Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah menyelesaikan meeting, Nick bersama Dave menuju sebuah mall yang terletak di pusat kota London, untuk memberikan sebuah kado ulang tahun, karena pada esok hari ibunya yang bernama Angelica Carter akan berulang tahun yang ke 45 tahun.


"Dave, terima kasih karena kamu sudah mengingatkanku," ucap Nick pada Dave yang sudah duduk di kursi depan.


"Sudah tugasku Tuan, aku akan selalu menjadi pengingat yang baik untukmu," jawab Dave sambil menoleh ke arah belakang tempat Nick kini sudah duduk nyaman di sana.


Mobil mulai melaju meninggalkan lobi hotel dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah mall elite di pusat kota London, Nick dan Dave langsung turun dari mobil, kemudian mulai melangkah masuk ke dalam mall.


Setelah mencari ke beberapa tempat di dalam mall, Nick masih belum berhasil menemukan sesuatu yang istimewa untuk diberikan oleh ibunya sebagai kado ulang tahun.


"Dave, kita berpencar kau ke arah sana, jika sudah menemukan sesuatu yang kau anggap istimewa, ambil dan bayarlah, kita bertemu lagi di sini, oke!"


Dave menuruti perintah dari Nick dan mulai melangkahkan kakinya ke arah sebaliknya dari yang kini dituju oleh Nick.


🍁🍁🍁


Di dalam mall yang sama Alexa terlihat sedang menunggu seorang pengacara wanita di sebuah restoran yang terletak di lantai 2. Namun karena terlalu lama menunggu, Alexa memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu, ke semua outlet yang tersedia di sana, sekedar untuk menghabiskan waktu, agar tidak terlalu jenuh menunggu. Alexa memang tipikal gadis yang tak suka menunggu, namun tak jarang dirinya sering membuat orang lain menunggu ketika temu janji dengannya.


"Dasar Stefani, sepertinya dia membalas apa yang aku lakukan padanya waktu itu, sekarang dia sengaja datang terlambat," gerutu Alexa sambil menyeruput sebuah minuman boba yang saat ini digenggamnya.


Saat Alexa keluar dari sebuah outlet yang menjual berbagai tas branded dari merk-merk top di dunia, tiba-tiba matanya menangkap sosok pria yang sepanjang perjalanan menuju mall sering terbesit di dalam pikirannya.


"Pahlawan itu, ternyata Nick sedang berada di sini," batin Alexa yang sudah menunjukan semburat kebahagiaan di wajah cantiknya.


Senyum merekah pun tampak jelas terlukis, hatinya kini berbunga-bunga, karena bisa bertemu kembali dengan Nick.


Alexa merapihkan surai rambutnya yang panjang, ia ingin terlihat cantik saat Nick menatapnya. Ia juga menuruni minuman boba yang berada di tangannya dan menyembunyikan cup itu di belakang tubuhnya.


Alexa masih memasang senyum manisnya yang begitu menggoda, saat jaraknya sudah sangat dekat dengan Nick.


Senyuman Nick juga tak kalah merekah darinya, dengan matanya yang berbinar melihat sesuatu. Alexa semakin berdecak kagum dengan apa yang kini dilihatnya. Saat Nick mendekat, Alexa hanya mematung tak bergeming sedikit pun.


"Uh manisnya," ucap Nick sembari merentangkan kedua tangannya seperti ingin meraih sesuatu di depannya, yang membuat Alexa semakin salah tingkah dibuatnya.


"Apa mungkin dia ingin memelukku?" gumam Alexa menerka.


Alexa merapikan pakaian yang dikenakannya, walau sebenarnya tidak terlihat kusut sama sekali, namun ia sengaja melakukan itu untuk mengusir rasa canggung, karena pujian dari Nick berhasil membuat rona merah di wajahnya.


Nick semakin mempercepat langkahnya, detak jantung Alexa pun memacu lebih keras.


"Dia datang Alex, dia datang, dia akan memelukmu Alexa, tapi apa mungkin di depan banyak orang seperti ini," gumam Alexa penuh percaya diri, namun terlihat gugup.


Langkah Nick kini tepat berada di depan Alexa. Setelah keduanya saling berhadapan, ternyata Nick hanya melengos melewati Alexa begitu saja, tanpa sebuah tatapan ataupun menyapanya. Ternyata di balik tubuh Alexa, Dave sudah membawa sebuah tas dengan merk H, keluaran terbaru sebagai hadiah untuk Angelica, ibunya Nick. Seorang wanita yang cantik dan cerdas, walau menikah di usia muda itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap meneruskan pendidikannya, sampai pada akhirnya Angelica lulus dengan gelar S2 dalam bidang bisnis.


Dave berhasil mengingat salah satu favorit Angelica, yang memang gemar mengoleksi tas-tas mahal dengan harga bervariasi, bahkan sampai menyentuh miliaran.

