Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Rahasia Terungkap


__ADS_3

Selamat Membaca!


Matahari pagi mengintip dari balik awan. Alice mulai mengerjapkan mata, terbangun dari mimpi indahnya. Ia masih mendekap tubuh Raymond yang bertelanjang dada, dengan selimut sudah terurai berantakan, tak lagi menutupi tubuh mereka.


Alice mengerlingkan mata menatap wajah Raymond yang masih tampak pulas tertidur.


"Aku harus bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk suamiku."


Alice beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.


"Baru tengah malam tadi aku mandi, sekarang sudah mandi lagi, tapi untung saja ada air hangat jika tidak pasti aku sudah menggigil kedinginan semalam," tutur Alice mengingat pengalamannya.


Alice tersenyum menggigit bibir bawahnya dengan pelan, ia tak habis pikir dengan apa yang telah dilewatinya. Semalam dirinya bercinta dengan Raymond sampai berulang-ulang kali, tidak cukup di ranjang, Raymond kembali mengajarkan padanya bercinta di dalam bathtub. Alice dibuat geleng-geleng kepala saat melakukan semua itu.


Sweetu, semoga tidak ada luka dan pengkhianatan lagi dalam pernikahan kita ya.


Sebelum Alice melangkah lebih jauh, ia sempat melihat ke arah nakas tempat smartphone Raymond berada, ingin rasanya ia mengambil dan melihat isi pesan yang baru saja masuk, yang membuatnya melihat ke arah smartphone itu. Namun Alice mengurungkan niatnya, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


30 menit kemudian.


Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Alice bergegas keluar dari kamar, menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Kala itu masih menunjukkan pukul 06.30 pagi.


Alice melangkah menuju dapur, tapi lagi-lagi langkahnya harus di dahului oleh Kelly yang sudah terlihat sibuk di sana.


"Nona Kelly, aku pikir, aku sudah lebih pagi darimu, tapi ternyata kamu selalu mendahuluiku, bolehkah aku membantumu?"


Kelly mengulas senyuman di wajahnya, baginya tak mengapa jika hanya sebatas menyiapkan makanan untuk para tamu yang saat ini sedang menginap di apartemen bosnya.


"Jika kamu ingin menyiapkan makanan untuk suamimu, silahkan Alice, untuk Elliot dan Albert, aku sudah siapkan," tutur Kelly dengan tersenyum manis.


Alice langsung berbaur dan mulai menyiapkan menu santapan pagi untuknya dan Raymond.


1 jam kemudian.


Wajah Alice tampak berseri, setelah ia berhasil menata beberapa menu yang dibuatnya untuk dibawa oleh Alice ke kamarnya.



"Selesai, hidangan santapan pagi ala chef Alice," ucap Alice tersenyum manis.


Sekarang tinggal mengganggu tidur sang Tuan Arogan.


Alice mulai menghampiri tubuh Raymond yang masih terkulai nyaman di atas ranjang. Namun lagi dan lagi getaran smartphonenya mengalihkan pandangan Alice, dengan ragu dirinya melihat pada layar ponsel tertera empat message dari nomor yang tidak muncul nama pengirimnya.


Alice hendak mengambil ponsel tersebut, namun ia mengurungkan niatnya.


Tidak ah, itu kurang ajar, seorang istri tidak boleh melakukan itu.


Alice mengacuhkannya, ia melanjutkan langkahnya dengan berjinjit perlahan mendekati Raymond, ia tak ragu langsung menaiki tubuh Raymond, hingga membuatnya tertegun hebat dan langsung membulatkan kedua matanya, menemukan Alice saat ini sudah berada di atas tubuhnya.


Tanpa kode apapun Raymond langsung memeluk tubuh mungil Alice, mendekapnya dengan lembut dan memberi sebuah kecupan di bibir merah Alice.


"Sweety, lain kali jangan melompat ke tubuhku, nanti jika aku jantungan gimana?" tanya Raymond dengan wajah masamnya.


Alice merasa bersalah, ia ingin beranjak dari tubuh Raymond, namun Raymond tak memberinya kelonggaran malah semakin erat memeluknya.


"Aku hanya bercanda sweety, tidak usah cemberut begitu," Raymond membujuk Alice yang terlihat berbeda karena tegurannya.


"Tidak aku tidak marah," ketus Alice memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kalau tidak marah lantas kenapa bibir dan wajahmu seperti membentuk bulan sabit yang akan tenggelam di laut," tutur Raymond membujuk Alice.


Alice menarik sebelah sudut bibirnya, ia tersenyum paksa sambil bangkit dari tubuh Raymond yang sudah mulai longgar dekapannya.


