
Selamat membaca!
Raymond masih menemani Alice melihat-lihat sekeliling rumah barunya yang masih terbilang sangat megah.
"Rumah ini terdiri dari 1 kamar utama untuk kita dan 4 kamar lainnya, juga 2 kamar pelayan yang letaknya di bawah. Oh ya ada ruang santai juga di belakang rumah, sebuah taman yang pastinya kamu akan suka," tutur Raymond menuntun Alice ke arah belakang rumah lewat pintu belakang, yang terhubung ke sana.
Alice mengikuti langkah Raymond, matanya masih berbinar penuh decak kagum atas keindahan rumah barunya.
Tibalah mereka di taman belakang rumah, dengan suasana yang asri dan sejuk.
"Gimana menurut kamu? Kita bisa bersantai di gazebo sana, ada kolam ikan di bawahnya, apa kamu menyukainya?"
Belum juga Alice selesai dengan kekagumannya, Raymond kembali menunjukan satu sudut taman yang terdapat sebuah payung biru dengan kursi dan meja untuk tempat mereka bersantai dikelilingi pemandangan bunga-bunga indah yang asri.
"Sweetu, stop buat aku kagum, semua ini begitu indah untukku, rumah masa depan bersama anak-anak kita kelak," tutur Alice sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Raymond lalu memberikan ciuman lembut pada pipinya.
"Iya sweety, kita tidak akan pernah terpisah, aku janji akan menjaga semua itu selamanya," ucap Raymond membalas kecupan Alice.
Kemudian keduanya kembali memasuki rumah untuk menuju kamar. Kamar yang cukup mewah berada di lantai 2.
Saat mereka mulai menaiki anak tangga, Bejo datang menghampirinya.
"Tuan, Nona, koper semua sudah berada di kamar, ada lagi yang harus saya lakukan?" ucap Bejo dengan ramah, memasang senyum di wajahnya.
Alice dan Raymond kompak menjawab, lalu mereka melanjutkan langkahnya menuju kamar, dengan saling merangkul mesra.
Pemandangan yang membuat Bejo merasa keki.
"Kapan yo aku nikah terus duwe bojo ayu koyo Tuan Raymond. Kaet biyen jomblo terus. Gak ono cewek sing cedak karo aku. Padahal, opo kurangku? ganteng yo ora, sugih yo ora, duwur yo tambah ora, nasib."
"Itu namanya banyak kurangnya, ngawur aja kamu Bejo, berkhayal jangan ketinggian, mending badan kamu tuh tinggiin," ledek Siti sambil menjuntrungkan kepala Bejo, hingga tertunduk.
Tanpa Bejo sadari ternyata Siti sudah menguping dan berdiri sejak lama di belakang Bejo.
Bejo tak terima dengan perlakuan Siti. Keduanya tak terelakkan, terlibat perdebatan yang membuat suara mereka sampai terdengar oleh Alice dan Raymond.
Raymond yang mendengarnya merasa terganggu dengan kebisingan yang terjadi. Ia langsung keluar dari kamarnya, melangkah dengan tergesa menuju tepi tangga lalu melongokan kepalanya dari lantai 2.
"Kalian berdua please, jangan ribut saya dan istri saya lelah jadi butuh ketenangan, oke!" tegas Raymond yang membuat keduanya terdiam saling menautkan kedua tangannya di depan pahanya lalu membungkuk minta maaf.
Raymond akhirnya pergi dan kembali menuju kamarnya.
"Dasar kamu Siti, gara-gara sampean aku jadi dimarahin, udah main juntrungin kepala aja, besok pas lebaran kamu yang harus bayar zakat aku lho," ketus Bejo memarahi Siti.
Siti tak tinggal diam dia justru balik menyalahkan Bejo, hingga kegaduhan kembali terjadi lagi di antara keduanya, Bejo mengacak rambut Siti dengan kasar sampai Siti mengaduh kesakitan, tak mau kalah Siti membalasnya dengan menjambak rambut Bejo sampai kulit kepalanya terasa perih.