__ADS_1


"Ini manis sekali Dave, bagaimana kau bisa tahu selera Ibuku?" tanya Nick kagum sambil memegang tas itu dan sesekali mengusapnya.


"Saya ingat, setiap Nyonya berpergian keluar negeri Nyonya pasti selalu membawa banyak tas untuk koleksinya, jadi saya pikir Nyonya pasti akan sangat suka, jika Tuan memberikan ini padanya," jawab Dave dengan tersenyum.


"Baiklah, kau memang benar-benar bisa selalu kuandalkan Dave. Oke next, kita ke outlet berlian!" titah Nick sambil memberikan tas itu kembali pada Dave dan meneruskan langkahnya menuju outlet berlian yang berada tidak jauh dari outlet tas tempatnya berada saat ini.


Di sisi lain Alexa masih termangu menyimak percakapan yang dilakukan oleh Nick dan seorang pria yang belum dikenalnya itu. Pikirannya begitu bertanya-tanya tentang apa kini dilihatnya.


"Kenapa dia hanya melewatiku?" batin Alexa penuh tanya.


Alexa tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Nick, bahkan sampai Nick mulai beranjak menjauhinya, ia terus menatap kepergian Nick.


"Kenapa dia seperti tidak mengenalku? Apa pertemuan pertama waktu di hotel itu aku melakukan suatu kesalahan padanya, sampai dia sama sekali tak menganggapku."


Alexa mendengus kesal, beragam pertanyaan timbul memenuhi isi kepalanya.


"Aku harus cari tahu, apa alasan pria itu melupakanku."


Rasa penasaran mendorong Alexa untuk mengikuti langkah Nick yang terlihat mulai memasuki outlet yang menjual berbagai macam berlian. Beberapa kali Alexa menelan salivanya dengan kasar, ia terlihat tampak bodoh, ketika tadi dirinya mengira Nick akan memeluknya dengan mesra di muka umum.


"Kenapa pria itu tidak menyapaku sama sekali? Padahal tadi pandangan mata kami saling bertemu saat dia melintas di hadapanku! Apa dia lupa ingatan dengan perpisahan tadi pagi di hotel?" tanya Alexa mencoba menerka-nerka dalam hatinya.


Alexa sangat penasaran dengan sikap Nick yang melewatinya tanpa menyapa. Tanpa pikir panjang lagi, Alexa memutuskan untuk masuk ke dalam outlet itu mengikuti Nick yang sudah terlebih dahulu berada di dalam. Setelah masuk, Alexa dengan sengaja berdiri tepat di samping Nick, membuat jarak keduanya kini sangat dekat.


Karena terlalu lama menunggu dan belum memenukan jawaban dari setiap pertanyaannya. Alexa langsung berinisiatif menegur Nick terlebih dahulu.


"Hi, Tuan Nick?" sapa Alexa pura-pura baru bertemu, terlihat senyum canggung yang terkesan dipaksakan.


"Iya Nona, bagaimana kau tahu namaku?"


"Kebetulan banget kita bisa ketemu di sini. Perkenalkan aku Alexa, apa kau tidak ingat?"


Nick tidak menjawabnya, ia terus memasang wajahnya yang bingung, karena tidak dapat mengingat siapa gadis yang berada di hadapannya saat ini, yang terlihat sok akrab padanya.


"Maaf, tapi saya memang tidak ingat?" tanya Nick dengan alis yang saling bertaut.


Mata Alexa menyipit mendengar pertanyaan yang lolos dari mulut Nick, ia mencoba berpikir dengan keras untuk menemukan jawaban, kenapa Nick bisa melupakan pertemuan pertama mereka.


"Apa karena dia orang sibuk yang bertemu dengan banyak wanita setiap harinya, makanya dia melupakanku. Hufh, lagian aku ini terlalu banyak berharap, memangnya aku ini siapa harus diingat sama dia?" batin Alexa dalam hati yang cukup kecewa.


"Eh maaf tuan, sepertinya saya salah orang. Saya permisi."


Nick semakin heran melihat sikap Alexa yang pergi begitu saja dari hadapannya, namun apa yang terjadi tak luput dari pengamatan Dave, yang sedari tadi terus memperhatikan Alexa.


Alexa memutuskan untuk pergi keluar dari outlet itu, ia merasa malu karena terlihat seperti orang yang sok kenal dengan Nick sedangkan Nick hanya menganggapnya orang asing yang baru ditemuinya.


Alexa memutuskan untuk kembali ke restoran tempatnya bertemu dengan Stefani.

__ADS_1


"Lupakan, lupakan, lupakan! Aku tidak boleh memikirkan pria itu lagi. Dia saja tidak mengingatku, untuk apa aku mengingat tentang dia lagi! Hufh, dasar hati, gak bisa dekat sama orang baik dikit langsung luluh. Sadar diri dong, siapa orang yang membuatmu jatuh hati, dia itu orang penting, mana mungkin tertarik sama kamu, Alexa!" gerutu Alexa selama perjalanan menuju restoran.


