Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Dua Ego


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice sudah memantapkan hati, ia terus coba meyakinkan dirinya untuk memaafkan semua kesalahan Raymond yang telah membohonginya. Tidak mudah memang untuk memaafkan sebuah pengkhianatan, apalagi sampai berbuah janin di perut wanita lain dan bodohnya lagi Alice sampai tidak mengetahui hal itu. Raymond menyembunyikan dengan rapat, bahkan sekarang Alice menduga kepergian Raymond ke Indonesia adalah untuk melarikan diri, dari tanggung jawabnya terhadap bayi di dalam kandungan Greta.


"Kesalahannya berselingkuh di depan mataku, sudah ku maafkan walau dengan susah payah, tapi soal kehamilan Greta kenapa begitu sulit termaafkan?" batin Alice berpikir keras, ia masih mematung di depan pintu kamar seperti ada keraguan untuknya masuk.


Richard kebetulan melewati lorong tempat Alice berada, karena kamar yang akan ditempati oleh Richard berada di lantai yang sama dengan kamar Raymond dan Alice.


"Alice kenapa dia tidak langsung masuk?"


Richard membelokan langkahnya untuk menghampiri Alice.


Tanpa Alice sadari sosok pria yang menjadi kebimbangannya, kini sudah berada tepat di belakangnya.


Richard berdehem pelan, membuat Alice bergeming dari lamunannya. Alice langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya, untuk melihat siapa pemilik suara deheman itu. Alangkah terkejutnya Alice, ketika melihat di depan matanya sudah ada Richard sedang menatapnya dengan rasa penasaran.


"Kenapa kamu tidak langsung masuk? Apa perlu aku yang bukakan pintu untukmu masuk?"


Alice menggelengkan kepalanya menolak tawaran Richard, dengan pandangan yang masih menatap ke arah Richard, ia mulai membuka handle pintu dan segera menghilangkan dirinya dari pandangan Richard yang tak berhenti menatapnya, sesaat sebelum pintu tertutup Alice sempat mengumbar senyum manisnya ke arah Richard yang juga tersenyum menatap wajah Alice yang sudah menjadi candu untuknya.


"Ya ampun, cobaan terbesar dalam hidupku adalah ketika rasa cinta datang dan itu malah tertuju untuk Adik Iparku sendiri," gumam Richard mengesah pelan.


Pintu kamar tertutup, Richard pun meneruskan langkahnya menuju kamarnya yang terletak di lorong sebelah dari kamar Alice dan Raymond.


Alice kini sudah masuk ke dalam kamar. Senyum yang sempat terhias di wajahnya, kini menghilang, wajahnya kembali datar.


Alice menautkan kedua alisnya, mencari keberadaan Raymond yang tak kunjung dilihatnya berada di atas ranjang.


Kemana sweetu?


Alice melangkah mendekat ke arah bathroom, ternyata di sanalah Alice menemukan Raymond dengan suara yang terdengar seperti sedang meluapkan kekesalannya. Tampaknya Raymond tak menduga jika Alice kini menguping luapan amarahnya dari depan pintu bathroom.


"Kenapa Richard dekat dengan Alice? Apa Richard memang ingin merebut Alice dariku? Kenapa Alice juga sepertinya menyukai Richard? Kenapa?" teriak Raymond memecahkan keheningan kala itu.

__ADS_1


Mendengar amarah Raymond yang memuncak, membuat tengkuk Alice merinding. Rasa takut kian hinggap di dalam dirinya saat ini.


"Apa yang harus aku jelaskan? Sepertinya sweetu sudah dapat membaca perasaanku terhadap Tuan Richard?"


Alice menjadi serba salah sekarang. Satu sisi di hatinya ia ingat akan semua hal yang telah dilewatinya bersama Raymond, bahkan kini kehadiran bayi twins dalam kandungan Alice, melengkapi kebahagiaan di rumah tangga mereka. Namun di sisi hatinya yang lain, rasa sakit atas kebohongan yang Raymond lakukan, seakan menggerus rasa cinta di hati Alice yang semakin lama kian berkurang, terlebih kedekatannya dengan Richard yang semakin intens, mulai saat Richard menjadi pahlawan yang membawanya keluar dari pulau dan selama 2 Minggu Raymond di rumah sakit, Richard sendiri yang mengantar jemput Alice, untuk pergi ke rumah sakit sampai Alice kembali pulang.


Alice masih mematung dengan gelisah menatap pintu bathroom. Tiba-tiba handle pintu bergerak seakan ingin terbuka. Alice langsung menjauh dari bathroom dan tak ingin Raymond mengetahui bahwa dirinya telah menguping saat Raymond berteriak kesal, Alice segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai bersandiwara dengan memejamkan matanya.