Saat keduanya terus bergelut dengan keributannya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar kembali terbuka. Mereka menyadari akan ditegur kembali oleh Tuannya, dengan sekejap keduanya bersembunyi untuk menghindar dan mengamankan diri mereka masing-masing.
Raymond kembali melongo ke arah yang sama tempat yang tadinya Siti dan Bejo berdiri, namun Raymond tak menemukan mereka.
"Tidak ada siapa-siapa kemana mereka! Uhf, sepertinya memang aku kurang menyukai pembantu lokal," ucap Raymond geleng-geleng kepalanya, lalu sekejap kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ternyata Siti dan Bejo sudah bersembunyi di balik pilar yang saling berseberangan.
"Awas lho, Siti," ucap Bejo menyodorkan tinjunya untuk menakuti Siti.
Sementara itu Siti hanya menjulurkan lidah membalas ancaman Bejo dan berlalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
πππ
Elliot terlihat sudah berada di apartemen Richard, bersama Kelly sedang duduk bersebelahan di sofa ruang tengah.
Kelly melihat kesedihan yang tercampur dengan rasa kesal, semua dapat terbaca dari raut wajah Elliot.
"Aku mengerti perasaanmu Elliot, tapi kita harus memberikan Raymond kesempatan untuk membuktikan, bahwa dirinya pantas mendampingi Alice," tutur Kelly sambil menyentuh pundak Elliot untuk menenangkannya.
Elliot menoleh menatap wajah Kelly, ia tersenyum merasa kehadiran Kelly dapat membuatnya tenang.
"Iya aku paham maksudmu, tapi sebaiknya aku membawa Greta untuk melakukan test DNA, agar terbukti itu anak Raymond atau bukan," tutur Elliot dengan sebuah ide dipikirannya.
"Ide itu emang bagus, tapi apa Greta mau, bagaimana kalau dia menolaknya, soalnya melakukan test DNA saat bayi itu belum lahir resikonya sangatlah besar?"
Elliot menautkan kedua alisnya.
"Aku hanya mengujinya saja, kalau dia menolak berarti itu membuktikan bahwa memang itu bukanlah anak Raymond dan aku bisa tenang."
Kelly tersenyum tanda setuju dengan semua rencana Elliot. Mereka akhirnya memutuskan besok akan memaksa Greta melakukan test DNA, untuk membuktikan kebenaran tentang apa telah dikatakannya.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan Richard, yang langsung duduk bersebrangan dengan mereka.
Kelly seketika bangkit dari duduknya.
"Tuan Richard, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kelly dengan setengah membungkuk tanda dirinya sangat menghormati Tuannya.
Elliot terhenyak, keduanya saling menatap penuh keraguan untuk bercerita pada Richard.
"Kenapa kalian hanya diam? Coba jelaskan padaku, jangan biarkan aku menunggu," ucap Richard menegakkan tubuhnya yang merebah di sofa, diikuti dengan tatapan yang tajam memandang ke arah Elliot dan Kelly bergantian.
Elliot menelan salivanya sendiri dengan kasar.
"Sebaiknya kita ceritakan saja pada Tuan Richard, agar semua semakin jelas," bisik Kelly kepada Elliot menyarankan.
Richard berdehem menyadarkan keduanya, bahwa dirinya saat ini masih menunggu jawaban mereka.
"Sebelumnya aku ingin tanyakan tentang foto anak kecil yang berada di dinding itu, apa benar itu fotomu sewaktu kamu kecil?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Richard sedikit terkejut.
"Daddy, pernah bilang bahwa aku bukanlah anak kandungnya, tapi aku ditemukannya di sebuah stasiun, dengan mengenakan baju yang ada di foto itu," gumam Richard kilas balik mengingat kenangannya.
Richard mengernyitkan dahinya, wajah yang mengeras dengan sorot mata tajam seolah menggambarkan bahwa saat ini dirinya sedang memutar otaknya, berpikir untuk menemukan misteri dari makna foto tersebut.
Richard langsung teringat dengan sebuah kata yang terdapat pada baju yang dikenakannya di foto itu, yang bertuliskan "Weil".
