. Ia merasa lelah terlalu banyak bicara dan memilih untuk diam.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka, seorang dokter dan dua orang suster masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi terkini Alice yang sudah sadar.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah memeriksa seluruh CCTV yang ada di rumah sakit, akhirnya mereka mengetahui bahwa memang kedua anak Raymond masih berada di ruang bayi tersebut.


Kini Raymond dapat bernapas lega, terlebih saat ini hasil test DNA sudah hampir selesai.


"Kita bisa tenang Ray, karena tidak ada satu bayi pun yang keluar dari ruangan ini."


"Terima kasih Richard, sekarang kita tinggal menunggu Albert membawakan hasil test DNA saja."


Keduanya kini sudah dapat duduk dengan tenang, di depan ruang bayi.


"Oh ya bagaimana pencarian kalian terhadap Jennifer?"


"Tidak ada yang tidak bisa ditemukan oleh Benjamin, semua tampak mudah jika bersama dengannya."


Richard terkekeh puas.


"Jadi maksudmu? Kau sudah menemukan Ibumu?"


"Betul, aku sudah menemukan Ibuku, kini dia ada di rumahmu bersama Greta, karena dia butuh istirahat aku tidak bisa membawanya ke sini."


"Selamat ya, aku turut senang. Semua masalah satu persatu telah selesai, keluarga kita bisa hidup tenang dan bahagia sekarang."


"Ya, aku juga berpikir demikian Ray, paling tidak dua Minggu lagi aku akan kembali ke Australia. Aku ingin segera menyusul kamu untuk memiliki momongan."


Raymond kali ini yang terkekeh bahagia mendengarnya.


"Pasti kau akan memilikinya, Richard."


Richard tersenyum penuh harap.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Follow Instagram Author : ekapradita_87

__ADS_1


Berikan komentar positif kalian ya.


Terima kasih banyak.


__ADS_2