
Happy reading!
Pagi yang begitu indah. Kicauan burung yang terdengar merdu di halaman rumah kediaman keluarga Weil yang saling bersahutan. Tiga bulan sudah berlalu, kedua anak kembar Alice sudah tumbuh lucu dan menggemaskan, bahkan kehidupan yang mereka jalani saat ini sudah lebih bahagia dari sebelumnya. Tak ada lagi masalah, tak ada lagi air mata, hanya senyum dan kebahagiaan dengan kedua anak kembar yang melengkapi kesempurnaan yang mereka rasakan.
Raymond dan Alice kini sedang memandang kedua anaknya yang saat ini sedang tertawa dengan penuh keceriaan.
"Aku bahagia sweetu, semua masalah sudah berhasil kita lewati, namun semua itu tidak melemahkan hubungan kita, malah sebaliknya cinta kita semakin kuat."
Raymond tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang Alice.
"Iya sweety, sekarang sudah tidak ada lagi yang akan memisahkan cinta kita berdua, juga kedua anak kita, kita akan selalu bersama."
Mereka kini sudah bersiap-siap mengajak kedua anaknya untuk pergi ke sebuah mall mewah di pusat kota London.
Alice menggendong Valicia Weil di dalam dekapannya, sementara Raynold Weil berada digendongan Raymond.
Mereka menuruni anak tangga dengan hati-hati menuju ruang tamu, dimana Nicholas dan Jennifer sedang bersantai di sana sambil menonton televisi. Keduanya terlihat begitu mesra dengan kepala Jennifer bersandar pada dada Nicholas.
"Dad, aku berangkat dulu ya," ucap Raymond tak ingin mengganggu Nicholas yang saat ini sedang duduk santai bersama Jennifer.
"Silahkan Ray," jawab Nicholas yang menikmati waktunya berdua dengan istri pertamanya yang sudah lama hilang.
Jennifer pun menatap kepergian Raymond dengan penuh bahagia. Ia merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan, untuk berkumpul di tengah-tengah keluarga Weil sebelum menutup mata. Maklum saja usia keduanya kini sudah tak lagi muda.
Alice pun menghampiri Jennifer terlebih dahulu untuk pamit, setelah berada di dekatnya, ia mencium kedua pipi Jennifer kiri dan kanan, juga mencium punggung tangan kedua mertuanya
"Aku berangkat ya Mom, ya Dad."
Mereka akhirnya menuju pelataran rumah, dimana Kevin sudah menungggu di sana. Sementara untuk urusan MANGO Corporate, Raymond memerintahkan Albert untuk menanganinya.
Raymond pun meminta kedua bodyguard yang kini sudah menetap di rumah kediaman Weil untuk mengawal kepergiannya. Mereka adalah Colin dan Arnold yang dipilih oleh Benjamin, sedangkan Benjamin sendiri bersama Christopher mengikuti Richard yang menetap di Australia.
"Kali ini kita akan kembali mengawal baby twins, Arnold, bersiaplah," canda Colin.
__ADS_1
"Aku selalu siap. Ini masalah kecil Colin, dengan memejamkan mata saja aku dapat melakukannya," seru Arnold menjawabnya dengan ringan.
Colin terkekeh sambil masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Arnold yang langsung menduduki kursi kemudi.
Kedua Mobil pun melaju beriringan meninggalkan pelataran rumah kediaman Weil.
πππ
Sesampainya di mall, setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, kedua mobil tepat berhenti di depan lobi. Setelah Arnold dan Colin memastikan keadaan sekitarnya aman, Raymond dan Alice beserta kedua anaknya turun dari mobil untuk menuju ke dalam mall. Kali ini Raymond benar-benar ingin selalu memastikan keluarganya berada dalam situasi yang aman, tanpa ada orang jahat yang ingin menyakiti keluarganya.
Saat memasuki mall kedua anak mereka tampak senang dengan suasana yang saat ini dilihatnya, tawa juga senyuman begitu terlukis di raut wajah Valicia dan Raynold yang sangat lucu dan menggemaskan. Raymond menghentikan langkahnya, ia menatap wajah Alice dengan lekat, lalu meraih pucuk rambut Alice dan memberikan ciuman singkat pada keningnya.
"Aku mencintaimu sweety, untuk selamanya. Kita akan membesarkan kedua anak kita dan menua bersama."
