
Selamat membaca!
Alice sudah terlihat cantik mengenakan sebuah dress yang membuatnya tampak anggun.
"Memangnya ada apa ya sweetu meneleponku untuk berpakaian rapi, sampai Albert juga sudah datang menjemputku."
Alice mulai menuruni anak tangga dengan membawa sejumlah pertanyaan yang terbesit di dalam benaknya. Setelah sampai di bawah, pandangannya langsung mengarah ke arah Risfa dan Albert yang terlihat serasi dengan mengenakan warna pakaian yang senada.
"Sepertinya semakin hari kalian terlihat makin kompak, jangan lama-lama Albert, segera lamar Risfa," canda Alice sambil berlalu melewati keduanya yang saling menatap malu.
Alice meninggalkan kedua yang kini diam mematung dengan wajah Risfa yang sudah merona merah.
"Aduh Nona Alice, bikin aku tambah gugup aja," gumam Albert sambil menggelengkan kepalanya.
Sadar langkah Alice semakin jauh, Albert dan Risfa segera mengejar Alice dengan setengah berlari.
"Silahkan Nona Alice, hari ini kau terlihat sangat cantik," puji Albert dengan nafas sedikit terengah.
"Terima kasih Albert, Risfa juga sangat cantik bukan begitu Albert?" goda Alice kembali dengan melontarkan pujian pada Risfa, sambil masuk ke dalam mobil.
Albert tersenyum malu, tatapannya langsung mengarah pada Risfa yang sejenak mematung, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Aku malu untuk mengatakan pada Risfa, jika memang ia terlihat begitu cantik saat ini," batin Albert merutuki segala sikap penakutnya.
Setelah bergelut dengan segala pikirannya, Albert bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya.
πππ
Restoran Alice.
Raymond sudah terlihat tampan dengan setelan tuxedo-nya. Ia sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Alice bersama para tamu yang telah menyempatkan waktunya untuk bisa hadir melengkapi acara ulang tahun Alice, terlihat di sana ada Bryan Anderson dan istrinya Naina Anaclara beserta putri mereka Harleen. Krisna sahabatnya juga datang, namun kali ini kedatangannya bersama Isna juga Saka, putra mereka yang tampan, yang kini berada dalam gendongan Isna.
πππ
__ADS_1
Di dalam mobil Alice masih terlihat kalut bersama segala pikirannya.
"Sebenarnya ada apa ya sweetu memintaku untuk berpakaian rapi dan sampai Albert datang menjemput," gumam Alice penuh tanya.
Alice semakin bingung, ketika arah mobil seperti mengarah pada sebuah tempat yang sudah lama tak dikunjunginya, karena tempat itu bukan lagi milik keluarganya.
"Albert, ini ke arah restoranku yang dulu, sebenarnya ada apa ini?" tanya Alice mengerutkan keningnya dengan wajah yang semakin bimbang.
Risfa membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Alice dengan sebuah senyuman.
"Nona, tidak usah cemas, tidak akan ada hal buruk yang terjadi malah sebaliknya," ucap Risfa menenangkan kecemasan Alice yang tampak dari wajahnya.
Suara ban mobil berdecit pelan, berhenti tepat di parkiran restoran. Alice langsung turun dari mobil sambil terus memandang ke arah restoran yang kini sudah berubah namanya menjadi Alice Restaurant.
"Ini kenapa jadi namaku, bukankah ini milik Amita?"
Berbagai macam pertanyaan yang bergulat dalam pikirannya tak mampu Alice jawab sendiri, ia terus menatap heran ke arah papan nama restoran yang tertera namanya di sana, Alice melangkah dengan perlahan ketika memasuki restoran itu, restoran penuh seribu kenangan. Setelah tiba di depan pintu, entah kenapa jantungnya seakan berpacu dengan ritme yang tak beraturan, Albert dan Risfa tepat mengekor di belakang Alice yang sejenak mematung di depan pintu.
Sambil menghela napasnya dengan kasar, Alice menggenggam handle pintu restoran dengan erat, lalu ia mendorong pintu itu dengan kuat untuk membukanya. Saat satu kakinya mulai melangkah masuk, tiba-tiba keadaan ruangan yang tadinya tampak gelap, kini sekejap berubah terang benderang, hingga menampakkan suasana di dalam restoran, tampak cantik dengan beberapa balon di setiap sisinya, juga warna-warni indah dari dekorasi kursi dan meja yang sudah di sulap menjadi meriah.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday day, happy birthday my wife."