Raymond dengan sigap kembali menarik tangan Alice, hingga membuat Alice kembali tertidur di atas tubuhnya, pandangan mereka saling beradu, hingga terlihat pantulan diri Alice di mata hazel milik Raymond. Mereka beberapa detik saling beradu tatap, hingga tak sadar kedua bibir mereka menuntut untuk saling memagut.


1 menit, 2 menit sampai 10 menit mereka tak sadar telah memagut kasih, sampai tak terasa pakaian Alice telah terlepas dari tubuhnya. Menyadari hal itu Alice tak kuasa berontak, ia pasrah dengan apa yang Raymond lakukan padanya, kembali memberikan dirinya sentuhan nikmat yang membuatnya seperti tersengat aliran listrik.


Kenapa aku seperti ketagihan ingin terus dipuaskan oleh sweetu ya.


Awalnya hanya saling memagut, sampai akhirnya hawa nafsu yang terus menderu membuat keduanya, sampai mengulangi kegiatan bercinta yang telah mereka lakukan semalaman.


Di tengah-tengah des*hannya, Alice tiba-tiba teringat akan sarapan yang telah dibuatnya.


"Oh my God, stop sweetu, nanti sarapan yang aku buat jadi dingin dan tak nikmat lagi untuk kita makan," tutur Alice sambil berusaha menghentikan Raymond yang semakin memburu nafsunya, Raymond terus bergerilya mengecup telinga, leher, sampai ke dada Alice yang terlihat begitu sintal, membuat Raymond yang menyentuh dan melihatnya tak kuasa menahan gejolak nafsunya.


Raymond tak mempedulikan perkataan Alice. Ia terus memberikan serangan pada tubuh Alice, hingga akhirnya Alice melupakan sarapan yang telah dibuatnya, ia terus menger*ng dan mendes*h, melampiaskan kenikmatan yang tertahan dalam dirinya.


Setelah mencapai puncak kenikmatan, tubuh mereka terkulai lemas di atas ranjang, dengan nafas yang tersengal dan keringat yang lembab membasahi tubuh mereka.


"Aku mencintaimu sweety."


"Aku juga mencintaimu sweetu, oh ya tadi aku lihat ada pesan masuk di smartphonemu, coba kamu lihat aku takut itu penting," tutur Alice memberitahu.


Alice beranjak untuk bangkit dari ranjang, menggapai pakaiannya yang teronggok di dasar lantai untuk dikenakannya kembali. Sementara Raymond sudah terlihat duduk di tepi ranjang, mulai mengambil smartphonenya.


"Sweetu aku tunggu di sana ya, kita sarapan bareng," pinta Alice sambil menunjuk ke arah tempat mereka akan bersantap pagi, menikmati pemandangan dari luar balkon apartemen.


Raymond menoleh dan mengulas senyum ke arah Alice, tanda ia mengiyakannya dan akan segera menyusul. Raymond membuka smartphonenya, 4 pesan yang masuk telah terbuka.


"1 pesan dari Alex, 3 pesan dari Greta," ucap Raymond dengan nada pelan, sambil menoleh mencari keberadaan Alice agar ia tak mendengar ucapannya.


"Untung saja smartphoneku ini sudah ku setting dengan sedemikian canggih, orang luar tidak akan tampak nama si pengirim, hanya nomor yang tertera, tapi ketika dibuka pesannya barulah ia akan menunjukan nama si pengirim, kalau Alice tahu Greta mengirim pesan padaku, pasti dia akan langsung marah dan curiga, aku tidak mau rumah tanggaku kembali tidak harmonis, tapi untuk apalagi wanita jal*ng itu menghubungiku," gumam Raymond tampak kesal.


Raymond mulai menekan tanda delete untuk menghapus semua pesan Greta dan bukan hanya itu saja, ia langsung men-setting smartphonenya untuk memblokir segala akses ke nomornya.


"Jadi mulai sekarang, wanita jal*ng itu tidak akan bisa mengirim pesan atau bahkan meneleponku lagi," gumam Raymond merasa tenang.


Alice tampak gelisah menunggu Raymond, perutnya terdengar bergemuruh menuntut untuk diberi asupan makanan.


Sweetu, kenapa lama sekali?


Alice akhirnya memanggil Raymond dengan nada suaranya yang keras, itu membuat Raymond melangkah dengan terburu-buru menuju balkon kamar. Ia kembali meletakkan smartphonenya dan menunda untuk membuka pesan yang masuk dari Alexander Kemal Malik, investor terbesar di MANGO Corporate.