"Terima kasih ya sweetu, aku juga mencintaimu. Semoga setelah ini ke depannya tidak ada lagi masalah yang terjadi di keluarga kita."
πππ
Di tempat lain di apartemen Alexa. Ia sedang kedatangan seorang tamu spesial. Ya siapa lagi kalau bukan Nick yang datang bersama Dave, jika tidak ada Dave mana mungkin Nick tahu letak apartemen Alexa, walau Nick pernah mengantar Alexa sewaktu dari rumah sakit Alice.
"Dave tunggulah di dalam mobil, aku ingin bicara dengan Alexa hanya empat mata saja."
Dave pun mengiyakan keinginan Nick dan bergegas keluar dari apartemen. Sementara Alexa yang mendengarnya menjadi semakin gugup, karena saat ini hanya tinggal mereka berdua di sebuah sofa yang memang hanya cukup untuk diduduki oleh dua orang.
Nick mulai menatap manik mata Alexa yang berwarna biru dengan sangat dalam. Ia meraih tangan Alexa dengan penuh keberanian, membuat degup jantung Alexa kian memacu hingga darahnya ikut berdesir gugup.
"Alexa, aku tahu kekuranganku. Mungkin akan sangat sulit untuk dirimu bisa bersama diriku, tapi aku telah menolak perjodohanku dengan Jessy, karena jujur aku telah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu."
"Tapi bukannya setiap pertemuan kita selalu jadi yang pertama untukmu?" tanya Alexa menautkan kedua alisnya.
"Memang, tapi setiap pertemuan itu aku selalu jatuh cinta dan jatuh cinta kepadamu, maka itu aku memutuskan sesuatu yang akan aku katakan langsung kepadamu."
"Apa?" tanya Alexa berpikir.
"Maukah kamu menjadi istriku, kita menikah dan berjanji sehidup semati, bersama dalam suka maupun duka. Will you marry, Me?"
__ADS_1
Alexa terhenyak begitu kaget. Ia tak menyangka hari ini Nick melamarnya. Alexa pun coba menyembunyikan rasa gugupnya, ia memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Nick hingga membuat tatapan mereka kini saling bertaut. Sejenak mereka diam tanpa suara, seperti saling mendalami cinta di hati mereka masing-masing lewat tatapan mata.
Nick mulai mengarahkan wajahnya lebih dekat kepada Alexa, bahkan hembusan napas yang hangat dapat terasa menyapu wajahnya. Alexa masih mematung diam, wajahnya kini semakin merona karena tiba-tiba Nick memberi sebuah kecupan singkat tepat di bibir Alexa.
Nick masih menatap wajah Alexa dengan lekat.
"Bagaimana Nona Alexa?"
Pertanyaan yang menggetarkan hati Alexa, dengan mata berkaca-kaca Alexa mulai menyusun kata demi kata untuk menjawab lamaran Nick.
"Ya aku mau Mr. Anterograde, aku ingin menjadi istrimu, sehidup semati."
Nick langsung menghamburkan pelukannya dengan erat pada tubuh Alexa. Rasa bahagia tampak terpancar dari wajah keduanya yang kini saling mencintai satu sama lain.
"Aku juga mencintaimu Alexa."
Itulah awal mula kisah Nick dan Alexa dalam menempuh perjalanan cinta mereka menuju kebahagiaan. Jalan yang tidak mudah, sama seperti perjalanan cinta Raymond dan Alice yang penuh lika-liku. Namun dengan cinta yang ada di hati keduanya, apapun halangan dan masalah yang datang akan coba mereka hadapi bersama.
"Aku juga mencintaimu Nick Carter, aku tidak akan lelah setiap harinya untuk mengingatkan hal ini padamu."
πΈπΈπΈ
Lanjut ke Penjara Hati Sang CEO 2 tetap di buku yang sama di sini π
"Jangan nilai seseorang dari masa lalunya, tapi lihatlah saat ini, hargai proses seseorang itu berubah, karena itu merupakan masa yang paling sulit untuk dilaluinya menuju kepribadian yang baru."
Salam dari keluarga Weil.
Hangat peluk cium dari mereka.
Bye semua.
βΆοΈ Kisah Nick dan Alexa kalian bisa ikuti
di aplikasi D R E A M E ya. Terima kasih.
__ADS_1