Raymond menyelesaikan lagu yang dinyanyikan tepat berada dihadapan Alice, dengan membawa sebuah kue ulang tahun yang dipegang dengan kedua tangan. Kue ulang tahun dengan lilin yang menyala di atasnya, dihiasi dengan lilin kecil yang memenuhi kue ulang tahun, juga angka 26 yang berada di tengahnya, menandakan saat ini usia Alice sudah menginjak 26 tahun.
Alice terkesiap dengan kejutan yang kini ada dihadapannya. Binar wajahnya memancarkan kebahagiaan yang terlukis jelas pada raut wajahnya, bagi Alice ini adalah ulang tahun paling spesial dalam hidupnya selama ini, di kelilingi orang-orang yang dicintainya, juga suami yang saat ini sudah sangat berbeda dari sejak pertama kali Alice mengenalnya.
Pernikahan yang awalnya hanya dijalani karena sebuah paksaan, namun sampai detik ini pernikahan itu tetap terjalin, walau tak mudah untuk keduanya untuk sampai di titik ini, perjalanan mereka tak sehalus kulit Alice, banyak liku dan cobaan yang menguji kekuatan cinta mereka, karena begitu banyak masalah yang terjadi selama kurang dari setahun menjalani bahtera rumah tangganya.
"Aku sangat bahagia Tuhan, terima kasih atas semua anugerah ini, bagiku ini sudah lebih dari cukup, tolong jangan rampas kebahagiaan ini dan jaga terus sampai aku menutup kedua mataku."
Lamunan Alice buyar saat sebuah ciuman mendarat mulus di bibir merah Alice yang merekah, membuatnya jadi terhenyak dan wajahnya kini tampak bersemu merah, karena menahan rasa malu di hadapan keluarga dan sahabatnya yang sedang memperhatikan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih ya sweetu, aku sendiri lupa, kalau hari ini adalah hari ulang tahunku," lirih Alice, yang tak dapat lagi menahan air mata di kelopak matanya yang sedari tadi sudah menganak.
"Aku sudah tahu kamu lupa sweety, sekarang tiup lilinnya!" pinta Raymond dengan sebuah senyum di wajahnya.
Alice mulai menggelembungkan pipinya untuk meniup. Namun ternyata satu tiupan tak cukup memadamkan semua lilin yang ada di atas kue ulang tahun itu, Alice mengulanginya lagi sampai akhirnya kesemua api pada setiap lilin padam.
Setelah lilin hanya menyisakan semburan asap kecil pada puncaknya, suara deru tepukan tangan terdengar meriah memenuhi seisi ruangan.
Alice kini mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling ruangan yang tampak dihadiri oleh sahabat-sahabat baiknya. Sebut saja Elvia, Isna dan Naina, namun tidak tampak Rianti di sana. Alice pun memakluminya, karena dengan usia kandungan Rianti yang saat ini sedang hamil tua seperti dirinya, sangat tidak mungkin untuk Rianti bepergian menggunakan pesawat, walaupun itu menaiki jet pribadi sekalipun.
"Indah dan lucunya balon-balon ini."
"Apa kamu suka sweety, bagaimana? Amita sudah melepas restoran ini dengan syarat aku menarik tuntutanku terhadapnya, dia pun bebas dan mendapatkan sejumlah uang dari penjualan restoran ini."
Alice terhenyak tak percaya mendengar apa yang didengarnya.
"Jadi kamu sudah membeli restoran ini untukku sweetu."
Alice langsung menghamburkan pelukannya, sambil berjinjit ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Raymond.
"Terima kasih sweetu, ini hadiah yang sangat luar biasa untukku."
Raymond melepaskan tubuh Alice dari dekapannya, lalu satu tangan Raymond mulai merogoh saku tuxedo yang dikenakannya untuk mengambil sesuatu dari dalam sakunya, kemudian Raymond bersimpuh di hadapan Alice dengan menekukkan sebelah kakinya di dasar lantai sebagai tumpuan.
"Aku mencintaimu Alice, saat ini dan untuk selamanya, hanya kamu, tidak akan ada yang lainnya."
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
__ADS_1
BersambungβοΈ