"Jangan kalian katakan, jika Raymond ternyata adalah Adik kandungku," ungkap Richard menebak setelah berpikir dengan keras.
Elliot dan Kelly terdiam, namun anggukan kepala keduanya sudah cukup membuat tubuh tegap Richard kembali roboh bersandar di sofa sambil mengusap wajahnya dan mendengus kasar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ternyata laki-laki yang tadi siang aku suruh meninggalkan istrinya adalah Adikku sendiri," gumam Richard menyesali tindakannya.
πππ
Alice sudah terlihat mengenakan bathrobe. Ia selesai menyegarkan diri dari lelahnya perjalanan menuju Indonesia. Alice membuka almari dengan perlahan, terlihat semua pakaian yang sudah tersusun rapi di tempatnya.
"Siti bekerja dengan sangat baik, dalam waktu singkat dia sudah membereskan pakaianku dan memasukkannya di almari."
Alice mengambil baju tidurnya, ia membuka bathrobe yang dikenakannya, hingga membuat tubuh mungilnya kini terlihat jelas tanpa sehelai benang pun.
Raymond yang sedang menonton pertandingan sepakbola menjadi tidak fokus, dengan apa yang saat ini tersuguh jelas dihadapannya.
Raymond jr mulai memberi sinyal pada dirinya, meminta untuk diberi sentuhan dan dipuaskan.
Alice sudah akan mengenakan baju tidurnya, namun kedua tangan Raymond langsung menggendong tubuh Alice, yang membuat pakaian tidur yang dipegangnya terjatuh ke dasar lantai.
Alice lalu direbahkan di atas tempat tidur dengan perlahan.
"Apa yang ingin kamu lakukan Tuan arogan, kamu itu belum mandi, pergilah mandi baru kita akan melanjutkan olahraga pagi kita," tutur Alice dengan senyum menggoda.
Raymond yang sudah menghimpit tubuh Alice, seolah tak terima dengan permintaannya.
"Aku akan mandi setelah kita berolahraga, sekarang pasrah dengan apa yang akan ku perbuat dan nikmatilah!" titah Raymond mengerutkan keningnya.
Alice akhirnya mengikuti keinginan suaminya, baginya membantah bukanlah sikapnya.
"Dasar sweetu, otakmu selalu saja mesum, baru saja aku tanpa pakaian Raymond jr mu langsung setegang ini," ucap Alice sambil merasakan remasan di tangannya yang sudah terisi penuh.
Keduanya saling memagut mesra, cumbuan yang begitu lembut dari Raymond, sampai membuat tubuh Alice menggeliat, merasakan kenikmatan yang mulai menyetrum tubuhnya.
Raymond memulainya dari pagutan bibir, lalu semakin turun terus mengecup setiap sisi bagian tubuh Alice yang terlihat sangat indah, putih bersih tak ada bercak setitik pun, bagaikan susu sapi yang begitu murni.
Raymond melepas dahaga nafsunya, ia terus membuat Alice terus mendes*ah dan menger*ang, mengexpresikan kenikmatan yang saat ini dirasakannya.
Desahan Alice yang begitu sensual, membuat Raymond semakin tak ragu memacu nafsunya untuk memburu kenikmatannya.
20 menit, 40 menit sampai 1 jam mereka telah lewati, hingga tiba dimana keduanya mencapai puncak kenikmatan masing-masing. Tubuh Alice langsung roboh karena saat ini dirinya berada di atas menunggangi tubuh Raymond.
"Aku mencintaimu sweetu,"
"Aku juga sweety," balas Raymond dengan mengecup pucuk rambut Alice, yang kini sudah membenamkan wajahnya di ketiak Raymond.
Keduanya saling tersenyum bahagia.
Semoga ini awal kebahagiaan kita ya sweetu dan semoga mimpi di pesawat itu hanya sebuah mimpi.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Sehat selalu, terima kasih semua.
Mampir juga ke karya sahabat aku ya sambil menunggu aku up.
__ADS_1