Sesekali kaki Alexa menendang udara untuk melampiaskan emosinya.


🍂🍂🍂


Di Restoran Van Den Bosch.


Alice sedang berusaha untuk meluluhkan hati suaminya, ia duduk berdua setelah Jenny dan Mike pergi meninggalkan mereka lebih dulu menuju rumah sakit. Keduanya mendapat kabar dari pihak rumah sakit, jika kondisi Claire semakin memburuk.


"Sweetu aku mohon, tolong buka mata dan hatimu. Mau bagaimanapun masa lalunya, tapi dia adalah ibumu dan selamanya akan tetap menjadi ibumu, ibu yang telah melahirkan dan merawatmu. Dia tidak punya banyak waktu, tolong kabulkan keinginannya yang terakhir, dia ingin bertemu denganmu."


Raymond masih tak bergeming. Namun Alice tidak mudah menyerah untuk meredakan emosi suaminya yang masih menguasai dirinya sejak bertemu dengan Mike.


"Anggap saja ini kesempatan terakhir kamu untuk bertemu dan melihatnya, mungkin bisa jadi ini hari terakhirnya untuk hidup. Apa kamu tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya? Atau mungkin bisa jadi Ibumu mau mengakui kesalahannya sebelum pergi, agar Daddy bisa bebas dari tuntutan hukum yang menjeratnya?"


Hati Raymond masih membatu, kebenciannya begitu mendarah daging dalam dirinya, ia sulit sekali melupakan semua hal yang telah dilakukan oleh Claire kepadanya. Saat Raymond masih diam tanpa berkata apapun. Melihat semua itu Alice semakin hilang kesabaran.


"Baiklah sweetu, kalau kamu tidak mau bertemu dengan Mommy Claire, maka aku akan datang ke rumah sakit seorang diri untuk menggantikan posisi anaknya yang memiliki hati batu sepertimu."


Tangan Raymond yang semula mengepal langsung terlepas saat Alice hendak berdiri dari duduknya.


"Kenapa kamu memaksaku untuk bertemu dia? Sedangkan semasa hidupnya dia tidak pernah berniat untuk menemuiku, dia malah melakukan sebaliknya, memisahkan aku dari Daddy dengan menjebloskannya ke dalam penjara dan menerima hukuman atas apa yang tidak dia perbuat. Apa salah aku membencinya? Bahkan aku tidak akan menangis ketika mendapatkan kabar dari siapapun bahwa dia telah tiada."


Alice menautkan kedua alisnya dan menatap wajah Raymond dengan lekat.


"Karena aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka pada ibu yang telah melahirkanmu. Aku ingin kamu menjadi ayah yang baik dan tidak pendendam untuk anak-anakku, agar aku bisa menceritakan semua kebaikan hatimu pada mereka, dan pasti mereka bangga memiliki ayah yang berhati malaikat sepertimu. Aku mohon, buka hatimu dan maafkan semua kesalahannya di masa lalu. Kita pergi sekarang ke rumah sakit untuk menemuinya."


Perkataan terakhir Alice seperti mampu menerobos masuk ke dalam hati nurani Raymond yang sempat tertutup rapat untuk Claire. Ia mencoba mencerna beberapa saat hingga akhirnya hatinya luluh.


Kedua matanya kini mulai memerah, mengenang semua kenangan manis yang masih tersisa, saat Claire masih bersamanya.


Raymond menghela napasnya kasar. Ia mulai menatap kembali wajah Alice dari posisinya yang tadinya menunduk.


"Aku mau menemuinya. Jangan musuhi aku karena masalah ini, sweety," ucap Raymond sembari menggenggam tangan Alice dengan erat.


Alice tersenyum penuh kebahagiaan, akhirnya suaminya mau untuk menemui Claire yang saat ini sudah menunggunya, mungkin ini akan menjadi hari pertemuan terakhir untuk mereka. Rasa takut yang Alice rasakan karena mendengar cerita dari Mike dan Jenny yang menyatakan bahwa keadaan Claire sangat parah dan seperti sudah tidak ada harapan lagi untuk bertahan hidup.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang, kesampingkan dulu egomu untuk Mommy Claire hari ini, berikan dia senyuman manis dan pelukan hangatmu saat bertemu nanti."


"Baiklah istriku yang sangat bawel, yang tidak ada duanya!" ledek Raymond seraya mencubit pipi Alice karena merasa gemas.


Mereka masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Albert menuju rumah sakit kanker di pusat kota Inggris.


🏵️🏵️🏵️


Bersambung ✍️

__ADS_1


Berikan komentar kalian?


Jangan lupa baca karya aku yang lain ya, Istri Ketiga Mas Bram.


__ADS_2