Raymond mulai melihat berbagai menu makanan yang telah disuguhkan oleh Alice.


"Wow, sweety pasti enak semua ya makanan buatanmu," tutur Raymond berdecak kagum.


"Tidak seenak setengah jam yang lalu, kamu sih kelamaan, malah ngajak bercinta terus, memangnya yang semalam itu kurang apa?" ketus Alice cemberut, wajah tampak masam.


Raymond terkekeh mendengarnya.


"Tidak apa sweety, ini tetap nikmat kok, ini aku makan ya, hmm yummy, tuh kan tetap nikmat," kata Raymond sambil terlihat lahap menyantap semua makanan yang tersaji di atas meja.


Raymond tersedak karena saking lahapnya.


"Sudah, sudah, tak usah seperti itu, aku udah gak marah lagi, nih aku udah senyum," kata Alice sambil menunjuk wajahnya yang sudah tersenyum.


Keduanya saling menebar canda tawa sambil menikmati santap pagi yang lezat, ditemani dengan pemandangan indah ke arah luar apartemen.

__ADS_1


Raymond terus menatap wajah Alice dengan menyunggingkan senyum bahagianya.


Aku tidak akan membiarkan Greta merusak kebahagiaanku.



Siang harinya.


Elliot memanggil Raymond dan Alice untuk menemuinya di ruang tengah.


"Ada apa Elliot memanggil kita sweety?"


"Aku sendiri tidak tahu sweetu, mungkin ada hal penting yang ingin Kakak sampaikan."


Tibalah mereka di ruang tengah, dimana Elliot sudah menunggu mereka. Keduanya duduk bersebrangan dengan Elliot, sementara Kelly yang mengekor di belakang mereka, langsung duduk di sebelah Elliot.


Elliot mendesah pelan.


"Ini rahasia yang sudah lama aku pendam, bahkan sampai saat ini aku baru bercerita hal ini hanya kepada Kelly saja," tutur Elliot menoleh ke arah Kelly dengan tersenyum.


Alice dan Raymond mendengarkan dengan seksama, mereka menatap dengan penuh keseriusan.


"Tuan Richard itu adalah anak pertama Tuan Nicholas yang hilang dulu," tutur Elliot membongkar rahasia besarnya.


Raymond terhenyak mendengarnya, ia mematung tanpa suara, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tak mempercayai apa yang telah Elliot ucapkan.


"Darimana kamu tahu semua ini Elliot?" tanya Raymond dengan menautkan kedua alisnya.


Elliot menunjukkan foto masa kecil Richard yang masih berada di posisi yang sama, saat pertama kali Elliot melihatnya.


"Foto itu Ray, perhatikan baik-baik, tulisan pada baju anak itu," ujar Elliot membuka tabir rahasia yang tersimpan pada foto itu.


Raymond dengan cepat bangkit, melangkah mendekati bingkai foto besar yang kini sudah ada dihadapannya.


"Weil," Raymond langsung terkesiap, matanya membulat besar mengetahui apa yang selama ini Elliot sembunyikan.


"Kenapa kamu baru katakan sekarang?"


Raymond menajamkan matanya ke arah Elliot.


"Aku pikir ini saat yang tepat, Tuan Richard bisa menolong kita untuk merebut MANGO Corporate, sekarang pilihan kita hanya dua, menunggu Alice hamil atau meminta bantuan Tuan Richard," tutur Elliot memberi pilihan.


Alice bingung mendengar apa yang dikatakan Elliot, namun ia hanya diam menunda untuk bertanya.


Raymond mengerutkan keningnya sambil terus menatap Elliot.


"Memang apa yang bisa dilakukan Richard, Elliot?" tanya Raymond dengan nada meremehkan sambil menaikkan sebelah alisnya yang bertaut.


"Tuan Richard adalah investor terbesar dari perusahaan Will di Swedia, jika Tuan Richard menarik seluruh investasinya sudah bisa dipastikan perusahaan Will di Swedia akan hancur," tutur Elliot dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak percaya ternyata laki-laki itu adalah Kakakku," gumam Raymond penuh keraguan.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Jangan lupa berikan like kalian ya. Aku minta tolong jika kalian suka dengan kisah Alice dan Raymond, yuk mari majukan novel ini dengan dukungan kalian, berikan komentar dan check like kalian setiap episodenya apa ada yang terlupa kalian like atau tidak, jika ada silahkan like ya... 😍🤗😊


Like, komentar dan vote kalian adalah mood booster aku dalam menulis dan berkarya.

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah mendukung.


Sehat selalu ya.


__ADS_2