Raymond keluar dari bathroom. Ia melangkah menuju almari besarnya yang berada di dekat ranjang besarnya. Langkahnya sempat terhenti saat matanya menangkap objek yang dikenalnya kini sudah tidur di atas ranjang, dengan pakaian yang masih rapi dan riasan di wajahnya, Raymond jadi teringat permainan Alice sewaktu di Jakarta.


Kenapa sweety sampai pura-pura tertidur?


Apa jangan-jangan dia memang tidak mau berbicara denganku?


Raymond semakin kacau perasaan kala itu. Ingin secepatnya ia memejamkan matanya untuk tertidur hingga waktu cepat berganti. Raymond membuka almari besarnya, ia mengambil beberapa helai pakaian untuk dikenakannya, setelah memakainya, ia langsung menuju ranjang besarnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tertidur dengan posisi saling memunggungi.


Sebuah situasi yang tidak nyaman di dalam sebuah rumah tangga. Kurangnya komunikasi membuat hubungan dua sejoli ini semakin renggang, belum lagi kehadiran orang ketiga di antara mereka, makin memperparah keadaan.


Alice membuka matanya perlahan.


Sementara Raymond pun gelisah dan sulit sekali untuk terpejam.


"Kenapa pernikahanku jadi seperti ini? Apa sebaiknya ini harus berakhir? Memang aku akui ini adalah kesalahanku, aku sudah mengawalinya semua ini dengan sebuah pengkhianatan," batin Raymond menimang-nimang keputusannya.


Raymond mendesah pelan. Tiba-tiba ia beranjak dari ranjang besarnya, kemudian mengambil jaket yang menggantung dan langsung memakainya. Raymond melangkah menuju pintu kamar, membuka handle pintu dengan cepat, lalu keluar tanpa sebuah kata.


Alice bangkit dari posisi tidurnya, ia duduk di tepi ranjang dengan beragam pertanyaan di kepalanya.


Mau kemana sweetu? Tapi apa aku salah sudah mengacuhkannya.


Alice mendengus kasar. Ia meremas ujung selimut dengan tangannya, memperlihatkan bahwa saat ini Alice sedang bergelut dengan perasaannya.


Apa yang harus aku lakukan Tuhan?

__ADS_1


Alice mengusap wajahnya dengan kedua tangannya berkali-kali, melampiaskan rasa bingung dipikirannya yang tak kunjung menemukan sebuah petunjuk.


🍁🍁🍁


Malam sudah semakin larut. Raymond kini sudah terlihat berada di garasi mobil, seperti ingin melakukan perjalanan seorang diri. Namun ketika mobil akan keluar dari garasi, tiba-tiba sosok pria mendekat ke arah mobil, pria itu membuka pintu depan mobil dan menundukkan kepalanya untuk memperlihatkan wajahnya pada Raymond.


"Albert."


"Biar aku temani Tuan, pasti kau ingin pergi ke London Eyes kan?"


Raymond mengesah kasar. Namun pada akhirnya ia merasakan kondisinya yang masih belum sembuh total, membuatnya ragu jika harus mengendarai mobil sendirian, Raymond akhirnya keluar dan berpindah ke kursi belakang.


Raymond melempar tubuhnya dengan kasar di kursi belakang mobilnya, membuatnya mengaduh sakit karena luka jahitannya kembali terasa. Rasa kesal membuatnya jadi melupakan rasa sakit yang kini dirasakannya.


Albert mulai menginjak gas mobil dengan perlahan, membawa mobil untuk keluar dari garasi dan dengan kecepatan yang sedang mobil mulai melaju meninggalkan rumah.


🍁🍁🍁


Greta terlihat berada di apartemennya. Ia sedang duduk santai, namun dengan wajah yang tak enak bila dilihat, wajah yang masam dan menyimpan segumpal dendam yang tersirat di wajahnya.


Ponsel Greta tiba-tiba berbunyi. Ia langsung mengambil ponselnya dan mulai membuka sebuah message yang baru saja masuk.


"Besok kita jalankan rencana kita, ingat jangan sampai gagal."


Greta memicingkan senyum liciknya. Ia mengetik balasan message itu dan langsung mengirimnya.


"Baik Tuan, sesuai dengan rencana yang kau terangkan."


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


Like, komentar dan vote, biar aku semangat nulisnya. Makasih ya semua atas dukungannya selama ini.


Sehat selalu.


__ADS_2